
Sejak pagi buta Siska selalu mengingatkan Meta melalui chat, jika hari ini Lexus tiba dari Bali. Meski nggak diberitahu berulang-ulang ia tau kalau hari ini Saif tiba, meski belum tau sampai di rumahnya jam berapa. Tidak bisa di pastikan jamnya karena keadaan lalu lintas bisa saja macet. Meta masuk shift siang hari ini dan biasanya setiap hari Senin Mall tidak terlalu ramai.
Siska selalu memanggil Saif dengan sebutan Lexus, bukan nama orangnya tapi malah mobilnya untuk menyebutkan nama.
" Dia punya nama Siska," ucapnya tegas.
" Iya tau."
" Kenapa kamu masih menyebutkan Lexus?."
" Lucu aja, kan keren di panggil begitu."
" Kesannya kamu manggil mobilnya bukan orangnya."
"Hahaha... Kenapa juga kamu protes orang nya saja tidak marah."
" Karena dia ngga tau kalau kamu panggil Lexus."
" Aku yakin dia ngga bakal marah Meta."
" Percaya diri banget kamu."
" Iya Siska gitu harus percaya diri. kamu ngga tanya dia sudah sampai apa belum?."
" Ngga ah. .. Takut ganggu bisa saja sekarang dia tidur."
" Wow kamu mulai memahami tentang dia "
" Ya ampun Siska! siapapun juga tau kalau seharian berkendara itu capek."
" Tapi itu benar kan?."
" Terserah kamu deh Sis."
" Selamat menunggu...Aku mau cuci baju sudah dulu ya Meta."
" Ya sana."
Seharusnya dia memang sudah sampai di rumahnya sekarang sudah jam delapan pikir Meta sambil memotong semangka.
Di lemari es ada beberapa buah Meta ingin membuat salad buah yang sederhana dengan mayonaise di taburi cia seed, cukup nikmat di santap sebelum makan nasi.
Belum sempat ia menikmati salad Sila datang dari pintu samping rumah, " Meta... Aku ingin nasi pecel, ayo anterin aku?," sambil mengambil salad buah yang aku taruh di dalam mangkuk. " Main comot aja kamu ini, sebentar aku mau menikmati ini dulu." jawab Meta dengan mulut mengunyah buah.
" Memang mau beli dimana nasi pecel?."
" Beli di warung Bu Nas, jalan kaki saja ya?."
" Ya terserah, aku mau menghabiskan salad ku ini dulu "
" Aku bantu biar cepat habis " Terlihat Sila mengambil satu sendok penuh salad dan langsung di lahapnya.
" Pelan-pelan kenapa Sil !."
Setelah satu mangkuk salad buah ludes Meta dan Sila berjalan kaki menuju warung Bu Nas. Warung itu letaknya di jalan raya jadi Meta dan Sila harus berjalan kaki kurang lebih 300m, sambil berjalan santai menikmati suasana daerah tempat tinggal mereka, yang jarang mereka lakukan karenakan kesibukkan bekerja. Rupanya di daerah tempat tinggalnya ini suasananya seperti komplek sepi dan rumah-rumah sekarang lebih modern jika di bandingkan dua tahun lalu. Sekitar sepuluh menit berjalan sampai d warung Bu Nas, warung yang menjual berbagai jenis masakan yang rasa nya juga enak. Berbagai sayur dan lauk tersedia di warung ini karena banyak menu tidak salah jika warung ini selalu ramai para pembeli.
" Ibu aku mau nasi pecel," kata Sila kepada penjual.
" Berapa neng?."
" Kamu mau juga Meta?." Sila menepuk bahu Meta. Karena Meta sedang memandang kendaraan yang lalu lalang.
"Ah iya mau."
"Dua ya ibu."
" Makan disini apa di bungkus neng?."
__ADS_1
" Di bungkus saja Bu."
" Sebentar ya neng."
Sila dan Meta duduk di kursi panjang sambil menunggu nasi pecel. Tidak perlu menunggu lama untuk dua bungkus nasi pecel lalu mereka segera beranjak dari warung untuk kembali pulang.
