
Semakin kamu berusaha menjauh dari seseorang yang sudah pernah hadir dalam hidupmu. maka semakin dalam rasa yang terbendung daoam benakmu. Meski dirinya hanya datang seperti angin yang menyapa lalu meninggalkan dirimu, dengan kenangan untukmu. percayalah semua usahamu hanya akan membawa dirimu kembali mengingat bahkan mengenang sosoknya lebih dalam.
Lintang tak lagi sering bertemu dengan tania hanya sekedar bertegur sapa saat berpapasan di lingkungan sekolah. Entah karena tania yang selalu menghindari tempat yang biasa lintang gunakan atau memang takdir yang membuat mereka memiliki jarak.
"Ini mbak!" Ucap tania menyodorkan uang untuk membayar minuman yang sudah ia pilih. Tania yang sudah merasa haus dan letih setelah pelajaran olahraga, langsung meminum air mineral tersebut. hingga dia tertegun melihat lintang dan beberapa temannya mendekat ke arahnya.
Dengan sigap tania meninggalkan kantin, tak ingin terlibat obrolan dengan lintang atau siapapun dari teman lintang.
"Ehh nak ini kembaliannya!" Seru penjaga kantin memanggil tania.
"Mungkin dia buru - buru? Yaudah lain kali aja baru dikembaliin" tambah penjaga kantin sambil meletakkan kembali beberapa lembar uang yang diletakkan terpisah dari uang yang lain.
Bruukkk
Saat berjalan di koridor tania tak sengaja menabrak seseorang. Sehingga semua buku - buku yang dibawa orang tersebut berserakan di lantai.
"Sorry sorry gue nggak sengaja" kata tania berjongkok membantu mengumpulkan buku tersebut.
"Sorry banget yah" kata tania lagi mengembalikan buku yang sudah ia kumpulkan.
"Irfan" batin tania menyadari orang yang dia tabrak barusan ialah irfan teman kelasnya. "sekarang apa lagi" batin tania segera bergegas meninggalkan irfan. tidak ingin terlibat dengannya kembali.
"Tan bareng aja ke kelasnya" panggil irfan mengejar langkah tania.
"Darimana tan?" Tanya irfan membuka percakapan setelah mensejajarkan langkahnya. Sedangkan tania hanya menatap aneh ke arah irfan tak ingin menjawab pertanyaan irfan, lalu beralih menatap buku - buku yang dibawa irfan.
"Oh ini tadi setelah dari lapangan langsung ke ruangannya bu indah ambil nih tugas tempo hari" jelas irfan menyadari arah tatapan tania.
Tania hanya menjawab dengan datar penjelasan irfan. dan kemudian tak ada lagi percakapan diantara mereka. Berjalan dalam diam dengan pikiran mereka masing - masing.
__ADS_1
Hingga sampai di ambang pintu kelas.
"tan maafin gue yah" kata irfan yang mampu menghentikan langkah tania.
Tania yang merasa heran dengan ucapan irfan barusan berusaha memperjelas pendengarannya. Namun irfan segera mendahului tania masuk ke kelas dan mengembalikan buku - buku yang dia bawa ke pemiliknya masing - masing.
"Tika gue boleh nanya nggak?" Tanya tania pada tika yang masih sibuk dengan novel ditangannya.
"Hmm tanya apaan" ucap tika tanpa mengalihkan pandangannya dari novel yang ia baca.
"Ada berita apaan sih di sekolah?" Tanya tania. Tika yang ditanya langsung menutup novelnya, memandang tania dengan alis yang bertautan.
"Biasanya lo kan selalu update" tambah tania seolah mengerti maksud tika.
"Hmm kayaknya nggak ada yang terlalu panas buat diomongin sih. Emang kenapa?" jelas tika membuka kembali novelnya.
"Oh itu, gue udah kasih tahu irfan semuanya" ucap tika santai.
"Tentang?" Tanya tania menuntut penjelasan yang detail.
"Yah tentang siapa lo sebenarnya" kata tika masih dengan santai.
"Apaa lo bilang!" kata tania dengan nada meninggi dan berdiri dari duduknya. Yang membuat seisi kelas memandang aneh padanya termasuk tika di sampingnya yang kaget dengan suara tanai.
"Udah tenang dulu tan, gue jelasin" ucap tika dengan suara pelan lalu menarik tania agar kembali terduduk.
flashback on
"Aduh" rintih tika saat dirinya tak sengaja tersandung. Lari sore di taman memang sering di lakukan tika saat dirinya memiliki waktu senggang. Tika yang merasakan sakit pada pergelangan kaki kirinya, Berusaha berdiri. Melangkah perlahan meski sedikit tertatih ke arah tempat duduk yang berjarak tak jauh darinya.
__ADS_1
"Sini gue bantu" ucap irfan menyodorkan tangannya.
Tika yang sedang membutuhkan bantuan tanpa berfikir panjang menyambut tangan irfan. Meski masih kecewa dengan sikap dan tindakan irfan akhir - akhir ini namun tika tetap menurunkan egonya.
Dengan perlahan irfan memapah tubuh tika, mendudukannya dengan perlahan dan memberikan beberapa pijatan ringan. Agar rasa sakitnya dapat berkurang.
"Thank's yah fan" kata tika membuka percakapan.
"Iya. Lain kali hati - hati, pemanasan yang benar dulu" kata irfan dengan suara seraknya mendudukkan diri di samping tika.
"cehh" decak tika menanggapi irfan yang membuat tatapan irfan teralih padanya
"Coba aja kebaikan loe nggak pernah berubah fan" ucap tika menatap wajah irfan.
"Maksudnya?" Tanya irfan yang merasa heran dengan respon tika barusan.
"Iya, Coba aja kebaikan loe tidak memandang siapapun dan tanpa mempedulikan pandangan orang lain" ucap tika yang semakin membuat irfan bingung menanggapinya membuat irfan memutuskan meninggalkan obrolan tersebut.
"Anggelika tania wijaya" kata tika yang membuat langkah irfan terhenti.
"Iya itu nama lengkap tania. Dia tulus berteman dengan kita dan membutuhkan kita dalam menghadapi dunia. Tapi lo malah milih mengikuti yang lain, memberinya penghakiman yang menurut kalian pantas untuk dia dapatkan" kata tika berusaha bangkit dari duduknya berjalan perlahan ke arah irfan kemudian berdiri di sampingnya menatap kosong ke arah yang jauh di sana.
"Dia nggak seperti dengan apa yang kalian bicarakan, gue tahu dia juga salah menutupi identitasnya dari kita. tapi itu semua dia lakukan hanya untuk melayakkan dirinya, apa salah. saat dia berusaha menjadi sama seperti kita. apa selama ini loe nggak bisa lihat kesedihan di matanya yang coba dia sembunyikan dari kita. dia hanya berusaha menutup dunianya. Menutup masa lalunya yang menyakitkan" jelas tika mengusap bulir hangat dari matanya.
"Meski dia nggak pernah cerita ke gue tapi gue cukup paham dengan rasa sakitnya. Dan lo harusnya juga bisa rasain itu. Karena lo pernah jadi temannya, Walau itu hanya sebentar" kata tika yang membuat irfan sedikit tertegun.
"Lo harusnya ada buat orang yang membutuhkan bantuan, bukannya ikut menghakimi tania dengan komentar - komentar pedas kalian" kata tika sebelum meninggalkan irfan yang masih diam mematung.
flashback off
__ADS_1