
dibawah panasnya terik sang mentari, dua anak manusia sedang menahan perasaan mereka, perasaan yang sama panasnya dengan cuaca. perasaan untuk orang yang berbeda.
"kita mampir dulu yah?" ucap irfan setelah menghentikan laju motornya di samping toko buku.
"mau ngapain?" tanya tika dengan rasa penasarannya
"aku dengar lagi ada flash sale di toko ini, buku yang aku mau juga mungkin ada di dalam. jadi nggak papakan kalau kita singga dulu?" tanya irfan dengan senyum ramanya setelah menjelaskan maksudnya berhenti
"tidak papa, sekalian juga aku beli beberapa buku nanti" ujar tika membalas senyum irfan dengan sangat manis.
"sini helmnya!" pinta irfan mengambil helm dari tangan tika untuk di letakkan asal pada kaca spion motirnya
"udah tenang aja, nggak akan hilang" tambah urfan yang seakan paham dengan ekspresi wajah tika.
"aku cari bukunya di bagian sana yah, nanti kalau kamu selesai duluan kamu tunggu aku disana" kata irfan antusias untuk segera mendapatkan buku yang dia maksud sebelum meninggalkan tika di rak depan.
"hah seperti apa sih kam fan, udah ganteng, baik, anak basket. eh sekarang baru tahu kamu juga ternyata suka buku juga yah" monolog tika menatap punggung irfan yang kian menjauh darinya dengan rasa kagumnya.
"tapi mengapa rasanya kamu semakin nggak tergapai olehku, mengapa semakin mengenal kamu. semakin tinggi penghalangnya. semakin jelas perbedaannya" tambah tika melangkah menuju rak buku fiksi.
meski beberapa orang memiliki anggapan yang berbeda mengenai cinta, namun cinta memiliki dua akhir yang pasti. meraihnya untuk kau jaga atau melepasnya untuk membebaskan dirimu dari belenggunya.
"nih!" ucap irfan menyodorkan minuman thaitea pada tika.
setelah selesai membeli beberapa buku irfan segera bergegas ke kafe teras yang sempat dia tunjukkan pada tika sebelumnya. namun nampaknya tika belum selesai memilih beberapa karya fiksi yang hendak ia beli. karena udara yang kian terasa menyengat, irfan memutuskan untuk membeli minuman dingin dari kafe.
"eh, iya terima kasih" ucap tika bergegas mengambil minuman tersebut, berhenti dari kesibukannya memasukkan beberapa buku ke dalam ransepnya.
"sana ini juga" kata irfan sambil memberikan gantungan beruang.
"sebagai ucapan makasih udah mau singgah temannin beli buku" jelas irfan paham dengan tatapan tika.
"oh iya terima kasih sekali lagi" ucap tika menerima gantungan warna ungu tersebut.
__ADS_1
"tak perlu sungkan, mau langsung pulang atau neduh dulu?" tanya irfan kembali menatap sekitar yang kian terasa suhu panasnya.
"langsung pulang saja, aku nggak biasa pulang telat" kata tika sesekali menyeruput thaitea miliknya
"baiklah habiskan minumnya cepat" kata irfan ikut menyeruput minuman rasa bublegum miliknya.
berbeda dengan tania yang kini dikuasai rasa malasny. setelah kembali dari sekolah, dirinya hanya menghabiskan waktunya di dalam kamarnya.
"bosan" ucap tania berusaha mencari siaran tv yang mungkin bisa menemaninya.
"dia lagi ngapain yah kira - kira?" tanya tania mengambil ponselnya. mencari kontak tika dari beberapa kontak yang tersave dalam ponsel tersebut.
"hallo!" kata tania setelah panggilannya terhubung.
