Aku Punya Hatinya Tapi Tidak Dengan Raganya

Aku Punya Hatinya Tapi Tidak Dengan Raganya
Eps. 38 Pertemuan yang menyakitkan


__ADS_3

Setahun telah berlalu sejak perpisahan itu. Selama setahun ini tidak pernah ada komunikasi antara Arifin dan Citra.


Citra bekerja dengan sangat profesional, sehingga Pak Djoko mengangkatnya menjadi manejer hotel cabang miliknya di Bali.


Pagi itu Citra sedang berada di ruanganya. Tiba-tiba seorang mengetuk pintu ruangannya. Citra yang mendengar bunyi ketukan pintu langsung menyahut dari dalam ruangannya "silahkah masuk".



"Pagi bu, besok ibu ada meeting di pusat" kata Tobi yang adalah sekretaris Citra.



"Owh gitu. Apa bisa diwakili?" tanya Citra dengan suara malas.



Tobi yang tak mengerti maksud pertanyaan bosnya terlihat agak bingung harus menjawab apa.



Citra mendongakkan kepalanya, melihat Tobi sedang menatapnya bingung."Kenapa menatapku seperti itu? Aku bertanya, apa harus aku ya? Apa tidak bisa diwakili gitu?"



"Eh maaf bu, tapi berdasarkan undangan yang dikirim lewat email, meeting ini sangat penting sehingga semua manejer dari hotel cabang diharuskan untuk hadir". jelas Tobi.



"Hmmm. Siapkan segala sesuatu yang diperlukan. Kita akan berangkat dengan penerbangan sore ini, agar kita tidak kelelahan saat mengikuti meeting besok". Seru Citra. Tobi pun segera melalsanakan perintah atasannya.



Setelah Tobi pergi, Citra mengambil ponselnya dan memandang foto pria tampan yang ada di walpaper layar depannya. "Aku gak tau gimana cara bersikap saat bertemu kembali denganmu besok. Aku tau, semua yang kamu lakukan atas permintaanku dan demi cinta suci kita, tapi entah kenapa hati ini gak bisa nerima" gumam citra dalam lamunannya.



"Tok...tok..tok" bunyi ketukan pintu yang membuyarkan lamunan Citra. Citra segera menyeka air mata yang sedari tadi mengalir di pipinya "silahkan masuk".


__ADS_1


"Maaf bu, ada yang harus ibu tanda tangani". kata Tobi.



"Apa sudah diperiksa dengan teliti berkasnya?"



"Sudah bu".



"Baiklah, kamu boleh pulang saat jam makan siang untuk bersiap".kata Citra.



"Baik bu" Jawab Tobi sambil berlalu pergi.



Saat ini waktu di jakarta menujukkan pukul 18.00 WIB.


Di restoran hotel itu, Citra sedang menikmati secangkir teh dan tampak sebuah majalah sedang dipegangnya. Namun, dari ekspresinya, ia tidak sedang membaca. pikirannya terlihat kosong.


Tiba-tiba seseorang menepuk bahunya.


"Kak, kenapa dari tadi hanya pegang aja tu majalah? Kata Tobi yang membuat Citra begitu terkejut.


"Bobi,,, kamu? bikin kaget aja". Kata Citra sambil menyapu dadanya...


"Hehehe maaf kak, habisnya dari tadi aku perhatiin kakak kok ngelamun trus. Kakak mikirin kak Arifin ya. Besok pasti ketemu kok kak". ucap Tobi.


"hmmm sok tau, ni anak. Tapi ia sih, aku bingung harus bersikap seperti apa saat ketemu dia nanti". Ketus Citra.


"Kakak cukup bersikap profesional aja kak". tutur Tobi.


"Bijak juga ternyata. Kamu makin dewasa aja dek". jawab Citra sambil mencubit pipi Tobi.


" Hehehehehe,,,Ya, sebenarnya aku sih belum sedewasa itu kak. Aku hanya mengikuti kata-kata kakak, bahwa di saat jam kerja, kita harus selalu bersikap profesional". ucap Tobi.

__ADS_1


"hummm... iya juga sih. Tapi kakak bangga kok, selama hampir setahun kamu bekerja, kakak gak pernah melihat kesalahan pada kinerjamu dek".


Tutur Citra memuji kinerja Tobi.


"Udalah kak, kan belum setahun kak. Semoga selama aku bekerja sama kakak, aku tidak mengecewakan kakak". Jawab Tobi. Tobi adalah Adik bungsu Lira (istri Alekso) sepupu Citra. Namun, di saat jam kerja Tobi dan Citra selalu terlihat seperti atasan dan bawahan.


"Amin...amin" kata Citra serius. Kk mau ke kamar istirahat. Kamu juga jangan lupa istirahat ya. Kata Citra sambil berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan Tobi.


Saat Citra mengambil beberapa langkah, tiba-tiba seseorang memanggilnya. "Citra..."


Citra menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah sumber suara. Di sana tampak dua orang pria tampan yang sedang berjalan menghampirinya. Citra begitu gugup, melihat pemandangan itu.


"Alekso? Arifin? gumam Citra dalam hati.


Kedua pria itu pun menghampiri Citra. "Cit, kamu apa kabar? Lama gak ada kabar". Tanya Alekso.


"Aku baik, Leks. Gimana kabar Lira dan dede bayinya?".


"Puji Tuhan, kami semua baik dan sehat". jawab Alekso.


Namun Citra tidak mendengarkan Alekso.Matanya mengikuti langkah kaki pria yang tadinya bersama Alekso. Saat Alekso menghampiri Citra, pria tampan itu berlalu pergi begitu saja, bak orang asing yang tak pernah kenal.


"Cit, are you ok?". Tanya Alekso yang membuyarkan lamunan Citra.


"eh...Ia leks. Aku baik-baik saja. Ya udah, kalau gitu aku mau istirahat dulu. Sampaikan salamku pada Lira dan dede bayi. Nanti habis meeting kami mampir ke sana". tutur Citra yang berusaha menahan sesak di dadanya.


"Baiklah Cit, selamat malam. see you!


"Bye"...


Setelah sampai di kamar hotelnya, Citra langsung terduduk lemas di lantai sambil menangis. Ia tak menyangka, pria yang sangat ia cintai bakal bersikap seperti itu. Ia bahkan tidak melirik Citra sedikit pun. Seolah keduanya orang asing yang sama sekali belum pernah bertemu.


"Fin, aku gak nyangka, jika kelak kita akan menjadi seperti orang asing. Salahku apa? sampai kamu gak mau lihat aku sama sekali. Aku tau, akulah yang memintamu memenuhi tanggung jawab sebagai suami, tapi aku tak pernah memintamu untuk mengasingkanku Fin, hikss..hiksss...hiksss". Kata Citra dalam tangisnya yang makin menjadi.



Tiba-tiba ponselnya bergetar. Citra meraih ponselnya dan melihat layar ponsel. Ia kembali meletakkan ponselnya lalu berdiri dan berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya dengan air...


__ADS_1


Bersambung...🔜


__ADS_2