
Hari-hari Meta berikutnya masih sama dengan sebelumnya hanya statusnya yang berbeda. Dia menjadi kekasih seseorang yang berjalan sebulan ini. Diantara semua teman Meta cuma Siska yang tau jika kini Meta sudah mempunyai kekasih. Hal ini tidak perlu di gembar-gembor kan nanti pada akhirnya orang di sekelilingnya akan tahu juga.
Ada satu hal lagi yang berubah ketika seseorang menjadi kekasih, baik Saif dan Meta mempunyai panggilan 'sayang' antara satu sama lain. Saif memanggil 'Yang' pada Meta dan Meta memanggil Saif dengan a' atau aa'.
Saif masih rutin mengirim chat dan menelpon setiap hari sama ketika masih berteman, hanya dia lebih sering berkunjung ke rumah Meta dua sampai tiga kali ke rumah Meta.
Saif datang ke Julia Jewelry tanpa memberitahu Meta, dia memang lebih suka datang tiba-tiba.
Meta sedang di balik meja kasir sedang melihat stok perhiasan di komputer toko, dia sendirian karena Rahma sedang libur dan Cindy belum datang.
"Permisi." Saif sudah berdiri di depan pintu Julia Jewelry dengan tersenyum.
" Lho kok disini a', " Meta kaget tak menyangka kekasihnya berada di tokonya. Dia menghampiri Saif yang masih di depan pintu.
" Kejutan sayang. Sengaja kesini untuk bertahu kamu."
"Apa?."
"Kamu mau pergi berkencan denganku malam ini?."
"Kencan?."
Saif mengangkat bahu. " Ya. Kita bisa jalan-jalan dan yang lainnya.
Saif akan mengajaknya berkencan. Kencan resmi setelah satu bulan mereka menjadi dua sejoli, ya memang Saif sering ke rumahnya tapi itu bukan kencan hanya berkunjung ke rumah Meta. Saif ingin melakukan kencan yang sebenarnya seperti makan, nonton bioskop dan semacamnya.
Meta tersenyum lebar. "Oke... Kita akan kemana?," seru Meta penuh semangat.
" Ah, itu akan menjadi kejutan," kata Saif sambil menyunggingkan senyum lebar dengan lesung pipi yang memikat.
"Kamu hanya perlu bersiap-siap, nanti malam aku akan menjemputmu."
"Kamu membuat kencan terdengar begitu romantis. Meski kamu tidak begitu romantis."
" Aku memang tidak seromantis cowok lain, sayang tapi aku bisa menunjukkan dengan langsung."
Meta tersenyum manja mendengar ucapan Saif.
"Meta Kirana sayang." Meta mendengar Saif mengucapkan namanya.
Meta melebarkan matanya. "Iya?."
Saif berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana jeans-nya.
"Berhati-hatilah," katanya dengan nada serius, namun matanya seperti bersinar.
"Berhati-hati?. Terhadap apa?," tanya Meta penuh was-was.
Senyum yang lebar tersungging di bibir Saif.
" Setelah kencan malam ini, kamu mungkin akan lebih jatuh cinta padaku."
Meta tersenyum sambil mengangkat alis. "Aku akan melihatnya nanti. Apa aku akan lebih mencintaimu."
"Tentu saja. Tunggu malam ini, sekarang lebih baik aku pulang dulu."
" Oke. Hati-hati a'."
"I love you," ucap Saif lalu berbalik arah.
Meta tersenyum sambil melambaikan tangan, melihat Saif hingga hilang dari pandangannya barulah ia kembali ke dalam toko. Pendapat Meta romantis itu bukan sekedar rayuan, sikap yang di tunjukkan Saif seperti inilah yang menurutnya romantis.
〰️〰️〰️
__ADS_1
Setelah jam kerja selesai Meta pun langsung pulang ke rumah.
Dia membuka handphone dan membaca chat Saif. " Sayang aku akan sampai di rumahmu sekitar jam tujuh 😘."
