
"Pi ada surat dari sekolah" ucap tania setelah menunggu hingga larut malam. hanya untuk menyerahkan surat yang diberikan bu indah di sekolah. menyiapkan diri dan siap menerima apa pun yang akan dikatakan ayahnya. apapun yang menjadi keputusan orang tuanya tania pasti akan menerimanya.
"Apa mau mu sebenarnya tania!" bentak hendra setelah membaca kertas pemberian tania. "dulu kamu minta untuk pindah ke luar kota. tanpa mempertanyakan alasanmu kami menurutinya. Kamu mau kembali ke sini dengan syarat kamu yang memilih sekolahmu. Papi turuti keinginanmu," kata hendra dengan suara meninggi.
"apa seberat itu untuk tetap berada di dekat kami, kami hanya ingin kamu berada dalam pengawasan kami. setidaknya agar kami bisa memastikan keamana dirimu" kata hendra menghempaskan kertas ke atas meja. Tania hanya diam mematung di tempatnya berdiri. Meremas tangannya satu dengan yang lain seperti perasaannya yang berkecamuk.
"Ada apa pi?" Tanya sonia masuk ke ruang kerja setelah mendengar kebisingan di tengah malam.
"kamu baca sendiri" kata hendra mendudukkan dirinya dikursi kerjanya sambil memijit pelipisnya yang kian terasa berdenyut kencang.
"Kamu sih! manjain anak berlebihan" kata sonia menyalahkan hendra.
"Harusnya kamu yang ngurusin anak di rumah" bentak hendra pada sonia. sadar dengan kelakuan istrinya yang selalu sibuk dengan kelompok sosialitanya. menghamburkan uang sana sini hanya untuk membeli barang - barang branded.
"dia udah dewasa nggak harus aku yang ngurus dia kayak anak kecil, lagi pula di rumah ini ada pelayan yang bisa mengurus semua kebutuhannya" ujar sonia yang tak kalah emosinya dari herman.
"stop! Jangan ribut lagi" pinta tania dengan suara serak melihat tangan herman yang sudah terkepal kuat.
"aku tahu semua salahku, aku juga sadar selalu buat papi khawatir. tapi tolong kalian jangan bertengker hanya karena aku. dan maaf aku belum cukup dewasa buat jadi anak mami" ungkap tania yang sudah tak bisa menahan tangisnya.
"maaf karena selalu buat masalah untuk kalian. apalah artinya kerja keras papi saat papi hanya sibuk tanpa bisa meluangkan waktu sedikit untuk menanyakan keadaanku. dan apa gunanya citra mami, jika kita tak pernah bisa saking menyapa dengan sunggu - sunggu. di sini sangat kosong" tambah tania sesenggukan dengan memukul - mukul dadanya.
"dua tahun lalu aku berusaha pergi karena aku begitu iri dengan mereka yang bisa berbagi cerita dengan orang tuanya. mereka punya tempat untuk mengaduh, mereka punya tempat untuk menangis saat mereka tidak kuat dengan tekanan. lalu aku apa? apa yang bisa aku lakukan" ujar tania berhenti sesaat untuk mengambil nafas untuk mengisi rongga dadanya.
"apa kalian pernah berfikir, dengan bertengkar kalian hanya menambah penyesalanku. semakin membuatku merasa tak berguna sebagai anak, aku tahu kalian berusaha melakukan semua yang terbaik untuk keluarga ini. tapi aku mohon kalau kalian tidak memiliki waktu untukku, tolong jangan bertengkar" ucap tania dengan suara yang mulai parau sebelum berlari keluar dari ruangan itu.
Setelah mendengarkan semua penuturan tania. Hendra dan sonia tak lagi melanjutkan perdebatan mereka. Sonia memilih kembali ke kamar meninggalkan hendra yang masih diam termenung.
__ADS_1
malam tak berbintang, semakin mencekam dengan suasana yang tercipta di rumah besar itu. pemilik rumah yang masing - masing terdiam dalam ruangan yang berbeda dengan pemikiran mereka yang berlarian tak tentu arah, entah rasa penyesalan ataukah rasa kekosongan yang paling terasa dalam suasananya.
Tutt tutt tutt getaran yang berasal dari ponsel tania membawa tania keluar dari mimpinya. Meski sudah dia abaikan. Tapi ponsel itu tetap setia berdering. Dengan malas tania mengambil ponselnya dan menerima panggilan tersebut tanpa melihat layar ponselnya.
