
"Gue mohon, tolong bukain" suara tania yang semakin melemah.
"disini menakutkan" ucap tania kembali Terduduk di lantai dengan bersandar pada daun pintu yang terkunci dari luar. berusaha menguatkan diri dengan memeluk lututnya dalam kehampaan ruangan yang semakin mencekam dari hawa dingin.
Meski harapannya tidak pupus namun kemungkinannya sangat kecil. pintu itu takkan terbuka dengan sendirinya. mustahil ada orang yang datang ke arah sana. mengingat sudah jam pulang sekolah. mungkin hanya beberapa siswa yang masih berada di sekolah untuk mengikuti ekstrakuler.
"Jadi gimana kak?" Tanya tika saat menghampiri lintang di koridor sekolah.
"Kita cari dulu di lokasi sekolah. Ntar kita saling kontakan kalau ada kabar" jawab lintang mengarahkan tika. Yang dijawab anggukan kecil tika paham dengan maksud lintang.
"Biar lebih cepat kita bagi wilayah. Gue ke area belakang, loe ke area depan sekolah" tambah lintang mengedarkan pandangannya ke beberapa sudut sekolah.
Tika segera bergegas ke arah depan sekolah sesuai perintah lintang. meski sempat bertanya pada Beberapa siswa yang berpapasan dengannya.
Namun hasilnya nihil, tak satu pun yang melihat tania.
Sedangkan lintang segera menuju area belakang sekolah. Berharap akan ada keajaiban kecil di sana. Meski kecil kemungkinan tania pergi ke taman belakang.
Lintang terus melangkah dengan tangannya berada di saku celananya. hingga langkahnya terhenti saat mendengar suara yang samar - samar terdengar. suara yang mengantarkan langkahnya hingga sampai pada gudang belakang sekolah yang sudah lama tak terpakai.
"Tania" teriak lintang dengan tangan di depan mulut yang membentuk corong. Terus mengikuti arah suara tersebut.
"Ada orang di dalam?" Tanya lintang setelah mendengar gedoran pintu yang makin melemah. Lintang berusaha memastikan asal suara itu dengan menempelkan telinganya pada daun pintu.
"Tan, lo geser dari pintu. Biar gue bisa dobrak pintunya" ucap lintang bersiap mendobrak pintu tersebut setelah meyakini keberadaan tania.
Brukk brukk bruukk
Setelah mencoba dengan tiga tendangan sekuat tenaganya, Akhirnya pintunya berhasil lintang rusak.
"Tan, loe nggak papakan?" Ucap lintang berlari ke dalam dan mencari sosok yang membuatnya merasakan khawatir.
"Tania tenang, gue ada di sini" kata lintang berjongkok memegang kedua bahu tania yang tersandar lemah pada dinding. tampak tubuh tania makin bergetar hebat entah karena masih takut, atau rasa lega karena sudah ada orang yang membuka pintunya.
__ADS_1
"Tenang tania, ada gue di sini" kata lintang sembari membawa tubuh tania ke dalam pelukannya.
"Menangislah, keluarkan semua yang kamu tahan, aku akan ada di sini" kata lintang yang disambut isak tangis tania dari pelukan lintang.
rasa takut yang sedari tadi terus menekan tania semakin membuat dadanya terasa sesak. Seakan tersihir dengan perintah lintang.
"Kenapa? memang salah gue apa?" kata tania sesenggukan meluapkan perasaannya.
"Kenapa dunia begitu kejam padaku" tambah tania memukul pelan dada bidang lintang.
"Apa salahnya dengan takdirku. mengapa Tuhan selalu menciptakan hidup yang penuh kesendirian ini" ucap tania dengan tangisnya semakin keras terdengar.
"dunia tidak sekejam itu tania, dan Tuhan juga nggak mungkin memberimu begitu banyak luka yang harus kau tanggung sendiri" ucap lintang berusaha menenagkan tania dalam pelukannya.
