
Setelah mengantarkan Citra pulang ke rumahnya, Arifin pun segera kembali ke kediaman ayahnya. Di sana ayahnya sudah menunggunya.
"Fin...Kamu dari mana aja? ayah khwatir. Kenapa kamu menghilang di tengah acara nak?" tanya pak Djoko. "Maafkan aku ayah. Maaf tadi aku pergi tanpa memberitahu ayah". jawab Arifin. "Lalu Citra? kata Alekso Citra pergi mencari kamu"..tanya pak Djoko lagi. "Oh itu yah.. Citra baik-baik aja yah. Dia bersamaku".tutur Arifin. "huh...syukurlah..ayah tu khwatir loh...mana hanphone kalian gak bisa dihubungi pula". kata pak Djoko. "Iya maafkan Arifin yah. Aku mau mandi dulu yah". jawab Arifin sammbil berlalu meninggalkan ayahnya dan berjalan menuju kamarnya.
Setelah mandi, Arifin berdiri di teras depan kamarnya sambil melihat keramaian lalu lintas senja itu. Pikirannya begitu kosong. Tiba-tiba ia mengingat kalau besok ia akan kembali ke jakarta. Ia tidak tega dan rasanya sangat berat jika nanti ia harus lalui hari-harinya tanpa Citra.
Ia memutuskan untuk menelpon kekasih hatinya itu. Arifin segera mengeluarkan ponsel dari saku celana santainya dan mencari nomor kontak dengan nama \*Sahabat Hati\*.
"Hallo sayang" sapa Citra di seberang sana.
"Hi dewiku. Lagi apa ni". tanya Arifin.
"Lagi duduk aja sayang, sambil mikirin kamu, hehehe" jawab citra dengan sedikit tawa kecilnya.
"hummm, gitulah resiko orang tampan. Selalu menjadi tokoh utama di pikiran setiap wanita cantik"...tutur Arifin dengan canda nakalnya.
"Apa? ah..bodoh amat. Yang penting hatimu milikku seorang"
jawab Citr dengan nada suara sedikit manja.
"ia ya dewiku. kamu memang the best love. I Love You Forever and Ever". Kata Arifin. "Eh...sayang. boleh gak, aku bicara sama tante sebentar"...Lanjut Arifin. "Tante? siapa?". Tanya citra
"Maksudnya mama mantu hatiku". jawab Arifin.
"Owh...entar ya sayang, aku antarkan ponselnya".
__ADS_1
"Hallo, nak Arifin"..Sapa mama Citra.
"iya tante, selamat sore. Maaf ganggu. Tante, aku ingin minta ijin. Bolehkah saya menjemput Citra makan malam di rumah? kalau gak keberatan, tante sekeluarga bisa hadir juga". ucap Arifin..." Owh, itu. Boleh nak Arifin. tapi mohon maaf, kami sekeluarga rupanya tidak bisa ikut, soalnya masih ada orang tua Lira di rumah". jawab mama Citra. "oh gitu tante. iya gak apalah. Terima kasih atas ijin tante untuk Citra. Bentar lagi aku akan menjemput Citra tante" Tutur Arifin penuh semangat.
"Baiklah nak Arifin, hati-hati ya di jalan. Aku over hp nya sama Citra ya". Tutur mama Citra sambil menyerahkan ponsel ke pemiliknya.
********
"Sayang bicara apa sama mama?" tanya Citra.
"Ayo bersiaplah dewiku. 15 menit lagi aku akan menjemputmu. Bye. dewiku...mmmuacch..." Kata Arifin yang langsung memutuskan panggilan.
****
Saatnya makan malam.
"Cit, kamu lebih nyaman di jakarta apa bali?" tanya pak Djoko dengan sedikit senyuman, dengan maksud menggoda sepasang kekasih itu. "ya jakarta lah yah" dengan spontan Arifin menjawab. "kalian udah tukaran nama juga?hehehe". tanya pak Djoko menggoda putranya.
"hehehe bukan tukar yah, tapi emang nama, akal, hati dan jiwa kami telah menyatu" jawab Arifin dengan tawa kecilnya. Citra hhanya tertunduk malu dengan mukanya yanh memerah. "Hummm...menurut kamu gimana Cit?". Tanya pak Djoko.
"aku? ya, aku ma lebih suka di sini aja om". jawab Citra dengan berat hati.
