Aku Punya Hatinya Tapi Tidak Dengan Raganya

Aku Punya Hatinya Tapi Tidak Dengan Raganya
Eps. 41 Pemilik Rumah


__ADS_3

Pagi itu, suasana kediaman Djoko Saputra yang tampilannya bak istana sedang dipenuhi dengan canda tawa dan kegirangan. Ayah Leora beserta para kolega sedang asyik di ruang tamu, sedangkan wanita yang dikenal sebagai ibu Arifin sedang ngerumpi dengan para istri dari kolega Ayah Leora.


Sementara, di halaman depan, terlihat seorang pria paruh baya sedang mengurus bunga di taman, dan tanaman-tanaman yang ada di samping istana itu.


Seorang gadis yang muncul denga gaya modis nan seksi, setelah turun dari mobil mewah berwarna maron itu, sedang melangkahkan kaki menuju istana itu dengan gayanya yang super duper seksi. Namun, pemandangan di depan halaman rumah itu membuat langkahnya terhenti sejenak sambil menatap pria paruh baya yang sedang menyiram tanaman dari balik kaca mata gelapnya. Air matanya tak tertahankan. Namun ia harus tetap terlihat kuat dalam pertarungan ini.


"Om, aku datang. Tadinya aku sempat ragu, apa aku bisa melakukan rencana ini atau gak? Tapi setelah melihat keadaanmu, aku yakin, aku pasti akan mengembalikan segalanya. Bertahanlah untuk beberapa waktu om" Ketus Citra dalam hati sambil melanjutkan langkah kakinya.


"Siapa sih? gak sopan! Hei,,, siapa kau. Masuk rumah orang sembarangan tanpa permisi" teriak ayah Leora. Citra tidak menghiraukan perkataan pak tua itu. Ia terus berjalan menuju ruang keluarga. Di sana juga terlihat. para emak-emak sedang asyik. Citra sama sekali tidak menghiraukan orang-orang itu. Ia langsung berjalan menuju sebuah kamar di lantai dua, kamar pertamanya waktu di jakarta.


"Penjaga.....!" Teriak bu Renita


"Ia nyonya". sahut seorang penjaga.


"Apa tugasmu di sini,hah?Apa aku membayarmu untuk menjadi patung? Kenapa kau membiarkan orang asing masuk ke dalam rumah ini?" Teriak buk renita dengan kesalnya.


"Siapa orang asing yang anda maksud, wanita tua?" sahut seseorang yang sedang menuruni anak tangga rumah itu.


Ibu renita dan para kolega menoleh ke arah sumber suara.


Mereka memperhatikan Citra dengan teliti, dari ujung kaki hingga ujung rambut.

__ADS_1


Citra semakin mendekat pada mereka sambil melepaskan kaca mata gelapnya.


"Kau?" teriak bu renita yang sontak kaget dengan kehadiran Citra.


"Ya, aku! pemilik rumah ini. Aku telah kembali, ibu mertua, upss...sorry. Calon ibu mertua".


"bhahahaha...Apa loe bercanda ya? ini masih pagi. kalau mau bermimpi jangan di pagi hari. kau mengerti?" teriak bu renita sambil menunjuk wajah Citra.


Citra meraih Jari telunjuk buk renita. "Pertama, turunkan jarimu, saat kau sedang bicara padaku". Dan ya. Rupanya andalah yang sedang melayanga dalam mimpi indahmu"


"Hentikan omong kosongmu, atau aku..." Bu Renita menggantung omongannya.


"Hei,,,penjaga! Silahkan bawa pergi orang-orang yang tidak berkepentingan di rumah ini!". kata Citra sambil memberi kode pada penjaga.


"Anda juga boleh pergi jika anda mau!" tegas Citra yang kini bersandar di sofa bak nyonya rumah itu.


Semua tamu yang ada saat itu sling menatap satu sama lain, lalu pergi meninggalkan tempat itu satu persatu tanpa pamit.


"Hei,,,gadis kampung. Berapa harga nyawamu?" Teriak ayah Leora.


Citra sama sekali tidak menggubris teriakan pria tua itu.

__ADS_1


"Penjaga! Aku ingin semua pelayan rumah ini berkumpul di sini sekarang juga! Teriak Citra pada penjaga itu.


"Baik, non. Segera! Jawab penjaga sambil menunduk pada Citra.


Melihat sikap penjaga yang tunduk pada perintah Citra membuat pria tua itu naik pitam.


"Berhenti! Pada siapa kau bekerja? Siapa yang membayarmu?".


Mendengar teriakan pria tua itu, penjaga pun sontak menghentikan langkahnya, namun Citra berteriak padanya.


"Jika kau ragu, kau boleh pergi dan jangan pernah kembali".


Dalam hitungan menit, semua pelayan pun berkumpul di ruangan itu. Citra memandang mereka satu persatu.


"Hei,,,apa yang kalian lakukan di sana? apa kalian memilih untuk pergi dari sini?" teriak Citra pada lelaki tua dan wanita tua yang sedang bersantai di depan televisi. Ya, siapa lagi kalau bukan bu renita dan Ayah Leora.


Karena sepasang kekasih tua itu tidak menghiraukan teriakannya, akhirnya ia mengarahkan semua pelayan untuk berkumpul di dekat televisi.


Sementara pak Djoko yang hadir di situ sebagai salah satu pelayan, tersenyum legah penuh bahagia, meski dengan wajah tertunduk.


__ADS_1


Bersambung....🔜


__ADS_2