Aku Kedua Juga Terluka

Aku Kedua Juga Terluka
Kondangan


__ADS_3

" Meta aku sedang perjalanan ke rumah kamu."


Chat singkat dari Saif.


Meta sudah bersiap-siap sejak pukul 15.00 pergi mandi sekarang waktunya ia berdandan, setidaknya dia tidak akan malu sendiri saat pergi menghadiri pesta pernikahan di hotel.


Meta cukup pandai berdandan jadi tak perlu pergi ke salon untuk setiap kali ada acara formal. Ia juga mempunyai perlengkapan cukup lengkap, catok rambut yang untuk hasil lurus dan ada pula untuk Curly.


Rambut selesai kini wajah yang di poles dengan makeup, ia juga lebih suka dan merasa pas dengan make up yang natural tidak terlalu berlebihan. Make up nya pun tak pernah menggunakan warna yang mencolok, menurut nya dia akan terlihat seperti badut ketika memakai warna mencolok.


Make up sempurna waktunya mencari baju yang pas, ah tadi Saif berucap kalau ia ingin Meta menggunakan Alpaka set yang di berikan oleh Saif. Memakai Alpaka berarti Meta harus menggunakan kebaya agar serasi saat memakai Alpaka, tidak mungkin memakai dress saat memakai set Alpaka.


Meta berjalan ke arah almari yang berada di seberang meja rias, handphonenya berdering ada pesan dari Saif yang mengatakan dia sudah dalam perjalanan menjemputnya.


Matanya melihat beberapa kebaya yang ada di gantungan mungkin ada sekitar lima set kebaya yang ia miliki.


" Eum yang mana ini" dia berbicara sendiri


" Lebih baik aku ambil semua dulu kebayanya biar bisa membandingkan mana yang lebih cocok dengan Alpakanya."


Meta meletakkan semua kebayanya di atas tempat tidur, kemudian ia mengambil set perhiasan Alpakanya di laci meja rias. Bross Alpaka dia pegang dengan tangan kanan dan kiri memegang kebaya, menempel kan kebaya di badannya lalu di ikuti bross Alpaka. Setelah di coba pada kebaya ke-empat barulah ia merasa pas warna nya dengan set perhiasan itu.


Ya itu lah salah satu mengapa para cewek lebih lama berdandan, sebab mereka hanya ingin tampil sempurna. Harus membandingkan semua yang akan ia pakai.


Kebaya sudah terpakai hanya perlu memakai set Alpaka yang terdiri dari bross dada, anting-anting dan cincin. Alpaka ada beberapa jenis bahannya ada yang ringan ada pula yang sedikit berat, yang Meta pakai kebetulan yang sedikit berat mungkin sesuai harganya yang sedikit mahal dari jenis yang lainnya.


Dia berdiri di depan cermin meja rias memutar kanan dan kiri untuk melihat apa yang ia pakai akan sesempurna eksekusinya. Satu jam telah ia habiskan untuk berdandan dari ujung kepala hingga kaki. Meta


menatap cermin " Hanya perlu alas kaki," ucap Meta. Ia keluar kamar menuju tempat sepatu yang tersimpan di almari bawah tangga.


Memakai rok span panjang tidak memungkinkan ia untuk memakai high heels yang terlalu tinggi, pilihannya jatuh pada highheels yang tingginya hanya 5 cm beludru berwarna hitam.


Bel rumahnya berbunyi sebanyak dua kali, dengan langkah yang tidak bisa cepat Meta berjalan menuju pintu di ruang tamu. Saif sudah di depan pintu dengan memakai kemeja putih bermotif bunga yang simple di padukan dengan jas yang berjenis tailored jacket bewarna hitam dan sepatu formal Oxford.


" Hei sudah datang, masuk dulu." Meta menyambut Saif yang datang.


Sejenak Saif terpana dengan si gadis magnetnya.


" Saif silakan masuk" ucap Meta kembali


" Ah iya sorry, aku lihat kamu jadi sedikit melamun."


" Kenapa? memang ngga cocok ya yang aku pakai?."


