
Rasa suntuk semakin melanda tania yang hanya duduk selonjoran di samping tempat tidurnya. Berulang kali mengusir sepinya dengan mengganti chanel tv berkali - kali.
Tekan, tekan dan tekan hanya itu yang dilakukan tania untuk mengusir sepi yang melanda dirinya.
Dengan malas tania mengambil benda pipih yang tergeletak di atas tempat tidurnya. Menekan tombol panggil. Agar terhubung dengan nomor yang sering dia hubungi. Iya nomor ponsel tika yang tertera pada layar ponsel tania.
"Lama amat angkatnya" ucap tania kesal setelah berhasil tersambung.
"Hallo. nak tania yah, ini ibu nak" ucap seorang perempuan dari sebrang sana. "Siang tante. maaf tante tadi saya kira tika yang angkat, Tikanya kemana tan?" Tanya tania dengan nada canggungnya setelah menyadari bukan tika yang menjawab panggilannya.
"Siang juga nak, tikanya lagi di kamar mandi. Mungkin nggak kedengaran. jadi tante yang angkat" jelas mamanya tika dengan nada lembut.
"Oh gitu yah tante. Entar baru saya hubungi lagi tikanya. Makasih tante" ucap tania meminta izin untuk memutuskan sambungan.
"Baiklah nak, nanti tante bilangin tika" kata mamanya tika menutup panggilan tersebut.
Setelah melempar kembali ponsel ke atas tempat tidur tania kembali menekan tombol pada remot tv. Untuk mengusir rasa suntuk yang kembali menyerangnya.
Hingga ponselnya berdering yang membuyarkan rasa kantuk yang mulai menghampirinya.
"Hallo tan ada apa?. Tumben lo nelfon gue duluan" ucap sang penelpon yang bisa dipastikan orangnya yang sudah tania tunggu dari tadi.
"Hang out bareng yuk" ajak tania dengan nada malasnya langsung ke inti pembicaraan.
"Demi apa lo ngajakin gue" kata tika tak percaya dengan sikap tania.
"Nggak mau yah" ucap tania memelas .
"Eitt tunggu. Gue nggak bilang NGGAK MAU" kata tika.
"Jadi lo mau kan. 10 menit lagi gue jemput" ucap tania penuh antusias.
"Buru - buru amat. 30 menit lagi oke. Gue siap - siap sekarang. Bye" ucap tika dengan semangat.
__ADS_1
"Sip, see you" kata tania memutuskan panggilan tersebut dan lansung bergegas untuk bersiap.
Setelah sampai di rumah tika, tania segera menemui orang tua tika untuk meminta izin. beruntung kedua orang tua tika nggak terlalu ribet jadi gampang ngomong sama mereka. mereka hanya berpesan agar tika pulang sebelum malam. Katanya sih biar masih punya waktu buat belajar malam nanti dan biar besok nggak telat sekolahnya. Emang orang tua tika paling the best dah. Paling paham.
Tania memilih memakai jeans hitam yang dipasangkan dengan kaos abu dan sepatu sneekers putih. Sedangkan tika memilih rok jeans biru selutut dengan baju biru berlengan panjang dan sepatu sneekers abu. Karena tania ingin lebih menggunakan waktunya dengan tika maka tania memilih membawa mobil sendiri tanpa sopir yang mengantar.
"Kita mau kemana sih tan?" Tanya tika sambil memasang seat belt memastikan tujuan mereka
"Enaknya kemana yah?" Tanya balik tania menyalakan mesin mobilnya.
"Yahh, gue kirain tempatnya udah pasti" ujar tika menatap wajah tania yang sudah memasang senyum polosnya.
"Gimana kalau kita ke mall yang baru dibuka bulan lalu" usul tania mengingat tampat yang akhir - akhir ini sering muncul dalam pemberitaan media massa
"Iya boleh banget" ucap tika penuh kegirangan.
