
3 Januari,
Pulau Dewata penuh pesona, hampir seluruh negara di dunia mengenal Indonesia melalui Bali. Satu pulau yang terkenal dengan tempat wisata dan budaya yang sangat kental. Adat yang tetap di jaga dan di lestarikan oleh masyarakat setempat, meski jaman telah modern. Bali menjadi tempat wisata berskala internasional tidak heran banyak turis manca negara yang telah datang ke Bali. Fasilitas yang di miliki pun harus bertaraf internasional untuk mendukung pariwisata disana, hotel,vila, club malam dan cafe bertebaran di seluruh Bali.
Mengapa Bali menjadi tempat favorit turis asing karena di Bali banyak tempat wisata alam yang bisa memanjakan mata, turis asing sangat menyukai pemandangan alamnya mungkin karena di negara mereka tidak menemukan keindahan yang mereka dapat saat datang ke Bali.
Pemandangan alam di padukan dengan budaya yang membuat mereka tertarik akan keeksotisan pulau Bali. Tak terkecuali publik figur besar dunia pun datang ke Bali untuk sekedar berlibur, syuting, bulan madu bahkan ada pula yang melangsungkan pernikahan di Bali.
Banyak sekali tempat wisata yang dapat di kunjungi seperti pantai Sanur, pantai Kuta, pantai Lovina, tanjung Benoa, pantai Pandawa, Tanah lot. Jika ada yang ingin lebih kepada pemandangan yang hijau Ubud lah tempatnya seperti Monkey forest, sawah terassiring Tegallalang, Nyuh kuning village, Campuhan ridge walk dan masing banyak lagi tempat wisata yang dapat di kunjungi dan memanjakan penglihatan para pengunjung.
Mengenai Akomodasi yang di sediakan juga bervariasi dari hotel melati, hotel berbintang, bahkan vila yang mewah pun bisa di jadikan pilihan.
Hal semua itu yang membuat Saif bisa tinggal disana, ketertarikannya pada Bali membuatnya selalu datang ke Bali setiap tahun. Denpasar adalah tempat selama ini dia tinggal, kota yang menjadi awal tujuannya hingga kini. Baginya tidak susah mendapatkan teman asli orang Bali, tidak mengherankan jika mempunyai banyak teman disana. Saif selalu bisa menempatkan diri dimana pun dia berada, karena itu Denpasar kota kedua yang di anggapnya rumah kedua.
Dia bisa bersantai dan bekerja sesuai kemauannya, tidak seperti ketika dia berada di kota kelahirannya sendiri yang harus berhadapan dengan rutinitas setiap hari dan harus dia lakukan.
Jiwa bebasnya pula yang mengantarkannya ke Bali dan menemukan kesenangan yang tidak dia dapat di kotanya sendiri.
Pukul 09.00 WITA.. Saif menuju bengkel milik Ketut temannya, mengendarai motornya yang ia sewa selama ada disana. Dia lebih suka mengendarai motor daripada pada mobilnya sendiri, terlalu ribet jika harus mondar-mandir ke bengkel menggunakan mobil.
Lima belas menit tiba di bengkel, bukan bengkel biasa tapi bengkel modern. Saif selama di sana ia ikut membantu di bengkel yang hasilnya lumayan untuk biaya selama hidup disana. Dia suka otomotif kadang dia di minta untuk merombak motor ataupun mobil, hobi yang tidak bisa di lakukan di kota nya sendiri.
Dia tidak perlu seharian ada di bengkel jika sudah tidak ada yang di kerjakan dia bisa pulang, pekerja bebas sebutannya.
Meski sering ke Bali dan berkumpul dengan teman-teman nya Saif tidak pernah menceritakan hal pribadi nya kepada orang lain. Hari ini dia ingin ke pantai memandang lautan yang luas membuatnya merenung bahkan memikirkan sesuatu.
Entah setiap kali melihat Meta, ia merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskannya. Perasaan yang membuatnya bingung, perasaan yang mendorong nya melakukan sesuatu yang bahkan tidak dipahaminya sendiri. Seperti ketika Meta dekat denga Irfan dia mengatakan bahwa dia cemburu.
Ketika ia berusaha untuk tidak memikirkan Meta, malah jari-jari nya yang bergerak untuk menghubungi gadis itu.
Gadis itu serasa mengubah dirinya meski yang sebetulnya gadis itu tidak benar-benar melakukan tindakkan yang nyata agar Saif menyukainya. Meta hanya gadis yang bersikap normal sebagai teman tanpa berbuat hal khusus.
Sejak kapan Saif mulai memikirkan gadis ini dan sejak kapan dia mulai tertarik untuk mengetahui lebih dalam tentang Meta.
Salah satu alasan mengapa dia pergi ke Bali adalah Meta, untuk memastikan dan memahami apa yang ia rasakan terhadap gadis itu.
Dua bulan adalah waktu yang cukup untuk mencoba memahami, mungkin dengan tidak bertemu salah satu cara agar tidak terlarut dengan kebimbangannya. Satu minggu awal tiba di Bali memang perasaan masih biasa tapi setelah satu bulan berlalu perasaannya mulai kacau meski masih komunikasi melalui chat dan telepon. Dan ia sangat mencoba untuk tidak menghubungi Meta, apa yang di miliki gadis itu sehingga membuatnya selalu ingin menghubunginya.
