Alasan Luka Tercipta

Alasan Luka Tercipta
Pernikahan Nanda


__ADS_3

"Wah loe cantik amat tan" ucap tika kagum pada penampilan tania yang mengenakan gaun dengan model kebaya yang sudah dimodifikasi modern sehingga terkesan lebih glamour. Ditambbah dengan sayap gaun yang terjuntai di sertai dengan taburan bling bling warna warni


"Apaan sih tika, jangan natap gue kayak gitu" kata tania memalingkan wajahnya merasa risih dengan tatapan tika. Sebenarnya tania juga kurang nyaman memakai pakaian pemberian herman tersebut. Pasalnya tania lebih sering menggunakan celana jeans yang dipadukan dengan kaos. Beda banget dengan pakaian tersebut yang feminim banget di tambah dengan aksesoris yang mungkin akan mengundang perhatian banyak orang. Atau mungkin orang akan sulit membedakan dirinya dengan pengantin wanita nantinya.


"Sumpah loe beda banget" tambah tika kembali


"Gara - gara papi nih" ucap tania yang mulai menyalahkan pemberian herman tersebut


"Loe punya baju lain nggak?" Tanya tania yang memiliki ukuran tubuh yang beda tipis dengan tika


"Kalau baju, gue punya banyak. Tapi kalau nanti papi loe marah gimana?" Tanya tika yang juga merasa khawatir dengan perasaan herman yang mungkin akan kecewa bila tahu tania tak menggunakan pakaian yang sudaah dia pesan secara khusus.


"Udah loe tenang aja. Nanti gue yang jelasin ke papi" kata tania yang tersenyum karena sudah menemukan cara yang akan menyelamatkan dirinya untuk saat ini.


"Terserah loe deh. Cari aja di lemari" kata tika berlalu meninggalkan tania di kamarnya sendirian.


Setelah memilah pakaian - pakaian yang ada di lemari baju tika. Pilihan tania jatuh pada baju sabrina dress selutut berwarna navi dengan v neck, yang di perindah dengan ranpel pada bagian roknya serta pita pada pinggang bagian kiri.


"Tika ayo berangkat" kata tania keluar dari kamar tika


"Loe yakin mau pake baju ini?" Tanya tika memastikan


"Yakin kok" kata tania tersenyum


 


"Gimana, lintang udah hubungin loe belum?" Tanya tika yang duduk di samping tania pada jok belakang mobil


"Dia masih dingin gitu" kata tania tanpa menoleh dari ponselnya.


"Saran gue nih, mending loe secepatnya deh tuh hubungin dia. Kalau perlu loe ajak dia ketemuan" saran tika


"Iya, iya. Besok gue ajak dia ketemu. Kalau perlu 4 mata gue ketemu dia" tegas tania. Sebenarnya tania juga sudah mulai nggak nyaman dengan hubungannya.


"Non ini bentar lagi nyampe" kata pak dadang membuka suara yang sedari tadi hanya diam.


"Nah itu rumahnya" kata pak dadang membelokkan setir mobil


"Wah akhirnya nyampe juga" seru tika yang keluar lebih dulu dari dalam mobil


"Ayo non, masuk" kata pak dadang yang berjalan memimpin tania dan tika memasuki pekarangan rumah yang sudah di hias dengan bunga - bunga plastik berwarna putih.


 


"nanda gimana?" sapa pak dadang pada nanda yang sudah duduk di pelaminan dengan menautkan kedua tangannya di depan bibirnya.


"Eh pak dadang" kata nanda berdiri menyambut kami.


"Selamat yah nak. Semoga langgeng sampe kakek nenek" ucap pak dadang menyalami nanda


"Amin, makasih doanya" jawab nanda tersenyum


"Selamat yah kak, semoga semua dilancarkan sama cepat dapat momongan" kata tika menyalami nanda.


"Iya. Amin dek" kata nanda menjawab


"Selamat yah kak. Semoga keluarga kakak di berkati tuhan" kini giliran tania yang menyalami nanda


"Amin makasih doanya dek" kata nanda tersenyum.


"Kak, mbak dewi-nya kemana?" Tanya tika yang masih berdiri bersama tania di atas pelaminan sedangkan pak dadang sudah turun lebih dahulu dan bergabung dengan para tamu undangan yang lain


"Tahu nih dek. Masih dikamar rias dia" kata nanda yang sudah kelihatan cemas


"Oh kalau gitu, kami periksa dulu kedalam yah kak" inisiatif tania yang hanya di jawab anggukan oleh nanda.

__ADS_1


"Udah kakak tenang aja di sini" kata tika menepuk pelan bahu nanda sebelum berlalu meninggalkannya


 


Tok tok tok


"Iya, kenapa?" Tanya seorang ibu yang membuka pintu untuk tania dan tika namun tetap berdiri di ambang pintu menghalangi jalan masuk. Dengan papan nama bertuliskan fira


"Hai tante, kami temannya nanda. Boleh kami masuk" kata tika yang berdiri lebih dekat dari pintu


"Aduh maaf yah dek. Nggak boleh sembarang orang yang masuk" ucap fira kembali


"Tapi kami cuman mau mastiin bu" kata tania yang sudah mendongakkan kepalanya agar bisa melihat keadaan di dalam ruangan tersebut.


"Lebih baik kalian gabung saja sama tamu yang lain yah dek" ucap fira buru - buru menutup kembali pintu tersebut.