Begitu sampai di rumah mereka menuju ruang makan. " Kamu cuti berapa hari?," tanya Meta kepada Sila.
" Cuti dua hari, cuti awal tahun."
" Cuti dua hari mau punya rencana apa?."
" Nanti sore mau berangkat ke Bromo sama teman SMA."
" Aku pingin juga nih kesana tapi selalu gagal ada saja yang buat gagal."
" Kalau kamu sudah punya pacar pasti ngga gagal."
" Lha apa hubungannya?."
" Kan ada yang menemanim."
" Ah iya aku lupa kalau kamu sudah punya pacar baru."
" Nah iya kan makanya aku bisa pergi, Saif belum pulang dari Bali?."
" Sepertinya sudah."
" Hubungan kalian seperti apa sih di bilang teman ya dekat, di bilang dekat juga juga ngga pacaran? "
Meta hampir tersedak mendengar perkataan Sila, buru-buru Meta menuang air putih yang di atas meja. Menurutnya tidak salah perkataan Sila.
" Aku dan dia teman," jawabku sambil meletakkan gelas.
" Sekarang teman nanti ke depan kan belum tau "
" Aku ngga mau mikir yang terlalu jauh dulu, lho kamu mau kemana?." tanyaku melihat Sila beranjak dari tempat duduk nya.
" Disini dulu kita ngobrol."
Tanpa menjawab dia beranjak keluar dari rumah sambil melambaikan tangannya.
Sudah tengah hari Saif belum juga memberi kabar melalui chat ada rasa jengkel di dalam hati Meta. Seharusnya dia memberi kabar lewat chat kalau sudah sampai ataupun belum. Kepada Siska dan Sila dia mengatakan tidak ada apa-apa dan biasa saja perasaannya pada Saif lalu Kenapa Meta menjadi sensitif padahal masih sehari nggak dapat kabar dari Saif.
Seperti orang yang kebingungan di rumahnya sendiri mau mengepel lantai kamarnya malah ke ruang tamu, mau mengambil laptop di kamar malah lupa setelah masuk kamar. Serasa melakukan sesuatu tapi malah salah melulu, pikirannya sedang melanglang buana sampai dia berkata pada dirinya sendiri " stop meta ada apa denganmu, " sambil kedua tangannya memegang kepalanya sendiri dan mondar-mandir di dalam kamar.
" Sekarang lebih baik kamu mandi biar segar siap-siap bekerja...Oke.. Sekarang juga ambil handuk dan pergi ke kamar mandi," Meta masih mengoceh sendiri. Ketika orang tidak dalam ketenangan maka akan terjadi seperti yang Meta alami.
Jam masih menunjukkan pukul 12.45 Meta langsung pergi berangkat bekerja dengan berpikiran mungkin setelah tiba di Mall pikirannya mulai terarah dan bisa bertindak dengan benar. Terlalu berangkat awal sampai di mall pukul 13.20 Wib dan jam masuk baru jam 14.05 Wib masih ada waktu empat puluh lima menit untuk bekerja, akhirnya dia memutuskan mengunjungi toko Eca bekerja yang ada di lantai tiga. Sport station tempat Eca bekerja. " Hai Meta tumben kemari?."
" Iya aku datang terlalu awal jadi main kesini saja, sudah kamu kerja saja aku mau berkeliling siapa tau ada yang cocok terus aku beli."
" Lagian siapa juga yang mau menemani kamu, aku sibuk kerja hehehe."
Meta berjalan mengelilingi Sport station melihat semua barang yang di jual, tidak hanya satu merk tapi bermacam-macam merk ternama yang ada disini. Matanya tertuju pada stand Reebok.
Kaos lengan pendek berwarna pink muda dengan aksen bertuliskan Reebook terlihat sederhana tapi berkelas.
Langsung Meta ambil, ia tempelkan di badan dan Meta merasa cocok dengan kaos ini. Memang harga menentukan kualitas karena semua barang di Sports station adalah import.
Meta membawa baju itu ke meja kasir ada Eca disana, " Ca .. Aku ambil yang ini tapi aku pakai nama kamu boleh?" Meta memohon pada Eca.
