
Hari ini Meta datang ke pesta atas undangan Siska, meskipun ini adalah pesta Eki pacar Siska. Meta datang dengan Saif karena Saif melarangnya datang ke pesta dengan orang lain khususnya Irfan. Padahal Irfan sendiri tidak bisa datang karena shift kerja siang.
"Ini tempatnya?" tanya Saif ketika mereka tiba di depan kelab bernama De Club.
Meta mengangguk. "Ya ini kelab yang tertulis di kartu undangan", katanya. " Kamu pernah kesini?"
Saif tersenyum dan mengangguk. " Pernah. Dua atau tiga kali."
Sewaktu masih jadi anak motor dia sering berkumpul sesama anggota tak terkecuali di De Club ini. " Ayo masuk". Kata Meta sambil menarik tangan Saif.
Pesta ini yang mengadakan Eki pacar Siska, sekedar untuk mengumpulkan semua teman mereka. De Club ini milik keluarga Eki.
Meta hanya melihat Ryo, Eca, Lucas duduk di sofa bawah, sedangkan Irfan dan Prima tak bisa datang karena masih bekerja. Terlihat pula ada teman-teman Eki di lantai dansa.
Meta dan Saif duduk di meja bar yang tak terlalu ramai menikmati minuman koktail.
Meta mencari sosok Siska yang belum kelihatan, tapi Siska tahu kalau Meta sudah datang dan menghampirinya.
" Hei, dia tampan," bisik Siska di dekat Meta. "Tangkapan yang bagus."
Meta melihat ke arah Siska dengan mata sedikit melotot dan mencubit lengan temannya, takut Saif yang sedang duduk di sebelahnya mendengar apa yang baru saja dikatakan Siska.
" Tangkapan? Memang dia ikan?" Meta berkata dengan lirih.
Seolah tak peduli dengan pertanyaan Meta, Siska melanjutkan perkataannya.
" Kamu beruntung Meta Kirana. Kalau saja aku belum punya pacar pasti dia akan kurebut dari kamu."
Meta hanya tertawa mendengar ocehan temannya.
" Oh ya Saif ini kenalkan temanku".
Saif mengulurkan tangannya pada Siska.
" Halo, aku Saif".
" Hai.. Aku Fransisca Vera, biasa di panggil Siska" tangannya menjabat tangan Saif.
" Siska yang memanggil namaku dengan Lexus mobilku." Saif sedikit bergurau.
" Sorry... Jangan dianggap serius, tapi itu panggilan yang cukup keren," nada bicara Siska bergurau.
" Kelihatannya kamu teman yang menyenangkan," ucap Saif pada Siska.
" Pastinya begitu kalau tidak mana mau Meta berteman denganku.
Sebentar aku kenalkan dengan Eki pacarku." Tangan Siska memberi tanda agar Eki datang padanya, Eki sedang di lantai dansa.
" Saif perkenalkan ini pacarku Eki."
" Senang bisa bertemu denganmu" ucap Eki.
Saif dan Eki saling berjabat tangan.
__ADS_1
" Sepertinya aku pernah melihatmu. Apa kamu pernah datang kemari ?" lanjut Eki.
" Mungkin. Sekitar lima tahun aku pernah kemari, mungkin itu yang membuatmu tak asing melihatku" jawab Saif.
"Benar juga. Senang bisa bisa datang kesini lagi."
" Sudah lama juga aku tidak menikmati suasana kelab."
" Silakan menikmati suasana nya, semoga pestanya tidak mengecewakanmu. Aku pergi kesana dulu Saif," kata Eki sambil menunjuk arah di sebelah kanan bar.
Sementara Eki pergi, Siska memilih tetap duduk menemani Meta.
Lucas dan Irfan duduk bersama dua cewek yang bekerja sebagai SPG mobil yaitu Olivia dan Lisa, mereka berdua teman dari Eki. Saif sedang sibuk dengan chat di handphone nya, dia bilang pada Meta ada sedikit urusan pekerjaan. Meta memutuskan berbincang dengan Siska sambil menunggu Saif yang sibuk. Tidak lama kemudian Olivia berjalan ke arah meja bar dan duduk di kursi kosong sebelah kiri Saif. Sejak Olivia masih duduk bersama Ryo dan Lucas, sebetulnya Meta memperhatikan Olivia yang memandang ke arah bar. Tentunya melihat Saif karena di meja bar hanya ada Saif, Meta dan Siska. Situasi yang tak terduga kini dia buktikan ketertarikannya pada Saif dengan mendatangi Saif. Seorang Olivia yang bisa melihat peluang untuk mendekati cowok.
Harus Meta akui jika dia merasa agak kecewa karena Olivia sama sekali berbeda dengan dugaannya yang tidak mungki mendekati Saif. Olivia yang kini duduk di sebelah Saif ternyata berwajah cantik, bermata coklat dan berambut hitam panjang yang lurus. Meta dengan menyesal harus mengakui tidak ada SPG yang terlihat seseksi Olivia.
"Sepertinya bukan cuma aku yang punya pikiran merebut Saif darimu, Meta" kata Siska tiba-tiba.
Meta mendengar Siska yang berbicara, dia menoleh cepat ke arah Saif dan melihat Olivia yang sedang berbicara dengan Saif. Wajah Olivia terlihat dekat sekali dengan Saif. Dan Olivia sesekali tersenyum lebar yang sepertinya sedang bersenda gurau dengan Saif.