"Apa ini beb? ini tidak adil. Masa kamu lebih pilih jauh dari aku sih?" tutur Arifin dengan sedikit rengekannya. "udah...udah...orang Citranya rasa nyaman di bali kok. Lagian emang itu pilihan yang tepat". kata pak Djoko. "nah...betul tu kata om. Lagian tadi sayang sendiri yang bilang kalau kita telah menyatu. jadi sejauh apa pun kita, sesungguhnya kita tak kan pernah terpisahkan". Tutur Citra. "Ya udah, aku ngaku kalah deh". Kata Arifin pasrah. Pak Djoko tersenyum gembira melihat kedekatan dan kehangatan Cinta antara sepasang kekasih itu.
__ADS_1
Setelah makan malam, Citra dan Arifin menuju ke taman depan rumah.
"Sayang, besok berangkat jam berapa?" tanya citra sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang Arifin.
"aku sengaja pilih penerbangan pagi beb. soalnya siang aku harus ikut meeting". jawab Arifin sambil mengelus lembut rambut Citra..."gitu ya. maafkan aku sayang, karena tidak bisa mengantarmu". kata citra sambil menahan air matanya. "tidak apa-apa beb. kamu itu dewiku, bukan asistenku. Nanti setelah Alekso puas dengan bulan madunya, kalau dia udah aktif di kantor, aku pasti akan sering ke sini". Tutur Arifin. "Sayang, ingat. jangan pernah sakiti hati wanita lain demi aku". kata citra yang berusaha menahan sesak di dadanya. "maksud kamu apa dewiku?" tanya Arifin. "Aku hanya ingin sayang menerima Leora sebagai istri. Berikan dia hak sebagai seorang istri, sayang. Tutur Citra sambil mengalirkan air matanya. "itu bukan hal yang mudah beb. Aku sama sekali tidak punya rasa apa pun terhadapnya. jika itu tentang uang untuk kebutuhannya sih ok. tapi jika tentang hubungan, bagiku ini hanyalah konspirasi beb". Jelas Arifin sambil meneteskan Air matanya. "Sayang, pernikahan itu sakral. bagaimanapun, pernikahan tetaplah pernikahan. Aku mohon...lakukan itu demi cinta suci kita. Cinta kita harus menjadi sumber kebahagiaan bagi orang di sekitar kita, bukan sebaliknya sayang. Setidaknya hargai dia sebagai istri. turuti permintaannya sebisa kamu sayang"...ucap Citra. Setelah terdiam beberapa saat, "Aku membutuhkan dukunganmu dewiku. Jangan meninggalkanku. Aku akan bicara dengan Leora". tutur Arifin.
"Seumur hidupku, aku selalu bersamamu sayang. tetaplah kuat. Cinta haruslah menjadi pemenangnya sayang". tutur citra yang berusaha menguatkan Arifin, padahal ia sendiri sebenarnya sangat rapih saat ini.
"Sayang, ini udah hampir jam 9 malam. Aku pulang ya". kata Citra. "Baiklah sayang, aku akanengantarmu".jawab Arifin
"Om, saya pamit. Besok saya harus masuk kerja pagi. Terima kasih banyak untuk makan malamnya om". Ucap Citra.
"Baiklah cit, kamu hati-hati ya." jawab pak Djoko. Citra pun mencium punggung tangan pak Djoko dan segera keluar bersama Arifin.
Dalam perjalanan Citra hanya terdiam. Bukan marah, namun ia sedang berusaha menahan tangis dan sesak di dadanya. "Beb, kamu kok diam? kamu marah ya?" tanya Arifin. Citra hanya mengangguk karena jika ia memaksa buka suara maka tangisnya akan pecah.
Arifin menghentikan mobil di pinggir jalan. Keduanya saling menatap. Arifin yang tidak bisa menahan rasanya langsung memeluk Citra dengan erat. Citra pun membalas pelukan itu." maafkan aku dewiku, jika di hari-hari yang akan datang, aku mungkin akan jatuh begitu dalam. Aku hanyalah manusia rapuh. Tapi untuk hatiku, di tujuh kelahiran berikut pun hanya akan menjadi milikmu" Tutur Arifin yang berusaha menahan tangisnya. Mendengar perkataan Arifin, tangis Citra pun pecah. Keduanya menagis terisak dalam pelukan hangat itu.
Setelah beberapa saat kemudian, keduanya berusaha kuat dan Arifin pun kembali mengemudikan mobilnya.
Saat tiba di rumah citra, Arifin mengantar citra sampai di ruang tamu, sekaligus meminta terima kasih pada mamanya citra.
__ADS_1
Bersambung...🔜