
Hidup ini sungguh aneh dan juga tak adil. Suatu kali hidup melambungkan mu setinggi langit, dan kali berikutnya hidup menghempaskan mu begitu keras ke bumi.
"Ku mohon dengarkan aku Meta." Saif yang tetap memohon agar Meta tetap tinggal dan mendengar penjelasannya.
Tapi Meta sudah tidak kuasa mendengar penjelasan Saif, ia hanya perlu pulang.
Saif yang juga frustasi dengan keadaan itu dan terlebih melihat respon kekasihnya yang lebih terguncang, hanya bisa duduk termangu di lantai dengan menundukkan kepala. Saif juga sangat menyesali keadaan yang berubah drastis.
Meta ingin berdiri dari posisi duduknya di tanah tapi kaki Meta mendadak lemas. Ia memutar tubuhnya mencari pegangan untuk berdiri supaya tidak jatuh. Apa yang dikatakan Saif tadi...? Istrinya....? Perempuan itu?.
Meta merasa pusing, seakan seluruh darah di dalam tubuhnya terserap keluar. Tangannya dingin dan selain itu ia tidak bisa merasakan apapun. Bahunya tegang, dadanya berat sekali. Paru-parunya tidak mau berfungsi, ia tidak bisa bernafas.
Kepalanya serasa berkabut, tidak bisa berpikir apapun.
Pandangannya buram karena air mata
Telinganya berdenging tidak bisa mendengar apapun.
Ia berbalik dengan pelan, berjalan dengan linglung menjauh dari tempat saat berbicara dengan Saif. Baru berjalan beberapa langkah, kakinya terlalu lemas untuk menopang tubuhnya dan ia terjatuh terduduk kembali di lantai. Kepalanya disandarkan ke dinding. Matanya menatap kosong.
Istrinya... Saif... istrinya... istrinya...
Kata-kata itu terus berputar-putar di kepalanya.
Kemudian banyak hal yang bermunculan dalam ingatannya.
Mengingat hal ketika mereka masih sebatas teman, ketika mereka di rumah Sila saat itu Saif menerima telepon. Saat itu ia menerima telepon dengan hati-hati, telepon yang ia bilang dari mamanya. Itu sebenarnya adalah istrinya.
Dan alasan mengapa Saif menelponnya selalu di malam hari itu agar dia bebas menelponnya.
Dan mengapa saat pergi berkencan selalu pergi ke tempat yang tidak pada umumnya orang yang sedang kencan karena ia selalu menghindar dari keramaian yang mungkin saja bertemu dengan keluarganya atau orang-orang yang mengenal Saif.
Kenapa baru sekarang ia menyadarinya?.
Kenapa harus Saif?.
Meta menekan telapak tangannya ke dada.
Sakit.
Suara tangis Meta lebih terdengar karena ia tak sanggup menahannya.
Mendengar tangis Meta yang kembali pecah Saif pun tersadar dari frustasi dan bangkit untuk mendekati Meta.
Meta yang tidak tahu harus bagaimana dan melakukan apa. Dia tidak bisa pulang dalam keadaan seperti saat ini. Dengan tangan yang bergemetar Meta membuka tas kecilnya dan berusaha mencari dan meraih handphonenya.
Di dalam pikirannya ia hanya mengingat nama temannya Siska. Meta berusaha mencari nama Siska di kontak telepon, karena tangannya yang bergemetar ia tidak dapat menemukan nama Siska. Sakit, panik dan putus asa ia rasakan hingga tidak menemukan apa yang ia cari sehingga berulang kali handphonenya pun terjatuh dari pegangannya.
Saif semakin terpuruk yang melihat keadaan Meta seperti itu.
Saif yang kini terduduk di samping Meta. Merasa bimbang sesaat takut ada penolakan dari Meta. Saif mengulurkan tangan kanannya dan tidak berdebat. Meta menatap tangan yang terjulur itu, lalu kembali menatap mata Saif. Dengan agak gemetar ia menyambut uluran tangan Saif. Dan beberapa detik kemudian ia melepas tangan Saif dan berusaha mengambil kembali handphone yang terjatuh di lantai. " Siska... Siska" Nama itu yang kini di sebut Meta dengan bibirnya yang keluh. Saif yang masih berusaha menenangkan Meta dengan berbicara " Meta tenanglah...," pintanya.
Meta yang tetap menatap layar dan mencari nama Siska di handphonenya tidak bergeming apapun dengan ucapan Saif.
