
Setelah mengucapkan selamat, Arifin kembali menggenggam tangan Citra lalu mengantar Citra kembali ke tempat duduknya.
Di tengah-tengah acara, Arifin pergi meninggalkan acara pernikahan sahabatnya.
Citra berusaha mencari keberadaan Arifin, namun Arifin tidak terlihat di acara itu.
Saat para tamu sedang sibuk menikmati jamuan yang disediakan, tiba-tiba Alekso berjalan ke pintu keluar sambil berbicara di telpon. Citra yang memperhatikan Alekso dari tadi, semakin penasaran dengan sikap Alekso. Ia pun menghampiri Alekso.
"Leks,,,ada apa?kenapa elo terlihat cemas?" tanya Citra. "eh, citra. kamu di sini? tolong temani Lira sebentar, aku harus menolong Arifin sekarang" kata Alekso. "apa? di..dia kenapa?Leks" tanya citra. "Ada yang menculik Arifin. Aku harus ke sana sekarang" ucap Alekso dengan ekspresi panik. "ap...apa? dia di mana sekarang. Kamu tetap di sini. Aku yang akan pergi?" jawab Citra.
__ADS_1
" Tidak citra, Ini sangat berbahaya. Biar aku aja" tutur Alekso. "udah kasih tau alamatnya. Kamu di sini aja. Entar para tamu pikir apa lagi. kan kasihan Lira" kata Citra. "Tapi..." ucap Alekso..."udah, aku berangkat. kirim alamatnya ya?" bantah Citra sambil berlari menuju parkiran. Saat ia sedang berlari menuju parkiran, ia bertemu dengan mobil keluarga Arifin. "Pak, anda di sini? di mana bos muda?" tanya Citra. "it...itu saya ke sini mau kasih tau bos besar kalau bos muda dalam bahaya". ucap supir dengan nada terbata-bata. "apa pak tau alamatnya?" tanya Citra. "Ia nona, tadi ada penjahat yang kirim alamatnya ke saya". jawab supir. "Ayo...putar mobilnya. kita ke sana. jangan sampai om Djoko tau masalah ini" ucap Citra.
Supir hanya mengangguk setuju.
Setelah sampai di lokasi yang dituju, Citra segera mencari keberadaan Arifin. "sayang....sayang...kamu di mana? aku datang sayang" teriak citra. Citra melihat dengan teliti di sekitar danau. "Sepertinya itu salah satu petunjuk". Gumam Citra. Ia pun segera berlari membaca kertas yang ditempel di salah satu pohon yang ada di situ. Di kertas itu hanya ada garis anak panah dengan arah lurus dengan tulisan 5 meter ke dalam. Citra pun mengikuti petunjuk tersebut. Setelah ia menempuh jarak 5 meter, ia mendapatkan sepotong kertas dengan tulisan "Tunggu di sini". Citra pun melakukan sesuai isi pesan itu. "Sayang...ini aku. kamu di mana?" teriak Citra panik. Tiba-tiba seseorang menutup kedua mata citra dari belakang. "siapa? siapa kau? lepaskan aku. di mana pacarku?" teriak Citra sambil berusaha melepaskan tangan itu, namun ia tidak berhasil. seketika ia merasakan sesuatu yang aneh dari sentuhan itu. "sayang, kamu?"...tanya citra.." Ia..aku penculik hatimu dewiku". ucap Arifin sambil melepaskan tangannya. "Sayang, kamu baik-baik saja? kata Citra sambil memeluk Arifin. "Iya beb, aku tidak apa-apa. Buktinya aku ada di pelukanmu dewiku" jawab Arifin sambil membalas pelukan Citra. Wajah citra memerah malu karena menyadari kalau ia sedanc memeluk Arifin. Ia pun segera melepaskan pelukannya. "Ayo sayang, kita pergi". Kata Citra sambil menarik tangan Arifin. Namun Arifin kembali menariknya hingga Citra jatuh dipelukkan Arifin. "Jangan pergi dewiku. Aku ingin sampai matipun dalam pelukan beb. Aku mencintaimu" kata Arifin sambil menatap mesra Citra. Citra berusaha berdiri kembali. "Ayo kita bicara setelah sampai di tempat yang aman" kata citra..." Ini adalah tempat yang paling aman. Ayo ikut aku"...kata Arifin sambil menggandeng tangan Citra. Tanpa membantah Citra pun mengikuti Arifin.