Meta membalas " Aku akan siap ketika kamu sampai 💕."
Sesuai yang dikatakan Saif, ia tiba di rumah Meta pukul 19.05 Wib. Setelah membunyikan bel ia duduk di kursi yang berada di teras rumah Meta. Sementara Meta baru turun dari kamarnya setelah mendengar bel rumahnya berbunyi. Dia membuka pintu dan mendapati kekasihnya duduk di kursi teras.
"Bagaimana penampilanku?" tanya Meta ketika Saif melihatnya. Meta memakai Frilly dress dipadukan Textured legging di sempurnakan dengan memakai Angkle boots.
Saif memandanginya dari ujung kepala ke ujung kaki dan tersenyum. " Sejauh ini di antara semua cewek kencan ku, kamu yang paling cantik," puji Saif
Meta meringis. " Sejauh ini juga memang hanya aku cewek yang kamu ajak kencan malam ini," balasnya.
" Aku menyukai penampilanmu," sahut Saif.
Kemudian ia membawa Meta ke mobil yang terparkir di depan pintu gerbang rumah Meta.
Meta masuk ke mobil dan memasang sabuk pengaman, ketika Saif juga sudah duduk di balik kemudi. Saif segera menyalakan mesin mobil dan mereka pun melaju meninggalkan rumah Meta.
Meta menengokkan kepala melihat Saif, Saif pun merasa di perhatikan oleh Meta.
" Ada apa sayang?."
" Hari ini kamu terlihat lebih keren a'."
Saif tersenyum. "Ha! Kamu terkesan padaku Yang." ia mengalihkan perhatiannya dari jalanan untuk sesaat, menoleh ke arah Meta.
"Benar kan? Benar?."
Meta tertawa dan memukul lengan Saif dengan tangannya. "Sudah perhatikan jalanan a' sayang. Dan aku tidak terkesan pada penampilan mu."
Meta mengacungkan jari telunjuk dan ibu jarinya. "Sedikit. Sedikit terkesan." ia tertawa lagi sehingga membuat Saif juga ikut tertawa.
" Baiklah," kata Saif mantap. " Mari kita lihat apakah aku bisa memperbaiki dari sedikit itu menjadi lebih besar."
Meta hanya mengangkat alis tidak mengerti, tapi Saif tidak ingin menjelaskan lebih lanjut.
" A' tidak perlu membawaku ke tempat seperti ini." kata Meta dengan wajah berseri-seri dan senyum lebar ketika menyadari Saif membawanya ke salah satu restoran kesukaannya, Wijaya Kusuma restoran.
Saif melirik Meta dan berkata," Tapi melihat wajahmu sekarang, sepertinya pilihanku benar."
Seorang pelayan pria menempatkan mereka di salah satu meja di tengah ruangan. Meta memandang sekelilingnya dengan kagum. Restoran itu bagus dengan interior bergaya modern tapi tetap bernuansa Indonesia yang nyaman dan hangat.
Meta hanya satu kali datang ke restoran ini, saat perayaan pernikahan orang tuanya setahun yang lalu. Ia menyukai lantai kayunya, tirai yang mewah, lilin dalam gelas dan setangkai mawar yang di letakkan di setiap meja.
Pelayan yang tadi kembali dengan membawakan menu. Setelah mereka melihat daftar menu, Saif mulai menyebutkan pesanannya kepada si pelayan yang mencatat sesuai permintaan mereka berdua.
Setelah si pelayan pergi Meta kembali mendesah melihat sekeliling.
" Aku suka sekali tempat ini sangat elegan dan romantis."
" Kelihatannya restoran ini memang di jalankan dengan konsep seperti itu." Kata Saif.
Sekitar lima belas menit kemudian si pelayan datang membawakan menu yang mereka pesan. Mereka menikmati santap malamnya.