"Gue akan selalu ada buat loe, loe nggak akan sendirian lagi!" lanjut lintang setelah terdiam cukup lama dengan mengelus pelan pundak tania.
"setiap orang berharga sejak dilahirin dan kamu harus berjuang untuk menjadi nyata di dunia ini, jangan jadi bayangan" jelas lintang lalu kembali terdiam.
mendengar setiap penuturan lingtang membawa sedikit kehangatan di hatinya tania. merasa sedikit ketenangan tania mulai membalas pelukan lintang. Entah yang dilakukannya ini benar atau tidak. Tapi naluri yang membuat tania melakukannya.
"Gue akan selalu dukung kamu, apapun yang terjadi loe tetap berharga buat gue tan, ah dan itu bukan hanya untukku tapi untuk orang lain juga mungkin" kata lintang melepas pelukannya.
"Thank's ya kak" ucap tania menghapus sisa - sisa air matanya sambil menunduk.
"kenapa kamu bisa terkurung di sini?" Tanya lintang menyandarkan dirinya ke dinding.
"Kalau masih shock ntar aja ceritanya. Tenangin diri dulu" ucap lintang menatap tania yang masih tak bergeming.
Mendengar penuturan barusan tania mulai mengikuti lintang bersandar pada dinding.
termenung dalam diam dengan fikiran mereka masing - masing.
"tania baik - baik aja"
__ADS_1
"loe balik aja udah sore"
pesan singkat yang lintang kirimkan untuk tika
"Ingat tan lo harus kuat, gue akan ada buat loe" kata lintang setelah mengantar tania pulang.
"kalau butuh sesuatu bilang saja, jangan sungkan padaku" tambah lintang sedangkan Tania hanya menanggapinya dengan senyum tipisnya. Merasa masih membutuhkan waktu untuk menenangkan diri setelah kejadian di sekolah.
"bi apa mereka ada dirumah?" tanya tania pada bi sharon yang menyambutnya.
"tuan dan nyonya belum pulang nona, kalau ada yang nona ingin sampaikan. mungkin saya bisa bantu sampaikan melalu supir bapak nanti" ujar bi sharon mengerti dengan keadaan tania yang sudah beberapa kali menanyakan keadaan orang tuanya.
"tudak usah bi, lagian tidak penting - penting amat" ucap tania melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.
"ada apa non?" tanya salah satu pelayan mendapati tania yang berusaha membuka pintu gudang.
"ahh maaf, sepertinya saya mengganggu istirahatmu yah?" tanya tania berusaha memaksakan senyumnya mengingat ini sudah larut malam.
"tak mengapa nona, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya perempuan itu tersenyum ramah
"saya ingin mencari sesuatu di dalam. tapi sepertinya pintunya terkunci" jawab tania memandang sekilas pintu gudang tersebut.
"iya nona, ruangan ini memang selalu terkunci, saya akan ambilkan kuncinya sebentar" kata perempuan itu berjalan ke arah meja yang tak jauh dari tempat tania berdiri. lalu mengambil beberapa kunci dari laci meja tersebut.
"kamu busa kembali beristirahat, saya akan masuk sendiri. lagi pula hanya beberapa barang yang akan saya ambil" ujar tania setelah perempuan itu berhasil membuka pintu itu.
"mungkin ada di sini!" monolog tania mencari foto album dari salah satu tumpukan album dan beberapa berkas.
setelah tania membersihkan diri, tania bersiap untuk beristirahat. namun kantuknya entah hilang kemana. dirinya tiba - tiba merindukan orang tuanya. sehingga tania memutuskan mencari album keluarga yang mungkin sudah dipindahkan ke dalam gudang.
"ini siapa?" tanya tania saat salah satu foto tak sengaja terjatuh.
"matanya sangat mirip denganku" kata tania menatap seksama foto yang memperlihatkan perempuan mudah denga bayi di dalam gendongannya.
__ADS_1
"apa mereka keluarga jauh?" tanya tania kembali memcoba mengingat wajah wanita mudah yang tak pernah tania lihat sebelumnya