Biasanya jika karyawan toko membeli produk di toko sendiri ada diskon karyawan dan itu lumayan antara dua puluh hingga tiga puluh persen. Maka dari itu Meta meminta beli baju pakai nama Eca, lumayan ada diskon.
" Hemm kamu memang ngga mau rugi Meta."
" Bukannya begitu tapi mumpung punya teman yang bekerja disini jadi sekalian saja."
__ADS_1
" Iya..iya aku kan teman yang pengertian."
" Terima kasih Eca kamu baik deh."
" Ya sudah biar disini dulu barangnya nanti aku antar ke tempat kamu."
" Oke. Sudah jam dua aku juga mau kerja."
" Oh ya Meta, Irfan tadi Mencari kamu dan bertanya padaku kamu shift apa lalu ku jawab siang."
" Oh oke terima kasih."
Setidaknya sesaat Meta lupa tentang hal yang membuatnya risau, ada baiknya juga dia berjalan-jalan dan membeli sesuatu. Belanja juga menjadi salah satu faktor menghilangkan stress, meskipun Meta tidak benar-benar mengalami itu hanya cemas kepada seseorang.
Setelah Meta sampai di toko kini waktunya Cindy istirahat, dia shift pagi.
" mbak tadi Miss Louisa ke sini, Miss Louisa bilang kalau mbak sudah datang di suruh chat beliau."
" Jam berapa tadi kemari?."
" Jam sebelas. Aku istirahat dulu ya mbak."
" Oke."
Meta mengambil handphone yang masih di dalam tas dan ia menchat Miss Louisa.
Meta berdiri di balik meja kasir, tanpa
disadari oleh Meta bahwa ada seseorang yang sedang mengawasinya. Dia mengawasi gerak-gerik Meta di dalam toko ingin mendatangi nya tapi takut mengganggu pekerjaan Meta. Dia duduk di seberang sambil menikmati mocca americano, sambil sesekali tersenyum melihat Meta yang membuat meme wajah lucu saat sedang chat. Dia tetap tersenyum padahal dia sudah sering melihat meme wajah Meta karena dia sudah cukup mengenal Meta.
Siska rupanya juga sedang chat ke Meta menanyakan si Lexus, karena itu Meta membuat meme wajah mungkin karena Siska sedang menggodanya.
Tidak berselang lama chat Meta dan Siska berakhir ada chat yang kembali masuk di smartphonenya. Nomer asing yang chat
" Halo Meta sedang chat siapa?."
Dengan sedikit berpikir nomer siapa itu, Meta ragu buat membalas. Sempat terpikir itu nomer Irfan kata Eca tadi dia sedang mencarinya.
Lalu nomer asing itu kembali chat.
" Kamu lucu kalau sedang baca chat."
" Apa kamu selalu mempunyai meme wajah kalau baca chat? "
" Di situ nggak ada tempat duduk,.kok berdiri saja?."
Meta terlihat bingung sambil berpikir ini siapa yang chat dan sedang menggodanya.
Lalu ia keluar toko melihat kanan-kiri dan sekeliling.
" Ini siapa sih?, Siska, Eca, Lukas, Irfan , Sila, Ryo???."
" Mungkin."
" Ya sudah terserah tapi jangan ganggu orang kerja" Meta masih berdiri di tengah pintu toko
" Meta juga bisa jahat ya?."
Meta masih tetap berpikir siapa orang ini, tidak mungkin teman-teman di Mall nya bercanda seperti ini.
" Kamu mencari sesuatu?."
" Kamu dimana?" Meta masih melihat si sekeliling.
Sosok cowok ini tidak membalas chat, dia berdiri dari tempat duduk dan meninggalkan mocca americanonya di meja, berjalan keluar dari cafe kecil itu menuju pembatas kaca di dekat eskalator dan melambaikan tangan ke arah Meta.
Seketika itu pandangan Meta menuju sosok cowok yang melambaikan tangan.
__ADS_1
" SAIF..."
Apa ini rasanya menanti seseorang ....