Alasan Luka Tercipta

Alasan Luka Tercipta
Pendakian II


__ADS_3

Mata tania yang agak bengkak setelah menangis semalam, mungkin dapat tersamarkan dengan kaca mata tak berlensa miliknya. Tapi tidak dengan hatinya, Wajahnya kembali memancarkan aura dingin. Rasa tak percaya pada orang lain kembali menyeruak dalam relung hatinya. Satu persatu kenangannya bersama teman masa kecilnya diana serta cinta pertamanya briant kembali bermain dan begitu nyata di ingatannya. Begitu pun dengan luka yang dia dapat dari pertemuan terakhirnya dengan mereka.


"Eh loe, nama loe siapa lagi?" Tanya dian menghampiri tania yang sedang terduduk di bawah pohon menikmati setiap rasa dari luka yang yang kembali bangkit dalam jiwanya. Tania hanya menoleh, tenaganya seakan berkurang seiring memanasnya atmosfer bumi. "Kalau ditanya itu di jawab!" ujar resti. "Tania" ucap tania satu kata kemudian kembali menatap jauh ke depan.


"Sombong amat lo, udah ngerasa hebat lo" tanya teman dian yang biasa dipanggil kirana. "Tahu nih bocah, dia juga nggak ngehargai kita banget" ucap resti melipat tangan di dada. "Apalagi pas gue sosialisasiin acara ini bersama lintang dikelasnya" ucap dian.


"Emang dia buat ulah apa?" tanya kirana.


"Dia sok cari muka sama lintang" ucap dian dengan nada sinisnya.


"Lo anak baru ya?" Tanya kirana menatap wajah tania.


"Dengar yah lintang itu punya dian, jadi lebih baik lo nggak usah dekat - dekat apalagi ikut - ikutan ngejar lintang" ucap kirana mengangkat wajah tania yang masih tak berekspresi. "terserah kalian mau ngomong apa senior yang maha benar" batin tania pasrah dengan yang akan terjadi.


"Loe nggak ikut acara kemarin malam ya?" Tanya dian berusaha memastikan.


"Ikut kak" ucap tania tanpa menoleh.


"Tapi kok gue nggak lihat loe sih?" Tanya resti. "mungkin kemarin lo tutup mata waktu gue duduk sebelah lo, makanya lo nggak lihat atau loe mungkin melek sambil tidur" batin tania mengingat wajah kirana yang duduk di sampingnya di barisan depan semalam.


"Kalian sedang apa?" Tanya lintang yang berasal dari belakang dian dan resti. Saat menyadari keadaannya, tania dengan sigap memakai kembali kaca mata tak berlensanya. "oh ternyata dia si kacamata itu" batin kirana melihat tania yang sudah memakai kaca mata.


"Kita lagi mendisiplinkan peserta" ucap dian dengan senyum ramahnya.


"dasar ular bermuka dua tadi aja ngebentak gue bahas sana sini sekarang jadi sok manis banget suaranya" batin tania menanggapi cara bicara dian.


"Emangnya dia kenapa?" Tanya lintang menunjuk tania dengan dagunya.

__ADS_1


"Dia nggak ikut kegiatan semalam" ucap kirana berbohong mengangkat suara.


"Dia ikut kok kemari, gue sempat lihat dia kemarin" kata lintang yang membuat dian dan kirana mengerutkan keningnya.


"Lo kenapa?" Tanya lintang dengan nada cemas, mendekat ke arah tania lalu berjongkok di depan tania. "Lo sakit ya?" Tanya lintang lagi menempelkan tangannya ke dahi tania mengecek suhu tubuh tania. melihat kejadian didepannya membuat dian mengepal tangannya sedangkan kirana dan lesti kehilangan kata - kata.


lintang memang selalu berbuat baik pada semua orang, selalu peduli dengan orang di dekatnya. dan itu pula yang membuat banyak cewek jadi suka padanya. Sadar akan ekspresi dian, resti dan kirana, tania refleks melepas tangan lintang dari dahinya. "Gue nggak kenapa - kenapa kak" ucap tania menjaga jarak dari lintang. "Badan lo panas banget, trus muka lo juga pucat. Mendingan lo istirahat aja di tenda" ucap lintang. "Sini gue anterin ke tenda" saran lintang mendekat ke tania. "Nggak usah kak. Saya bisa pergi sendiri" ucap tania bergegas berdiri meninggalkan tempat yang mulai terasa panas itu.


