
Sudah tiga hari sejak telepon yang mengatakan bahwa Saif akan memberi bukti akan pernyataan Meta tempo hari.
Sebelumnya Meta tidak menanggapi semua perkataannya dengan serius, kini ia mulai berpikir kalau Saif menyukainya. Kata yang Saif ucapkan mulai mengganggunya. Meta mulai mengingat perkataannya selama satu bulan kebelakang. Semua perkataan bahwa dia mengindikasikan bahwa dia tertarik padanya.
" Mbak ..Mbak.. Mbak Meta" Rahma memanggil Meta, mengulang-ulang karena Meta tak mendengarnya.
Meta tersadar ketika ada yang memanggilnya.
" Iya ada apa?."
" Kok melamun ada apa mbak?."
" Engga apa-apa hanya sedikit berpikir."
" Berpikir kapan gajian mbak?," gurau nya
" Masih lama Ma gajiannya, mau bicara apa kamu?," sahut Meta.
" Minggu depan aku mau minta libur hari Selasa."
" Oke.. besok mungkin baru buat jadwal untuk Minggu depan. memang kamu punya acara tumben minta?."
" Ada acara keluarga, acara nikahannya kakak sepupu, makasih ya mbak."
"Iya. Nanti kamu yang istirahat dulu."
Cindy hari ini libur karena itu Meta meminta Rahma istirahat terlebih dahulu.
Setelah Rahma beristirahat lini giliran Meta yang istirahat, kali ini ia istirahat bersama Siska.
Mereka menuju kantin sambil berjalan. Meta mencoba bertanya kepada Siska tentang apa yang alami sekarang.
" Sis, kira-kira kenapa cowok tertarik padaku?."
" Ya ngga tau lah kan hanya mereka yang tau kenapa bisa tertarik padamu."
" Menurut pandangan kamu?."
" Kamu baik dan bukan cewek yang suka macam-macam, tapi kalau di mata cowok mungkin beda jawaban. Memang kenapa?."
" Tidak."
Meta sambil menggelengkan kepala.
Terlihat sekilas melihatnya bingung lalu Siska melanjutkan perkataannya.
"Cowok itu lebih real kalau menilai cewek yang di sukai, mereka kebanyakan ngga suka berbasa-basi. kalau mereka suka akan mereka tunjukkan kalau ngga suka mereka milih cuek bersikap bodoh amat, cowok akan tertarik jika cewek itu memang di sukainya."
Terang Siska panjang dan Meta hanya mendengar nya sambil berpikir apa Saif seperti itu.
Mereka sudah sampai di kantin.
" Sebentar Meta aku mau kesana, aku mau pesan soto."
" Iya."
Dan Meta memilih nasi uduk untuk makannya sore ini.
Setelah memesan makanan masing-masing mereka duduk di bangku yang ada di tengah kantin. Obrolan yang terpotong tadi kami lanjutkan sambil makan.
" Ada cowok yang tertarik ke kamu lagi. Siapa?."
" Aku juga belum tau, tapi dia menunjukkan hal yang sama seperti Ryo dan Irfan, ingat cowok yang pernah jemput aku yang dulu?."
" Sebentar aku ingat-ingat,.. Cowok yang bawa Lexus?."
" Iya."
" Sudah lama kamu kenal dia?."
" Setahun ini."
" Dia tertarik padamu tapi belum bilang?."
" Iya..Dia di Denpasar tapi lusa sudah pulang."
__ADS_1
" Kelihatannya kalian selalu komunikasi?."
" Malah setiap hari chat dan telpon."
" Memang aku dan dia ngga sering ketemu sebelum dia ke Bali, mungkin bisa di bilang seminggu sekali dia selalu meluangkan waktu menemui aku"
" Sebentar.. sebentar.. Tapi setiap dia menghubungi kamu, kamu nya merespon ??."
" Iya kan aku anggap dia teman sama seperti kamu dan lainnya."
" Hah kekurangan kamu itu, selalu menganggap cowok yang mendekati kamu itu sebagai teman."
" Kapan kamu akan menemukan pacar kalau semua cowok kamu samakan?."
" Cuma belum waktunya aku dapat dan bukan aku anti cowok."
" Dia orang mana?."
" Orang sini saja."
" Kalau lihat lexus nya dia seperti Ryo?."
"Secara materi iya cuma kalau Ryo kan dari keluarga yang modern, kalau dia dari keluarga Indonesia banget."
" Aa... Kelihatannya lebih berbahaya dari Ryo."
" Maksudnya?," tanyaku keheranan.
