
Selayaknya hubungan sepasang kekasih Meta dan Saif juga menjalani kegiatan sebagai orang pacaran pada umumnya. Pergi kencan, jemput sepulang bekerja, apel ke rumah Meta menjadi rutinitas Saif setiap dua kali dalam seminggu.
Hari Minggu ini Meta masuk shift kerja siang, karena itu Saif ingin pergi ke rumah Meta.
Sengaja ia berangkat pagi agar bisa sedikit lama berada di rumah Meta.
Ketika dalam perjalanan ia berhenti di sebuah khusus kue dan roti, setidaknya ia harus membawa buah tangan.
Saif membeli satu kotak Puding dan Brownies kukus ukuran besar, itu kesukaan Meta.
Saif berpikir ini hari libur mungkin akan bertemu orang tua Meta. Sudah hampir satu tahun hubungan mereka terjalin, belum sekalipun Saif bertemu dengan orang tua Meta.
Setiap kali datang ke rumah kekasihnya ia datang di hari-hari efektif bekerja, tentu saja tidak bertemu papa dan mama Meta. Papa Meta sendiri seorang pegawai negeri sipil di kantor Bea dan Cukai. Mama Meta juga lebih sering ke rumah Tante Lena, membantu usaha Catering Tante Lena.
Tidak mungkin pula Saif selalu menghindari pertemuan dengan orang tua Meta, ia mencintai anak mereka jadi harus menghadapi kedua orang tua Meta.
Saif tidak akan menghindari hal yang wajib ia lakukan bila menjalin hubungan dengan seorang gadis.
Ia tahu bersikap bagaimana jika berhadapan dengan orang tua, etika dan sopan santun.
Pintu rumah Meta terbuka ketika Saif tiba.
" Assalamu'alaikum..." Saif mengucapkan salam tepat di depan pintu dengan membawa apa yang ia belinya tadi.
Setelah mengucapkan salam sebanyak dua kali barulah ada seseorang yang keluar dari dalam rumah. "Waalaikumsalam." Mama Meta menjawab sambil berjalan keluar dari arah dapur.
" Maaf Tante... Meta ada?," kata Saif sopan.
" Meta masih keluar sebentar. Anak ini siapa?."
" Saya Saif temannya Meta, Tante."
" Silakan masuk dulu nak Saif, sebentar lagi juga datang." Mama Meta mengubah posisi berdiri agar Saif bisa masuk ke dalam rumah.
" Terima kasih Tante. Oh ya Tante ini ada sedikit kue." Saif mengulurkan tangan untuk memberikan kue dan puding yang sudah dibelinya.
Mama Meta pun menerima yang apa yang disodorkan Saif.
" Aduh nak Saif kenapa bawa kue segala. Tante merasa merepotkan nak Saif?."
" Hanya kue tidak merepotkan kok Tante."
" Silakan duduk dulu, tante ke belakang sebentar."
" iya Tante terima kasih." Saif pun menuju sofa dan duduk.
Sementara itu di halaman belakang rumah papa Meta nampak duduk di kursi kayu sambil membaca koran.
" Siapa ma?," ucap papa Meta karena beliau juga mendengar ada seseorang yang mengucapkan salam.
" Oh itu teman Meta. Papa ke depan dulu, temani teman Meta." Mama Meta meletakkan kue di atas meja makan.
" Teman di mall?."
" Sepertinya bukan, mama baru melihatnya sekarang."
Papa Meta sedikit berpikir ada sosok laki-laki lain selain teman laki-laki nya di mall yang berkunjung ke kediamannya.
"Iya... Papa juga ingin tahu siapa laki-laki yang ke rumah mencari Meta."
Papa Meta meletakkan koran ke meja yang sejak dari tadi di bacanya. Lalu menyesap teh dan beranjak ke ruang tamu.
Saif sudah mengira itu papa Meta, saat melihat beliau berjalan mengarah ke ruang tamu.
" Kamu teman Meta?." Papa Meta mendekat ke sofa.
Seketika Saif berdiri dari duduknya untuk bersalaman dengan papa Meta.
__ADS_1
" Iya Om. Saya Saif teman Meta."
" Ya silakan duduk," ucap papa Meta.
"Darimana ini tadi?."
" Dari rumah Om. Sengaja berkunjung kesini."
" Kamu teman kerja satu mall dengan anak saya?."Tanya papa Meta. Seperti ingin tau siapa Saif.
" Kebetulan saya bukan teman di tempat kerjanya. Saya teman kenalannya."
" Saya kira satu mall. Maaf lho ya bukan maksud om mengintrogasi kamu, hanya saja om ingin tau siapa teman anak om. Jadi kamu santai saja."
" Iya saya mengerti karena om punya anak perempuan."
" Kalau saya santai orangnya yang penting Meta bisa menjaga diri dari hal yang buruk. Om tidak melarang Meta bergaul dengan siapa pun, asalkan niatnya baik ya silahkan."
Saif hanya diam mendengarkan ucapan papa Meta. Dan ada perkataan yang membuatnya berpikir.
" Lalu Saif ini kerja dimana?." Lanjut papa Meta.
" Saya bekerja di perkebunan." Saif menjawab berhati-hati.
" Perkebunan apa?."
" Hasil bumi kebetulan milik keluarga."
" Wah kalau milik keluarga bisa sedikit santai bekerjanya."
