Alasan Luka Tercipta

Alasan Luka Tercipta
Aneh


__ADS_3

Tok tok tok


ketukan pintu mengalihkan semua perhatian penghuni kelas yang sedang fokus pada pembelajaran yang sedang berlangsung.


"Maaf mengganggu sebentar!" Ucap bu indah dengan ramah.


"Tania, bisa ikut ibu?" Pintah bu indah menatap ke arah tania mengisyaratkan untuk segera mengikutinya.


Entah hal ini berkaitan dengan Dian, Rena ataupun karena tania dan tika tidak mengikuti jam pelajaran terakhir kemarin.


"udah tenang saja, semua akan baik - baik saja. dan gue jamin ini nggak akan ada kaitannya dengan loe" ucap tania pada tika yang menatapnya dengan sedih.


"Apa kamu tahu kesalahan yang membuat ibu harus memanggilmu secara pribadi?" tanya bu indah setelah duduk, sedangkan ruang guru tersebut tampak sepi.


"kamu duduk saja dulu banyak yang harus kita bicarakan!" pintah bu indah menatap tania yang masih berdiri.


"Hari ini ibu mendapat dua laporan mengenai kamu" lanjut bu indah memandang tania yang tak bergeming.


"kok cuman dua bukannya harusnya tiga yah?" batin tania yang kini menatap bu indah, tidak lagi menunduk menyembunyikan semua ekspresinya.


"Pertama dari guru sejarah katanya kamu bolos jam pelajarannyakemarin" kata Bu indah mulai menjelaskan kesalahan Tania.


"baguslah guru sejarahnya cuman ngelaporin gue doang" batin tania merasa lega tak melibatkan tika dalam kesalahannya.


"Kedua dari rena, dia bilang kamu hampir mencekik dia kemarin" lanjut bu indah dengan tekanan suara yang meninggi.


"apa kamu bisa meluruskan kesalahan ini?" tanya bu indah setelah berbicara panjang lebar.


"maaf bu, ini semua memang kesalahan saya dan saya dengan sadar melakukan semua hal itu. hanya saja saya tidak akan melukai rena jika dia tak mengganggu saya terlebih dahulu bu" ujar tania setelah terdiam cukup lama


"lalu kenapa kejadian kemarin bisa terjadi? karena yang dikatakan renadan beberapa teman sekelasmu, dia hanya memberimu masukan agar tidak membolos" jelas bu indah menimbang perkataan tania.


"ahh baiklah bu, sepertinya saya tidak akan bisa memberi penjelasan dari manapun karena itu hanya akan berkesan sebagai pembelaan individual. apapun keputusan yang ibu buat saya akan ikuti" ucap tania yang tak ingin menjelaskan lebih banyak. kareba hal itu hanya akan membuat kesan yang kurang baik untuknya.


"Ini, ibu harap kamu bisa ngerti" ucap bu indah menyodorkan kertas yang terlipat rapi dalam amplop putih.

__ADS_1


tanpa membuka amplop itu tania langsung berpamitan meninggalkan ruangan tersebut. tania sudah yakin dengan pasti isinya. bukankah kekerasan dalam lingkungan sekolah merupakan hal yang tak bisa ditolerir lagi.


"Ke kantin yuk, gue bayarin deh" ajak tania berdiri tersenyum tanpa membereskan peralatan tulisnya.


"tumben?" Tanya tika mengerutkan dahinya.


"eh sekalian ajakin irfan saja biar rame" usul tania yang semakin membuat tika bingung dengan sikap tania.


"hai iran!, ke kantin bareng lagi yuk" ajak tania dengan sedikit berteriak pada irfan yang sedang duduk bersama beberapa temannya.


"Eh apaan tan?" Tanya irfan berusaha memperhelas pendengarannya.


Biasanya juga kalau irfan ikut dengan mereka. tania hanya sesekali menanggapi irfan.


"tania ngajakin loe ke kantin" ucap aziz yang duduk di samping irfan.


"yang lain juga boleh ikut" ajak tania kembali dengan senyum ramahnya.


"sorry, kita lagi sibuk, harus banyak - banyak latihan buat pertandingan" kata aziz menjawab duluan.


"Kak boleh duduk disini? soalnya kursi yang lain udah pada penuh" ujar tania ramah sambil tersenyum pada lintang yang duduk sendiri.


