
waktu menunjukkan pkl. 05.00...saatnya Arifin, citra dan para ART kembali ke kediaman Djoko Saputra di kota... Helicopter milik keluarga Djoko Saputra sudah siap.... mereka pun segera berangkat.... Sesampainya di rumah, Arifin dan citra menuju ke kamar mereka masing-masing untuk bersiap ke kantor, sedangkan para ART lanjut menyiapkan sarapan tuk tuan muda dan sekrtaris kesayangannya itu.... sambil menyiapkan sarapan, rupanya para ART itu sedang membicarakan moment bersejarah yang mereka saksikan di villa... mereka turut berbahagia untuk tuan mudanya....
"Heiii... kalian... dari mana aja kalian semalam? (teriak seorang wanita paruh baya yang tiba-tiba mengagetkan mereka) Bi ani pun segera berbalik ke arah sumber suara itu berasal... " se... selamat pagi nyonya"(sapa Bi ani sambil membungkuk memberi hormat dan diikuti para rekannya) mereka semua yang tadinya bahagia ria, sekarang jadi ketakutan..... tubuh mereka gemetaran melihat sosok wanita paruh baya itu.... mereka gugup dan bingung, harus menjawab apa? "hei.... aku bertanya pada kalian... ke mana aja kalian, hah? (teriak nyonya rumah itu) ketika Bi ani hendak menjawab pertanyaan itu, namun tiba-tiba ada suara dari pintu dapur " apa yang kalian lakukan... apa sarapan sudah siap? kembalilah bekerja "(kata Arifin yang mengabaikan kehadiran ibunya sambil kembali berjalan ke meja makan tuk menunggu sarapan) para ART nya membuang napas legah.... wanita paruh baya itu mengikuti langkah Arifin dengan kesal....
" apa kamu sudah buta? kamu gk lihat siapa yang sedang bicara tadi? "(tanya nyonya rumah dengan kesal)... " (aku tau) " jawab Arifin dengan dingin.... "ke mana aja kamu semalam? " tanya nyonya.... "bukan urusan ibu... lagian sejak kapan ibu mulai peduli? "... Arifin menjawab dengan santai sambil memainkan ponselnya... tiba-tiba citra muncul.... " siapa dia? apa kau mulai menyimpan wanita murahan di rumah ini?" tanya nyonya besar yang menguji kesabaran Arifin..... Arifin merasa sangat buruk mendengar kekasihnya dihina,,, amarahnya memuncak tapi ia berusaha menahannya "hentikan bu... jangan berpikir semua wanita sama seperti ibu".... kata Arifin yang sedang menahan amarah.... citra hanya ternganga mendengar perkataan Arifin terhadap ibunya... Ia tidak percaya, bagaimana seorang anak bisa mengatakan hal seperti itu terhadap ibunya? " se... selamat pagi nyonya"... sapa citra yang berniat melerai pertengkaran itu... "diam kau wanita murahan... apa yang kau inginkan... harta? properti?..(Kata wanita paruh baya itu.... "cukup.....aku bilang CUKUP....akan lebih baik jika kau pergi dari rumah ini... aku tidak sebaik dan sabar seperti ayahku.... pergi dan jangan kembali" (teriak Arifin yang tak bisa lagi menerima semuanya)... "apa begitu caramu bicara pada ibumu? " (teriak wanita paruh bawa itu) "kapan??? kapan kau menyadari statusmu sebagai seorang ibu/istri....apa kau tau makna dari kata ibu? (Arifin kembali teriak sambil mengalirkan air matanya....)" Dasaaarrrr anak tidak tau diri...lihat aja nanti" kata nyonya besar sambil meninggalkan Arifin dan kekasihnya...
__ADS_1
Citra yang hanya berdiri dengan diam mulai memahami perasaan kekasihnya... tadinya ia begitu kecewa dengan perlakuan Arifin terhadap ibunya.... namun tetap aja, ia ingin Arifin tetap menghormati wanita yang telah membesarkannya....rupanya ini bukan waktu yang tepat untuk ia bicara....
sarapan sudah siap... citra berusaha menghibur kekasihnya agar kembali tenang dari amarah dan kesedihannya...citra mengambil roti lalu mengoleskan slaynya...
"sayang, mau aku suap atau makan sendiri" kata citra... arifin menatap citra dengan tatapan yang sulit diartikan... "maafkan aku beb, maafkan perkataan ibu tadi"... ucap Arifin.... " ayolah sayang.. aku gk pa pa kok... aku sama sekali gk tersinggung syg... ayo habiskan sarapannya... kita harus berangkat.... atau kita akan telat nanti.... (jawab citra sambil meyakinkan kekasihnya)...
__ADS_1
Sementara nyonya muda begitu kesal dan tidak terima dengan perlakuan anaknya... ia tidak ingin tinggal di rumah itu... ia memilih pindah ke hotel... lagian dia hanya beberapa hari di jakarta... bukan karena pekerjaan, mengganggu ketenangan anaknya sudah kebiasaannya.... ia ke jakarta hanya ingin bersenang-senang....
~~flash back~~~
Sejak kecil,,, Arifin tidak pernah mendapatkan perhatian dari ibunya... ia dibesarkan oleh asisten rumah tangga "Bibi Uli" yang saat ini masih bekerja di keluarganya di rumah bali... Bagi Arifin, Bi Uli adalah segalanya dibandingkan sang ibu... ibunya bahkan tidak pernah menjadi seorang istri yang baik.... sejak kecil ia melihat kesepian di mata ayahnya hingga saat ini... ia bahkan lebih memilih jika ayahnya menikahi bi Uli... baginya Bi uli sosok istri dan ibu yang sempurna untuk dirinya dan ayahnya.... sejak dulu kegiatan ibunya hanya menghabiskan uang, berjudi dan bersenang-senang...
__ADS_1
Bersambung..... ➡️