Alasan Luka Tercipta

Alasan Luka Tercipta
Pendakian III


__ADS_3

"Loe yakin mau ikut?" Tanya tika mengenakan ranselnya.


"Yakin dong, kesini kan buat ikut pendakian" ucap tania memeriksa bawaannya.


"Emang lo udah sehat ?" Tanya tika berdiri di samping tania.


"iya udah istirahat juga kemarin" ucap tania mengenakan ranselnya. "Udah siap semua kan" tambah tania.


"Tapi lo jangan jauh - jauh dari gue yah?" Ucap tika.


"Siap big bos" ucap tania menirukan gaya hormat.


Sebelum pandakian di mulai, semua peserta di arahkan untuk berkumpul untuk berdoa bersama serta guna menghindari hal - hal yang akan membahayakan. Seperti hilang dari rombongan. maka kembali diperjelas rutenya beserta beberapa nasihat dari panitia.


Awal pendakian masih aman, masih pada semangat. Tapi makin lama makin berkurang juga peserta pendaki. Banyak yang lebih milih berteduh di pos - pos yang udah disiapkan dengan alasan udara yang semakin memanas yang membuat tenaga semakin berkurang.


"Eh tan, loe kok kayak familiar banget sama tempat ini" tanya tika memperhatikan setiap gerak tania.


"Iya kan udah pernah juga ke sini" ucap tania tersenyum, namun akhirnya dia sesali perkataannya barusan.


"Jadi loe udah pernah ke sini?" Tanya tika lagi yang berjalan di depan tania.


"Iya, Tapi itu udah lama" ucap tania dengan otaknya kembali berputar mengingat kejadian bersama briant dan diana dan beberapa temannua. Karena terlalu berlarut dalam angannya, Tania hampir terpeleset jika tidak di tahan dari belakang.


"Kamu nggak papa?" Tanya lintang yang menahan tubuh tania.


"Eh, iya nggak papa kak" ucap tania Berusaha menguasai diri serta berdiri dengan baik.

__ADS_1


"tetap fokus sama jalannya, jalan disini memang agak licin" nasehat lintang. Dian yang selalu mengekori lintang selama pendakian semakin tidak menyukai kehadiran tania. "Hmmm" deheman dian membuat tania kembali berjalan.


"Ciyee di tolongin" goda tika pada tania dengan setengah berbisik.


"Apa sih tika" ucap tania memutar bola matanya.


"Kak lintang baik banget yah?" Ucap tika memuji lintang.


"Udah jangan omongin dia, loe nggak lihat apa pawangnya lirik kita terus?"


"biarin kan kita juga nggak ngelakuin hal yang berlebihan" ucap tika tersenyum


"tika, besok temanin gue cari sekolah baru yuk" gurau tania menghentikan langkahnya.


"nggak... hehehe iya nggak bahas mereke lagi" kekeh tika kembali mendorong pelan punggung tania.


"kalian kuat juga yah?" Tanya irfan menghampiri tania dan tika.


"Eh iya... benar banget" ucap tania tersenyum mengerti maksud tika.


"Memang penyemangatnya apaan?" Tanya irfan mengerutkan keningnya.


"Senyum kamu misalnya hahaha" kata tika dengan nada bercanda. Tapi tania tahu pasti itu benar adanya bagi tika. Bukan hanya sekedar gurauan. "ganjen, kemarin aja ceritanya lain. Sekarang senyumnya manis benar" batin tania ikut tertawa.


"Manis" ucap irfan pelan tapi masih mampu di dengar tika.


"Apaan fan?" Tanya tika memastikan pendengarannya.

__ADS_1


"Eh ehmm. Oh ini rasanya manis, mau?" Ucap irfan agak grogi.


"Buat aku" ucap tika menunjuk dirinya dengan haru.


"Buat kita" ucap tania mengambil 2 kotak susu ultra milk coklat lalu memberikannya satu pada tika.


