Aku Punya Hatinya Tapi Tidak Dengan Raganya

Aku Punya Hatinya Tapi Tidak Dengan Raganya
Eps. 45 Rencana perayaan Ulang Tahun


__ADS_3

Sesuai perintah Citra, 10 menit kemudian pak Djoko menyusul Citra di ruang kerjanya.


"Tok,,,tok,,,,tok!", Permisi non. Tutur pak Djoko sambil mengetuk pintu.


"Silahkan masuk pak", sahut Citra.


Pak Djoko pun segera masuk dan menemui Citra.


"Terima kasih nak, hari ini kamu telah membawa pulang putra om." Kata pak Djoko dengan mata berkaca-kaca.


"Om jangan buat aku merasa seperti orang asing dengan berterima kasih padaku. om sudah menganggapku seperti putri om. Jadi ini sudah seharusnya jadi tanggung jawabku untuk mengembalikan segalanya untuk om". jawab Citra


Mendengar ucapan Citra, pak Djoko pun segera memeluk Citra bak putrinya sendiri "Kamu memang putri dan menantu idaman. Om berharap semua akan kembali"


"Eh... tapi ngomong-ngomong, besok ulang tahun kamu nak. lanjut pak Djoko.


"Iya om. Karena itu, hari ini saya kembali". jawab Citra


"Untuk saat ini, om tidak berdaya nak. Maafkan om karena om tidak bisa lakukan apa pun di hari ulang tahunmu". Tutur pak Djoko dengan wajah tertunduk.


"Om, jangan pernah menunduk di hadapanku seperti itu. Aku akan merasa jadi putri terburuk di dunia saat melihat om tertunduk sedih seperti itu".


Maafkan aku om, tapi hari ini aku terpaksa memberikan om tugas. Untuk ulang tahun kali ini, om yang akan menyiapkan segalanya. Aku ingin ulang tahunku di rayakan sama seperti beberapa tahun lalu, saat Arifin mengungkapkan isi hatinya padaku" Lanjut Citra.


"Ide cemerlang. Tentu om akan melakukan apa pun untuk itu. om akan selalu mendukungmu nak. Om percaya sepenuhnya padamu" Tutur pak Djoko.


"Terima kasih, om. Percayalah, semua akan baik-baik saja om.


kata Citra.


"Baikklah, nak. kalau begitu aku permisi". kata pak Djoko sambil berlalu pergi.


*****


Saat pak Djoko berjalan keluar, Pak Djoko bertemu dengan putranya di depan ruangan Citra.


"Ayah, kenapa ayah lama sekali. Ayah disuruh kerja apa sih? Aku akan bicara dengan bu bos agar semua pekerjaan ayah biar aku yang kerjakan" Tanya Arifin.


"Ayo ikut ayah ke kamar ayah".


Tanpa berdebat Arifin pun mengikuti langkah ayahnya menuju kamar ayahnya.


Di kamar itu, Arifin terlihat sangat bingung.


"Ayah, sebenarnya apa yang terjadi selama beberapa tahun terakhir ini". Tanya Arifin.


"Tidak ada hal baik yang terjadi Fin. Sejak ayah kehilangan kamu, ayah tidak lagi fokus dalam urusan pekerjaan. Semua yang ayah miliki menghilang begitu saja" jelas pak Djoko sambil meneteskan air mata.


"Ayah, kenapa ayah menangis. Sekarang putra ayah sudah kembali. Maafkan aku ayah"


"oh ya, apa selama ini ibu bos selalu kasih ayah pekerjaan berat?" tanya arifin.


Mendengar ucapan anaknya, pak Djoko menggeleng sambil membuat senyum lebar di bibirnya.


" Fin,,,fin... emang udah berapa lama kamu bekerja dengan bu bosmu?" tanya pak Djoko.


"Baru satu tahunan ayah" jawab Arifin.


"Selama setahun, menurutmu bu bos orangnya seperti apa?"


tanya pak Djoko


"Ya, dia baik ayah. Tapi emosinya itu susah ditebak. Ya, namanya juga orang kaya, yah." jelas Arifin.


"Hmmm...rupanya anak papa sedang mempelajari setiap hal dari ibu bosnya ni" Kata pak Djoko menggoda putranya.


"Apaan sih, yah.

__ADS_1


Ya udah yah, aku permisi dulu. Ayah istirahat ya". Kata Arifin dengan tersipu malu sambil berlalu meninggalkan ayahnya.


Setelah dari kamar ayahnya, Arifin segera menuju ruang kerja Citra. Setelah di depan ruangan Arifin mengetuk pintu ruangan itu beberapa kali namun tidak ada jawaban. Arifin memutuskan untuk masuk ke dalam.


Arifin sedikit kaget dengan pemandangan di ruangan itu. Ia melihat bosnya itu sedang tertidur pulas di kursi kerjanya. Arifin pun mendekat.


"Hmmm, gimana ya? Apa aku bangunin aja ya? Tidak, tidak, beliau mungkin kecapaian" gumam Arifin dalam hati.


Ia melihat sekeliling ruangan itu, rupanya ada sebuah kamar di ruangan itu. Ia pun penasaran, kamar apa itu. Arifin pun segera memeriksa kamar itu, dan ternyata di kamar itu ada sebuah tempat tidur. Arifin segera kembali.


Entah kenapa Arifin merasa tidak tega melihat bosnya tidur dengan posisi duduk seperti itu. Tanpa berpikir panjang, Arifin segera menggendong bosnya dan membaringkan bosnya di tempat tidur yang berada di kamar tidur ruangan itu. Saat Arifin hendak pergi, seseorang menarik lengannya.


"Jangan...jangan tinggalkan aku"


kata Citra di alam bawa sadarnya.


