Aku Kedua Juga Terluka

Aku Kedua Juga Terluka
Pertengkaran


__ADS_3

Meta membenamkan diri di dalam kamar Siska. Siska masuk ke dalam kamar setelah kepergian Saif.


Dia melihat temannya yang terlihat begitu menyedihkan dan entah berapa lama Meta menangis karena yang ia lihat bahwa temannya masih sesenggukan.


"Apa kamu mau aku ambilkan minum?," tanya Siska penuh hati-hati. Meta yang bersandar di atas tempat tidur yang melamun kini sedang melihat ke arah Siska, Meta mengangguk tidak pasti. Siska pikir sebaiknya mengambilkan segelas air untuk Meta, jika Meta nanti membutuhkan minum.


Siska belum ingin menanyakan pada Meta, perihal yang membuat temannya itu menjadi seperti ini.


Dia hanya perlu menemani Meta agar gadis itu bisa nyaman tanpa harus merasa terusik.


Siska meletakkan segelas air putih di meja kecil di samping tempat tidur. " Aku akan meninggalkan mu sendiri di sini dan lebih baik kamu tidur Meta."


Mendengar Siska berbicara, Meta yang sejak tadi melamun tiba-tiba menangis kembali mengingat pembicaraannya dengan Saif.


Siska terkaget dan duduk menghadap Meta dan memeluk temannya itu. " Kamu bisa menceritakannya padaku besok. Lebih baik sekarang kamu beristirahat," bujuk Siska agar Meta bisa beristirahat untuk menenangkan diri.


" Sakit sekali... Siska. Kenapa ini terjadi padaku." Meta yang menangis di dalam pelukan Siska.


Siska merasakan luka Meta memang berat sehingga Meta tidak bisa mengatakan apapun kecuali rasa sakit yang ia terima hari ini. Siska yang sementara ini hanya bisa membelai punggung Meta, ia belum dapat berbicara karena belum tau cerita yang terjadi antara Meta dan Saif.


Meta berhenti menangis dan Siska meminta Meta merebahkan diri di tempat tidur dan menyelimuti tubuh Meta.


" Aku akan tidur di kamar sebelah, jika kamu memerlukan sesuatu," ucap Siska sebelum meninggalkan Meta.


Begitu Siska keluar dan menutup pintu kamar, ia mengingat bagaimana besok Meta bisa bekerja dengan keadaan yang kacau seperti ini. " Semoga dia besok baik-baik saja. Dan bisa bekerja." Ucap Siska sendiri menengok pintu yang ia jauhi dan di balik pintu itu ada Meta.


〰️〰️〰️〰️


Saif mengemudi dengan kecepatan yang tinggi, ia merasa bodoh, egois dan teramat menyesal telah membuat wanita yang ia cintai menjadi tak berdaya.


Luka yang ia berikan lebih sakit dari sekedar jika memutuskan hubungan antara dua orang kekasih.


Dia mengutuk dirinya sendiri penyesalannya lebih besar selama hidup adalah kali ini yang melukai Meta. Ya, tidak ada hal yang buruk selama hidupnya terkecuali hal ini.


Perasaan kesalnya terbawa saat dia sampai rumah dan Raras rupanya menunggunya.


" Kamu pasti menemui gadis itu?," tuduh Raras yang melihat Saif masuk ke dalam rumah. Saif tidak menghiraukan perkataan Raras memilih ke kamarnya yang ada di lantai atas. Tapi Raras menarik lengan Saif yang membuatnya kekesalannya terpancing. "


Siapa gadis itu????... Gadis yang bisa membuatmu seperti ini dan membuatmu meninggalkan Eriska !!!". Nada marah tinggi keluar dari mulut Raras yang menjadikan ini pertengkaran kesekian kalinya di antara mereka.


"Aku tidak meninggalkan Eriska dan wanita yang kamu tuduhkan itu kamu tidak layak menyebutnya dan mengetahuinya." Jawab Saif. Saif berusaha melindungi dan membela sosok Meta. Karena gadis itu tak layak menerima hinaan atas kesalahan Saif. Cukup bagi gadis itu untuk mengetahui semua kenyataan yang membuatnya terluka, Saif tidak ingin memberi hal yang membuat Meta lebih terpuruk.


"Kamu begitu menyukainya bukan!?." Raras yang tidak percaya ada sosok gadis yang telah membuat suaminya sangat menyukai wanita lain.


Dan ia pertama kali melihat suaminya begitu membela gadis yang bahkan tidak ia ketahui wajahnya. Raras merasa ia marah karena ada sosok lain yang masuk dalam keluarganya. Raras tidak menerima itu karena ia telah mengabdi sebagai istri dan ibu selama hampir lima tahun. Dan ia meninggalkan masa mudanya untuk merawat Eriska. Meski hanya dirinya saja yang mencintai Saif. Raras pun menyadari jika Saif menikahinya hanya untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.


