Alasan Luka Tercipta

Alasan Luka Tercipta
Olivia S.


__ADS_3

Angin datang begitu saja, kepergiannya pun tak ada yang bisa menebaknya. Perubahan dan dampaknya tak pernah ada yang tahu. Hanya yang menciptakannya yang mengetahui semua, entah itu arahnya, bentuknya serta tujuannya yang pasti. Begitupun dengan perasaan yang akan berubah seiring berjalannya waktu. Kadang cinta hadir untuk memberi warna lebih dalam hidup. Namun suatu waktu kepergiannya pun meninggalkan rasa yang bergemuruh dalam dada.


"Aku lelah dengan semua ini" ucap tania menghembuskan nafasnya menatap bintang - bintang yang memancarkan sinarnya. "Andai kita bisa menjadi keluarga yang utuh?" Tanya tania mengambil frame foto ayah dan ibunya. "Mengapa mami membangun tembok yang menjadi jarak di antara kita?" Tanya tania lagi sambil mengusap foto tersebut. "Aku hanya ingin kita sama - sama meperbaiki hubungan ini. Tapi mengapa mami selalu menghiraukan aku. Tak bisakah senyum tulus seorang ibu kudapat dari mu?" Ucap tania lirih dengan air matanya yang sudah mulai membasahi pipinya.


"Hendra yang mendengar semua keluh tania dari balik pintu hanya bisa terdiam. Meski hubungannya dengan tania sudah mulai membaik. Tapi tidak dengan hubungan sonia dengan tania. Apapun yang dilakukan tania tak pernah digubris oleh sonia. Pernah tania merubah penampilannya seperti yang di inginkan sonia tapi hal itu tak pernah bisa mengubah apapun. Hingga tania tak ingin lagi menjadi orang lain hanya untuk mendapatkan perhatian sonia. Sedangkan sonia selalu menyibukkan diri dengan teman dan kegiatan sosialitanya.


Tok tok tok


setelah cukup lama berdiam diri akhirnya hendra mengetok pintu. "Nak, boleh papi masuk?" Tanya hendra.


"Iya pi, tunggu sebentar" ucap tania mengembalikan frame foto tersebut dan mengusap air matanya yang masih tersisa sebelum membuka pintu kamarnya.


"Ada apa pi?" Tanya tania dengan senyum manisnya.


"Nggak papa putri ku tersayang papi hanya merindukanmu" ucap hendra mencubit pipi tania. "Tumben papi kayak gini kan tiap hari kita ketemu" ucap tania yang merasa heran. "Kecuali kalau papi keluar kota atau keluar negeri" tambah tania dengan nnanda sedihnya.


"Maaf kan papi sudah membiarkanmu merasa kesepian" lirih hendra mengambil foto yang sempat diambil tania tadi.


"Nggak papa kok pi, selama kita semua masih bersama, tania pasti bisa menjalani semuanya" ucap tania dengan senyum manisnya.


"Ada satu hal yang harus kamu ketahui nak. Hal ini sudah lama papi simpan rapat -rapat" ucap hendra dengan suara beratnya.


"Ada apa pi?" Tanya tania dengan perasaan takut. "Apa aku anak angkat kalian?" Tanya tania dengan rasa cemas.


"Bukan itu tan" kata hendra yang sedikit membuat tania merasa lega.

__ADS_1


"Sebenarnya sonia bukan ibu kandung mu" tutur hendra yang bagaikan sambaran petir bagi tania. "Nggak mungkin, papi pasti bercanda kan?" Tanya tania yang meski tersenyum namun air matanya mulai menetes.


"Maafkan papi tan, ini semua salah papi" sesal hendra memeluk tubuh mungil putrinya.


"Dulu bunda dan kakakmu meninggalkan kita karena kecerobohan papi. Andai papi bisa mengulang waktu papi akan berusaha memperbaiki kesalah pahaman diantara kami. Andai itu terjadi papi pun tak akan merasakkan penyesalan karenanya" kata hendra yang membuat tania semakin sesenggukan dengan tangisnya.


"Di mana mereka?" Tanya tania setelah diam cukup lama.


"Papi udah berusaha mencari mereka dengan berbagai cara tapi papi nggak pernah mampu menemukan mereka. Hingga sonia hadir dalam hidup papi dan menjadi ibu sambung mu" jelas hendra.


"Maafkan papi tak pernah memberitahu mu, papi kira sonia mampu menjadi sosok ibu yang baik untukmu tapi nyatanya papi hanya memberimu rasa sakit dengan pilihan itu. Maafkan papi" ucap hendra tulus sambil mengusap lembut kepala tania.


Setelah malam itu tania hanya bertekat untuk menemukan kembali ibu dan kakaknya. Meski dia pun tak mengingat wajah mereka. Tania berusaha mencari tahu tentang mereka dari pelayan - pelayan yang sudah lama bekerja pada mereka. Namun tania hanya mengetahui kakaknya laki - laki, dan ibunya bernama olivia S. Seorang pelayan yang paling senior mengatakan setelah kepergian mereka. Mereka mengganti seluruh identitas mereka. Hal itu semakin membuat tania merasa putus asa.


"Gue nggak papa" ucap tania menempelkan kepalanya di meja.


"Gue perhatiin beberapa hari ini lo kayak nggak semangat gitu" ucap tika penasaran.


" Hmmm"  jawab tania lelah sendiri dengan usahanya mencari kakak dan ibunya.


"Lagi dapat?" Tanya tika memastikan.


"Nggak, gue cuman lagi nggak mood" ucap tania membuka matanya.


"Yaudah ke kantin yuk" ajak tika menarik tangan tania, sedangkan sang empunya hanya pasrah mengikuti lamgkah tika.

__ADS_1


"Hai dek" sapa lintang saat berpapasan dengan tania dan tika di koridor.


"Hai juga kak" jawab tania mengangkat tangannya di udara.


"Lemas amat, semangat dong dek" kata lintang tersenyum.


"Senyum dong" tambah lintang yang membuat tania berusaha memasang senyumnya sekilas. Sedangkkan tika yang melihat interaksi mereka hanya terdiam dengan berbagai pertanyaan dikepalanya.


"Hehehe mau ke kantin yah?" Tanya lintang.


"Iya, mau ikut" ajak tania.


"Lain kali ya dek, lagi sibuk banget nih" ucap lintang mengangkat lembaran - lembaran kertas di tangannya.


"Yaudah kalau nggak mau" ucap tania.


"Siapa bilang nggak mau. Kan aku bilangnya lain kali dek" kata lintang mengusap lembut kepala tania. yang membuat tania menjadi salting sendiri sedangkan tika hanya melongo dengan adegan di depannya.


"Hehehe kakak duluan yah" pamit lintang sebelum berlalu meninggalkan tania dan tika.


Irfan yang dapat melihat interaksi mereka dari lapangan basket merasa kesal yang membuat udara di sekitarnya terasa lebih panas dari sebelumnya.


"Kalian ada hubungan apa? Dan sejak kapan kalian seakrab itu?" Tanya tika dengan penasaran setelah punggung lintang tak lagi terlihat.


"Nggak ada" jawab tania singkat mempercepat langkahnya. Berusaha memperbaiki perasaannya.

__ADS_1


__ADS_2