
Setelah makan malam, Citra langsung pamit untuk beristirahat. Bukan karena lelah, tapi karena kesal, kecewa dan bingung dengan semua yang terjadi di depan matanya. Ia berusaha bertanya mencari kebenaran tapi baik Alekso maupun Lira seolah sedang menyembunyikan sesuatu. Keduanya selalu mencari alasan dengan mengalihkan pembicaraan ketika Citra ingin bertanya.
"Tok..tok...tok" Citra yanng mendengar ketukan pintu langsung berseru dari dalam kamar "masuk".
Lira dan juga Alekso masuk ke dalam kamar itu dan langsung mengunci Pintu kamar itu. Citra terlihat malas tau dengan kedatangan suami istri itu. Lira langsung duduk di ujung ranjang dekat Citra, begitu pun dengan Alekso yang duduk di ujung ranjang dekat kaki Citra. Citra hanya terdiam sambil mengotak atik ponselnya, melampiaskan semua rasa.
"Cit...maafkan kami. Kami gak berniat nyembunyiin apa pun dari loe" kata Lira sambil mengusap lembut lengan sepupunya.
"Lalu kenapa kalian selalu menghidar saat aku ingin bertanya?" ujar Citra dengan nada sedikit kesal.
"Maaf Cit, mungkin sikapku tadi udah nyakitin hati loe. Tapi itu demi kebaikan kita semua". tutur Alekso.
"Maksudnya gimana? Aku benar-benar gak ngerti apa pun. Bisakah kali ceritakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?"
"Tentu Cit. Maafkan kami atas sikap kami tadi. Tapi kami rasa itu bukan saat dan tempat yang tepat untuk menceritakan ini semua. Kami ke sini untuk menceritakan segalanya". jelas Lira.
"Jadi, gini Ra. Saat ini Om Djoko sedang bekerja sebagai tukang kebun di rumahnya sendiri".
Citra yang terkejut mendengar perkataan Alekso, langsung melempar ponselnya ke ranjang.
"Apa? Apa aku gak salah dengar? Bukannya Om Djoko sedang di luar negeri?".
"Leks benar Cit. Sebenarnya Om Djoko tu ke sini untuk selamatkan Arifin. Beliau sengaja tidak memberitahu loe, biar loe gak khwatir". kata Citra.
"Selamatkan Arifin? emang apa yang terjadi padanya? bisa jelaskan dari awal?biar jelas gitu alur ceritanya. Aku benar-benar gak ngerti" ujar citra yang makin penasaran.
__ADS_1
Alekso pun mulai menceritakan dari awal mula semua kejadian ini. "Jadi, gini Cit...Saat Arifin kembali dari pernikahan kami, ia dijebak oleh tante Renita dan Leora. Mereka memberikan ramuan pada Arifin lewat makanan dan minuman. Setiap kali Arifin habis mengonsumsinya, Arifin selalu gak bisa kendalikan hawa nafsunya, sehingga Leora dengan mudah mengambil kesempatan itu buat dekati Arifin. Setelah beberapa bulan, Leora tak kunjung hamil. Saat tante renita membawa Leora ke dokter untuk periksa kandungannya, ternyata Leora dinyatakan gak bisa punya anak.
Akhirnya tante renita mencuci otak Leora bahwa jika Leora gak bisa ngasih anak ke Arifin, maka Leora akan kehilangan Arifin dan gak akan dapat apa pun dari Arifin termasuk warisan.
Ternyata Arifin berhasil mengetahui kebusukan mereka. Saat itu Arifin begitu murka. Ia bahkan jijik dengan dirinya sendiri karena merasa telah mengkhianatimu. Ia mengusir Leora dari rumah hanya dengan pakaian di badan. Entah hoaks apa yang Leora katakan pada ayahnya sehinggah mereka menculik Arifin dan menawannya". Citra menyimak setiap ucapan Alekso. Ia begitu terpukul, air matanya tak berhenti mengalir.
"Lalu om Djoko? Perusahaan? Rey ? Apa ada hubungannya dengan semua ini? hikzzz...hikzzz..." kata Citra dengan isak tangisnya.
"Nah, om Djoko berangkat ke sini saat saya menelpon dan memberitahukan bahwa Arifin sedang ditawan.
Saat om Djoko sampai, mereka minta semua properti sebagai jaminannya. Tadinya om Djoko ingin gelakuin apa pun, yang penting Arifin bebas dari segalanya. Tetapi ternyata sebelum diculik, Arifin telah mengalihkan properti Hotel XXX atas nama saya. Dan properti kediaman Djoko Saputra itu atas namamu Cit". Jelas Alekso.
"Apa? kenapa dia lakukan itu?" tanya Citra yang terkejut mendengar penjelasan Alekso.
"Lalu Rey? siapa Rey?" tanya Citra.
"Rey? Dia adalah kekasihmu Arifin, Cit. Dia kehilangan ingatannya saat ditawan. Saat itu aku menemukan dia dalam keadaan tak berdaya. Alekso membawanya ke sini, dan ia dirawat di sini. Saat ini ia tidak mengingat apa dan siapapun, bahkan namanya sendiri. Rey adalah nama yang diberikan Alekso saat ia sadar dari koma"...jelas Lira.
"hikzzz...hikkzzz....maafin aku Fin. Aku tidak bersamamu di masa sulitmu. Aku bahkan gak pernah tau penderitaanmu selama ini. Hikzzz..hikzzzz". Tangis Citra pecah, membuat suami istri itu pun ikut mewek.
"Trus di mana om Djoko". Tanya Citra.
" Beliau di kediamannya, namun rumah itu dikuasai oleh tante renita dan ayahnya Leora. Saat ini hanya kau yang bisa selamatkan Rumah itu dan juga om Djoko". lanjut Lira.
__ADS_1
"Tapi gimana caranya? Lalu Arifin? apa ingatannya bisa kembali?". tanya Citra.
"Menurut dokter, itu sangat sulit untukk dipastikan cit. Tapi melihat Arifin yang begitu bahagia dengan identitasnya sekarang, aku juga turut bahagia Cit". tutur Alekso
"Dan kalian jadikan dia sebagai supir?" tanya Citra..
"Emang dia keliatan seperti supir apa. Tadinya aku sengaja ajak dia,. siapa tau aja, saat melihatmu, dia bisa berekasi? jelas Lira.
"Maafkan aku Leks, Ra, aku sama sekali gak kebayang hidup Arifin bakal hancur kayak gini". ketus Citra.
"Gak pa-pa Cit. Sekarang kami sangat membutuhkanmu untuk selamatkan om Djoko juga kembalikan ingatan Arifin". tutur Alekso.
"Hmmm sekarang aku mengerti.
Fin, aku di sini. Aku berjanji gak akan kembali sebelum ingatanmu kembali dan Om Djoko diselamatkan" ujar Citra sambil mengalirkan air matanya.
"Makasih Cit. Kami akan selalu mendukungmu". kata Lira.
"Makasih juga tuk kalian berdua, udah mau jagain Arifin. Kata Citra sambil melihat jam tangannya. " Ini hampir pkl.01.00. Besok kita akan buat rencana".
lanjur Citra..
"Baiklah Cit, selamat malam"...Tutur Alekso dan Lira sambil pergi dari kamar Citra.
Bersambung....🔜
__ADS_1