"Oh iya boleh" jawab lintang ramah setelah menatap sana sini memastikan kondisi kantin yang cukup ramai.


tania segera mengambil posisi duduk di hadapan lintang di susul tika di samping tania dan irfan di samping lintang.


"Lagi bikin apaan kak?" Tanya tania melihat lintang yang sibuk dengan gunting dan kertas berwarna warni.


"nih cewek kenapa. salah minum obat yah" batin lintang tanpa mengalihkan pandangannya.


"Ini buat kegiatan osis nanti" jawab lintang menghentikan sebentar kegiatannya.


"Sendiri aja kerjanya kak? lagian bikinnya kan bisa di ruang osis saja yah kak, daripada di sini" Tanya irfan yang memandang sekeliling yang tampak mulai riuh.


"Nggak juga sih, harusnya kerjaiinnya sama yang lain tapi nggak tahu pada kemana" jelas lintang tanpa menoleh.

__ADS_1


"sini kita bantuin kak, biar cepat selesainya. kita juga lagi kosong kak" saran tika mengambil gunting yang tergeletak di atas meja.


"Yaudah deh, kalau kalian maksa. Saya mah pasrah aja atuh" ucap lintang yang membuat mereka tertawa bersama.


lintang dan irfan cukup mudah mengendalikan suasana diantara mereka. dengan cepat mereka bisa mengakrabkan diri. meski tania dan tika hanya sesekali membalas candaan lintang dan irfan, namun hal itu cukup membuat mereka bisa berbaur.


"Eh tika, kira - kira kalau besok gue nggak sekolah disini lagi? Lo bakalan kenapa yah?" Ucap tania dengan nada bercanda saat berjalan dikoridor. "Pasti lo bakalan uring - uringan sendiri hahaha" tambah tania dengan tawanya. Meskipun itu di anggap candaan oleh tika tapi tidak dengan tania. "Maafin gue ya tika. Mungkin besok lusa dan seterusnya gue nggak bakalan datang ke sekolah ini lagi" batin tania menerka - nerka isi surat pemberian bu indah.


"Fan loe mau langsung balik, sendiri nggak?" Tanya tania pada irfan yang sudah duduk di atas motornya.


"Iya, emang kenapa tan?" Tanya irfan tersenyum simpul.


"Lo bareng tika yah, soalnya gue harus ke tempat lain dulu" pintah tania menatap tika yang kehilangan kata - katanya.


"yah gue kira lo yang bakal bareng gue pulang" batin irfan memandang sedih pada tania.


"yaudah deh, tika bareng gue aja" ucap irfan dengan senyum dipaksa.


"Pegangan tika, ntar jatuh lo" kata tania tersenyum penuh arti yang langsung di turuti oleh tika.


"iya tan, hati - hati pulangnya" kata tika dengan senyum bahagianya sesekali mengerlipkan matanya yang membuat tania ikut terkekeh.


"mungkin hanya ini yang bisa gue lakuin buat terakhir kalinya tika, thank's ya udah mau jadi teman gue. Karena besok orang tua gue mungkin udah ngirim gue keluar negri atau gue dimasukin ke asrama" batin tania memandang motor irfan yang perlahan hilang dari pandangannya. Sambil mengusap air matanya yang hampir jatuh.


"Tania, pulang bareng yuk"  ajak lintang setelah menghentikan motornya di samping tania.


"Nggak usah kak, duluan aja" tolak tania dengan ramah.


"Udah bareng aja, sekalian sebagai ucapan makasih udah bantuin tadi" kata lintang menyodorkan helm pada tania.


"Beneran nggak usah kak, lagian saya juga bawa motor kak" kata tania menunjukkan kunci motornya.


"hehe yaudah aku duluan yah" pamit lintang meletakkan kembali helmnya.


"iya kak, Hati - hati bawa motornya kak" ucap tania menunggu lintang berlalu dari hadapannya.

__ADS_1


"loe sebenarnya seperti apa sih, kemarin - kemarin tiap papasan dimata loe hanya ada kekesalan. tapi hari ini loe ngedekatin gue buat berteman doang kan? atau loe udah tahu semua? ahh nggak mungkin, loe pasti hanya ngerasa bersalah karena kemarin - kemarin" " batin lintang yang melajukan motornya meninggalkan pekarangan sekolah.


__ADS_2