Aku Kedua Juga Terluka

Aku Kedua Juga Terluka
Harus hari ini


__ADS_3

Hari itu,,


Dia bersandar di meja kantor dengan posisi antara duduk dan berdiri, menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil menatap keluar jendela yang terlihat perkebunan. Tatapan yang tidak benar-benar melihat suasana melainkan lebih kepada memikirkan suatu hal.


Dia hanya menimbang haruskah dia mulai menceritakan jati dirinya kepada seorang cewek yang mengambil alih pikirannya. Mungkin sudah saatnya Saif mulai berbicara pada Meta. Diambilnya handphone dan mulai mengetikkan sesuatu, tidak mungkin dia menjelaskannya sekarang. Namun dia harus memperkenalkan siapa dirinya pada Meta hanya melalui sebuah chat.


Dua hari berikutnya.


Selama beberapa hari Saif menuju kantor nya lebih pagi dari biasanya. Dia lebih suka berpikir tentang segala hal disana, karena suasana yang tenang. Hari ini dia ingin meninggalkan kantornya satu jam lebih awal.


Setelah memutuskan untuk bercerita pada Meta, cukup bagi dia memikirkannya. Satu langkah lagi, sekarang .. saat ini.. Untuk beberapa detik saja.. aku ingin bersikap egois. Aku ingin melupakan semua orang, mengabaikan dunia, dan melupakan asal-usul serta latar belakangku. Tanpa beban, tuntutan, ataupun harapan. Aku ingin mengaku aku mencintaimu Meta Kirana.. Saif mengatakan di dalam hatinya sendiri dan memandang foto Meta di layar handphone.


Seketika itu dia berdiri dari tempat duduknya dan meraih kunci mobil di atas meja kerja, menuju keluar kantor untuk datang pada gadis magnet. Jam dinding di kantor menunjukkan pukul 15.00.


Dalam perjalanan dia mencoba menghubungi gadis magnetnya dengan menelepon langsung. Sudah ketiga kali nya dia menelepon gadis itu, setelah mengirim pesan yang sama-sama tak ada jawaban.


" Apakah dia masih bekerja?. Baiklah aku akan pergi ke mall. " ucapan itu ia katakan sendiri dan didengar sendiri.


Sementara itu seusai makan siang Meta di sibukkan meralat jadwal yang telah di buatnya, karena ada dua orang yang akan training pada tokonya. Meta harus mengubah semua jadwal satu minggu ke depan.


Mulai datang di mall hingga menjelang sore Meta tidak memegang handphone, handphonenya masih ada di dalam tas dalam keadaan disenyapkan.


Dia ada di dalam gudang untuk membuat ulang jadwal seluruh karyawan di Julia Jewelry.


Cindy membuka pintu gudang," mbak, Miss Louisa telepon?." Sambil menunjuk ke arah telepon toko.


" Oke" dia berdiri dari posisi duduk dan melangkah keluar gudang.


" Iya Miss Louisa."


Lima menit kemudian.


" Baik Miss Louisa saya akan pergi sekarang."


Telepon di tutup.


" Ada apa mbak, Miss Louisa telepon?."


" Aku di suruh ke kost yang akan ditempati anak baru."


" Sekarang mbak?."


" Iya." Meta masuk ke dalam gudang untuk mengambil tas.


" Aku tinggal ya kalian, aku sudah ngga kembali ke sini. "


" Hati-hati mbak."


" Sip." Meta berjalan keluar toko.


Lagi-lagi dia belum melihat handphonenya, sudah ada lima panggilan tak terjawab.


Dengan mengendarai motornya Meta pergi ke tempat kost yang akan di gunakan dua karyawan training. Letaknya tidak jauh dari mall sekitar 400 m terletak di perkampungan seberang mall.


Perjalanan sedikit lebih padat karena sekarang adalah jam pulang kerja jalan menjadi sedikit macet. Biasanya hanya memerlukan waktu satu jam untuk sampai ke tempat Meta, tapi ini sudah satu jam lewat belum sampai.


Lima belas menit kemudian barulah dia sampai di mall, memarkirkan mobil di area parkir depan mall agar tidak perlu repot untuk memarkirkan mobil seperti di basement. Saif nampak tergesa-gesa menuju eskalator, dia masih berjalan cepat agar segera sampai di Julia Jewelry.