Saif diam menahan kemarahannya supaya Raras tak menyinggung tentang Meta.


" Kita lihat saja... Apa kamu bisa tetap melindungi gadis itu." Raras yang berucap seperti mengancam.


" Gadis itu tak bersalah, jangan sekali-kali kamu dan orang lain menyentuhnya. Aku tak akan membiarkannya."

__ADS_1


" Hah... dia memang gadis gila dan bodoh tidak bisa melihat jika ia menyukai suami orang dan tidak tahu malu sesama wanita ia bisa melakukan hal buruk." Raras kesabarannya sudah sampai batas pikiran karena itu ia melampiaskan dengan kata-kata yang menurutnya benar.


Saif yang sedari awal diam kini dengan berbicara lantang. " Ya... Kamu benar... Aku menyukai gadis itu... Dan sangat mencintai gadis itu... Apa puas kamu mendengarnya atau perlu aku mengulanginya... Gadis yang kamu anggap bodoh dan gila itu telah membuatku jatuh hati. Aku rela melakukan semuanya agar dia tidak terluka." Suara Saif terdengar seperti berteriak saat mengatakan kalimat itu.


Raras mendengar kejujuran Saif membuatnya secara reflek mengambil vas bunga yang berada di meja makan dan melemparkan ke arah Saif yang berdiri tidak jauh darinya. Raras sengaja mengarahkan vas itu tepat di wajah Saif dengan tujuan agar suaminya merasakan luka.


Vas itu melayang ke arah Saif dan tepat mengenai sudut pipi kiri, darah pun mengalir dari pipi Saif.


Saif memegang pipi karena terasa ada yang menetes di pipi dan ada sedikit perih yang ia rasakan.


Raras diam, hanya saja diamnya bukan karena luka yang di alami Saif tapi lebih di sebabkan kejujuran Saif yang membuatnya sekarang juga terluka.


Saif masih ingin meneruskan perkataannya. "Apa lagi yang ingin kamu dengar?."


Raras tak menjawab dan keduanya sempat diam mematung sejenak. Saif sudah merasa cukup memberikan jawaban yang ingin Raras dengar, ia ingin pergi dari hadapan Raras.


" Satu hal lagi ! jangan membawa nama Eriska dalam pertengkaran kita." Saif menegaskan jika ini tidak ada hubungannya dengan Eriska. Pertengkaran ini murni antara Saif dan Raras. " Dia anakku...." Mata Raras masih menunjukkan kemarahan yang tidak tak bisa di tahannya lagi.


Raras yang merasa Eriska adalah hak miliknya sepenuhnya.


Saif meninggalkan Raras untuk menaiki tangga. " Dia juga anakku, bagaimanapun keadaannya dia akan tetap jadi anakku, ucap Saif, sambil berlalu dari hadapan Raras. Tidak memperdulikan Raras, pikirannya sudah kalut memikirkan Meta di tambah pertengkarannya dengan Raras yang tidak ada habisnya selama bertahun-tahun.


" Baik...Jika itu mau mu. Kamu akan kehilangan Eriska." Bentak Raras yang melihat Saif sudah berada di anak tangga paling atas.


" Kamu tidak lupa dengan perjanjian yang pernah kita buat dulu."


Saif mendengar ancaman itu lagi, tapi memilih diam dan masuk ke dalam kamarnya.


Itu kamu


Itu selalu kamu


Jika aku pernah jatuh cinta


Aku tahu itu akan denganmu


Itu kamu


Itu selalu kamu


Bertemu banyak orang tapi tidak ada


yang kurasa seperti mu.


Jadi kumohon


Jangan hancurkan hatiku


Jangan tinggalkan aku


Aku tahu bagaimana awalnya

__ADS_1


Percayalah aku sudah pernah hancur sebelumya.


Jangan hancurkan aku lagi


Aku lemah.


Jadi kumohon jangan hancurkan hatiku


Percayalah aku sudah pernah hancur sebelumnya.


Aku sudah pernah hancur


Yah, aku tahu bagaimana rasanya


Untuk membuka diri dan temukan cintamu itu tak nyata.


Aku masih terluka di dalam sini


Aku sangat takut untuk jatuh cinta


Tapi jika itu kamu maka kan ku coba


Aku tahu aku bukan yang terbaik dalam memilih kekasih.


Kita berdua tahu masa laluku


Bicara untuk dirinya.


Jika kamu tidak merasa bahwa


kita cocok satu sama lain


Maka ku mohon jangan biarkan


masa lalu terulang


Karena aku menginginkan mu


Aku menginginkan mu


Tidak ada hal lain lagi yang kuinginkan.


Karena aku menginginkan mu


Aku menginginkan mu


Dan kamulah satu-satunya


yang kuinginkan.


Terjemah lirik lagu - Ali gatie- it's you.

__ADS_1


__ADS_2