
Didalam ruang kantornya Saif berdiri di jendela besar melihat hari sudah gelap. Memandang keluar, matahari yang sejak pagi menyinari seluruh alam, kini digantikan nyala lampu-lampu dari bangunan yang berada di sekitar perkebunan.
Dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana, meski terlihat diam ia sedang berpikir keras tentang bagaimana dengan Meta.
Saif hanya di temani musik di layar televisi yang berada di salah satu sisi dinding kantornya. Sebuah Chanel khusus hanya untuk memutar musik, ruangan itu hanya terdengar suara musik.
Dia harus memikirkan kembali segalanya.
Merusak semua bagian
yang aku bentuk belakangan ini
Terfokus pada hal-hal yang tidak masuk akal
Kurasa tumbuh dewasa
tidak pernah berarti mudah
Ya, aku terbiasa meremehkan semua hal
Tidak peduli dengan perasaan orang lain
Menyembunyikan kepiluhanku
di berbagai situasi
Tapi apa yang hilang
tidak akan benar-benar hilang
Tidak, kamu tidak bisa melepaskannya
Karena itu adalah bagian dirimu
yang akan menguatkan mu
Terima lah kekurangan mu
Aku tidak akan melawan apa yang telah terjadi.
Aku punya luka dari tempat aku berasal
__ADS_1
Tapi aku tidak akan merubahnya
Meskipun aku bisa mengulangnya.
Tak akan ku sembunyikan luka yang indah ini
Aku sudah terlalu keras kepada diriku sendiri.
Mungkin itulah mengapa aku merasa ada di dalam neraka.
( terjemah lagu " Beautiful scars" Maximilian).
Saif memikirkan bagaimanapun besok dia harus menemui Meta.
Untuk memberi ketenangan pada dirinya sendiri dan terlebih untuk Meta yang mengkhawatirkan dirinya. Layar laptop miliknya masih terbuka, dari arah jendela tempat ia berdiri kini Saif melangkah ke meja kerja dan duduk di kursi melihat layar laptopnya.
Layar itu di penuhi foto Meta yang dulu pernah ia ambil sebelum berpacaran dan foto mereka berdua yang mereka ambil ketika pergi bersama. Saif di tengah kesibukannya bekerja selalu menyisihkan waktu untuk memindahkan file foto yang ada di handphone ke laptopnya. Menurutnya foto itu akan aman tersimpan di laptop kantor.
Sebelum handphone nya sengaja ditiadakan untunglah semua foto sudah berhasil di pindahkan.
Saif menatap lekat-lekat foto Meta yang seorang diri dengan senyum khas Meta, senyum manja yang membuatnya tidak dapat melupakan Meta sedetik saja.
"Meta Kirana aku mencintaimu, apa yang harus kulakukan agar kamu tidak terluka atas keegoisanku." Saif berbicara sendiri di hadapan foto Meta.
Sementara ini Saif tidak membiarkan semua keluarga mengetahui sosok itu.
Dia menutup erat hubungannya dengan gadis yang saat ini dicintainya.
Dengan cara ini Meta tidak akan berhadapan dengan keluarganya, karena Meta tak pernah salah. Saif sadar akan hal itu dialah yang memasukkan Meta ke dalam lubang hitam.
Setelah mematikan layar televisi Saif berjalan ke meja dan mengambil kunci mobil dan pergi meninggalkan kantor.
Jam di mobilnya menunjukkan pukul 19.11 Wib, Saif melaju ke arah rumah yang berjarak 1,5 km dari kantor. Tidak seperti biasanya sebelum pulang ia selalu mampir ke rumah orangtuanya kali ini ia memilih langsung pulang ke rumah nya sendiri.
Mobil masuk ke dalam garasi dan Saif masuk ke dalam rumah lewat pintu garasi, pintu yang ada di garasi menyambungkan dengan ruang tengah rumah nya.
Dia naik ke lantai atas rumahnya. Selama ini ia memilih tidur di kamar yang berada disana, setidaknya untuk dua tahun terakhir ia selalu bertempat tidur di sana.
