Aku Kedua Juga Terluka

Aku Kedua Juga Terluka
Kejutan ini menyenangkan.


__ADS_3

Meta tidak mempercayai apa yang ada di depan matanya, cowok yang membuat ia senewen hari ini tiba-tiba muncul di hadapannya. Dia masih terpaku di depan pintu toko sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya yang menutupi senyumnya ketika melihat Saif. Ada rasa yang membuatnya senang ketika melihat cowok itu datang ke tempatnya bekerja. Seharian menunggu kabar Saif dan tak ada tanda-tanda bahwa dia telah datang dan secara mendadak dia telah hadir di hadapan Meta, sungguh membuatnya terkejut.


Saif melangkahkan kaki menuju Meta berada, dengan langkah kaki yang begitu percaya diri. Mempunyai badan yang tinggi, wajah Indonesia, berkulit putih serta senyum yang berlesung pipi membuatnya terlihat sempurna. Tentu saja banyak karyawan toko khususnya para cewek yang menatapnya, karena Mall pada hari Senin tidak begitu banyak pengunjung hanya ada beberapa yang lalu lalang. Dan Saif menjadi pusat perhatian mereka sebab dia berjalan sendiri, banyak dari karyawan toko yang bergeming sesama rekan toko. Ah mungkin mereka memang terkesima dengan Saif.


Ketika dia berhenti di depan toko Julia Jewelry dan menyapa Meta para cewek itu terlihat kaget. Mereka tak menyangka bahwa cowok itu ternyata menghampiri Meta padahal mereka pikir dia hanya pengunjung biasa di Mall.


" Halo nona Meta," sapa Saif dengan senyum khasnya sambil mengulurkan tangan kanannya, dengan masih rasa tak percaya nya Meta menjabat tangan Saif " Halo."


" Bagaimana keadaan kamu?," lanjut Saif


" Alhamdulilah baik. "


" Terkejut bukan tiba-tiba aku datang ?."


" Iya jelas kamu ngga bilang kan kalau mau kemari." Ketika mengucapkan itu Meta berusaha melepaskan jabat tangannya dengan Saif karena dia merasa bahwa mereka berdua sedang di awasi para karyawan toko lain.


" Saif bisa lepaskan tanganku sekarang, ada yang melihat kita."


" Kenapa?."


" Lihat di sekeliling mu mereka memperhatikan kita."


" Ternyata disini bisa juga menjadi gosip, padahal ini kan tempat umum!" kata Saif sambil melepas tangan Meta.


" Aku sangat senang bisa menemui mu kembali Meta. Kamu pulang malam?."


" Iya nanti jam sepuluh."


" Masih lama. " Saif melihat jam di tangan kirinya.


" Iya masih enam jam lagi."


" Baiklah nanti malam aku mau jemput kamu."


"Apaa ???."


" Iya tunggu aku ketika kamu pulang atau kamu mau aku temani disini?."


Dengan spontan kedua tangan Meta bergerak. " Engga..engga..ngga usah ya sudah nanti aku nunggu kamu."


" Bagus. See you again tonight."


Setelah mengatakan itu Saif melangkah pergi dari hadapan Meta dan sekali menoleh ke belakang ke arah Meta yang juga masih terdiam di depan pintu toko. Saif sudah tidak tidak kelihatan baru kemudian Meta masuk buru-buru ke dalam toko supaya para tetangga di sekitar tokonya tidak bertanya macam-macam.


Masuk ke dalam toko Meta tersenyum dan menggelengkan kepala karena rasa tidak percaya nya bahwa Saif hadir di hadapannya.


Saif yang datang tanpa pemberitahuan apapun, tidak perlu kata hanya lebih langsung kepada tindakan.


Jam istirahat Meta sebentar lagi, Meta menunggu Siska yang tadi pagi sudah merecokinya meminta untuk makan bersama saat beristirahat.


Siska berjalan meninggalkan tokonya, ia akan naik ke lantai dua untuk menjemput Meta yang sudah berjanji akan makan bersamanya.


Setibanya di depan toko number 61 ada Prima yang memanggilnya dari dalam toko


" Siska sebentar..." kata Prima sambil berlari kecil keluar dari toko Number 61.


" Ada apa?," sedikit heran Prima menghentikan jalannya.


" Siapa sih cowok kece yang menghampiri Meta tadi?."


" Cowok apa, cowok mana?" Siska bingung dengan pertanyaan Prima.


"Tadi ada cowok tinggi, putih berlesung pipi, datang ke Meta ?," wajah Prima penasaran.


" Ryo???."

__ADS_1


" Kalau Ryo aku juga atau ngga perlu aku tanya kamu."


" Siapa sih... Aku juga ngga tau." Setelah ia pikir-pikir Ryo ngga punya lesung pipi, ini membuatnya menjadi penasaran.


" Cowoknya datang begitu saja pergi juga begitu saja, cuma sebentar. Cowok Meta ya?."


" Nggak tau juga," jawab Siska yang juga penasaran.


" Kamu mau istirahat debga Meta kan ! tanya kan ke Meta ya kalau itu saudaranya boleh dong aku kenalan. Tadi semua cewek di sekitar sini terpesona dengan itu cowok," kata Prima sambil membayangkan sosok cowok itu.


" Iya. Sku tinggal dulu."


" Sip".


Siska langsung masuk ke Julia Jewelry menghampiri Meta yang sedang ada di dalam gudang.


