
Telepon itu berjalan sekitar lima menit.
Setelah itu Saif masuk ke dalam rumah Meta dan duduk di sofa ruang tamu.
Saif hanya ingin tenang ketika sedang bersama Meta, tapi apa daya kecanggihan komunikasi membuat ia harus selalu menerima telepon dimana saja dan dari siapapun.
Menunggu Meta bersiap-siap lumayan lama selain tidak ada yang di lakukan Saif, ia lebih ingin berpikir tentang perkenalannya dengan orang tua Meta.
Dia mengambil langkah itu dan kini merasa bingung setelah mengenal secara langsung orang tua Meta. Dalam diri orang tua kekasihnya ia melihat keramahan dari keduanya serta menangkap kesamaan semua orang tua yang sangat menyayangi anaknya.
Selain itu pula ia sadar akan perasaannya terhadap Meta yang cukup besar.
Beberapa kali Saif mengambil nafas panjang untuk menghentikan pikiran negatifnya.
Suara handphone Meta yang tergeletak di meja ruang tamu mengalihkan pandangannya.
It's you
it's always you
if i'm ever gonna fall in love
i know it's gone be you
it's you
it's always you
Met a lot of people but nobody feel like you
So please,
don't break my heart
don't tear me apart.
🎵 (it's you, Ali Gatie)
Sebuah penggalan nada lagu milik Ali Gatie terdengar dua kali berbunyi. Membuat Saif meraih handphone Meta dan melihat nama yang muncul di layar " Irfan".
Saif tidak mengangkat telepon itu tapi sudah wajahnya terlihat gusar, tanpa berpikir panjang ia mematikan telepon itu.
" Siapa yang telepon a'?," kata meta yang baru saja turun dari anak tangga terakhir mendengar handphonenya berbunyi tanda panggilan masuk.
Dengan nada bicara yang kecewa dan gusar Saif menjawab singkat. " Lihat sendiri saja !!!."
Meta terdiam dan menatap aneh ke arah Saif yang cuek setelah Meta menghampirinya.
" Siapa sih," gumam Meta sambil mengambil handphonenya dari tangan Saif.
__ADS_1
Setelah handphone di tangannya ia melihat tak terjawab dua kali Irfan. Dia melirik Saif yang mengacuhkan keberadaannya.
Kelihatannya Saif marah setelah tahu siapa yang meneleponnya, Meta berkata sendiri dalam hatinya.
" Mau apa dia menelepon?," nada bicara sinis terdengar dari Saif.
" Nggak tahu a'." Meta menjawab dengan hati-hati karena suasana hati Saif sudah tidak baik.
"Kenapa tidak di telepon balik?."
" Engga... Nanti juga ketemu di mall," jawab Meta agar tidak memperpanjang pembahasannya dengan Saif. Justru jawaban itu membuat Saif lebih curiga.
" Memang masih mengharap ketemu di mall?."
Menjawab apapun Meta akan salah karena dia memang nyatanya di telepon cowok yang pernah suka pada Meta.
" Ya engga juga. Mungkin ada hal penting yang ingin dia katakan."
" Tahu begitu aku jawab tadi teleponnya. Dia masih mengejar kamu?."
" Engga a' sayang. Lagian dia juga sudah tahu kalau aku punya pacar," tegas Meta.
Saif pun belum percaya begitu saja. " Kamu sendiri yang beritahu dia?."
" Dia kan teman Siska. Jelas Siska pasti kasih tahu ke Irfan."
Meskipun Meta tidak yakin akan hal itu, bahwa Siska akan memberitahu Irfan jika dirinya sudah punya pacar. Di dalam otak Meta terpikir ia harus sedikit berbohong untuk meredakan kemarahan Saif.
Meta dalam keadaan berdiri dan meraih tangan Saif yang masih duduk.
" Ayo dong a' sayang Coto Makasar nya sudah menunggu."
" Sudah tidak ada nafsu makan, lapar ku juga hilang," nada bicara Saif masih sinis.
Mau tidak mau Meta duduk di samping Saif dan berusaha membujuk Saif yang memang sedang cemburu berat.
" Jangan begini a' sayang. Aku kan sudah pacar kamu jadi kenapa masih cemburu. Aku juga biasa saja ke dia." Meta berkata pelan tanpa mengucap nama Irfan.
" Kamu memang biasa tapi belum tentu dia juga biasa saja. Dia itu pernah suka ke kamu.