"Dengar - dengar di sana udah lengkap loh. Ada toko bukunya, time zone, kafe, trus pusat perbelanjaannya udah lengkap pokoknya" jelas tika dengan antusias membayangkan kemegahan tempat yang akan mereka datangi.
"Wah asik dong, gue pengen cobain masuk toko bukunya nanti" kata tania masih fokus dengan jalan.
"Gimana kalau kita mulai dari lantai dasar" usul tania yang dijawab anggukan kecil tika.
Saat hendak masuk ke toko buku tania, melihat interaksi beberapa orang yang dia kenal. Mereka terlihat bahagia saling membagi canda dan tawa bersama. Entah mengapa muncul rasa aneh dalam dada tania . rasa yang bahkan mampu membuat udara disekeliling tania terasa memanas.
"Tika kita ke toko aksesoris aja yuk" kata tania menarik pergelangan tika pergi dari tempat tersebut. tak ingin berlama - lama di sana
"Kenapa tan bukannya mau cari buku?" Tanya tika yang hanya pasrah mengikuti langkah tania.
"Nggak jadi. Ntar aja cari bukunya" ucap tania dengan senyum tipisnya.
"Tan ini lucu deh" kata tika menunjuk gantungan yang berbentuk boneka kelinci mini.
"Ihh iya lucu banget" kata tania ikut mengambil boneka kelinci tersebut.
__ADS_1
"Ambil deh biar kita couple" ucap tania mengambil sepasang.
merasa belum puas hanya dengan gantungan kunci mereka melanjutkan langkah mereka mencari sesuatu yang menarik perhatian mereka, membeli dan melanjutkan langkah mereka. Hingga mereka puas menjelajahi gedung mewah tersebut.
"Tika pulang yuk" ajak tania menenteng beberapa paper bag.
"Yah kok pulang sih. Kan masih asik" ucap tika memelas tak ingin segera beranjak meninggalkan tempat itu
"Udah sore banget tahu tika. Ntar gue di marahin bokap lo. Gue kan dikasih izin dengan syarat nggak pulang malam" jelas tania menatap tika.
"Iya deh balik. Tapi lain kali kesini lagi kan" kata tika menuntut persetujuan.
"Iya, lain kali kalau ada waktu. kita ke sini lagi, kalau perlu main di time zone sampai puas" kata tania sambil mengelus puncak kepala tika dengan lembut.
Saat mereka melewati sebuah kafe dekat dengan jalan keluar. tania kembali melihat dua orang yang sedang menikmati makanan mereka. Meski nggak ada yang kelihatan spesial dari interaksi mereka. Namun dari cara mereka membagi cerita masing - masing, Mereka kelihatan sangat dekat. Tika yang menyadari arah tatapan tania dan langkah tania yang terhenti. tika ikut berhenti mencari arah pandangan tania.
"Mereka serasi banget yah" ucap tika menyadarkan tania.
"Kak lintang anaknya baik ganteng lagi trus kak dian juga cantik dari keluarga yang berada pula" kata tika dengan senyumnya yang mengerti suasana hati sahabatnya itu.
"Iya" ucap tania dengan ekspresi yang tak bisa diprediksi.
"Tapi loe nggak papa kan?" Tanya berusaha memastikan tebakannya.
"Gue" tunjuk tania pada dirinya sendiri yang dijawab anggukan kecil tika.
"emang gue mau ngapain coba?" ucap tania lagi dengan senyum tipisnya.
"yah siapa tahu aja loe ada perasaan gitu sama kak lintang. kan kemarin kalian sempat dekat gitu" jelas tika mengingat masa - masa persiapan lomba
"nggak lah tika, kemarin kan cuman sekedar belajar bareng. nggak lebih dari itu" tambah tania tersenyum simpul
"Samperin yuk" ajak tika yang sudah mengenggam pergelangan tania.
__ADS_1
"Sepertinya nggak usah deh tika. Lain kali saja" tolak tania.
"Ntar bokap sama nyokap lo khawatir lagi" tambah tania balik memegang tangan tika. "Yaudah deh. Ayo pulang" ucap tika dengan pasrah