"Aku akan mengantarmu pulang, tapi aku mohon kamu tenang, kendalikan dirimu." Saif yang tak tahu bagaimana lagi harus menenangkan Meta.
"Tidak. Aku tidak mau pulang. Siska...Aku.. hanya Siska." Meta tidak berbicara jelas yang hanya bisa menyebut nama Siska.
Karena tidak tahan lagi melihat keadaan Meta, Saif mengambil handphone dari tangan Meta. Dan memahami keinginan Meta yang ingin bersama Siska.
Meta menatap Saif dan mencoba mengatakan keinginannya " Aku ingin ke rumah Siska," kata Meta pendek.
__ADS_1
Saif kembali memegang kedua tangan Meta, kali ini Meta tidak mencoba melepaskan tangan Saif. Kehangatan genggaman tangan Saif mengalir ke tubuh Meta, mengisi hati dan jiwanya, juga membuat hatinya serasa diremas-remas. Apakah ini terakhir kalinya ia bisa merasakan Saif menggenggam tangannya?
Lalu tiba-tiba Saif menarik tangan Meta dengan pelan namun yakin, menarik Meta mendekatinya, menarik Meta ke dalam pelukannya.
Meta yang masih terguncang dan menangis, terpana, tercengang dan sama sekali tidak menghindar atau menolak. Ia membiarkan Saif melingkarkan sebelah lengannya di sekeliling tubuhnya. Ia membiarkan Saif memeluknya dengan erat, sama seperti ketika Saif memeluknya sebelum-sebelumnya. Meta membiarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan Saif dan air matanya tetap mengalir.
Saif pun berharap waktu bisa berhenti saat itu.
" Aku tidak pernah menyesal mengenal mu," gumam Saif. " Percayalah padaku."
Meta menelan ludah dan air matanya semakin deras.
Saif melonggarkan pelukannya dan menatap mata Meta. " Berjanjilah padaku kamu akan baik-baik saja," katanya.
Meta yang masih linglung tidak dapat mengatakan apapun.
" Meta," panggil Saif. "Berjanjilah."
Meta menggigit bibirnya. Wajah Saif terlihat buram di matanya karena terhalang air mata.
Akhirnya Meta mengangguk.
" Aku akan mengantarmu ke rumah Siska."
Saif mencari nama Siska pada handphone Meta yang dipegangnya.
Setelah panggilan kedua Siska baru mengangkat telepon Saif.
Siska yang menyangka bahwa yang meneleponnya ialah Meta. " Iya Meta... Ada apa?,"
"Halo. Ini Saif."
" Iya Saif ada apa?." Siska pun sigap setelah tahu bahwa itu Saif.
Tanpa berbicara panjang Saif langsung bertanya. " Kamu ada di rumah kan?."
" Iya."
" Tolong kamu sharelock. Meta ingin ke rumah mu dan aku akan mengantarkannya."
" Oke."
Siska merasa ada yang aneh karena sekarang sudah jam sembilan malam kenapa Meta ingin ke rumahnya di jam seperti ini. Semakin aneh karena nada bicara Saif juga terasa putus asa.
" Aku akan mengantar Meta sekarang."
" Baiklah. Aku akan menunggu kalian."
" Terima kasih."
Saif mengakhiri sambungan telepon.
Saif mengambil tas kecil yang ada di dekat Meta. Dan meminta Meta berdiri dengan bantuannya. Ketika Meta telah berdiri dan akan berjalan dia menarik lengan Saif, " Aku tidak ingin mendengar apapun."
Saif hanya mengangguk.
Saif memahami jika Meta tidak ingin mendengar penjelasan yang lebih panjang. Saif memutuskan tidak meneruskan pembicaraan, agar tak melukai Meta meski kekasihnya itu sudah sangat terluka.
Saif tetap memegang tangan Meta saat menuju mobil yang terparkir di depan halaman guest house. Meta pun tak merasakan jika Saif sedang memegang tangannya. Tangannya sudah terlalu dingin.
Saif bermaksud membuka pintu mobil untuk Meta, tapi Meta menolak untuk duduk di depan di samping Saif.
__ADS_1
Meta beralih ke pintu mobil yang berada di belakang. Saif tidak dapat memaksa kemauan Meta, karena ia sadar betul jika ini memang ulahnya.
Mobil Lexus RX 350 yang melaju 60 km/jam itu sunyi, seperti tak ada orang di dalamnya.