Saif tiba di depan Julia Jewelry tapi tidak terlihat sosok Meta, karena sudah ada di depan toko ia memutuskan masuk untuk bertanya pada rekan kerja Meta.


" Permisi.. apakah Meta masuk hari ini?."


" Iya masuk. ada yang bisa di bantu?." Kata Cindy


" Ah tidak, aku hanya mencari Meta."


" Mbak Meta nya satu jam yang lalu sudah meninggalkan toko. Maaf anda siapa?."


" Aku teman Meta."


" O.. mbak Meta ada urusan jadi pulang lebih awal."


" Kemana ya kalau boleh tau?."


" Cari kost untuk anak baru. "


" Sudah lama perginya?."

__ADS_1


" Satu jam lalu. Kenapa tidak menelepon saja?."


" Sudah tapi tidak ada jawaban."


Sambil melihat jam tangan Cindy berkata,


" O mungkin sekarang sudah pulang."


" Terima kasih informasinya, aku akan menuju ke rumahnya sekarang.".


Cindy menganggukkan kepala dan melihat Saif pergi terburu-buru.


" Kok aku baru tau dia teman mbak Meta?" Rahma mendatangi Cindy yang ada d pintu toko.


" Iya sama aku juga baru tau. Kenapa juga dia harus tergesa-gesa seperti itu?."


Rahma mengangkat bahunya menandakan jika dia juga tidak tau.


Meta di kost itu menemui sang pemilik untuk membayar uang kost untuk dua karyawan training selama dua bulan. Dia berada disana selama empat puluh lima menit, begitu urusannya selesai dia langsung pulang.


Di dalam rumah dia merogoh ke dalam tasnya mencari handphone, dia baru mengingat seharian ini tidak membuka handphone.


Dia menaiki tangga untuk ke kamarnya. "Enam panggilan tak terjawab, terakhir panggilan lima menit yang lalu dan dua chat masuk." Meta mengoceh sendiri.


" Saif " perasaan senang menyelimuti nya karena akhirnya Saif menghubungi kembali.


" Kenapa dia menelepon sebanyak ini, seharusnya dia tau kalau tak ku angkat berarti aku sedang bekerja. Baiklah aku akan menelepon nya." Meta menekan tombol memanggil.


" Hallo."


" Kamu dimana Meta?."


Meta terkaget belum sempat dia bertanya Saif sudah bertanya tentang dirinya.


" Di rumah." jawabnya singkat.


" Aku kesana. "


Panggilan pun terputus seketika.


"Apa ada masalah dengan dia?" Meta masih menerka apa yang terjadi dengan Saif.


" Meta....." Nafas Saif tersengal-sengal terlihat habis berlari jauh.


" Kenapa Saif ?."


Saif dan Meta berdiri berhadapan tanpa menjawab Meta Saif melangkah tiga langkah dan memeluk Meta. Meta hanya bisa mematung sama seperti ketika Saif pertama memeluknya.


" Aku kira kamu marah bahkan mungkin menjauhiku setelah aku bercerita tentang siapa diriku." Tangan kanan Saif memegang kepala Meta yang terkesan membelai rambut.


" Ada yang harus ku bilang kepada mu... tapi entah bagaimana respon mu setelah aku mengatakan nya."


" Aku menyukai mu, aku mencintaimu Meta Kirana."


Meta masih dalam pelukan Saif hanya bisa mengerjap-ngerjapkan matanya mendengar pengakuan Saif. Kedua pipinya seperti terbakar mendengar kalimat Saif.


Dengan perlahan Saif melepaskan pelukan nya terhadap Meta.


" Bagaimana kalau kamu masuk ke rumah, karena ini kita masih ada di depan pintu."


Saif melupakan hal itu yang perlu dia lakukan ialah mengungkapkan yang ia rasakan pada Meta.


" Baiklah.."


" Tunggu sebentar, aku akan bawakan kamu minum."


Meta sendiri menjadi gugup dan jantungnya masih berdegup kencang. Meta meminta Saif duduk di sofa sementara Meta menuju ke dapur. Meta membawakan minum dan meletakkan di atas meja.


Suasana menjadi canggung setelah ungkapan yang di ucapkan Saif.


" Meta.. bisakah kita keluar sebentar?."


" Kemana?"


" Entahlah.. aku hanya perlu bicara denganmu."


" Oke. Tapi aku mau mandi dahulu badanku terasa lengket. Bolehkan aku mandi?"

