
Meta tidak tahu apa yang akan terjadi, hari ini akan mengubah segalanya. Hubungan yang di jalin selama satu tahun dengan Saif akan berubah dalam hitungan beberapa jam lagi. Dan ternyata mengenal Saif selama dua tahun tidak cukup untuk mengenal siapa sesungguhnya kekasihnya. Banyak hal yang tidak di ketahui Meta tentang kekasihnya.
Saif mendapatkan cara untuk menemui Meta. Dia berangkat ke kantor seperti biasa dan nanti sekitar jam dua belas siang pada waktu makan siang ia akan meninggalkan kantor untuk alasan bertemu seseorang yang akan membeli hasil perkebunan. Satu-satunya cara agar dia dapat bertemu Meta. Saif sudah bertekad untuk memberi tahu segala rahasia hidupnya sebelum ada orang lain yang menceritakan itu kepada Meta.
Lebih baik memberitahu Meta melalui mulutnya sendiri daripada Meta harus mendengar dari orang lain. Saif sudah meramalkan bagaimana reaksi Meta nanti jika mendengar semua itu. Dan jelas ia memikirkan konsekuensi terburuk yang akan Saif terima dari masalah yang timbulkan. Bisa saja Meta memutuskan hubungan mereka.
Menunggu waktu hingga siang nanti sejak tadi datang di kantor pagi jam tujuh hingga hampir jam sebelas siang Saif membenamkan diri dalam pekerjaan.
Saif tidak membiarkan dirinya beristirahat sejenak, karena begitu ia diam sebentar saja pikirannya akan melayang kembali ke masalah itu. Ia terus menyibukkan diri tanpa henti sampai handphonenya berbunyi. Saif menatap nama yang muncul di layar handphone dan dadanya tiba-tiba terasa sakit.
Meta.
Saif hanya merasa tidak tega melihat respon kekasihnya nanti, jika ia harus berkata jujur kepada Meta. Dia selalu memikirkan bagaimana dengan gadis itu setelah mendengar kebenaran, gadis yang ia cintai sekaligus yang ia lukai.
〰️〰️〰️〰️
Di rumah Meta masih dengan kegiatan rutin mencuci baju jika ia sedang libur bekerja, tidak perlu repot mencuci dengan tangan karena sekali lagi teknologi memudahkannya dengan menggunakan mesin cuci.
Meta lega setelah tadi malam Saif meneleponnya, tapi ada sedikit rasa yang membuat hatinya tidak nyaman. Antara rasa bahagia dan ketidak nyamanan nya dia berpikir ada apa hari ini. Namun Meta berusaha mematahkan ketidak nyamanannya dengan mengatakan pada dirinya jika hubungan dirinya dan Saif baik-baik saja. Setelah pekerjaan rutinnya beres, ia duduk di taman belakang. Dia berinisiatif untuk menghubungi Saif dahulu untuk bertanya apa Saif memang akan datang dihari ini
Kadang perempuan itu sensitif, sebelum ada yang terjadi padanya ia sudah merasakan dengan hatinya. Tidak salah jika semua orang bilang feeling perempuan itu kuat.
Saif menjawab telepon Meta.
"Halo?" Suara Saif terdengar dingin di telinganya sendiri.
Meta tampak bahagia mendengar suara Saif. " A' kamu jadi ke rumah?."
Meta kemudian beralih dari taman belakang menuju teras rumah.
" Iya Sayang. Seusai jam makan siang sekitar satu jam lagi aku akan berangkat." Jawaban yang memang harus ia berikan pada Meta.
Dengan rasa senangnya setelah tidak bertemu dengan Saif selama hampir dua pekan kini Saif akan menemuinya. " Baiklah aku tunggu," kata Meta.
" Oh ya Sayang, kamu bersiap-siap ya kita akan keluar begitu aku sampai di rumah kamu." Saif ingin menenangkan diri dan membuat nyaman Meta sebelum dia mengatakan kejujuran meski itu sangat menyakitkan untuk Meta.
"Hm. Aku akan siap begitu kamu datang."
Meta pun menutup telepon.
Meta segera pergi mandi karena setelah itu ia juga butuh waktu untuk bersiap-siap.
Seolah-olah tidak ada yang terjadi Meta bersikap seperti hari-hari sebelumnya yang ia jalani dengan Saif. Meta tampak antusias dengan kedatangan Saif.
" Kenapa aku merasa gemetar, ini kan bukan pertama kalinya aku pergi dengan Saif." Meta berkata pada dirinya sendiri di depan cermin melihat penampilannya.
Dia melirik jam kecil di meja rias dan bergumam, " Mungkin sekarang dia sudah berangkat.
Begitu jam makan siang tiba, Saif meninggalkan kantor tanpa menyantap makan siangnya yang sudah tersedia di mejanya. Sebelum masuk ke dalam mobil ia berpesan pada office boy kantor untuk mengangkat kembali makanan yang berada di dalam ruangannya.