" Mbak di cari mbak Siska," teriak Cindy


"Iya sebentar," mendengar teriakkan Cindy Meta meletakkan kembali jurnal penjualannya dan keluar dari gudang.


" Sudah datang Mpok Siska!"


" Ayo cepat ada yang penting aku tanyakan kepada mu."


" Udah ayo sambil jalan."


Sambil jalan ke luar Meta berpamitan pada Cindy " Aku istirahat ya."


" Iya mbak."


" Pertama katakan siapa yang datang tadi?."


" Siapa?."


" Ya ampun Meta...Aku harus nya bertanya pada mu kenapa kamu malah balik tanya. Kamu itu sudah jadi pembicaraan teman-teman yang ada disini, siapa cowok yang menemui mu?" tegas Siska di iringi penasarannya.


" Sudah jangan hiraukan siapa tadi?."


" Saif"


"Saif si Lexus???."


" Iya siapa lagi," nada Meta santai


" Kemari??.. Wah ajaib banget langsung muncul di depan kamu. terus ngapain?."


" Cuma say hello. Ayo pesan makanan dulu!"


Kami telah sampai di kantin duduk di kursi bagian tengah kantin.


" Nanti dulu ayo ceritakan padaku." Siska menarik lengan Meta yang hendak memesan.


"Aku lapar, setelah pesan aku ceritanya ya?" mohon Meta.


" Ya sudah pesankan aku nasi campur dan es jeruk."


" Oke" Meta pergi memesan makanan.


Siska nampak juga terkejut jika Saif akan menemui Meta secepat ini, dia dalam hatinya juga bertanya-tanya apa Saif sudah istirahat. Kenapa harus terburu-buru kan dia sudah pulang sewaktu-waktu menemui Meta kan juga tidak masalah. Meta datang dan membuyarkan lamunan Siska, ia menatap Meta dengan kedua mata di kernyitkan.


" Kenapa melihat ku seperti itu?."


"Tadi pagi saat aku menghubungimu kenapa tidak bilang kalau hari ini Saif akan kesini?."


" Aku juga ngga tau, aku juga terkejut dia tiba-tiba ada disini."

__ADS_1


" Coba kamu ceritakan kejadiannya?."


Jika Siska sudah penasaran tidak ada jalan lain untuk Meta bercerita. Sambil menikmati makanan Meta bercerita bagaimana Saif bisa muncul di depannya secara mengejutkan. Siska pun menunjukkan reaksi yang tidak percayanya jika Saif memang datang menjumpai Meta.


" Jadi dia nanti akan menjemput mu?."


" Iya sepertinya."


" Saif itu bukan cowok romantis meski begitu tindakan spontan yang ia lakukan banyak juga di sukai cewek," ucap Siska saat kami menaiki eskalator ke lantai satu dari basement dimana kantin berada.


"Cenayang mulai meramal," canda Meta


" Dia punya kualitas yang diinginkan cewek."


" Oh ya?."


" Buktinya banyak tadi yang melihat kalian bertemu salah satunya Prima, dia memintaku bertanya pada mu jika dia sepupu mu maka kenalkan Prima ingin di kenalkan pada Saif."


" Aku saja baru ketemu lagi dengan dia. "


Siska melirik Meta karena jawaban dari Meta menyiratkan tak rela jika Saif di kenalkan pada Prima.


" Tenang saja Meta ngga perlu cemburu begitu lagian Saif kan hanya mengenal mu disini."


"Cemburu apanya ! masa' orang baru lihat sekali di suruh mengenalkan.


" Iya..iya.. Aku juga penasaran bagaimana sosok cowok yang bisa memanjakan mata para cewek disini?."


" Kamu pulang sama aku saja nanti aku kenalkan sama dia."


" Ogah ah jadi obat nyamuk."


Meski Siska tipe cewek yang penasaran tapi ia tidak akan ikut campur dalam urusan temannya, mungkin hanya sekedar bertanya bukan ikut masuk ke dalam masalah.


Meta tertawa seketika mendengar Siska.


" Selamat di jemput." Siska berjalan ke arah berlawanan dengan Meta karena dia kembali ke tempat bekerjanya.


Prima terlihat ada di depan toko number 61, kemudian ia melihat Meta saat ingin masuk ke toko dan ia memanggil Meta.


" Meta sebentar."


Meta diam di depan toko dan menunggu Prima yang menghampiri nya.


" Iya ada apa?." Pura-pura Meta tidak tau maksud Prima memanggil padahal dia sudah merasa bahwa Prima kan menanyakan tentang Saif.


" Cowok yang kemari itu siapa?."


" Yang tadi itu teman."


" Teman biasa atau teman kenal?."


" Teman dekat." Meta terheran mendengar jawabannya sendiri.


" O teman dekat."


" Kenapa?."


" Ngga apa-apa hanya tanya.. Semoga kalian semakin dekat."


Kali ini Prima harus menyerah dan tetap menjomblo untuk sementara waktu.


Prima mendengar kata dekat bermakna bahwa ia harus pupus dengan harapan jika Saif bukan sepupu atau saudara Meta.


Meta masuk ke dalam tokonya dengan lega berhasil menjawab pertanyaan Prima.

__ADS_1


Adakah yang tau mengapa kejutan itu ada.


Dan mengapa ada dua kejutan senang dan sedih, bukannya kejutan harusnya menyenangkan saja.


__ADS_2