Aku Kedua Juga Terluka

Aku Kedua Juga Terluka
Blackhole itu terbuka


__ADS_3

Meta merasakan ketidaksukaannya saat Olivia mendekati Saif. Dan dia berpikir tentang perkataan Siska bahwa Meta menyukai Saif sebagai cowok bukan hanya sekedar teman.


Jika digabungkan dua hal tersebut memang saling berkaitan. Karena Meta menyukai Saif maka ia tidak rela bila ada perempuan lain yang mendekati Saif. Satu alasan yang bisa membantu Meta untuk memberi jawaban pada Saif. Tidak semudah itu bagi Meta, setidaknya ia harus memastikan kembali bahwa ia yakin perasaannya pada Saif. Sepulang kerja ia berniat ke rumah Siska untuk meminta saran dan pendapat.


Sudah satu minggu berlalu semenjak pesta di De Club. Besok hari libur Meta dan tadi malam Saif berkata jika besok ia akan menemui Meta untuk memastikan jawaban Meta. Mungkin Saif juga membutuhkan kepastian dari gadis magnetnya. Cowok memang tidak pandai dalam hal menunggu.


Meta menopang dagu duduk di pos satpam yang ada di basement mall. Dia menunggu Siska untuk pergi ke rumah temannya itu.


" Hei Meta..." Hentakkan Siska yang keras membuat Meta tersadar dari lamunannya.


" Siska... Bisa nggak sih nggak ngagetin."


Meta yang masih merasa kaget.


Lalu Siska ikut duduk di sebelah Meta yang tetap terlihat berpikir.


" Melamunnya nanti saja kamu lanjutkan di rumahku," kata Siska yang berdiri dari duduknya dan meminta Meta berdiri. Siska setengah menarik lengan Meta agar mereka bisa lekas pulang ke rumah Siska.


" Kamu sedang galau kan Meta?"


Meta hanya mengangkat bahunya menandakan ia masih bingung.


Mereka sudah di atas motor masing-masing.


" Ayo jalan." Ajak Siska.


Mereka memasuki salah satu kawasan perumahan elit di kota ini. Mereka menuju blok B2, berhenti di sebuah rumah modern yang minimalis yang tidak lain adalah rumah Siska. Di rumah bernomor 49 ini, Siska tinggal sendiri hanya di temani dua asisten rumah tangga. Keluarga Siska menempati rumah di perumahan elit lain yang berbeda dengan Siska, ia memang lahir di keturunan keluarga yang tajir. Sikap rendah hati yang dimilikinya membuat semua teman tidak menghindarinya. Meski punya mobil dia lebih memilih naik motor alasannya motor lebih efisien waktu.


"Kamu mau mengobrol dimana?," Siska menawarkan tempat kepada Meta agar ia nyaman saat bercerita.


" Di balkon atas saja. Di sana lebih sejuk."


Meta sudah beberapa kali ke rumah Siska, jadi tidak heran ia tahu balkon. Meta menuju balkon di atas dekat kamar Siska, sementara itu Siska masuk kamar untuk berganti pakaian.


Di balkon ada dua kursi santai dan meja kecil terletak di tengah kursi. Meja kecil itu sudah terisi dua gelas Orange Jus dan kue kering yang tadi di minta Siska kepada asistennya.


Meta duduk bersandar di kursi dan Siska muncul.


" Kamu bingung tentang apa?," tanya Siska sambil meraih gelas berisi jus.


" Saif minta jawaban ku."


" Ya wajar Meta.. Mana ada orang yang mau nunggu yang nggak jelas. Meski ia cowok males juga kali kalau harus nunggu lama tentang kepastian."


Meta hanya diam mendengarkan Siska.


" Kamu masih perlu apalagi?. Aku yakin kalau kamu juga menyukai Saif. Waktu di kelab aku juga masih ingat bagaimana sikapmu saat si Olivia mendekati Saif."


" Memang terlihat jelas?."


" Siapapun jika melihat kejadian itu mereka akan setuju dan bilang kalau kamu pada saat itu memang sedang cemburu. Kamu memang waktu itu tidak merasa tapi orang lain yang bisa membacanya."


Meta memikirkan kejadian itu dan memang ia tidak suka melihat Saif di dekati cewek lain.


" Aku memang cemburu," terang Meta.

__ADS_1


" Lalu apa ada masalah lainnya?. Katamu dia juga sudah bercerita tentang keluarga dan masa lalunya."


" Itu juga benar."


" Kamu terlalu banyak berpikir," Kata Siska santai.


" Entahlah. Seperti ada sesuatu yang menghalangi," ucap Meta sambil memainkan ujung gelas.


"Itu hanya perasaanmu. Meskipun ada itu akan ketahuan nanti setelah berjalan."


" Jadi menurut kamu aku harus mencobanya.?"


" Iya jelas. Kamu kurang yakin atas perasaan Saif ?."


" Kalau mengenai perasaannya aku yakin dia tulus menyukaiku. Itu terlihat selama satu tahun ini, bagaimana sikapnya terhadap aku."


" Ya coba hubungan itu. Kalian sama-sama menyukai dan tidak ada yang salah."


"Aku hanya takut terlalu menyukainya."


" Jalani dulu Meta. Kamu akan lebih tahu saat menjalaninya."


Meta rasa memang lebih baik mencoba, dan ia mempunyai perasaan yang tidak ia rasakan sebelum-sebelumnya.


 


➖➖➖➖➖➖➖


 


Keesokkan harinya.


Saif sendiri merasa tidak tenang ketika ia tahu Meta akan memberikan jawabannya hari ini. Selain itu Saif lebih antusias mendengar jawaban Meta. Dia hanya berharap si gadis magnetnya akan membalas perasaannya. Dan ia berpikir semua akan baik-baik saja.