Dengan tarikan nafas panjang ia menyalakan mesin mobil. Saif sudah tidak memikirkan jika ada anggota keluarganya yang mengetahui kepergiannya. Setidaknya ia sudah berpesan pada beberapa karyawan pergi bertemu pembeli hasil kebunnya. Di dalam pikiran dan hatinya saat ini adalah Meta, segalanya tentang gadis itu.
Menemani perjalanannya Saif memutar musik pada saluran radio. Suara penyiar radio terdengar menggaung di dalam mobil yang menyebut bahwa tema hari ini patah hati. Mendengar itu wajah Saif berubah lebih tegang, cemas dan secara reflek tangan kanannya memukul kemudi.
*Ku mencintaimu lebih dari apapun
Meskipun tiada satu orang pun yang tau
Ku mencintaimu sedalam-dalam hatiku
Meskipun engkau hanya,
Kekasih Gelapku....
Yakinlah bahwa engkau adalah cintaku
Yang kucari selama ini dalam hidupku
Dan hanya padamu ku berikan sisa cintaku
Yang panjang dalam hidupku.
(Ungu- Kekasih gelap*)
Sang penyiar memutar lagu yang cukup terkenal di era tahun dua ribuan dari sebuah band. Lagu yang membuat Saif berpikir bahwa lagu itu sangat pas ia rasakan. Meskipun Saif tak pernah menganggap Meta kekasih gelap. Dalam kenyataannya posisi Meta memang yang di sebutkan lagu.
Keadaan ini tidak membuat nyaman Saif di dalam perjalanan, sesekali ia kehilangan fokus mengemudi dan terkesan mengebut.
__ADS_1
Mobil Saif telah memasuki daerah Meta, ia harus menyiapkan semua kemungkinan setelah pertemuan kali ini.
Saif memberhentikan mobil di luar pintu pagar rumah Meta, kemudian mengambil handphone yang ada di dashboard dan melakukan panggilan pada Meta. Dengan wajah cemas ia letakkan handphone di daun telinga. " Sayang, aku sudah ada di depan rumah," ucap Saif
" Iya tunggu sebentar."
Meta yang masih mengambil tas yang ada di almari.
Di dalam mobil Saif sibuk bergumul dengan pikirannya sendiri sampai Meta tiba-tiba muncul di hadapannya dan mengetuk pintu kaca mobil.
Seperti mimpi yang menjadi kenyataan, baru saja ia memikirkan tentang Meta dan sekarang gadis itu langsung ada di hadapannya dengan wajah berseri-seri dan senyum manja yang menjadi ciri khasnya.
Begitu melihat Meta, entah bagaimana Saif merasa beban pikirannya berkurang dan hatinya terasa hangat.
Tanpa di komando Saif membuka pintu mobil agar kekasihnya lekas masuk ke dalam mobil.
Entah apa yang mendorong Saif ingin memeluk kekasihnya, Begitu Meta duduk di sisinya, tanpa menunggu Saif menarik Meta dan memeluk gadis itu. Ia hanya melakukan apa yang menurutnya hal yang wajar untuk memeluk Meta. Untuk sesaat sepertinya ia bisa melupakan masalahnya, melepaskan ketegangan di pundaknya dan bernafas dengan lega. Hanya pada saat memeluk Meta juga menimbulkan kesadaran baru.
Dan masalah baru. " Aku sangat merindukanmu Meta sayang." Saif yang belum melepas pelukannya.
Saif membuka matanya kembali dan menatap kosong ke langit-langit mobil.
Ada perasaan yang timbul dalam dirinya, dengan tindakan yang baru saja ia lakukan menyadarkannya bahwa ia tidak sanggup menjauhi Meta Kirana. Ia sudah jatuh terlalu dalam dan tidak bisa keluar lagi.
Tidak bisa keluar... atau tidak mau keluar?.
Entahlah.
Yang pasti ini artinya masalah.
Setelah melepas pelukannya Saif hanya memandang Meta dan tatapan matanya seperti menyiratkan penyesalan yang membuat Saif berkata dalam hati, Maafkan aku.
" Kita mau kemana?." Ucapan Meta menyadarkan pikiran Saif. " Kita jalan-jalan sebentar. Kamu sudah makan?."
Meta menggelengkan kepalanya. " Mau makan dulu?," lanjut Saif. Meta sedang berpikir tempat yang ia ingin kunjungi. " Aku ingin makan ke Teriyaki House, bagaimana?."
" Sesuai keinginan mu nona Meta, kita akan menuju kesana." Saif bisa bersikap normal untuk sekarang karena melihat kegembiraan kekasihnya. Sekarang ia tidak ingin menghilangkan senyuman Meta meski pada akhirnya ia harus mengatakan hal pahit pada Meta.