"Hallo, kenapa tika?" Tanya tania setelah tersambung.
"Ini gue irfan, Lo belum bangun ya?" ucap sang penelpon di sebrang sana.
"Hmm iya" jawab tania malas.
"Anak cewek dilarang bangun kesiangan" wejangan irfan khas emak - emak berdaster.
"Iya ini udah bangun" ucap tania mendudukkan dirinya dengan mata yang masih terpejam.
"Yaudah sampe ketemu di sekolah tan" ucap irfan menutup sambungan.
Tania menatap jarum jam dinding yang saling berkejaran sama halnya dengan pikiran tania yang kembali menjalar kemana - mana. hingga suara bi sharon menyadarkannya.
"mungkin bapak udah bicara sama pihak sekolah jadi non masih bisa terus bersekolah" jelas bi sharon.
"iya juga yah, nggak mungkin papi bakalan ngebiarin aku pindah lagi. ah biarkan saja mungkin memang harus seperti ini" batin tania mengambil handuk lalu berjalan ke kamar mandi.
"Pagi pi, mi. Aku langsung berangkat" sapa tania melewati meja makan. Dimana hendra dan sonia terduduk tak bergeminng sedikitpun. "apa kemarin aku sudah keterlaluan yah?" batin tania mengingat - ingat semua tutur katanya kemarin
"Hai hai, kalian pada ngapain? " tanya irfan tersenyum menghampiri meja tania dan tika. "Hai juga fan" kata tika tersenyum tipis
"Lo kenapa tan?" Tanya irfan memandang tania yang hanya tersenyum tipis dengan kepalanya melekat pada meja.
__ADS_1
"Lagi ngantuk katanya" jawab tika membantu tania memberi jawaban
"Emang lo tidur jam berapa semalam?" Tanya irfan lagi.
"Gue juga nggak tahu" jawab tania dengan suara lemah.
"panggilan kepada angelika tania kelas XI IPA 1 agar segera ke ruangan kepala sekolah" bunyi speeker sekolah menyampaikan pengumuman yang membuat tania semakin tak bersemangat.
Tok tok tok "selamat pagi" ucap tania sebelum memasuki ruang kepala sekolah.
"Loh pak dadang" ucap tania terkejut melihat sosok yang dikenalnya sedang tersenyum hangat padanya. Pak dadang langsung menempelkan jari telunjuknya di bibir. Mengisyaratkan agar tania tetap diam.
"oh jadi papi nyuruh pak dadang yang datang, segitu nggak pedulinya papi sama gue" batin tania.
"Seperti yang sudah saya jelaskan kepada bapak tadi, maka kami akan memberikan peringatan pertama pada anak anda" ucap kepala sekolah menyerahkan sepucuk kertas.
"Iya pak saya mengerti, trimah kasih karena tidak sampai mengeluarkan anak saya dari sekolah ini" ucap pak dadang setelah menanda tangani surat perjanjian tersebut. "Iya pak, kami harap hukuman skors ini dapat digunakan oleh tania untuk introspeksi diri agar tak melakukan kesalahan yang sama lagi di kemudian hari" jelas kepala sekolah mengambil surat perjanjian tersebut.
"Baik pak saya akan lebih mendidik anak saya dengan lebih baik lagi" ucap pak dadang.
"Kok pak dadang yang datang?" Tanya tania setelah keluar dari ruangan kepala sekolah. "Nanti saya jelasin semua non. Sekarang non pergi ambil tas non. Saya tunggu di parkiran" ucap pak dadang. "Emang hukumannya mulai hari ini pak?" Tanya tania yang sudah mendengar sebagian percakapan di ruang kepala sekolah.
"Iya non, sampai tiga hari kedepan" jawab pak dadang.
"Eh tan, lo mau kemana?" Tanya tika melihat tania membereskan alat tulisnya.
"gue mau pulang, gue diskors tiga hari. yah sebagai hukuman untuk tempoh hari. syukur - syukur gue nggak di DO dari sekolah" kata tania tanpa menoleh sibuk memasukkan kembali peralatan sekolahnya kedalam ransel.
__ADS_1
"Lo mau kemana tan?" Tanya irfan melihat tania yang keluar dari kelas dengan tas ransel dipunggungnya.
"balik gue, udah diizin kok" ucap tania tersenyum pelik sebelum melanjutkan langkahnya.