Sekarang Saif akan ke rumah Meta ia masih dalam perjalanan.


Meta sedang mendengar music yang ia putar lewat laptopnya, ia pun sedikit berdebar memberikan jawaban, ia pun sudah tahu jawaban itu. Kalau boleh di katakan ia senang dan juga menyukai Saif, kebenaran itu yang menyelimuti hatinya. Meta menemukan seseorang yang mampu merebut hatinya yang selama ini sulit di dapat oleh cowok manapun.


" Semoga beruntung." Chat Siska.


Meta membaca chat singkatnya dengan memegang erat handphonenya dengan tersenyum.


Meta berdiri di depan cermin melihat penampilan dan baju yang di kenakannya. Dia memakai rok tutu hitam di bawah lutut dan kaos Chic bewarna soft blue dengan motif bunga Sakura.


Terdengar suara mobil berhenti dari arah luar.


Saif turun dari mobil berjalan mengarah ke pintu rumah Meta dan membunyikan bel.


Meta turun dari kamarnya ia yakin itu Saif datang, karena hari ini ia hanya punya janji dengan Saif.


" Hei sudah datang. Yuk silakan masuk," Ajak Meta.


Saif masuk diikuti Meta disampingnya.


"Setiap kali kemari rumahmu selalu nampak kosong ?." Saif duduk di sofa matanya melihat sekeliling.

__ADS_1


" Jam segini memang sepi. Papa bekerja dan mama sedang di rumah tanteku. Kalau kakak keduaku jarang pulang, setahun mungkin hanya pulang dua kali maklum bekerja di kapal pesiar.," jelas Meta.


" Kamu sudah sarapan?."


Meta menggeleng.


Dia belum sarapan bahkan lupa karena ia hanya mempersiapkan diri.


"Aku pernah akan mengajak kamu makan di rumah makan Padang, gimana kalau sekarang?."


" Sekarang juga?." Alih-alih menjawab ia malah juga bertanya.


" Iya. Aku juga belum sarapan makanya aku menawarkan padamu."


" Tapi... " Meta berhenti dengan kalimatnya seperti ragu menanyakan.


" Ada apa Meta?. Aku bukan orang asing yang tidak perlu di takuti, tanyakan saja," Saif meyakinkan Meta agar melanjutkan kata-katanya.


"Kenapa kamu menyukaiku?."


" Ah itu.... Kamu sosok cewek yang berbeda dengan cewek pada umumnya. Kamu gadis yang jujur, aku menemukan hal istimewa di dalam dirimu yang aku sendiri tidak bisa mendiskripsikan nya. Hati ku yang menuntun untuk menyukaimu."


Apakah benar aku seperti itu. Meta terdiam mendengar perkataan Saif.


" Padahal banyak cewek yang lebih menarik diluar sana," kata Meta sedikit bergurau.


" Memang benar dan aku yakin hal itu. Atau kamu mau aku menyukai Olivia.?"


Saif lebih memberi jawaban yang bercanda untuk melihat reaksi Meta. Seperti yang dulu duganya gadis itu memperlihatkan wajah masam ketika Saif menyebut nama Olivia.


Saif pun melanjutkan perkataanya, " Aku tidak memerlukan cewek yang cantik atau seksi, karena aku lebih melihat cewek yang menurutku sempurna yang ada di depan ku."


Seulas senyum terlihat di ujung bibir Meta. Saif selalu bisa membuatnya bahagia meski itu hal sederhana.


" Baiklah. Sekarang tidak alasan bagiku untuk menolak mu," kata Meta dengan yakin.


" Artinya kamu menjawab iya atas perasaanku?," ucap Saif yang tidak menduga jika Meta akan langsung memberikan jawaban.


Meta menganggukkan kepala. " Katanya mau sarapan nasi Padang?. Ayo berangkat." Meta berusaha berbicara hal lain agar mereka berdua tidak terlalu salah tingkah.


Saif pun bangkit dari sofa, " Aku juga sudah lapar."


Mereka berjalan dari ruang tamu menuju keluar.


Saat mereka akan tiba di depan pintu, Saif menghentikan langkah Meta dengan memegang tangan Meta. " Terima kasih," ucap singkat Saif sambil menatap gadis magnetnya.


Sekali lagi Meta hanya menganggukkan kepalanya pelan dan memberikan senyum pada Saif yang berada di depannya dan sedang menatapnya. Saif mendekat kepada Meta untuk memeluk si gadis magnet.


Saif bahagia cintanya bisa di terima Meta, dia menemukan sesuatu yang luar biasa yang bisa mengisi kekosongan hati dan hidupnya.


" Meta... Waktu di kelab ketika Olivia datang menghampiri ku, Saat itu kamu cemburu kan?." Saif sedang menggoda Meta. Mereka sudah ada di dalam mobil mengarah ke rumah makan Padang yang pernah dijanjikan Saif.


Kedua pipi Meta terasa panas mendengar kalimat yang diutarakan Saif. Dia merasa malu karena tertangkap jika ia memang cemburu saat itu. Mereka bercanda selama perjalanan, bersikap normal seperti hari-hari sebelumnya.


Perasaan berkecamuk di dalam hati Saif. Dia bahagia cintanya berbalas tapi juga takut, bukan takut atas cintanya ada hal lain yang ikut masuk di dalam pikirannya.

__ADS_1


Gadis magnet itu mulai masuk dalam kubangan yang di bangun atas dasar membalas cinta Saif.


Cinta pertamanya...


__ADS_2