Arifin segera berbalik.


"Kenapa? bu bos takut, ya?" tanya Arifin.


"Hmmmm, rupanya dia ngigo" gumam arifin yang hanya berdiri menunggu jawaban.


Entah kenapa Arifin, perasaan Arifin mulai kacau. Ia pun segera duduk di sebuah kursi yang berada di samping ranjang itu. Tangannya masih dipegang erat.


"Ada apa denganmu Fin? kenapa jantungmu rasanya ingin segera copot? Ya Tuhan, kuatkan aku". Gumam Arifin dalam hati.


Tengah malam, Citra pun merasa haus. Citra begitu terkejut. Saat sadar dari tidurnya ia melihat tangannya sedang memegang tangan seorang pria.


"Hawwww....!" Teriak Citra


Arifin pun dikagetkan dengan teriakan Citra.


"Ada apa? kenapa teriak-teriak sih?" tanya Arifin


"Kau? apa yang kau lakukan di sini? Dan....kenapa aku bisa di sini?" Tanya Citra sambil menatap kelili kamar itu.


"Apa? ke..kenapaa kamu..." belum juga selesai bicara Arifin langsung memotong pembicraannya.


"Ya, gak tega aja".


"Hmmm, tapi kamu gak..." kata Citra menggantung ucapannya.


"Ya, mau gimana? Semua sudah terjadi" jawab Arifin sambil mengukir senyum nakal di wajahnya.


"Apaaaaa? Kamuuuu???


Teriak Citra sambil memukul Arifin dengan bantal. Arifin berusaha menghindar namun Citra terus mengejarnya. Saat hendak turun dari ranjang, kaki Citra terantuk di kursi tempat Arifin duduk tadi. Arifin segera menangkap Citra yang hampir jatuh. Mata keduanya saling menatap. Tatapan itu sangat dalam. Jantung keduanya pun berdegub dengan sangat cepat. Keduanya pun saling merasakan deguban jantung mereka.


Beberapa saat kemudian, keduanya terpisah dari pelukan itu.


"Kamuuuu?" tutur Citra yang salah tingkah.


"Ssssttt... Percayalah. Aku gak ngapain. Tadinya aku bercanda. Kamu kan bosku. Apa aku seberani itu? Ngungkapin perasaan aja aku gak berani. Kata Arifin sambil menutup bibir Citra dengan jari telunjuknya.


Mendengar ucapan Arifin, Citra tak mampu berkata apa-apa. Ia hanya terpanah dengan wajah tampan di hadapannya.


"Ya udah. Aku laper ni. Aku mau makan dulu" kata Citra.


"Apa? Ini udah jam berapa ya? Rupanya aku juga mulai lapar.


Tutur Arifin.


"Ya, ayo kalau gitu. Kita makan."


jawab Citra


"Ini udah pkl. 23.15 loh. Kalau kita makan di meja makan, entah apa kata mereka nanti?

__ADS_1


Kata Arifin.


"Ya udah, kalau gitu kamu tunggu di sini. Aku yang ambil makanannya, lalu kita makan di sini." Kata Citra sambil beranjak pergi.


Arifin hanya menatap punggung wanita itu sambil tersenyum bahagia.


********


Beberapa saat kemudian, Citra pun datang dengan makanan untuk keduanya.


Mereka pun segera menghabiskan makanan itu.


Kini waktu menunjukkan pkl. 23.50.


"Ayo, lanjut tidur". Kata Citra.


"Di sini? Berdua?" Tanya Arifin dengan senyum nakalnya.


"Apaa? Enak aja...Udah sana, ke kamarmu. Aku juga mau balik ke kamarku".


"Iya,,,iya..! jawab Arifin sambil mencolek hidung Citra.


"Awwww" Teriak Arifin...


"Kenapa? Ada apa?" Tanya Citra panik.


"Entahlah, saat aku akan berdiri, kakiku terasa perih" jawab Arifin dengan wajah seperti orang kesakitan.


"Ya udah. Duduklah. Bentar, aku ambilkan minyak urut". tutur Citra.


Saat Citra kembali, lampu ruangan itu sudah padam.


"Rey...Apa kau di sana?" panggil Citra


"Happy Birthday to you. Happy Birthday to you. Happy birthday, happy birthday, happy birthday to you"


Mendengar nyanyian itu, Citra segera berbalik ke arah suara. Di sudut sana ada sebuah meja kecil yang dihias dengan begitu cantiknya. Dan di atas meja itu tampak beberapa potong donat, masing-masing dengan emoticonnnya. Di atas kue-kue itu ada lilin-lilin kecil yang bertuliskan Happy birthday.


"Selamat ulang tahun dewi!"


Kata Arifin sambil memegang tangan Citra.


"Dari mana kamu tau ulang tahunku?" tanya Citra.


"Ya, aku kan asisten sekaligus sahabatmu. masa gak tau? jawab Arifin


"Ya, iya juga sih". tutur Citra.


"Gak usah bengong gitu.Yuk, kita potong kuenya" Kata Arifin sambil menggandeng tangan Citra menuju meja kue itu.


Acara kecil itu berlangsung sangat romantis seperti sepasang kekasih. Keduanya sangat menikmati acara itu.


"Terima kasih". Ucap Citra


"Jangan ada terimakasih di antara kita" jawab Arifin


"Oh ya, aku mau bilang, kalau namaku bukan lagi Rey, tapi Arifin". lanjut Arifin


"Hmmm, baiklah. Ini udah hampir jam 1 lewat. Kita harus istirahat" tutur Cittra.


"Baiklah. selamat malam dewi. mimpi indah" sahut Arifin.


Keduanya pun meninggalkan ruangan itu.



Bersmbung...🔜🔜🔜

__ADS_1


__ADS_2