Aku Kedua Juga Terluka

Aku Kedua Juga Terluka
Tanyakan pada diri mu


__ADS_3

Meta terbangun dari tidurnya ada yang mengetuk pintu kamarnya lalu menerobos masuk begitu saja tanpa persetujuan Meta


" Halo sayang kenapa kamu masih tidur?." kata Siska sambil meletakkan tas kecilnya di meja kamar Meta. Meta belum sadar sepenuhnya antara tidur dan bangun meski matanya terpejam tapi dia tau itu suara Siska temannya, Meta tidak menggubris pertanyaan dari Siska, karena tak ada respon Siska memilih untuk mengguncangkan badan Meta agar bangun dari tidurnya " Hei ayo bangun sekarang sudah jam sembilan".


" Aku libur Siska jadi biarkan aku tidur satu jam lagi." Tangannya meraih selimut untuk menutup kepalanya.


" Sudah bangun saja, nanti saat aku pergi kamu boleh lanjutkan tidur mu."


Masih tak ada respon dari Meta " Aku mau keluar membeli camilan, aku kembali kamu sudah harus bangun," ucap Siska Entah di dengar atau oleh Meta.


Tidak lama Siska pergi, handphone Meta berdering dia tidak merespon lalu berdering untuk kedua kalinya "Astaga siapa lagi ini yang menggangguku, kenapa mereka tak berhenti mencari ku meski aku libur," gerutunya dengan mata masih terpejam. Nada dering itu juga tak berhenti membuat tangan Meta meraba mencari keberadaan handphonenya. " Iya halo " menjawab telepon dengan matanya belum juga terbuka.


" Halo nona Meta, apa kamu masih tidur?."


Meta masih belum sadar seutuhnya terdengar ada kata nona mengingat siapa yang sering mengucapkan kata itu " Saif". Begitu kagetnya matanya langsung terbuka dan terkesiap dalam posisi duduk di atas ranjang. Dia harus sadar dan menenangkan suaranya agar tak terdengar gugup.


" Iya baru bangun semalam baru bisa tidur jam dua dini hari."


" Kalau kamu masih tidur aku telepon nanti saja."


" Ngga usah di tutup, aku juga sudah bangun bukan karena telepon mu tadi Siska juga kesini." Penjelasan Meta sambil menyingkap selimut.


" Siska yang di Mall ? yang manggil aku Lexus?."


" Iya dia."


" Jam segini sudah ada di rumahmu, ngapain?."


"Kata nya di rumahnya ngga ada orang jadi dia kemari." Dengan mencibirkan bibirnya dia memberi jawaban asal tentu saja bukan alasan itu Siska ke rumah nya.


" Kamu telepon mau bilang apa?," lanjutnya


" Temani aku ke pernikahan teman nanti sore?."


" Mendadak sekali."


" Iya tadi ada teman baru kasih tau dia lupa padahal undangannya sudah satu Minggu lalu. Memang kamu hari ini ada acara?."


" Engga ada sih. nanti jam berapa?."


" Aku jemput kamu jam empat."


Pintu kamar Meta terbuka ternyata Siska sudah kembali dari membeli camilan, dia mendekati Meta menempelkan telinganya di handphone Meta yang jelas dia ingin tau siapa yang sedang menelepon Meta.


" Oke."


" Kalau kamu pakai kebaya bisa kan kenakan Alpaka nya?."


" Iya. Memang acaranya dimana?."


" Di hotel. Nanti aku telepon kamu kalau sudah berangkat ke rumahmu."


" Oke."


Siska memandang curiga pada Meta.


"Kenapa wajahmu seperti itu, kamu juga libur hari ini?."


" Aku masuk siang, padahal aku kemari untuk mendengar ceritamu tentang kemarin malam, tapi rupanya aku mendapat bonus, mau kemana lagi kalian?."

__ADS_1


" Pertanyaan mu terlalu panjang, boleh aku jawab setelah aku dari kamar mandi?."


" Kamu tau seberapa penasarannya aku?, sudah sana cepat."


Menunggu Meta Siska memutar musik melalui smartphone nya, di letakkan di atas meja tak lupa dia membuka Snack yang barusan ia beli. Dia tak sengaja melihat tas coklat yang berikan Saif untuk Meta, dia melihat ada kotak di dalamnya mengambilnya. Ada tulisan Bali otaknya langsung mengarah dan berbicara sendiri pasti dari si Lexus".


"Bagus juga oleh-oleh dari si Lexus" Siska berucap ketika Meta masuk kamar.


" Tadi malam kalian darimana?."


" Cuma ngopi."


" Ngga jalan-jalan keliling gitu?."


" Sudah malam mau jalan kemana!"


" Setelah itu terjadi apa?."


Meta duduk di dekat Siska di sebuah sofa panjang yang menghadap keluar jendela. Ia mengingat kejadian Saif yang tiba-tiba menarik dan memeluknya.


" Tadi malam ketika dia berpamitan pulang tiba-tiba dia memelukku."


" Hah memeluk???."


Meta hanya menganggukkan kepala.


" Kenapa dia memelukmu?"


" Dia hanya bilang kalau dia sangat merindukan aku."