" Justru kamu cantik seperti ini," kata Saif sambil duduk di ruang tamu.


" Kamu mau minum apa?."


" Sudah tidak usah tadi juga sudah minum."


" Mau berangkat sekarang?."


" Iya lebih baik sekarang."


" Ya sudah tunggu sebentar, aku mau ke atas sebentar."


" Aku akan setia menunggu" sambil Saif tersenyum.


Meta naik ke lantai atas menuju kamarnya untuk mengambil Clucth untuk menyempurnakan penampilannya.


Sepuluh menit kemudian ia turun kembali memakai highheels yang sudah ia persiapkan di dekat tangga.


Terlihat Saif sedang memegang handphone dan mengetik. Dia melihat Meta menuruni tangga dan menghentikan chatnya dengan seseorang.


Sambil memasukkan handphone ke dalam saku dalam dari jasnya "sudah siap berangkat?."


" Sudah ayo."

__ADS_1


" Acaranya di hotel mana?." Meta bertanya ketika mereka sudah di dalam mobil.


"Di Harris hotel and convention" tangan kiri Saif meraih tombol untuk menyalakan musik.


Lalu Saif mengalihkan pandangannya ke arah Meta yang berada di sebelah kiri.


" Kenapa?" Meta bertanya karena merasa Saif melihat nya secara berbeda.


" Engga apa-apa. terima kasih sudah memakai perhiasan yang aku kasih."


Meta hanya tersenyum.


" Kamu benar-benar berbeda dengan hari biasanya dan sangat anggun memakai kebaya, terlihat cocok dengan kamu."


" Kebayanya yang cocok?."


" Semuanya yang menempel di badan kamu termasuk make up."


" Ini kan kita memang mau ke acara pernikahan acara resmi jadi ya harus begini juga penampilannya."


" Kalau penampilanku bagaimana?."


" Bagus seperti seorang CEO."


" Berarti sudah cocok sama kamu?."


" Pas tidaknya orang lain yang bisa lihat penampilan kita."


" Kalau begitu nanti waktu di acara aku tanya ke orang disana."


" Iseng banget tanya ke orang?."


Meta dan Saif tertawa bersamaan.


Dua puluh menit perjalanan sampailah di hotel, kami naik ke hall tempat di adakan resepsi. Cowok mempunyai langkah kaki yang panjang sama halnya dengan Saif


" Ah maaf Nona Meta, aku sering berjalan sendiri jadi lupa kalau sekarang ini aku sedang berjalan dengan seorang cewek cantik."


Saif melangkahkan kaki kembali menuju Meta


" Mau tau agar aku bisa berjalan di samping kamu?."


Meta menaikkan alis matanya, heran dengan perkataan Saif. Saif meraih tangan kanan Meta kemudian meletakkan tangan kanan Meta di lengan kiri kirinya.


" Nah dengan begini kan kita bisa jalan bersamaan" senyum Saif berkembang.


Meta menatap Saif yang tersenyum menunjukkan lesung pipinya.


Sebetulnya saat itu juga jantung Meta berdegup kencang untuk kedua kalinya setelah kejadian kemarin malam.


Sekali lagi Meta hanya mengontrol perasaan agar tak terlihat gugup.


Di depan hall tersedia meja untuk mengisi buku tamu, Saif meminta Meta untuk mengisinya karena ia yakin tulisan Meta lebih bagus di banding tulisannya, Meta menerima kupon untuk menukarkan souvenir pada waktu pulang nanti. Mereka masuk melalui pintu satu khusus tamu yang baru datang sedangkan pintu dua untuk nanti keluar untuk menukarkan kupon souvernir.


Masuk ke dalam hall Saif bertemu dengan teman kenalannya dan sedikit mengobrol dengan mereka.


Cukup untuk mengobrol mereka bersama-sama memberikan selamat kepada pengantin dan foto bersama. Turun dari panggung pengantin teman Saif memutuskan untuk berpisah, mereka akan menuju meja koktail, sedangkan Saif dan Meta memilih menikmati hidangan yang di sajikan.