"Olivia... Kamu mau minum koktail lagi?. Biar ku ambilkan untukmu," kata Saif yang menawarkan dan menunjuk gelas Olivia yang sudah kosong.
" Tentu saja," jawab Olivia sambil memberikan senyum yang manis ke Saif, dan membuat Meta naik darah.
Ketika Olivia akan membuka mulutnya untuk berbicara pada Saif, Meta langsung tahu apa yang ingin di katakan Olivia. Secepat kilat sebelum Olivia sempat mengatakan apa pun, Meta menyela dengan suara keras, hampir terdengar seperti sedang berteriak " Saif setelah kamu mengambil koktail lebih baik kita bertemu dengan teman-teman ku."
Siska yang masih duduk hanya tersenyum mendengar kata-kata yang di ucapkan Meta dan dapat melihat jika temannya ini sedang cemburu dengan Olivia.
" Bilang saja kalau kamu tidak suka Olivia mendekati Saif."
Meta bangkit dari kursi dengan cepat dan melemparkan senyum yang tak kalah manisnya ke arah Olivia yang membalasnya dengan senyuman yang ramah. Cewek itu bahkan tak boleh bermimpi untuk mendekati Saif.
Saif mengikuti Meta berjalan ke sebuah meja kosong.
"Ternyata kamu teramat sangat baik," komentar Meta yang lebih terdengar sinis saat mereka duduk di sofa kosong.
"Hm? baik yang bagaimana?" tanya Saif terlihat bingung.
"Kenapa kamu harus mengambilkan minum untuknya?" Meta berbicara tanpa melihat ke arah Saif. Meta tau kalau saat ini dia memang terlihat kekanak-kanakan, tapi dia sudah tidak bisa menahan diri.
Karena Meta merasa tak merasa mendapat jawaban, ia melirik ke arah Saif yang berada di sebelah kanannya. Dan Meta mendapati sosok cowok di sebelahnya sedang menatapnya sambil tersenyum.
"Kenapa senyum-senyum segala?" kali ini Meta menatap Saif lalu mengalihkan pandangannya lagi. Dia merasa Saif sedang membaca pikirannya seperti selama ini yang Saif lakukan seperti seorang cenayang.
" Meta Kirana... Coba lihat aku?" nada Saif lembut.
Meta tidak ada pilihan selain merespon perkataan Saif dengan sedikit enggan untuk menatap wajah Saif.
" Kamu cemburu?" tanya Saif dengan senyumnya yang semakin lebar.
" Tidak," ucap Meta seketika. Siapa yang cemburu? tidak ada yang begitu.
Saif tertawa kecil dan mengulurkan tangannya mengusap kepala Meta. Jantung Meta pun berdetak tak beraturan.
__ADS_1
" Aku menawarinya minum lagi sebagai alasan aku bisa pergi dari sana," kata Saif sambil menatap Meta
"Yakin ?"
Saif mengangguk.
" Kamu tidak tertarik pada Olivia?."
"Tidak."
" Sedikit pun tidak tertarik?." Tanya Meta yang terkesan untuk meyakinkan dirinya sendiri.
Saif berpikir sejenak. " Ya.. Olivia memang sangat cantik dan cewek idaman para cowok" jawab Saif.
Meta mengerutkan kening.
Melihat reaksi Meta, dengan cepat Saif melanjutkan perkataannya.
"Tapi tidak, dia bukan tipeku," lanjut Saif tenang dan mengarahkan pandangan kepada Meta yang juga menatapnya.
"Makanya kamu tidak perlu cemas. Kamu tahu kalau kulitmu bisa cepat berkeriput jika kamu berkerut terus seperti itu."
Meta hanya mendengus walau tidak di pungkiri hatinya senang mendengar penjelasan Saif. Sebelum Saif melanjutkan tentang masalah keriput dan untuk menutupi rasa malunya Meta hanya bergumam tak jelas.
"Kamu tahu Meta bahwa aku sudah menyukaimu dan aku tidak bercanda dengan perasaanku terhadapmu."
" Tapi banyak cewek yang menyukaimu."
" Yang penting aku hanya menyukaimu, tak perlu menghiraukan mereka. Bisa saja aku berpaling kepada mereka jika kamu tak membalas perasaanku," Saif bergurau lagi.
Meta merasa senang Saif memberikan penjelasan yang meyakinkan hatinya. Setelah kemarin Saif menyatakan bahwa ia mencintai Meta. Dan tampak dari perkataan Saif jika ia juga ingin kepastian dari Meta.
Saif mengajak pulang Meta karena jam sudah menunjukkan pukul 23.30 Wib, ia tahu bahwa Meta besok shift kerja pagi.
Meta dan Saif mencari keberadaan Siska dan Eki untuk berpamitan pulang terlebih dahulu.
" Eki...Aku mau pulang dahulu.." kata Meta.
" Kenapa buru-buru sih Meta. Pesta juga masih ramai."
" Aku masuk pagi, jadi harus pulang sekarang."
" Baiklah. Aku tak akan memaksa."
" Bilang sama Siska kalau aku pulang dahulu."
" Oke." jawab Eki
"Hati-hati ya Saif, semoga kamu masih mau ke kelab ini." Lanjut Eki pada Saif.
Saif menggandeng tangan Meta ke arah keluar kelab. Suasana kelab yang semakin sesak meski sudah menjelang dini hari.
Jejak hitam yang tersisa meski sudah lama berlalu, membuatnya bersama seseorang.
__ADS_1