Tania mengikuti saran lintang beristirahat di tenda ditemani tika. Mereka di izinkan untuk tidak mengikuti kegiatan hari ini. Sampai dian dan kirana datang menghampiri mereka.


"Lo ngapain di sini?" tanya dian yang di tujukan pada tika. "Temanin tania kak" jawab tika dengan nada ramah. "Emang anak kecil perlu ditemani" kata kirana menyindir. "Udah sana. Ikut kegiatan sama yang lain" suruh dian pada tika. "Tapi kak" ucap tika ingin menolak perintah dian. "Udah kamu pergi aja aku nggak papa kok sendiri di sini" kata tania memegang lengan tika berusaha meyakinkannya.


"Lo yakin nggak papa?" Tanya tika memastika yang dijawab anggukan mantap oleh tania. "Yaudah gue ikut yang lain dulu ya" kata tika bergegas pergi.


"Eh dengar ya gue peringatin sekali lagi loe jauhin lintang" kata dian dengan penuh penekanan sebelum meninggalkan tania. "emangnya gue udah sedekat apa sih sama lintang, sampai di suruh menjauh segala" batin tania menatap punggung dian dan kirana yang perlahan hilang dari pandangannya.


Irfan : tan, gue dengar dari tika lo sakit yah?"


Irfan : lo sakit apa?


Irfan : mau gue anterin pulang nggak?


Tania : gue nggak papa kok, cuman butuh istirahat.


Irfan : oh ok, GWS ya.


Irfan : kalau butuh sesuatu hubungin gue yah

__ADS_1


Tania : iya, nanti gue bilang kalau butuh sesuatu


Irfan : sip, ditunggu perintahnya


"Tan lo nggak di apa - apa in kan sama senior - senior tadi?" Tanya tika setelah kembali ke tenda.


"Emang gue mau di apain sama mereka" ucap tania dengan santai.


"Siapa tahu aja mereka nindas lo" kata tika mencoba menduga.


"Nggak kok, buktinya gue baik - baik aja" ucap tania tersenyum.


"Tahu nggak gue nggak tenang banget ninggalin lo sama mereka tadi" cerca tika. "Huaa makasi udah khawatirin gue, lo emang sahabat ter the best gue" batin tania.


"Siapa pun yang berurusan sama mereka. Udah bisa di pastikan nggak bakalan bertahan lama di sekolah" jelas tika mengingat kejadian - kejadian serta rumor yang beredar di sekolah mereka.


"Kok bisa?" Tanya tania penasaran.


"Karena orang tua dian kan donatur terbesar di sekolah kita, makanya dia punya kuasa buat ngelakuin apa aja" ucap tika.


"jadi gue bisa di pasti in bakal keluar juga dong dari sana" batin tania meratapi nasibnya. "kalau nyari sekolah lain gampang tapi buat ninggalin tika gue nggak mau" batin tania.


"By the way, ada kejadian apa kemarin?" Tanya tika. "Kejadian apa?" Tanya balik tania.


"Kemarin lo tidur duluan, trus sejak tadi lo kayak nggak bertenaga gitu, trus lo murung sejak tadi pagi" pernyataan tika yang sebenarnya ingin dia tanyakan pada tania. Tapi tania nggak ngomong ataupun bicara sama tika sampai dia balik dari pohon rindang sana. itupun wajahnya udah pucat banget. Jadi tika nggak berminat lagi buat nanya.


"Oh itu kemarin gue ngantuk banget jadi tidur duluan, trus bangunnya udah berasa nggak enak badan. Jadi gue cari tempat yang sejuk." Jelas tania berbohong. "Oh kirain lo kenapa - kenapa kemarin" ucap tika menanggapi penjelasan tania.

__ADS_1


__ADS_2