Aku Kedua Juga Terluka

Aku Kedua Juga Terluka
Sejauh ini


__ADS_3

Malam itu ketika tiba-tiba Saif menutup telepon belum ada lagi telepon darinya.


Hari ini sudah sembilan hari Meta tidak mendapatkan kabar melalui telepon ataupun chat dari kekasihnya itu.


Sebelum memutus sambungan telepon waktu itu Saif bilang kalau akan menelpon kembali.


Sebagai kekasih Meta juga merasa khawatir ada apa dan kenapa Saif. Gelisah yang Meta rasakan, hingga ia berpikir hal yang buruk telah terjadi pada Saif. Seharusnya Saif memberitahu apa yang terjadi meski lewat chat untuk mengurangi kecemasannya.


Handphone Saif sama sekali tidak bisa dihubungi.


Meta juga bertanya pada Sila untuk memberitahu nomor telepon Robi yang mungkin tau tentang keberadaan ataupun kabar Saif. Tapi sayang nomor handphone Robi pun tidak aktif.


Syukurlah Siska bisa membuat Meta lebih tenang dan berpikiran positif bahwa Saif mungkin sedang sibuk atau ada hal yang sangat penting ia lakukan sehingga lupa untuk memberi kabar.


Siska dan Meta sedang berada di kantin mall, mereka tetap berada disana meski sudah selesai makan siang. " Sudah jangan berpikir yang aneh-aneh," kata Siska sambil mengaduk minumannya.


Meta hanya terdiam mencoba menanamkan dalam pikirannya bahwa tidak ada hal buruk yang terjadi pada kekasihnya.


"Dalam minggu ini pasti dia akan menghubungimu kembali. Karena melihat sikap dan perhatiannya aku yakin dia sangat menyukai mu." Lanjut Siska meski Meta tidak berkomentar apapun tapi ia yakin bahwa Meta mendengar setiap ucapannya.


Meta yang sedari tadi hanya menatap handphonenya yang ada di atas meja, berharap Saif akan menghubungi.


Dengan melihat jam di tangannya Siska, ia mengajak Meta kembali ke dalam mall karena jam istirahat telah usai. " Ayo masuk tinggal lima menit masuk." Siska berdiri dari kursi di ikuti Meta yang juga ikut berdiri.


Pemikirannya sedikit terbuka setelah berbicara pada Siska, ia yakin jika Saif memang belum bisa menghubunginya.


Meta duduk di belakang meja kasir Julia Jewelry, dia memang bekerja sama seperti sebelumnya tapi sembilan hari ini Meta lebih diam tidak seperti Meta yang biasanya.


Cindy dan Rahma hanya bisa melihat dan membisik di antara mereka melihat seniornya berubah pendiam selama berhari-hari.


" Mbak Meta kenapa ya, apa putus dari pacarnya?," kata Rahma kepada Cindy. Mereka berdua berdiri dan membersihkan etalase perhiasan.


" Entahlah lah, tapi misal putus seharusnya mata mbak Meta bengkak karena menangis." Cindy menjawab pertanyaan Rahma dengan melihat kearah Meta. "Mungkin hanya bertengkar." sambung Cindy.


" Toko jadi nggak enak nih suasananya, sepi."


Cindy diam dan mengangkat alis, dia pun juga tidak tahu persis apa yang terjadi pada seniornya.


Meta menutup laptop setelah mengecek laporan dan memanggil Cindy. " Cindy tolong nanti kamu print laporan di flashdisk ini besok serahkan ke aku."


Cindy yang berhenti membersihkan etalase ketika Meta berbicara padanya. " Bukannya besok mbak Meta libur."


Meta baru tersadar jika besok hari Kamis,.dia libur. " Ah iya aku lupa."ucapan singkatnya sambil kedua tangannya memegang kepala.


" Tapi tetap kamu bawa ya flashdisk ini, lusa laporannya serahkan ke aku."


Cindy berjalan ke arah Meta untuk mengambil flashdisk yang ada di tangan Meta


" oke mbak."


" Ya sudah aku mau pulang dulu." Meta berjalan ke dalam gudang bersiap-siap pulang.


Meta mengarahkan motor yang ia kemudikan

__ADS_1


kesebuah pedagang salad buah dan sayur yang masih di sekitar mall. Meski ia beberapa hari ini makanya tidak teratur tapi baginya salad adalah obat penenang. Makanan yang menyegarkan dan membangkitkan selera makan.


Meta ingin pulang sedikit terlambat agar ia tidak kembali memikirkan hal yang buruk ketika ada di rumah.


Berada di luar memberinya udara yang segar, melihat keramaian di jalan membantu mengalihkan pemikirannya tentang kekasihnya.


 


〰️〰️〰️


 


Sementara itu Saif...


Di rumahnya ia tidak kalah kalutnya dengan Meta. Dia sangat menahan keinginannya untuk menghubungi Meta, ia ingin mengirim chat tapi sekarang belum bisa dilakukan.


Saif juga sehari-hari berada di kantor dan pulang ke rumah ketika sudah sangat larut malam.


Saif ingin berlari menemui kekasihnya, ia akan merasa lebih baik jika di dekat Meta.


Di dalam otaknya hanya ada bayangan Meta yang mungkin sekarang sedang menunggunya.


Setelah malam itu ketika ia mengucapkan akan menelepon kembali kepada Meta, ia sama sekali belum bisa menghubungi Meta meski untuk sekedar chat. Saif telah mengingkari ucapannya yang telah ia katakan pada kekasihnya.


