Alasan Luka Tercipta

Alasan Luka Tercipta
Rasa sesak


__ADS_3

Tok tok tok


"nona, nyonya menunggu anda di bawah" ucap bi sharon dengan lembut setelah mengetok pintu memanggil tania yang sedang asik dengan rubik kubus di tangannya.


Hanya dengan memutar - mutar benda tersebut dapat mengalihkan perhatiannya dari banyak hal.


Terutama dari film kartun yang selalu menemani waktu sepinya. Benda yang dia beli saat pergi dengan tika.


"Ada apa bi? Tumben mami manggil? kapan mami pulang?" Tanya tania membuka pintu kamarnya.


"Bibi juga nggak tahu nona, mungkin nona bisa turun sekarang untuk tahu hal tersebut" jawab bi sharon masih setia menunggu tania beranjak


"Trus papi juga udah di bawah?" Tanya tania kembali masih memutar acak rubik tersebut


"Belum non, tuan masih belum kembali" jawab bi saron.


"Yaudah bi" ucap tania kembali memainkan rubiknya melangkah keluar dari kamarnya mengikuti bi sharon dari belakang.


"Ada apa mi" ucap tania memasukkan rubiknya kedalam saku switer yang dia kenakan, Menggeser kursi untuk ia duduki.


"Mami sudah pernah memperingatimu, Agar kau tak membawa keluarga ini dalam masalah bukan?" ucap sonia dengan penuh penekanan. menandakan keseriusannya dalam setiap katanya.


"Maksud mami apa?" Tanya tania yang tak mengerti arah pembicaraan sonia.

__ADS_1


"Siapa yang memberi mu izin untuk ikut lomba" tanya sonia dengan nada meninggi. Tania hanya diam membisu menyadari bahwa dirinya mengikuti lomba tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya.


"Siapa tania?" bentak sonia yang membuat tania terperanjak kaget.


"Maaf mi, tapi aku dapat juara kok" ucap tania melemah, berusaha membela diri


"Justru dengan itu teman - teman mami pada curiga sama tempat kamu bersekolah sekarang" jelas sonia dengan suara yang masih meninggi.


"Please, tania jangan buat mami malu. Apa kata teman - teman mami di luaran sana. bagaimana nanti pendapat mereka pada mami sebagai orang tua kamu" ucap sonia denga suara yang sedikit melemah.


"Aku kira dengan ini mami akan bangga tapi ternyata nggak yah?" ucap tania dengan senyum tipisnya. rasa sesak kembali merasuki tania. rasa yang kurang nyaman


"Bangga?" Ucap sonia berdiri dari duduknya. "Mami bangga kamu bilang" kata sonia menunjuk dirinya. Membuat tania mengangkat wajahnya yang sedari tadi tertunduk.


"Nggak tania, hal ini justru hampir merusak reputasi mami" kata sonia.


"Kalau kamu tahu hal itu harusnya kamu cukup diam. Nggak perlu lakuin apapun" kata sonia dengan nada sinisnya.


"baiklah, aku ngerti. sekali lagi maafin tania yang hampir merusak citra mami" kata tania memberanikan diri ikut berdiri menundukkan kepalanya menyembunyikan perasaanya.


"Mi, aku ini anakmu. bolehkah sedikit saja peduli kepadaku, dengan sedikit menghiraukan pandangan orang lain terlebih pendapat teman - teman mami" ucap tania yang kembali melemah.


tak mendapat respon apapun dari sonia semakin membuat kacau perasaan Tania.

__ADS_1


"maaf sudah meminta hal yang tak mungkin" ucap tania sebelum berlalu meninggalkan sonia yang diam tak bergeming. Berlari keluar dari rumah dengan air mata yang sudah mulai menetes. meski sonia memanggilnya namun teriakan sonia tak digubris oleh tania yang terus melanjutkan langkahnya.


Saat berlari melewati gerbang tania sempat berpapasan dengan mobil yang membawa mahendra memasuki pekarangan rumah. Namun hendra tak menyadarinya, dia terlalu sibuk menunduk menatap note book di tangannya memeriksa setiap berkas yang dikirimkan sekertarisnya. sedangkan tania dengan perasaannya yang kacau tak lagi mempedulikan hal itu.


Tania terus berlari berharap rasa sesak di dadanya bisa sedikit berkurang, tak peduli pandangan orang yang menatapnya dengan tatapan aneh. Hanya terus berlari sekuat tenaga mengikuti kemanapun kaki mampu melangkah.


Hingga langkahnya terhenti di sebuah danau yang berada di tengah taman kota. danua Yang mendapat penerangan dari beberapa lampu jalan sekitar. Tania jatuh tersungkur saat tak sanggup lagi untuk terus berlari. masih dengan tangisnya yang semakin terluapkan, dengan sesenggukan kian lama makin terdengar pilu isakannya itu.


"Arhhh" teriak tania berusaha bersuara. teriakan yang hanya dijawab pantulan suaranya dari danau.


"Kenapa... kenapa.. semua hanya sia - sia" teriak tania kembali mengeluarkan keluhnya


"Hanya buat banggain kalian tapi ternyata nggak berguna juga" ucap tania mengeluh dengan suara pelannya


"Gue juga capek. Capek mi" kata tania mengadukan perasaannya.


"Apa nggak ada lagi tujuan hidupku Tuhan" ucap tania menatap kosong jauh ke depan merasa putus asa dengan reaksi sonia dengan usahanya.


Setelah merasa cukup puas menangis dan mengeluhkan hidupnya. Tania berdiri dari duduknya berjalan gontai ke arah danau. Mengusap kasar air mata yang masih terus mengalir tanpa persetujuannya. Ucapan sonia masih sangat terngiang - ngiang dalam ingatannya. bahkan bayangan mahendra mungkin akan jauh lebih menyeramkan untuk tania. Semua usahanya untuk memenangkan lomba ternyata tidak bisa membuat sonia merasa bangga. Rasa kecewa yang mendalam hingga nafas pun tersenggak di dada.


"Gue emang nggak ada gunanya. Semua nggak ada artinya sekarang" ucap tania dengan tersenyum pahit


Byuuurrr suara tubuh yang berbenturan dengan air danua. tubuh tania yang terhempas ke dalam danau semakin tenggelam jauh ke dalam tak membutuhkan waktu lama untuk menghilang dari permukaan air danau.

__ADS_1


Meski sedikit penyesalan terbesit yang muncul dalam benak tania. Terutama saat ingatannya tentang tika dan ucapannya bahwa dirinya akan baik - baik saja dengan masa lalunya.


Tapi semua sudah terlambat meskipun dia berusaha berenang ke tepian namun air danau yang terlalu dingin membuat kaki tania kram. hingga Tania yang sudah mulai kehilangan kesadaran merasakan tangan yang meraih tangannya, menarik tubuhnya kembali ke permukaana. Bayangan briand tiba - tiba muncul dalam benak tania, tersenyum ke arah tania. Senyum yang damai namun air matanya pun ikut meluruh.


__ADS_2