Meta yang pikirannya masih kosong duduk di kursi belakang hanya bisa menangis dan air matanya tak mau berhenti. Dia tak mampu melihat Saif yang duduk di depannya, meski dari belakang hanya dapat melihat punggung laki-laki yang telah menghancurkan hatinya.
Sedangkan Saif mengemudi dengan perasaan tak tenang, ia lebih sering melihat Meta dari kaca spion. Meta yang berusaha menghapus air matanya setiap kali keluar dan Meta tidak memandang ke arah depan lebih suka melihat ke samping. Dan itu membuat hatinya terluka dan tak tega melihat kondisi Meta.
Siska menunggu kedatangan Saif dan Meta di teras rumah. Saat menerima telepon tadi ia ada di dalam kamar dan sudah akan tidur. Telepon Saif sepertinya mendesak sehingga membuat Siska berpikir untuk menunggu di depan mengingat Saif sendiri belum pernah ke rumahnya. Selain itu jika kondisi Meta baik tentu Saif tidak meminta share lokasi rumahnya.
Meski Siska tidak tahu apa yang terjadi tapi ia tahu ini bukan hal yang baik.
Hampir dua puluh menit ia menunggu akhirnya ada mobil yang berhenti di luar pagar rumah Siska.
Siska pun keluar menuju pagar dan membukanya. Terlihat Saif yang keluar dari sisi kemudi, sedangkan Meta tak terlihat.
" Hei Saif. dimana..." Belum sempat meneruskan ucapannya Siska melihat pintu belakang mobil terbuka. Siska melihat sosok yang keluar dari pintu itu adalah Meta.
Siska hanya membelalakkan mata melihat adegan itu, Saif dan Meta duduk terpisah. Siska meyakini bahwa ada yang telah terjadi di antara mereka. " Kalian darimana?," kata Siska agar mencairkan suasana.
Saif hanya mengangkat bahunya dan memberi isyarat pada Siska untuk meihat ke arah Meta.
Siska beralih melihat Meta. Mata sembab terlihat jelas di wajah Meta, Siska hanya bisa bertanya-tanya ada apa ini.
Meta tidak berkata apapun selain diam mematung. " Ayo masuk." Siska yang menghampiri Meta dan menggandeng tangan temannya, berjalan masuk ke dalam rumah.
Saif mengikuti di belakang mereka.
Setelah berada di dalam rumah Meta meminta untuk masuk ke kamar Siska. Saif menunggu di ruang tamu.
Setelah Siska mengantarkan Meta kini ia menemui Saif yang duduk dan nampak melamun.
" Kenapa Meta seperti itu?." Siska menanyakan sesuatu yang wajar ketika melihat Meta datang dalam keadaan yang kacau.
" Aku telah menyakiti nya." Jawaban Saif pun tak kalah putus asanya. " Aku mohon kamu bisa menemaninya malam ini," lanjutnya.
Siska tak menanyakan lebih lanjut karena Saif terlihat enggan untuk menceritakan kejadiannya.
Saif berdiri dan pamit untuk pulang. Siska berniat mengantar sampai teras rumah. " Kamu tidak perlu mengantarku tolong jaga Meta saja. Sebelum aku pulang bolehkah aku meminta nomor handphone mu?." Saif yang mengeluarkan handphone dari saku celana.
" Jangan salah paham, aku akan menghubungi mu untuk menanyakan kabar Meta nanti."
" Baiklah." Siska tidak berpikir panjang dan menulis nomornya ke handphone milik Saif.
Saif juga baru menyadari jika Meta belum pamit kepada orang tuanya. " Oh ya tolong juga kamu beritahu ke orang tua Meta jika sekarang Meta sedang menginap disini. Aku tidak tahu nomor orang tuanya."
" Tenang saja aku akan menghubungi orang tua Meta." Siska menegaskan akan melakukan hal itu.
" Terima kasih banyak Siska."
" Tidak masalah. Kamu hati-hati di jalan."
Saif melangkah pergi dari rumah Siska.
Dan saat mesin mobil sudah menyala Saif masih melihat rumah Siska, dimana kekasihnya sedang dalam keadaan terpuruk.
Sekarang ia hanya punya satu keinginan,
luka yang ia berikan agar cepat menghilang dari gadis itu.
Walaupun itu berarti ia harus menyerahkan seluruh hidupnya.
__ADS_1