" Kalau keluarga modern lebih mudah masuk dalam keluarga nya, lebih terbuka
kalau keluarga Indonesia banget berarti punya aturan kalau ingin masuk dalam keluarga. Maksud mu seperti itu kan?."
" Ngga salah aku mengajak kamu cerita."
" Pengalaman ku lebih banyak dari kamu Meta, aku juga pernah menghadapi itu."
" Pengalaman adalah guru."
" Iya ternyata kalimat itu benar banget setelah kita mengalami sendiri."
" Ngga perlu juga karena semua yang akan terjadi selalu by self."
Hari ini Meta mendapat sedikit pencerahan dari Siska jadi tidak perlu ia ketakutan yang berlebihan, menunggu sambil berjalannya waktu. Meta juga tidak berusaha untuk merancang yang akan terjadi padanya.
Sekarang ia tidak bisa menghindari.
Jam di toko menunjukkan pukul 20.00, Ada seorang pelanggan lama yang berkunjung,
Ibu Wijaya keturunan Tionghoa seorang istri pengusaha besar di kota ini.
Kemarin beliau telpon ke toko ingin membuat janji untuk hari ini.
" Selamat malam ibu Wijaya?."
terdengar suara Rahma menyapa, aku masih di dalam gudang melihat catatan barang.
" Selamat malam mbak Rahma."
Lalu Meta keluar dari dalam gudang.
" Iya ibu Wijaya selamat datang," ucapku.
" Bagaimana cincin yang saya tanyakan kemarin mbak Meta?."
" Silahkan ibu di sebelah sini," sambil aku mengarahkan ke etalase cincin.
Meta menunjukkan sepasang cincin kembar yang beliau tanyakan kemarin.
" Ini ibu yang terbaru."
" Bisa ambilkan cincin yang lain, biar saya bisa pilih?."
" Iya ini ibu."
" Ini permata nya jenis nya sama kah mbak Meta?."
__ADS_1
" Tidak sama ibu yang ini diamond yang satunya berjenis batu ruby."
" Kelihatan sama ya. Harganya beda?."
" Iya. Harganya sedikit tinggi yang Ruby ini."
Ada satu aturan untuk para karyawan di Julia Jewelry, di larang menyebut kata mahal karena kata mahal hanya di ucapkan oleh pembeli. Tidak mungkin bukan ! karyawan toko bilang Mahal untuk barang yang di jualnya.
" Setelah di lihat-lihat memang permata nya bagus yang Ruby."
" Iya ibu."
" Boleh saya foto cincinnya?. Saya tunjukkan ke anak saya dahulu."
" Silahkan ibu."
Setelah menunggu beberapa saat.
" Saya mengambil yang ini saja mbak Meta. tolong sekalian di bungkus untuk kado."
" Baik ibu " Meta meminta Rahma mengambilkan dua kotak cincin Velvet dan pita, dan memintanya untuk membungkusnya dengan cantik.
"Tolong di kasih kartu ucapannya sekalian mbak Meta." sambil menyerahkan kartu debet pada Meta.
" Iya ibu.. Kartu ucapannya free."
Ibu Wijaya pengunjung terakhir di toko dan menjadi penutup yang sempurna untuk hari ini karena membeli sepasang cincin kembar yang nilainya cukup tinggi.
Dalam perjalanan keluar Mall handphone Meta berdering Saif menelepon.
" Iya Saif."
" Masih di jalan?." tanyanya
" Ini masih baru keluar dari toko."
" Hanya mau bilang besok sore aku pulang dan mungkin seharian besok aku ngga hubungi kamu dulu."
" Besok pulangnya?."
" Iya. Aku juga sudah berbenah. nanti kalau sudah tiba disana aku hubungi lagi."
" Ya sudah hati-hati saat pulang."
" Oke. Kamu juga hati-hati pulang ke rumahnya. selamat malam."
Tepat saat Meta mematikan panggilan telepon, Meta melihat ada chat dari Siska
" Beri tau aku kelanjutan ceritamu, karena aku ingin tau siapa Saif itu. " 😜😜😜
"😏😏😏😏" Aku hanya membalasnya dengan emoji.
" Aku mulai tertarik dengan kisah mu ini Meta."
" Maksudnya kamu pingin tau."
" Iya. karena kamu berbeda tadi waktu bercerita."
" Sama saja."
" Yang menilai kamu itu bukan kamu sendiri tapi orang lain."
" Ternyata kamu juga bisa menakutkan."
" Memang aku hantu?."
" Iya hantu. Ya sudah aku mau pulang dulu."
" Hati-hati."
Meta menghela nafas panjang dan berjalan menuju motorku berada.
Setelah dua bulan tidak bertemu
Pertemuan nya akan terjadi kembali.
__ADS_1