"Yaudah deh mungkin di dalam lagi sibuk - sibuknya" ucap tika menarik pergelangan tangan tania


 


"Gimana dek?" Tanya nanda saat dihampiri tania dan tika


"Nggak tahu kak, kita nggak di izinin masuk" kata tika duduk di samping nanda di ikuti tania yang duduk di samping tika


"Kak deg - degan nggak?" Tanya tika menatap nanda yang sedari tadi memainkan gelang dan jam tangannya


"Jangan di tanya lagi dek" kata nanda menatap tika sekilas.


"Gimana tadi akadnya?" Tanya tania


"Berjalan lancar dek. Meski tadi sempat ngulang satu kali saking gemetarnya" kata nanda bercerita


"Maaf yah kak kita lambat datangnya" kata tika


"Habisnya tadi harus nunggu tania ganti baju. Jadi agak lama berangkatnya" tambah tika kembali


"Kak selfi bareng yuk" kata tika yang sudah menggenggam ponselnya


"Boleh" ucap nanda tersenyum


"Kakak yang foto in dong" kata tika kembali memberikan ponselnya pada nanda


"Yaudah sini dek" kata nanda meraih ponsel tersebut dan mencari posisi yang bagus


"Ok, 1 2 3" kata nanda memberi aba - aba


"Yang banyak dong kak" kata tika yang membuat nanda kembali menaikkan tangannya ke udara lalu kembali mengambil beberapa foto kembali.


Keseruan mereka terhenti saat seorang perempuan mudah naik ke pelaminan dan membisikkan sesuatu ke telingan nanda.


"Kenapa kak?" Tanya tania yang ikut panik melihat perubahan ekspresi nanda


"Gue tinggal dulu yah. Kalian makan aja dulu" kata nanda yang buru - buru meninggalkan pelaminan


"Ini kenapa tan?" Tanya tika yang menatap punggung nanda perlahan menghilang di sudut ruangan


"Apa jangan - jangan mbak dewi pingsang" tebak tania


"Apa an sih tan. Pikiran jangan asal - asal gitu dong bikin gue jadi ikut panik aja" kata tika menanggapi


"Seriusan tika. Apalagi akhir - akhir ini kan nanda sama mbak dewi sibuk banget nyiapin nih acara" jelas tania yang mendapat anggukan kecil dari tika.


"Kita nyusul nanda yuk" ajak tika yang langsung beranjak berdiri


"Tunggu" kata tania menghentikan langkahnya lalu mengambil amplop berwarna cokelat yang di titipkan sonia sebelum tania berangkat dari rumah. kemudian memasukkan benda tersebut kedalam kotak yang sudah di hias dengan indah sebelum berlalu dari pelaminan.

__ADS_1


 


Tok tok tok


Untuk kedua kalinya tania dan tika mengetuk pintu kamar tersebut namun kali ini tania yang berdiri lebih dekat dengan pintu.


"Kenapa kak?" Tanya tika mendahului tania saat nanda membuka pintu


"Nggak papa dek. Cuman ada sedikit masalah aja sama gaun" kata nanda berusaha tersenyum.


"Boleh kita masuk nggak kak?" Kata tania meminta


"Boleh dek. Masuk aja" kata nanda membuka lebar - lebar pintu tersebut agar tania dan tika bisa masuk


"Kenapa mbak?" Tanya tania mendekati mbak dewi dan fira yang tak mengizinkan tania dan tika masuk ke ruangan tadi yang terlihat sedang sibuk membersihkan gaun berwarna putih tersebut dengan tissu


"Ini dek tadi nggak sengaja kena tumpahan minum mbak" kata dewi menjawab yang terdengar gemetaran


"Astaga terus ini gimana?" Tanya tika mengambil beberapa tissu serta ikut membantu membersihkan gaun tersebut


"Ini kok makin di lap maki kemana - mana sih" keluh tika


"Coba pake hairdryer" usul tania


"Nggak boleh dek. Nanti bahan gaunnya bisa rusak" ucap dewi menatap kesibukan tersebut


"Kita harus cari jalan lain" kata tika pasrah beranjak berdiri


"Tan, baju yang loe pake tadi. Loe bawa nggak?" Tanya tika yang sudah menemukan solusinya


"Iya ada di mobil" kata tania, lalu mengambil ponselnya dan menghubungi nomor pak dadang


"Hallo pak, bisa tolong ambilkan tote bag di atas mobil. Ntar antar aja ke ruang rias pengantin" pinta tania


 


Tok tok tok


"Tunggu" kata tania berjalan ke arah pintu


"Ini non" ucap pak dadang memberikan tote bag tersebut


"Makasih pak" kata tania buru - buru kembali ke dalam ruangan


"Nih kak, mungkin bisa pake ini aja" kata tania mengeluarkan gaun yang sempat dia gunakan sebelumnya.


"Iya pake ini saja nak" kata perempuan yang bisa di tebak ibu dari dewi.


"Yaudah aku ganti dulu gaunnya" kata dewi berjalan ke arah kamar mandi di bantu MUA


Semua yang berada di ruangan tersebut hanya menunggu dengan diliputi rasa cemas.


Ceklek


Suara pintu kamar mandi yang membuyarkan semua lamunan dan mengalihkan setiap pandangan ke arah orang yang berjalan keluar dari sana.


"Gimana?" Kata dewi meminta pendapat yang lain.


"Wah pas banget" ucap tania


"Mungkin bagian pinggangnya bisa kita kencangkan dikit" usul tika yang mendapat tatapan setiap orang di sana


"Iya pake peniti aja" kata fira yang mendekat ke arah dewi dan memperbaiki gaun tersebut hingga kini gaun itu cukup pas di kenakan oleh dewi.


"Makasih yah nak" ucap ibu dewi memeluk tika dan tania bergantian

__ADS_1


"Iya bu sama - sama" kata tika tersenyum puas


Dan acara pun kembali di lanjutkan.


__ADS_2