Aku Kedua Juga Terluka

Aku Kedua Juga Terluka
Minta no handphone


__ADS_3

Hari-hari berikutnya dimulai aktifitas Meta bekerja seperti sebelumnya. Bekerja di sebuah Mall di sebuah toko aksesoris ternama Julia Jewelry sudah menjadi rutinitasnya setidaknya sudah dua tahun ini.


Satu minggu setelah pertemuan itu,


Meta hampir saja tak ingat pernah terjadi pertemuan itu. Sampai Sila mendatanginya ke toko tempat Meta bekerja karena saat itu hari Sabtu yang shift kerjanya kebetulan lembur. Jadi dia lebih baik menemui Meta di mall. Dan kantornya pun tak jauh dari Mall. Sila bekerja sebagai personalia di sebuah PT.


" Hai sepupuku yang manis, ada yang minta nomor handphone?."


Aku mengernyitkan kan dahiku dan bertanya


" Siapa?."


" Tentunya penggemar baru mu " cerocosnya sambil mengutak-atik gelang yang ada di tempat display perhiasan.


" Sejak kapan aku punya penggemar.


Dan jangan sekali-kali beri nomor handphone ku pada orang yang tak aku kenal"


" Hei.. kamu ini lupa kalau aku ini sepupu mu, makanya aku datang kemari untuk meminta ijinmu, apa aku bisa memberikan nomor handphone mu pada Saif"


Dengan sedikit berpikir nama itu, sepuluh detik kemudian Meta mulai mengingat nama Saif.


Dan Meta tersentak dengan ucapan sila


" Jangan bilang kamu lupa siapa dia, Saif minta nomor mu padaku kemarin ketika Robi telepon."


" Jangan di kasih deh, " nada Meta santai.


Karena Sila tau bagaimana sifatnys dia hanya mengacungkan jari jempolnya yang menunjukkan bahwa dia setuju dengan permintaan Meta.


Meta bukan cewek yang suka menebar nomor handphone ke semua orang, setidaknya Meta harus tau siapa dan maksud dari meminta nomor. Kelihatan naif tapi itu untuk membentengi diri sendiri dari orang-orang iseng.


Selang dua minggu dari itu, saat malam hari Sila datang ke kamar Meta dengan menyodorkan handphonenya, seolah-olah ada yang ingin bicara padaku. Pada layar handphone terlihat nama Robi.

__ADS_1


" Iya halo" jawab Meta diplomatis


" Ini Saif...,. "


" Iya ada apa?."


" Nona Meta aku boleh minta nomor handphone mu?."


" Buat apa?."


" Aku kan ingin ngobrol lagi sama kamu nona!"


" Ya ini kan sudah ngobrol."


" Aduhhh nona Meta yang cantik,, ini kan handphone orang lain, aku tuh pinginnya punya nomor kamu !?" terdengar nadanya sedikit gemes karena mendengar jawabanku.


" Ya kalau mau ngobrol datang langsung saja, daripada di handphone."


Mendengar kalimat itu Meta tersentak, karena tak mengira bahwa Saif akan menjawab seperti itu. Padahal Meta hanya menggertak nya dan tidak benar-benar serius.


Meta tidak memikirkannya karena saat itu sudah bulan februari pertengahan tidak mungkin datang karena waktu sudah berselang satu bulan setelah telepon itu.


Hal yang biasa Sila tanyakan setiap minggu adalah bertanya padaku hari apa aku libur bekerja, dan Meta selalu menjawab pertanyaan tak berbobot itu.


Hari libur Meta telah tiba hari Rabu, hanya punya rencana sore hari pergi bersama temanku sewaktu SMA. Pagi hingga siang santai di rumah. Ketika Meta sedang menonton televisi,


tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah, karena tidak ada orang di rumah selain Meta, Papa bekerja dan Mama sedang aa di rumah Tante Lena, ya Metalah yang membuka pintu.


Matanysmembelalak melihat seorang cowok berdiri di depan pintu.


"Saif !!!".


" Boleh aku masuk?."

__ADS_1


Dengan masih keadaan terkejut Meta mempersilahkan dia masuk.


" Sendiri??"


" Kesininya sendiri tapi datangnya sama Robi, dia di rumah Sila" jelasnya


"OOO,... silakan duduk. Kenapa kemari,?" imbuh Meta.


" Ada yang minta aku datang, jadi aku datang."


" Aku kan tidak bermaksud serius dengan kalimat itu."


" Mungkin kamu memang engga serius, tapi aku yang serius, karena kamu nona tidak memberi pilihan lain selain aku datang ke rumah mu"


" Ya udah kita ngobrol" balas Meta.


" Baik "


" Sebentar ya aku ambilkan minum", lalu Meta menuju ke dapur.


Obrolan di mulai seperti saat pertama kali mereka bertemu, dan sama seperti waktu itu Saif bisa membawa obrolan itu ke arah yang menyenangkan.


Kurang lebih satu jam berlalu,, tiba-tiba handphone Saif berdering dan rupanya Robi mengajaknya pulang.


" Oh ya Meta aku kemari tidak hanya untuk mengobrol tapi ada hal utama yang aku minta" dia berkata sambil mengulurkan handphonenya pada Meta.


" Maksudnya?."


" Tentu saja aku meminta nomor handphone nona, kamu tidak mau kan aku datang tiap hari ke rumahmu?."


Dengan sedikit ragu Meta mengambil handphone dari tangan Saif, dengan otomatis Meta pun mengetik kan nomornya disitu. Setelah itu Meta mengikutinya ke rumah Sila, rupanya Sila dan Robi sudah menunggu, yang siap untuk pulang.


Dengan kata lain jika aku memberinya nomor handphone, membuatku berkomunikasi dengannya.

__ADS_1


__ADS_2