Dari dalam kamar ada suara orang yang berjalan mendekat ke arah kamarnya. Saif tahu siapa itu, hanya ada tiga orang yang tinggal di dalam rumahnya.
Pintu kamar terbuka dan ada sosok perempuan yang berdiri. " Ada Mama di bawah mencari mu," ucapnya pendek.
__ADS_1
Dengan rasa malas Saif menjawab " Untuk apalagi mencari ku mencari keributan lagi."
Perempuan itu tersulut dengan perkataan Saif." Bukannya kamu yang mencari masalah dengan keluargamu sendiri. Kamu kan yang membuat keadaan seperti ini." Kemarahan nya yang seminggu lalu tersulut kembali.
Tanpa membalas perkataan perempuan itu Saif menuju ke lantai bawah dan meninggalkan perempuan itu yang masih berdiri di dalam kamarnya.
Mama Saif sudah berada di ruang makan. "Kamu masih sering pulang larut begini," kata mama Saif. " Sudahlah Ma tidak usah meributkan hal yang sama. Lebih baik aku bekerja daripada harus di rumah." Saif yang berusaha meredam perkataan.
Dan sudah satu minggu ini mamanya selalu menasehati Saif mengingatkan bahwa ia bukan anak remaja. " Kamu satu-satunya anak lelaki di keluarga jadi kamu harus bertanggung jawab untuk keluarga. Berhenti bermain-main karena ada juga yang harus kamu urus." Suara mama Saif pelan tapi masuk ke dalam akar masalah yang menasehati sesuai kebanyakan orang tua.
Saif menghembuskan nafas. " Mama juga tahu sejak awal hubunganku bagaimana."
" Mama tahu tapi cobalah menyingkirkan hal itu, berpikir saja tentang Eriska."
" Hampir lima tahun Ma aku bertahan hanya karena Eriska, tapi sampai kapan aku di dalam keadaan ini." Ucap Saif yang lebih memahami apa yang terjadi dalam hidupnya.
Mama Saif melihat perbedaan sikap anaknya, terlihat ada sosok yang ingin Saif lindungi seseorang yang mamanya sendiri pun tidak tahu. Sebagai orang tua mama Saif juga tahu bahwa anaknya tertarik kepada sosok itu.
" Saif ada Eriska yang lebih membutuhkan perhatian dan kasih sayang kamu nak." Mama Meta berkata penuh dengan harapan.
" Eriska tidak akan kehilangan aku Ma..."
Saif bicara meluruskan jika ia tidak akan menelantarkan Eriska.
Mamanya bangkit dari kursi, " Sudahlah kamu sudah cukup dewasa. Jadi mama tidak harus mengajarkanmu bagaimana menjadi papa yang baik bagi Eriska."
Mama Saif keluar rumah Saif untuk pulang bersama sepupu Saif. Saif mengikuti di belakang mamanya.
" Mama pulang," kata mama Saif yang menaiki mobil.
Saif berdiri di depan pintu rumah, sosok perempuan datang menghampirinya. Sebelum sosok perempuan itu berbicara yang tidak ingin didengar Saif dan sebelum mereka bertengkar lagi, ia memilih masuk dan kembali ke kamarnya.
Eriska adalah anak perempuan yang akan berusia lima tahun di tahun ini.
Dan Eriska adalah anak Saif.
Perempuan yang menghampirinya itu Raras, ibu dari Eriska yang tidak lain adalah istri Saif.
Masalah besar sudah di hadapan Saif, dan tidak mudah pula ia menghilangkan sosok Meta yang telah hadir di dalam hidupnya. Sosok yang ia cintai secara tulus dan ia menemukan cinta pada diri Meta yang tidak pernah Saif dapatkan sebelumnya.
Besok saatnya ia untuk menemui Meta, gadis yang terbawa masalah karena ulahnya.
__ADS_1
Kamu tidak akan tahu perubahan yang terjadi di hidupmu, kecuali jika kamu sendiri yang memang merencanakannya.