"Beb, besok pagi aku harus kembali ke jakarta. Apa kamu tidak ikut?" tanya Arifin. "Sayang, sekarang aku sudah jadi sekretaris papa kamu". jawab Citra. "Apa? ah...ini tidak adil. Aku akan bicara sama ayah nanti". Ucap Arifin..."kamu tidak perlu lakukan itu sayang, karena nanti Alekso yang akan temani kamu di sana. kebetulan Alekso Lira mau ambil S1 nya di jakarta"..jelas Citra..."hummm.gitu ya" ketus Arifin.
__ADS_1
"Dewiku, maafkan aku. Aku sama sekali tidak bermaksud menyakitimu". Ucap Arifin sambil mencium punggung tangan Citra.
"Sayang, aku bangga padamu. keputusan yang kamu ambil buat cintaku padamu makin besar sayang" jawab Citra "tapi aku sama sekali tidak bahagia dewiku. Aku seolah sudah tiada setelah mengambil keputusan itu". ucap Arifin. "sayang, jangan pernah katakan itu lagi. Jika tidak aku akan kecewa" jawab Citra..." tapi dewiku, aku hanya ingin memilikimu seorang"...tutur Arifin. "Sayang, hatiku ini milikmu seutuhnya. Bahkan seluruh hidupku adalah milikmu. Dan aku memiliki hatimu. Lalu kenapa jika ia memiliki tubuhmu? saat hati dan jiwamu adalah milikku, apa arti raga itu?" jawab citra membuat Arifin kehabisan kata untuk berdebat. "sayang,,,apa aku tidak egois?meninggalkan kekosongan dalam hidupmu, dan hidup seatap dengan wanita lain?" tanya Arifin. "kekosongan? oh...ayolah sayang. Yang hidup itu adalah Jiwa yang menggerakkan hati. Jika dia hanya punya raga tanpa hati dan jiwa, apa itu bukan kekosongan? justrus di sini aku yang paling beruntung. Yang hampa hanyalah Leora, sayang"..jelas Citra..."Terima kasih dewiku. pemikiran dan hatimu sangat mulia" Jawab Arifin. "hmmmm, berhentilah memujiku, aku gak punya uang recehan untuk membayar pujianmu"...tutur Citra dengan nada candanya...
"Tapi sayang, ada satu masalah". ucap Arifin. "masalah apa sayang?" tanya citra..."hmmmm, bagaimana cara mengatakannya ya?"...gumam Arifin. "Ayo katakan sayang, kenapa kamu terlihat kaku seperti itu?" tanya citra. "humm baiklah. Dewiku, aku ingin kamu orang pertama yang menyentuh bibirku. Bolehkah aku mencium bibirmu?" tanya Arifin. Wajah citra memerah seketika. Ia bingung harus jawab apa? Ia hanya tertunduk malu, sambil mengangguk setuju. Arifin langsung meraih kedua tangan citra. "Terima kasih dewiku. Tatap aku dewiku" kata Arifin. Citra pun segera mengangkat mukanya dan menatap Arifin. Arifin dengan perlahan mendekatkan bibirnya ke bibir Citra, lalu mendaratkan ciuman penuh cinta di bibir Citra. Citra pu memberanikan diri untuk membalas ciuman Arifin.
Setelah beberapa saat, keduanya memutuskan untuk kembali.
Arifin langsung meengantar Citra pulang ke rumahnya.
__ADS_1
Bersambung...🔜