" Kamu memang kekasih terbaik," kata Meta sambil membuka sendok dan garpu yang terbungkus tisu.
"Tentu saja. Sebaiknya kita cepat makan, karena kita harus pergi ke tempat lain setelah ini. "
"Oh?" Wajah Meta berseri-seri. " Kita mau kemana lagi?."
Saif menatap Meta dan tersenyum, " Itu juga kejutan."
__ADS_1
Meninggalkan restoran Saif dan Meta melanjutkan perjalanan menuju ke sebuah wahana baru yang belum lama di buka. " Astaga, kita akan masuk ke sini?." Meta tidak mempercayai matanya ketika mereka berdiri di depan Milenial Glow Garden.
" Ya sayang," sahut Saif. " Bukankah kamu belum pernah kesini. Dan aku orang pertama yang mengajakmu kesini."
Meta menoleh ke arah Saif, matanya berkilat-kilat gembira.
" Bagaimana menurutmu, apa aku berhasil membuatmu terkesan?."
Sebelah alis Meta terangkat dan ia tersenyum. " Baiklah a', aku akui kamu berhasil," katanya jujur. " Kamu membuatku sangat terkesan. Aku memang sangat ingin melihat pertunjukan ini.
"Kita masuk sekarang?," ajak Saif sambil menyodorkan sikunya.
Tanpa ragu Meta langsung menyusupkan lengannya di lengan Saif. " Ayo," jawab Meta dengan senyuman yang sumringah.
Begitu masuk pertama akan melewati lorong panjang di hiasi lampu sepanjang lorong.
Masuk ke area berikutnya akan disuguhkan lighting show terbesar di ASEAN. Meta yang begitu memasukinya sudah sangat senang seperti berada di dunia fantasi.
Meta bertingkah layaknya anak kecil yang sangat terkesima dengan yang ia lihat.
Saif berada di belakang Meta hanya memandang kekasihnya " Sayang kenapa kamu terlihat bahagia dengan hal sekecil ini." Saif berbicara sendiri karena kekasihnya sekitar 5 meter di depannya.
" A' sini dong," ajak Meta saat melihat ke arah Saif.
Saif mengangguk dan berjalan mendekat ke arah Meta berada.
Mereka berada di bagian flower lighting.
" Meta tunggu sebentar." pinta Saif dengan tangannya mengambil sesuatu di kantong jas Single Breasted yang ia kenakan.
Meta hanya diam dan menunggu apa yang akan dilakukan kekasihnya.
Sebuah kotak kecil di tangan Saif lalu ia membuka kotak itu mengambil isinya.
Kalung emas putih berliontin balerina di sematkan Saif ke leher Meta.
" Apa ini?," tanya Meta dengan memegang kalung yang sudah terpasang di lehernya.
" Sebagai hadiah agar kamu selalu mengingatku."
" Kenapa kamu selalu memberi sesuatu yang mewah a'?," nada serius dari Meta
" Aku memang ingin memberikan sebagai hadiah."
" Aku tidak mau terlihat seperti pacar yang matre."
" Kamu nggak matre Sayang, aku saja yang suka memberi mu hadiah."
Tangan Saif memegang tangan kiri Meta.
" Tolong jangan berpikir begitu oke," ucap Saif terdengar seperti memohon.
"Ah ada benarnya, tak ada yang salah jika memberi sesuatu kepada orang terkasihnya."
Meta berkata agar Saif tak merasa kecewa telah memberinya hadiah lagi.
" Ayo pulang kalau kamu sudah puas disini," ajak Saif.
Meta setuju dengan ajakan Saif dengan mengangguk kepala. Mereka bergandengan tangan menuju pintu keluar.
" Terima kasih a' untuk hadiah yang cantik ini."
Ucapan Meta ketika mereka sudah di dalam mobil bersiap pulang.
Seorang kekasih yang memanjakan orang yang ia cintai adalah bentuk lain dari cinta itu sendiri.
__ADS_1