Perasaan bersalah menyelimuti dirinya kepada orang yang paling ia cintai sekarang.


Keesokkan hari setelah pertengkarannya dengan seseorang malam itu kini ia juga kembali harus menghadapi keluarganya.


Saif tidak memikirkan pertengkaran dengan keluarganya, karena itu sudah sering ia hadapi. Hanya satu yang ia ingin lindungi, ia tidak ingin Meta masuk dalam sebab pertengkaran keluarganya.


Semaksimal mungkin ia tidak membawa nama Meta ke dalam permasalahannya, karena gadis itu memang tidak pantas untuk di bawa dalam perselisihan keluarga.


Hari ini pula Saif meminta salah satu teman dekatnya untuk datang menemuinya di kantor. Sengaja ia meminta di kantor karena tidak mungkin ia berbicara di rumah. Saif menjelaskan keadaannya kepada Soni teman dekatnya, saat ini ia ingin meminta bantuan untuk bisa menghubungi Meta.


Setelah jam kerja selesai sore harinya Soni pun datang ke kantor Saif.


Saif dan Soni sudah duduk di kantor. " Ini aku bawakan handphone dan nomor baru yang kamu minta." Soni meletakkan kedua barang itu di atas meja. " Terima kasih Soni, aku berhutang padamu," kata Saif sambil mengambil kartu telepon baru.


" Kamu cari masalah Saif, lalu bagaimana dengan gadis itu." Soni pun memiliki kecemasan atas masalah Saif. Saif menyandarkan punggungnya di sofa. " Aku menyukainya dan aku mencintainya." Saif berkata dengan perasaan yang ia rasakan kepada Meta.


" Cintamu hanya akan melukainya. Kamu lebih tahu keluarga mu, jadi aku rasa gadis itu akan mengalami kesulitan." Rupanya Soni tahu tentang keluarga Saif.


" Ah tidak... Aku tidak akan menyulitkan Meta. Sebisa mungkin aku akan di depannya agar dia tidak di lukai keluarga ku." Saif menegaskan kembali keyakinannya.


Soni pun masih menerangkan betapa rumitnya masalah Saif. " Bukannya kamu sudah menyeretnya dalam lingkaran keluargamu?."


" Tapi aku tidak akan menghadapkannya pada keluarga ku."


Soni menggelengkan kepalanya," Kamu terlihat sangat menyukainya. Aku harap kamu memang bisa menyelesaikan semua ini, khususnya untuk gadis itu. Jangan lupa bahwa kamu tidak bisa menyimpan semua ini terlalu lama."


Soni mengambil cangkir kopinya dan meminumnya.


Merasa sudah cukup menyarankan temannya. Soni akhirnya pamit pulang dan meninggalkan Saif yang masih duduk di sofa.

__ADS_1


Saif meminta Soni membawakan handphone sekaligus nomor baru agar bisa segera menghubungi Meta. Handphone milik Saif sebelumnya rusak tak terbalas karena di buang.


Setelah nomor terpasang kini tangan Saif menekan nomor dan itu adalah nomor Meta.


Meta baru saja merebahkan diri dan handphone nya berdering.


Terlihat nomor tanpa nama, nomor tidak di kenalnya.


" Halo...". Jawab Meta ragu karena tidak tahu siapa yang menelepon.


Saif terdiam sejenak karena lama tidak mendengar suara Meta. " Sayang...aku merindukanmu."


Meta yang merasa mengenali suara itu, " Ini...Ini kamu a' ?."


Lega perasaan Saif setelah mendengar suara Meta. "Hm... Ini aku Sayang. Maaf aku baru bisa menelpon mu sekarang."


Antara senang dan bingung Meta sedikit bernada emosi." Kamu darimana saja, kamu tahu aku sangat mengkhawatirkan kamu a'?."


" Maaf sekali lagi tapi jangan marah begitu. Aku akan menjelaskannya nanti." Seulas senyum di bibir Saif.


" Aku sangat merindukanmu, kapan kamu libur?." Tanya Saif agar segera tahu jawaban Meta.


Karena perasaannya belum begitu baik Meta hanya menjawab satu kata, " Besok."


Saif tahu bagaimana perasaan Meta sekarang.


" Oke. Bagaimana kalau aku menemui mu besok, Sayang."


Saif tahu yang ia katakan, meski besok ia harus bisa mencari alasan supaya dapat menemui kekasihnya. Itu bisa ia pikirkan nanti, terpenting ia bisa menenangkan Meta.


Saif semakin bersalah setelah tahu bahwa Meta sangat mengkhawatirkan nya.


Saif juga perlu menemui gadis yang sangat ia rindukan.


" Besok tunggu aku di rumah. Oh ya Sayang mungkin aku nggak bisa sering menelepon mu untuk sekarang-sekarang ini."


Meta hanya diam. " Aku akan menjelaskan besok," lanjut Saif.


"Oke."


" Ya sudah ini aku lagi kerja, aku matikan dulu telponnya. Aku mencintaimu Sayang."


"Iya." Sambungan telepon pun terputus.


Meta masih terkejut tapi dia juga lega bahwa Saif telah menelponnya kembali.


Ia akan menantikan Saif esok hari.


Mereka bilang cinta itu tak pernah salah,


situasi dan kondisi lah yang membuatnya salah. Siapa yang membentuk keadaan itu?


ataukah ini takdir.

__ADS_1


__ADS_2