" Siapa cewek cantik ini If ?" kata seorang cewek yang menghampiri kami.


"Hei Laura. Kenalkan ini temanku Meta."


Meta mengulurkan tangan kepada Laura.


" Halo aku Meta."


" Aku Laura teman di perkumpulan motor."

__ADS_1


" Alex mana?"tanya Saif


" Dia masih di luar kota. sudah tiga hari ini." kata Laura sambil meneguk jus.


" Lalu kamu datang dengan siapa?," timpal Saif


" Aku datang sama mama."


" Dimana mama kamu?."


" Duduk di meja sebelah panggung pengantin."


" Laura .. Menurut kamu cocok ngga aku sama Meta?."


" Em.. gimana ya Meta ini terlalu cantik untuk kamu" Laura memegang tangan Meta.


" Memang aku ngga pantas sama dia?" goda Saif.


" Pantas kok...Aku merasa seneng kalau kalian bersama."


" Meta memang kamu mau sama Saif ?. Jangan mau dengan Saif, dia bukan cowok yang romantis" Laura menunjuk ke arah Saif.


mereka bertiga tertawa dan melanjutkan obrolan sampai Laura di panggil mamanya.


" Oke. Aku mau ke mama, semoga kita bisa bertemu lagi. oh ya Meta cowok di samping kamu ini memang ngga romantis tapi perlakuannya akan membuat kamu teristimewa."


Bisik Laura sambil bercipika cipiki dengan Meta.


" Kalian tampak serasi" Laura melambaikan tangannya dan berlalu pergi.


Meta menangkap hal baru tentang Saif yang di dapat dari Laura, seorang cewek yang supel meski baru di kenalnya.


" Apa yang di bisikkan Laura padamu?."


" Katanya kamu ngga romantis tapi ada sifat mu yang akan buat aku kagum."


" Menurut kamu sendiri?."


" Aku belum tau banyak tentang kamu. Aku mau ambil buah dulu sebentar."


" Ya silakan."


Satu jam lamanya Saif dan Meta di dalam hall, Saif mengajaknya untuk pulang. Dia memilih lebih ingin menghabiskan waktu hanya dengan Meta. Mereka keluar pintu dua untuk menukar souvernir menuju tempat parkir.


Mobil yang di kemudikan Saif sudah ada di jalan raya


"Meta...Kalau seorang cowok ingin menjalin hubungan lebih serius dengan cewek apa perlu cowok itu bercerita tentang dirinya kepada cewek itu?."


" Ya kalau menurut pendapat pribadiku sebagai cewek ya perlu."


Saif terdiam seperti memikirkan sesuatu, entah apa.


Namun tidak ingin mencemaskan nya dia lebih memilih membicarakan yang membuat Meta tersenyum.


Saif ingin lebih lama bersama Meta tapi sebuah chat membuat dia harus segera mengantar Meta pulang.


Meta telah sampai di rumah, Saif pun hanya mengantar sampai depan rumah. Awalnya setelah sampai di rumah Meta ia akan mampir ke rumah Meta, tapi dia terpaksa harus menunda.


Saif mengeluarkan handphone dari sakunya membuka galeri foto, membuka foto yang di ambilnya di hall berlangsungnya resepsi tadi. Ada beberapa foto Meta disitu, foto di ambil ketika Meta berbicara dengan Laura, foto ketika Meta berdiri di dekat meja yang penuh rangkaian bunga mawar , foto ketiga di ambil saat Meta mengambil potongan buah dan foto saat Meta melahap buah.


Ada pula foto dirinya dan Meta yang tadi di ambil oleh Laura sebelum dia berpamitan.


Saif memandang foto-foto itu secara bergantian, sambil menyetir dengan hanya menggunakan tangan kanannya menuju pulang ke arah rumahnya.


Dia berpikir keras mengapa ia sangat tertarik pada Meta, seolah-olah ia tidak ingin melepas pandangan sosok Meta.


Sesuatu yang akan hadir, kamu hanya perlu menunggu entah itu benar atau salah.

__ADS_1


__ADS_2