" Oh ya a'... Katanya mau menjelaskan alasan kenapa kamu tiba-tiba tidak bisa di hubungi?." Meta bertanya ketika mereka menikmati sajian khas Jepang.
Saif tercekat mendengar Meta dan terdiam beberapa detik. " Nanti Sayang... Sekarang kamu habiskan dulu makannya."
Saif berusaha tidak menceritakan hal penting di luar demi kenyamanan Meta dan dirinya.
" Kita cari tempat yang nyaman untuk membicarakannya. Tapi tidak sekarang."
Meta tiba-tiba merasa cemas dan tak nyaman mendengar kalimat Saif. Perasaan yang sama ia rasakan sewaktu pagi saat di rumah.
Mengalihkan pikiran Meta Saif pun berusaha berbicara hal lain. " Setelah ini kita pergi ke taman gantung ya, setelah itu kita nonton."
" Kok banyak tujuannya," sahut Meta.
Saif mengulas seulas senyum. "Aku ingin menggantikan waktu yang hilang sembilan hari kemarin."
Meta memberikan wajah cerianya dan merasa senang dengan rencana Saif.
Tidak perlu berlama-lama untuk makan karena ada hal lain yang akan mereka lakukan.
Di taman gantung mereka hanya berjalan mengitari taman itu. Saif yang sejak turun dari mobil hingga mengitari taman selalu memegang tangan Meta. Sebisa mungkin ia tidak akan melepas tangan hangat yang di miliki gadis magnetnya.
Saif menciptakan suasana layaknya kencan yang selama ini mereka lakukan, hanya ada tawa dan pembicaraan mereka berdua.
Saat mereka ada di sebuah mall untuk menonton film ke Cinemax pun Saif tak melepas tangan Meta.
Meta merasa di manjakan hari ini, dia menikmati kebersamaan yang hilang selama sembilan hari.
Saif dapat melihat jika kekasihnya benar-benar bahagia hari ini.
Dalam gelap di area bioskop ia masih bisa melihat senyum bahagia, senyum seolah-olah hari akan selalu sama dengan waktu yang akan datang.
Berbeda dengan Meta yang dapat menikmati film hingga akhir, Saif hanya berpura-pura melihat film tapi pikiran dan hatinya sedang memikirkan hal lain.
" Seru a' filmnya." Meta yang sejak keluar dari dalam bioskop membahas film yang mereka tonton.
Waktu pun berjalan cepat jam menunjukkan pukul 18.30 Wib. Berjalan menuju ke tempat parkir Saif mulai berbicara tentang tujuannya hari ini menemui Meta.
" Sayang, sekarang kita suatu tempat seperti yang aku janjikan. Aku akan menjelaskan semuanya kepada mu." Saif hanya menatap ke depan sambil menggandeng tangan Meta.
" Kemana?." Meta yang ingin tahu kemana tujuan kali ini sambil memasang sabuk pengaman di mobil.
"Em kita ke Guest house teman aku." Saif sudah menyalakan mesin mobil dan siap menuju Ubud guest house.
__ADS_1
Meta yang sedikit terheran mengapa untuk berbicara saja harus di guest house segala.
" Kenapa tidak di rumah saja daripada harus sewa guest house." Meta memiringkan sedikit badannya agar bisa menatap Saif.
" Lebih tenang dan aku lebih leluasa menjelaskan di sana."
" Oke." Meta sambil menganggukkan kepala.
Di Ubud guest house semua fasilitas lengkap layaknya sebuah tempat tinggal, taman, kolam renang dan pelayan yang siap mengantar makan dan minum jika kita pesan.
Saif tidak langsung berbicara, ia berpikir bahwa mereka berdua perlu menikmati suasana yang ada di Ubud guest house.
Saif dan Meta sedang duduk di kursi malas di dekat kolam renang yang menghadap taman yang penuh tanaman.
Saif belum berniat bercerita sampai Meta yang menanyakan kembali. " Lalu apa yang ingin kamu jelaskan a'.?"
Ya Tuhan kali ini aku harus benar-benar memberitahu semuanya kepada dia. Saif mengumpat dalam hati.
Saif berdiri dari tempat duduknya untuk menghampiri Meta yang berada di sisi meja yang memisahkan mereka.
Dia berdiri mematung di hadapan Meta, Meta masih duduk dengan posisi tetap sejak awal. Hingga Meta duduk tegak karena secara tiba-tiba melihat Saif duduk bersimpuh di depan Meta. Meta ingin berdiri tapi tangan Saif memegang kedua tangannya yang mengisyaratkan ia tidak boleh beranjak dari kursinya.
" Ada apa?." tanya Meta terkejut. Saif belum menjawab Meta, kali ini matanya berubah penuh penyesalan, cemas dan kesedihan.