" Kamu mau dan nggak menolak gitu?."


" Gimana mau menolak itu terjadi begitu saja, aku keluar dari mobil lalu dia memanggil ku mendekati ku lalu menarik lengan tiba-tiba aku sudah di dalam pelukannya. Itu pun mungkin hanya terjadi satu menit."


Siska pun terlihat serius dan mengubah posisi duduk nya yang kini menghadap ke Meta.


" Ada yang perlu diluruskan," kata Siska sambil berpikir.


" Dulu ketika Irfan dan Ryo mendekatimu, kamu tidak seperti ini. Dulu kamu selalu mempunyai alasan untuk menolak mereka saat mereka ingin mengajakmu pergi, sekarang kamu tampak tidak berdaya ketika si Lexus mengajakmu."


" Memangnya aku seperti itu?."


" Kamu sadar kenapa seperti itu?," tanya Siska


" Tidak."


" Padahal kamu mengenal mereka dengan rentang waktu yang hampir sama satu tahun, tapi sikap mu kepada Lexus sungguh berbeda, bahkan kamu terdiam saat dia memelukmu. Kamu sadar apa itu artinya?"


Siska berbicara dengan mulutnya yang penuh dengan snack.


" Apa?."


" Kamu menyukainya."


" Siapa?."


" Tentu saja Saif. Siapa lagi?."


Meta mengerjap-ngerjapkan matanya. "Benarkah?."

__ADS_1


Siska mendesah. "Kamu ini sungguh tidak tahu atau pura-pura tidak tahu?."


Meta menggeleng-geleng, ia sungguh tidak tahu perasaannya.


" Sekarang coba jawab pertanyaan ku" kata Siska serius.


" Ketika kamu bersama Lexus, apa kamu merasa bahagia?." Meta berpikir sejenak lalu mengangguk.


" Ketika kalian mengobrol apa kamu pernah merasa bosan?."


" Tidak pernah, dia tidak pernah membuatku bosan, malah dia selalu mengejutkanku."


" Jantungmu berdebar dua kali lipat setiap kali dia menatap dan tersenyum kepadamu?."


Meta berpikir lagi dan menganggukkan kepala. Bahkan kadang-kadang jantungnya serasa berhenti berdegup seperti kejadian tadi malam ketika Saif memeluknya.


Siska menopang dagunya dengan sebelah tangan dan tersenyum senang " Lihat saja dirimu, aku sudah mengatakan padamu. Apa masih perlu aku ulangi pertanyaan ku tadi?."


" Tapi aku belum yakin," ucap Meta ragu.


" Ayolah Meta coba kamu kenali perasaanmu sendiri, jangan terlihat bodoh tentang perasaanmu sendiri.


Siska menghela nafas karena melihat temannya tidak bisa mengenali perasaan nya, memaksa Siska untuk menanyakan pertanyaan yang sama.


" Baiklah aku tanya lagi?."


Meta memandang temannya itu dan berharap Siska punya cara mendapatkan kesimpulan yang tepat.


" Ketika kamu bersama Irfan ataupun Ryo apa kamu merasa bahagia? Siska mengulangi pertanyaan seperti tadi.


Meta mengangguk. ia juga merasa bahagia ketika bersama Irfan dan Ryo.


" Irfan dan Ryo pernah membuatmu bosan ketika kalian sedang mengobrol?."


" Kadang kala tapi saat mengobrol dengan mereka tidak pernah kehabisan bahan obrolan" jawab Meta pelan.


" Apa jantungmu berdebar saat ada di dekat mereka?."


Meta menggeleng " Biasa saja."


Siska tersenyum puas " Nah lihat kan?. Kamu menyukai mereka bertiga, tapi kadar suka kamu terhadap mereka berbeda."


Meta mengerjapkan mata seakan baru tersadar dari mimpinya.


" Kamu menyukai Irfan dan Ryo sebagai teman sedangkan terhadap si Lexus kamu menyukainya sebagai laki-laki." Siska menyimpulkan.


" Silakan berpikir aku mau ke kamar mandi" Siska meninggalkan Meta yang masih terpaku di sofa.


Mengapa Siska tiba-tiba membahas soal ini padahal Meta belum sama sekali berpikir sejauh itu. Perlu waktu lagi untuk meyakinkan hati Meta, setidaknya kali ini dia akan memikirkan tentang perasaannya sendiri.


" Sudah jangan dipikirkan. Jalani saja seperti air mengalir" Siska yang baru masuk lagi ke kamar.


" Iya benar juga. Saif sendiri juga belum bilang apa-apa."


" Tapi dia sudah bilang kalau dia merindukanmu, bisa saja dia memang menyukaimu," kata Siska dan meraih tas yang ada di meja.


" Sudah mau ke mall?."


" Iya. Tuh sudah jam satu . Aku berangkat dulu, dan selamat kondangan."

__ADS_1


Meta mengikuti Siska keluar rumah, setelah Siska pergi dia mulai meraba-raba perasaan nya sendiri apa yang ia rasakan untuk Saif.


Aku memang senang bertemu dan berbicara dengannya meski aku belum tau perasaan ku terhadapnya.


__ADS_2