Kalau dia telepon lalu kamu nggak angkat harusnya dia tau kamu sedang repot atau lainnya, dia malah telepon berulangkali."
Meta hanya tersenyum dan kedua tangannya memegang pipi Saif.
" I love you." Meta memandang mata Saif untuk menyakinkan Saif jika ia hanya menyukai cowok yang berada di depannya.
Sedangkan Saif diam dan hanya melihat Meta dengan perasaan yang masih kesal.
" Senyum dong...," goda Meta setelah menurunkan kedua tangan dari kedua pipi Saif beralih memegang telapak tangan Saif.
__ADS_1
"Hm". Hanya terdengar satu kata itu dari Saif.
" Baiklah ada satu cara agar pacarku ini tidak kesal." Wajah Meta mendekat ke sebelah kiri dari wajah Saif, hitungan detik ia mencium pipi kiri Saif. " Nah sekarang ayo kita berangkat ke rumah makan Daeng Andi."
" Kamu ini, orang masih kesal malah di cium."
" Biar kesalnya pergi jauh-jauh." Meta tersenyum manja pada Saif.
" Ya sudah kita berangkat." Saif akhirnya berdiri dari sofa. " Yuk," sambut Meta.
jMereka keluar rumah dan Meta mengunci pintu rumah, karena rumahnya kosong untuk saat ini.
Sedikit trik dari Meta yang bisa membuat kekasihnya akhirnya mau beranjak dan menyingkirkan secuil kekesalannya.
Mobil melaju ke arah Utara menuju rumah makan Daeng Andi yang jalannya satu arah dengan mall.
Meta tak mengira jika Saif akan begitu cemburu yang mungkin jarang di tunjukkan oleh kebanyakan cowok di luar sana.
" Sayang, aku nggak suka kamu dekat dengan cowok lain, terutama yang pernah menyukai mu." Saif ternyata tidak serius mengemudi meski pandangannya lurus ke arah jalan raya, ia masih memikirkan cowok lain yang pernah jatuh hati pada Meta.
Meta juga memandang ke depan sambil mendengarkan kata-kata Saif.
" Aku tidak masalah kamu dekat dengan cowok lain yang sebatas teman. Mungkin ada beberapa cowok yang harus kamu hindari," Saif sedikit menengok ke Meta dan melanjutkan kata-katanya. "Aku cemburu terhadap mereka, aku tidak pernah suka dan tidak tahan kepada seorang cowok yang mendekati kekasih ku."
" Iya. Aku juga tidak suka bergaul begitu saja dengan semua cowok. Aku juga sudah menjaga jarak kepada cowok yang pernah menyukaiku."
" Aku sungguh-sungguh menyukai dan mencintai kamu Meta sayang."
Tangan kanan Saif tetap memegang kemudi, sedangkan tangan kirinya di lepaskan dari kemudi untuk memegang tangan Meta yang sedang memegang tas di pangkuannya.
Meta pun menengok ke arah Saif " Apa cinta kamu begitu besar terhadapku?."
" Sangat Meta. Aku rela mengabaikan dunia hanya untukmu Meta sayang. Dan aku tidak perlu waktu lama untuk mencintaimu seperti ini."
" Ha iya juga. Kita baru jadian baru enam bulan." Meta sekedar bicara karena suasana begitu serius.
" Kamu ingatnya hanya itu. Kita kan juga sudah kenal satu tahun lebih. Malah dalam waktu itu aku sudah menyukaimu."
" Aku juga mengingatnya a' sayang." Senyum lebar di tampakkan Meta.
Saif menggelengkan kepala melihat Meta yang berusaha bersikap manis.
" Hampir lupa...," selah Saif. Meta pun sedikit terkejut," Apa ?"
" Kamu tidak boleh berboncengan dengan mereka yang menyukaimu," kata Saif tanpa ada rasa kesal lagi.
" Kalau tukang ojek online bagaimana?."
Saif tertawa lebar mendengar ucapan Meta yang ia tahu Meta sengaja bertanya untuk membuatnya tertawa. Mereka sudah sampai di rumah makan untuk makan siang dan akan di lanjutkan mengantar Meta ke mall.
__ADS_1
Seseorang pernah berkata padaku bahwa kebanyakan orang tidak tahu kenapa seseorang bisa mencintai hingga melebihi batas. Sedangkan tidak ada alasan khusus mengapa seseorang bisa bersikap berlebihan saat mencintai. Yang tidak lain cinta itu sendiri yang membuatnya demikian.