__ADS_1


" Tentu saja Meta"


" Aku ke kamar mandi dulu, kamu silakan minum karena kamu terlihat habis berlari dari jauh " gurau Meta agar suasana sedikit mencair.


Saif dan Meta pun tersenyum bersamaan.


Mereka meninggalkan rumah setelah Meta selesai mandi, mereka tidak pergi jauh hanya mengendarai mobil dan berhenti di taman perumahan mewah yang berada tidak jauh dari rumah Meta. Ada bagusnya mereka pergi ke taman untuk menghirup udara segar dan bebas saat membicarakan hal ini.


" Kamu berangkat dari rumah ?." tanya Meta.


" Engga dari kantor, tadi ke mall .. Aku pikir kamu masih bekerja sampai disana kamu ngga ada dan kata teman kamu sudah pulang"


" Iya tadi ada urusan tapi langsung pulang. Dan baru lihat panggilan tak terjawab dari kamu"


" Aku kira kamu akan menjauhiku ketika membaca chat terakhirku. Jadi aku secepatnya kemari dan aku perlu mengatakan nya padamu."


" Aku ngga begitu.. Kan chat terakhir kamu juga bilang ngga perlu balas chat kamu karena handphone kamu lebih sering mati saat itu."


" Aku sudah tidak memikirkan itu Meta, aku hanya memikirkan respon kamu setelah tau siapa aku."


" Ya itu kan masa lalu kamu kalau kamu, sekarang menjadi lebih baik kenapa juga aku harus marah padamu."


" Meta....Aku bersungguh-sungguh atas ucapan jika aku mencintaimu. Ketika aku pergi ke Bali pun aku memikirkan hal ini, apakah aku menyukai mu sebagai teman, atau sekedar egoku. Beberapa hari ini aku memastikan perasaanku terhadapmu dan ya hari ini aku mengatakannya padamu."


Meta masih mendengar penjelasan Saif


" Kamu juga tidak perlu menjawab sekarang, yang penting bagi ku adalah mengutarakan apa yang aku rasakan. Dan hal ini jangan di jadikan beban" Nada bicara Saif terdengar meyakinkan.


" Iya juga aku masih terkejut dengan apa yang kamu lakukan hari ini. Aku harus mulai menyiapkan diri untuk selalu mendapat kejutan dari mu. Kamu selalu mengejutkanku" Saif tertawa.


" Ya itu lah aku."


" Iya aku mulai tahu maksud Laura. "


" Meta aku lapar."


" Bisa-bisanya kamu lapar setelah mengungkapkan isi hati mu."


" ha ha ha... Aku belum makan siang tadi"


" Kita cari sekitar sini saja mungkin warung tenda."


" Yang penting perutku segera terisi."


Mereka masuk ke dalam mobil, Saif menjalankan mobil. Mereka berhenti di pedagang siomay yang sering Meta kunjungi jika sedang ingin makan siomay. Pembeli rela antri panjang untuk sebungkus siomay, karena memang siomay ini terenak di sekitar daerah ini.


Dua bungkus siomay sudah di tangan Meta, mereka akan memakannya di rumah Meta.


Mereka makan di ruang tamu, kali pertama Saif makan di rumah Meta.


" Meta ada telepon." Teriak Saif karena Meta berada di dapur meletakkan piring kotor.


" iya " balasnya. Sambil berdiri Meta meraih handphonenya.


" Iya Siska ada apa?."


Tiga menit telepon berlangsung Meta menutup panggilan itu


" Siska yang panggil namaku dengan nama mobilku?."


" Iya "


" Ada apa?"


" Dia mengadakan pesta, karena dia tahu kamu disini dia mengundangmu. "


" Kapan?."


" Besok."


" Mendadak sekali."


" Ngga mendadak sih.. Ini undangannya sudah satu minggu yang lalu, rencananya juga aku sama Irfan"


" Tidak jangan Irfan. Besok aku akan ikut denganmu. Aku yang akan menjemputmu.


Saif melanjutkan obrolannya, membahas apa yang terjadi selama beberapa hari ini sehingga dia tidak dapat menghubungi Meta.

__ADS_1


Dan obrolan berakhir, pada pukul 21.00 ketika Saif berpamitan pulang.


Baginya terpenting adalah hari ini untuk selanjutnya biarlah ia memikirkan di hari esok dan begitu seterusnya.


__ADS_2