Dia menundukkan kepala membuat Meta merasa lebih cemas. " Meta sayang, aku mohon kamu dapat memaafkan ku." Saif pun mengangkat kepalanya dan menatap mata Meta. "Tapi yang perlu kamu ketahui aku mencintaimu, bahkan sangat mencintaimu melebihi diriku sendiri. Aku tidak sedang mempermainkan perasaan mu. Aku rela menyerahkan semua asal aku bisa bersamamu," lanjut Saif.
Seluruh tubuh Meta terasa dingin mendengar ucapan Saif. Dia sama sekali tidak mengerti maksud dari kekasihnya mengatakan itu semua.
" Ada apa?," nada bicara Meta sedikit gemetar.
" Sebelum aku bercerita tentang semuanya aku mohon kamu bisa berjanji jika setelah mendengar semuanya tidak akan merubah perasaan kamu dan tidak akan merubah hubungan kita." Saif menegaskan perasaan nya yang nyata terhadap Meta. Dia mengecup kedua tangan Meta yang masih di genggamannya.
Meta bingung harus bagaimana, dia hanya menganggukkan kepala tanpa tau di balik cerita yang akan ia dengar. Dia pun dalam keadaan cemas sehingga tidak tahu itu jawaban.
"Sayang aku sudah menceritakan tentang masa lalu ku tapi...". Saif menghentikan kalimatnya karena ragu untuk melanjutkan.
" Kamu membuatku semakin takut a'." Suara parau Meta terdengar.
Saif lebih menggenggam tangan Meta lebih erat. " Satu hal yang tidak aku ceritakan kepadamu."
" Tentang apa?."
" Keluarga ku. Saat aku menelpon mu malam itu ada suara perempuan... Itu bukan kakak ku." Saif menelan ludah karena tak sanggup meneruskan. Terasa sulit mengatakan di depan gadis yang sangat dicintainya.
Meta pun masih menunggu Saif melanjutkan.
" Perempuan yang kamu dengar suaranya itu adalah.... Istriku."
Seketika itu Meta terasa berada di ruang kedap suara, satu kata itu terdengar begitu dekat dan seperti hanya dia yang mendengarnya. " Siapa.....?" Meta menatap Saif berharap apa yang ia dengar adalah salah, tapi kenyataannya Saif menganggukkan kepala. Saat itulah secuil kendali diri Meta yang rapuh akhirnya hancur berkeping - keping dan tangisnya pun pecah. seluruh tubuhnya berguncang keras.
Air mata keluar dari kedua mata Meta, dia terpaku dan bibirnya keluh untuk berbicara. Ia berusaha menahan air matanya tapi tidak bisa menahannya walaupun ia ingin. Ia harap sepenuh hati, dengan begitu rasa sakit dan kepedihannya juga akan berkurang, walaupun sedikit.
Karena ia sungguh tidak tahu apa lagi yang bisa dilakukannya terhadap lubang besar yang menganga di dalam dadanya. Tempat dulu hatinya berada.
Meta berusaha melepas genggaman tangan Saif, dia memberontak agar tangannya terlepas dari tangan Saif. Dan air matanya mengalir deras tapi ia tidak dapat mengeluarkan suara karena ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Saif berusaha menenangkan dengan pelukan tapi tak berhasil. Semakin Saif memeluknya semakin dia tidak ingin di sentuh Saif.
" Sayang aku mohon jangan seperti ini." Saif merasakan dadanya sakit melihat Meta yang sangat syok dan ia belum pernah melihat Meta sangat terguncang seperti sekarang di depan matanya.
" Meta sayang dengarkan aku, aku ingin menjelaskan semuanya," bujuk Saif.
Meta menolak mendengar dengan menutup kedua telinganya.
Meta berdiri dari kursi bermaksud pergi tapi Saif menghalaunya dengan memeluknya dari belakang. Tetap saja ada pemberontakan dari tubuh Meta. Tangis Meta semakin menjadi-jadi hingga ia tidak sadar jika terduduk di tanah. "Sayang maafkan aku, maafkan aku." Saif hanya bisa mengatakan itu. " Berhenti... Berhenti Saif....Cukup..." Meta berbicara dalam keadaan menangis.
Dengan keadaan yang masih terguncang Meta tidak bisa berpikir. Yang ingin ia lakukan ialah pergi dari sana.
" Aku ingin pulang."
Dunia yang ia pijak hari ini terasa meyenangkan, dan setelah ia mendengar satu kata, dunianya menjadi tak berbekas.
📢 jangan lupa di like, favorit, komentar, share
biar Bab baru segera muncul.
Bagaimana Meta dan Saif melalui semua.
Apakah hubungan mereka akan berlanjut atau berakhir 📢
terimakasih..💕💕
__ADS_1