"Makasih ya fan" ucap tania tersenyum manis. "Hehehe iya sama - sama. Gue gabung sama yang lain dulu ya" ucap irfan yang dijawab anggukan tania dan tika.


Tania hanya bisa geleng - geleng melihat tingkah temannya. Yang terus saja menatap kotak susu tersebut dengan senyumnya. "Kalau jalan itu, lihat jalan. Ntar jatuh baru tahu rasa lo" ucap tania.


"Ahh lo mah nggak bisa lihat teman bahagia" ucap tika menoleh sebentar pada tania. "Terserah lo deh" ucap tania berjalan mendahului tika. "Auhh..." rintih tika, membuat tania langsung berbalik begitupun dengan beberapa teman mereka yang berjalan didekat mereka.


"Hahaha, dibilangin ngeyel sih" ucap tania mendekat ke arah tika.


"Bantuin" ucap tika menjulurkan tangannya. "Yaudah sini" ucap tania menarik tangan tika untuk berdiri.


"Ada yang sakit nggak dek?" Ucap lintang mendekat ke arah tika.


"Kayaknya kaki gue keseleo deh" ucap tika yang sudah di papah tania. "Sini gue cek dulu ya" ucap lintang berjongkok memeriksa pergelangan kaki tika.


"Sepertinya nggak parah tapi kalau masih mau lanjutin mendaki kayaknya bahaya dek, lo masih bisa jalan bentar lagi nggak?" Tanya lintang berdiri. "Sampe pos berikutnya, soalnya pos sebelumnya udah jauh" tambah lintang yang dijawab anggukan kecil tika.


"Lo benaran masih bisa jalan kan?" Tanya tania mulai merasa cemas.


"Masih bisa tan, segitu khawatirnya sama gue, tapi gue nggak papa kok" ucap tika terharu.


"Siapa yang kawatirin lo?" Ketus tania. "Gue khawatir sama diri gue sendiri. puncak masih jauh ditambah loe yang berat banget" ucap tania tertawa merasa puas mengerjai temannya. Yang ikut membuat lintang tersenyum simpul dengan gurauan kedua sahabat itu.

__ADS_1


saat sampai di pos yang dimaksud lintang, tania ingin menemani tika menunggu di pos tersebut, tapi tika memaksa tania agar tetap berjuang sampai puncak nanti. Untuk membuktikan pada rena, Lagi pula di sana masih ada panitia yang menjaga pos tersebut. Meski begitu tania masih ragu untuk meninggalkan tika sampai irfan yang menawarkan diri untuk menemani tika. Barulah tania mau meninggalkan tika disana.


Tak terasa puncak masih menyambut mereka dengan cuaca yang mendukung dan waktunya bertepatan dengan tenggelamnya matahari. Sehingga banyak yang mengabadikannya lewat selfi ria. Namun berbeda dengan tania yang lebih memilih mendudukkan diri di sebuah batang pohon yang sudah rapuh. Kembali merenung dengan menatap sang surya yang mulai menenggelamkan dirinya. Tania mengambil pemberian irfan tadi meminum beberapa tegukan, Lalu mengambil sebuah foto yang hanya menampilkan sepatu yang dia kenakan dengan kotak susu tersebut. foto yang diperindah oleh cahaya dari sang surya. Tania kemudian mengupload foto tersebut di sosial media yang sudah lama dinonaktifkan sementara olehnya. Dengan caption masih di tempat yang sama, dengan perasaan yang berbeda. "aku kembali di sini. Tempat kita pernah tertawa bersama. Tapi kan kuyakinkan dunia. bahwa aku mampu berdiri tanpa kalian. Meski nafas ini terasa sangat menyiksa menghadapi dunia yang selalu membawa kalian kembali dalam ingatanku" batin tania, tanpa dia sadari seorang sedang menatapnya dengan rasa kasihan akan keadaannya. ingin menghampiri walau hanya untuk mengajaknya begabung dengan yang lain tertawa ria dan saling memberi ucapan selamat. namun, enggan dia lakukan


__ADS_2