"iya tan, kenapa?" tanya tika setelah menyalakah perintah loudspeeker
"lagi apa loe?" tanya tania memperbaiki posisi duduknya
"oh" kata tania menghentikan pembicaraan mereka sesaat
"tan gue mau nanya dong, tapi jawab yang jujur yah!" ucap tika meletakkan novelnya dan berahli pada ponselnya
"iya, mau nanya apa?" kata tania kembali mengganti - ganti chanel TV
"menurut loe nih, gue punya berapa persen peluang buat ngedekatin dia" ucap tkka dengan nada serius
"kalau menurut gue, loe nggak butuh persen peluang hanya buat ngedekatin dia. loe cukup kuatin tekat loe dan pastinya keberanian yang besar sih" jelas tania meletakkan remot TV ke atas nakas di sampingnya. tania tahu betul dengan siapa yang dimaksud tika. siapa lagi kalau bukan si ketua kelas irfa.
"nggak tahu kenapa, setelah dua hari pulang bareng dia, gue makin ragu sama perasaan gue" jelas tika mulai membuka pembicaraan yang serius.
"gue senang bisa dekat sama dia. gue juga bahagia makin kenal sama dia, tahu beberapa hal baru tentang dia" lanjut tika sedangkan tania hanya diam berusaha meresapi setiap perkataan tika.
"tapi makin kesini gue makin ragu, gue makin nggak percaya diri buat dekat apalagi sekedar menyukainya lebih dalam dari sebelumnya" tambah tika merasa tak percaya diri untuk tetap menyukai irfan.
__ADS_1
"gue ngerti perasaan loe, memang benar semakin kita lebih mengenal orang yang kita kagumi semakin kita merasa masih belum cukup pantas berada di sampingnya. apalagi irfan, pasti banyak yang suka sama dia entah karena dia anak basket atau karena dia baik dan mungkin karena dia cukup memiliki karismatik yang kuat" ucap tania setelah diam beberapa saat.
"selagi loe bisa mengenal dia lebih dalam. mungkin loe bisa mastiin perasaan loe dulu. apa itu hanya rasa kagum semata atau mungkin perasaan loe itu memang rasa cinta. jangan biarkan rasa insecure loe jadi tembok penghalang dari bagian kebahagiaan loe" tambah tanja berusaha meyakinkan tika
"gue tahu tapi..." kata tika dengan ragu - ragu
"irfan bukan orang yang memandang level sosial kok, buktinya dia mau berteman dengan siapapun termasuk kita" potong tania mengerti arah pembicaraan tika
"baiklah gue akan pikirin ini baik - baik, makasih yah" ucap tika merasa sedikit kelegaan setelah menyampaikan hal yang mengganggu pikirannya.
"iya, gue kan sahabat loe. oh iya gue tutup dulu yah nanti kita lanjut lagi" ucap tania setelah menyadari derapan langkah menuju kamarnya.
"baiklah, makasi sekali lagi" ucap tika sebelum memutus panggilan tersebut.
tok tok tok
"non, maaf mengganggu waktunya sebentar!" ucap bi sharon setelah mengetuk pelan pintu kamar tania.
"iya bi, masuk aja. nggak di kunci kok pintunya" jawab tania sedikit berteriak.
"ada apa bi?" tanya tania setelah bi sharon yang diikuti pak dadang melangkah masuk
"gini non, saya ada perlu keluar sebentar. apa boleh pak dadang yang mengantar saya sebentar?" tanya bi sharon dengan suara pelannya
"boleh bi, lagian saya juga nggak akan keluar hari ini" ucap tania dengan senyum tipisnya meski ingin bertanya tujuan dan urusan bi sharon. namun tania memilih diam memberi ruang privasi pada orang yang sudah merawatnya.
Setelah bi sharon dan pak dadang meninggalkan tania, perhatian tania kembali terahlikhan pada benda pipi di atas nakas yang baru dia letakkan beberapa menit yang lalu.
"Banyak amat yang kangen sama gue" monolog tania menyambungkan panggilan tersebut.
"Gimana hukumannya, gue yakin itu cukup dong buat nyadarin loe!. Itu sebenarnya baru permulaan, biar loe bisa Jauhin lintang. karena hanya gue yang pastas buat dapatin dia" ucap sang penelpon dengan nada sinisnya. dari suara dan penekanannya sudah bisa ditebak dia pasti dian.
Tania merasa heran bagaimana dian tahu nomor ponselnya atau bagaimana dian tahu masalahnya bukannya yang melaporkan tania rena yah? Atau rena itu komplotannya dian.
__ADS_1