" Tidak juga Om, tugasnya dua kali dari bekerja di luar. Hanya saja memang kalau bekerja sendiri kita bisa menentukan waktu sendiri, tidak terikat waktu".
" Iya betul. Seperti saya yang selalu mengikuti jam kantor tepat waktu, resiko menjadi pegawai negeri. Yang selalu mengikuti protokol kerja."
Meta melihat mobil Saif di depan pintu gerbang, ia hanya heran kenapa ada disini. Padahal tadi malam saat Saif telepon tidak mengatakan akan ke rumah. Kemudian dia ingat kalau kekasihnya itu selalu seperti itu.
" Assalamualaikum...." Salamnya.
"Waalaikumsalam." Saif dan papa Meta bersamaan menjawab salam Meta.
" Pa... Tadi Tante Lena bilang kalau berangkatnya jam sebelas". Meta mengucapkan pesan dari tantenya waktu menuju ke rumah tantenya tersebut.
" Lho katanya nanti sore?." Papa Meta sedikit terkejut karena berubah jam yang mendadak.
" Tante Lena bilang takut pulangnya kemalaman kalau berangkatnya sore, jadi Tante minta jam sebelas ini".
" Astaga...Tante kamu itu selalu berubah-ubah. Ya sudah papa bilang ke mama kamu sekarang."
Papa Meta bangkit dari sofa berjalan ke dapur.
Meta mengangkat bahunya seraya mengatakan dia tidak tahu mengenai tantenya.
Setelah papanya pergi kini Meta duduk di sofa yang tadi di duduki papanya.
" Sudah lama.?"
" Belum. Baru dua puluh menit."
" Obrolin apa sama papaku?."
" Engga ada yang penting hanya masalah pekerjaan. Memang kamu mengharapkan apa ketika aku bicara sama papa kamu?. Apa kamu mau aku melamar kamu?," Saif sedang menggoda Meta.
Meta tersenyum dengan melempar bantal sofa ke arah Saif. " Memang kamu berani?," tanya Meta
" Kenapa nggak berani ! Bisa saja aku melamar kamu tapi untuk sekarang waktunya belum tepat."
Saif terdengar mengatakannya dengan serius, hanya wajahnya berubah ketika mengatakan bagian terakhir.
__ADS_1
Dia tidak memungkiri bahwa hubungannya dengan Meta harus berjalan ke depan. Untuk melangkah ke depan ia harus melewati langkah lagi sebelum menunjukkan keseriusannya pada Meta.
Mereka masih mengobrol ketika orang tua Meta akan pergi ke rumah Tante Lena.
" Meta... Mama dan papa berangkat sekarang ya."
" Iya ma."
" Oh ya nak Saif, Tante tinggal dulu ya."
Saif berdiri untuk bersalaman dengan mama dan papa Meta.
" Oh ya Tante."
" Saya tinggal dulu ya Saif."
" Iya Om. Hati-hati."
Saif kembali duduk sedangkan Meta mengantar kedua orang tuanya sampai pintu pagar.
" Mobil siapa ini?," kata papa Meta yang di arahkan kepada istri dan anaknya.
" Mobil Saif pa...", Meta langsung menjawab.
" Suruh mundurkan sedikit, nanti orang lewat nggak bisa. Ya sudah Papa berangkat dulu."
" Iya pa... Hati-hati di jalan."
Meta masuk ke dalam rumah dan meminta Saif memundurkan mobil agar tidak di protes pengguna jalan lainnya.
"Sayang, kelihatannya orang tua kamu menyenangkan." Saif berbicara ketika mereka sudah sampai di teras. Saif pun memilih duduk di kursi teras, suasananya lebih segar.
" Iya begitu, santai tapi tegas."
" Aku niat kesini memang ingin tahu kedua orang tua kamu."
" Terus kenapa tadi malam nggak bilang kalau kesini?."
" Memang mendadak, aku putuskan tadi pagi."
Dengan mengerjapkan mata Saif mengatakannya Meta. Hanya Saif sendiri yang memahami maksud kedatangannya untuk mengetahui kedua orang tua Meta.
Meta pun tahu jika Saif tidak ingin di tanya lebih mengapa ia ingin berkenalan dengan orang tua Meta.
" Sayang... Kamu siap-siap sana, mandi." Pinta Saif kepada Meta.
" Masih jam sebelas lebih, aku berangkatnya nanti jam setengah dua a'."
" Kita makan di luar dulu, aku lagi ingin Coto Makasar. Nanti sekalian aku antar kamu ke mall Sayang." Saif menjelaskan keinginannya
" Di tempat Daeng Andi?." Meta memastikan tempat yang ingin di kunjungi Saif.
Ia sekarang mulai tahu tempat makan favorit kekasihnya.
" Ya. Sudah sana cepat kamu mandi, biar kita bisa lama dan santai makannya."
" Iya...iya... Kamu tunggu di dalam jangan di luar sini."
Saif menganggukkan kepalanya.
Meta masuk ke dalam rumah dan pergi mandi sesuai permintaan Saif.
Sementara itu ketika Saif berdiri dari kursi dan akan melangkah masuk rumah tiba-tiba handphonenya berdering.
Saif menghentikan niatnya untuk masuk dan melangkah sedikit menjauh dari posisi ia berdiri sebelumnya untuk mengangkat telepon itu.
" Halo."
__ADS_1
Langkahnya memang baik menghadap kedua orang tua Meta. Tapi ada langkah yang harus ia selesaikan terlebih dahulu sebelum kembali bertemu dengan mereka.