Dan di pantai ini ia memahami bahwa ia tertarik pada Meta Kirana. Gadis yang tak sengaja di kenalnya yang mampu menjadi magnet, gadis yang mampu menyadarkan perasaannya meski berusaha menjauh dari Meta. Menjauh dari gadis itu semakin mendekatkan dirinya dengan Meta, si gadis Magnet
Jika Saif mempunyai perasaan seperti itu tidak ada salahnya hanya posisi yang nampak membuatnya salah. Lebih terkesan dia menghindari sesuatu yang mungkin bisa terjadi ke depannya. Ada sesuatu yang melapisi perasaannya, dan hal itu hanya di ketahui oleh dirinya sendiri.
Tanpa disadarinya dia sangat antusias dalam beberapa hari ke depan akan pulang, entah memang senang akan pulang atau si gadis magnet ini yang membuatnya pulang.
Sempat dia berpikir hanya dia yang merasakan ketertarikan, karena Meta memandang dia sama seperti semua teman laki-laki nya. Kata yang tepat ialah Saif sudah tidak bisa mundur tentang perasaannya dan yang harus ia lakukan berjalan maju membuktikan bahwa perasaannya itu benar bukan sekedar rasa penasaran akan sosok Meta.
Tinggal hitungan hari dia akan menemui si gadis Magnet, dia akan menghadapi segala kemungkinan saat pulang dan menemui si gadis magnet.
__ADS_1
Seharian ini dia belum chat ke gadis magnet, dan jari-jari nya menggerakkan nya untuk menekan tombol telepon.
" Iya halo," terdengar suara gadis magnet.
" Kamu sudah pulang kerja?."
" Sudah tadi sore, hari ini aku shift pagi,"
" Sekarang ngapain?."
" Ini lagi telponan sama kamu."
terdengar Saif tertawa.
*I*nilah satu dari alasan kenapa aku tertarik padamu Meta.
" Maksudku sebelum aku telpon kamu Meta?."
" Oo.. ini lagi baca novel Metropop."
" Novel apa itu?."
" Percuma aku jawab kamu juga ngga kan tau."
" Maka nya aku tanya biar tau."
" Novelnya ilana Tan judulnya summer in Seoul."
" Bukan.. Novel Indonesia."
Hening sejenak lalu dia berkata
" Kenapa ya kali ini aku ingin cepat pulang?."
" Mana aku tau."
" Karena kamu."
" Oh ya.. Bukan memang sudah waktunya kamu pulang."
" Iya juga tapi lebih penting kamu."
" Eum mulai rayuannya."
" Bukan merayu tapi fakta. Kenapa kamu selalu ngga percaya."
" Percaya sih tapi presentase kecil."
__ADS_1
" Oke. Sekarang aku mau tanya?!, terdengar intonasi bicaranya serius.
" Iya silahkan."
" Bagaimana aku di mata kamu?."
" Kamu baik, menyenangkan lalu aku sudah terbiasa sama chat dan telpon kamu tiap hari.
" Perbedaan ku sama cowok yang pernah dekat sama kamu apa?."
" Aku mengenal mereka karena sering ketemu paling tidak tau kebiasaan mereka,
kalau kamu meski chat dan telpon setiap hari rasanya aku belum tau mengenai semua tentang kamu."
" Ya sudah tunggu saja saat aku pulang."
" Kenapa harus nunggu?."
" Biar kamu menemukan apa yang kamu pertanyakan dari jawaban kamu tadi."
" Tunggu saja."
" Masih ada beberapa hari lagi kan?."
" Tapi itu akan berjalan cepat dan kamu tidak akan menyadarinya Meta."
Telepon pun berakhir.
Sejenak Meta berpikir apakah Saif serius dengan apa yang di katakannya barusan, jika dia bercanda tidak mungkin mengulang kalimat yang sama.
Saif memberikan teka-teki yang dia sendiri tidak bisa menebak jawabannya bahkan dia juga sedang mencari jawaban atas perasaannya.
Pemikiran Saif setelah mendengar pendapat Meta tentang dirinya, membuat dia seolah-olah ingin lebih membuktikan sesuatu kepada Meta.
Dia merasa bahwa gadis itu tidak mempercayainya.
Ini takdirku, takdirmu atau takdir kita ??
Kami bertemu pertama kalinya saat saudaranya memperkenalkan kami. Saat pertama kali aku bertemu rasanya aku sudah mengenalnya begitu lama. Saat itu juga aku mencoba menemukannya tanpa sengaja, pertemuan ku dengannya bukan suatu kebetulan tapi ini seperti takdir . Dan aku memutuskan jika setelah pertemuan itu aku bisa bertemu dengannya lagi, aku akan pertama mengambil langkah untuk lebih mengenalnya. Akhirnya aku mendapat kesempatan untuk mengenalnya kembali.
Dan aku akan mencoba mencari jalan agar aku dapat meraihnya, menggenggam erat tangannya hingga dia merasa bahwa aku benar-benar memperjuangkannya. Aku akan mengikuti logika yang aku rasakan, mewujudkan keinginanku, membiarkannya menarikku ke arahnya. Saat ini aku hanya perduli tentang ini dan sementara aku akan mengabaikan hal yang lain.
Jika ini salah maka seharusnya aku tidak melakukannya sejak awal...
Dan inilah takdir.
__ADS_1
Saif