Alasan Luka Tercipta

Alasan Luka Tercipta
Sad


__ADS_3

"Nih minum" ujar lintang memberikan botol air mineral pada tania.


"Mau sampai kapan loe duduk di sini?" Tanya lintang mendudukkan diri di samping tania. "Loe niat pulang nggak sih" ucap lintang yang sedari tadi tak digubris tania.


"Kalau loe mau pulang. Pulang aja sana. Gue juga nggak nyuruh loe nemanin gue" bentak tania merasa risih dengan lintang yang kekeh menyuruhnya pulang.


"Ok gue akan pulang. Lagian kalau bukan karena bunda yang nyuruh. Gue nggak bakalan ada di sini" ketus lintang berdiri dari duduknya.


"Pulang sana. Anak bunda" ucap tania.


"Wah kelewatan banget lo. Untung gue masih mau bantuin loe kemarin. Coba kalau gue biarin loe di danau kemarin. Harusnya lo makasih sama gue"  ucap lintang sambil menarik kasar jaketnya dari sandaran kursi taman tersebut.


"Pergi sana. Tinggalin gue kayak yang lain" teriak tania sebelum punggung lintang benar - benar menghilang dari pandangannya.


"Dasar cewek aneh. Udah ditolongin juga. Malah ngegas gitu ngomongnya" gerutuh lintang memasasang helmnya. Sebelum melajukan motornya meninggalkan taman kecil itu.


Saat sedang melajukan kendaraannya dengan perasaan yang geram. Lintang tiba - tiba menghentikan kendaraannya di pinggir jalan agar bisa sedikit meredakan rasa amarahnya.


"Cewek loe memang aneh. Apa ini saatnya gue bawa dia. Biar gue bisa bebas sepenuhnya dari loe ataupun dia" ucap lintang memandang liontin yang ia pasang di kunci motornya. Setelah terdiam cukup lama akhirnya lintang memutar balik kendaraannya. Kembali ke taman tempat dia meninggalkan tania.


"Loe masih disini juga?" Tanya lintang menatap tania dari belakang.


"Udah puas loe sendirinya. Sekarang loe ikut gue" ucap lintang menarik pergelangan tangan tania.

__ADS_1


"Loe mau bawa gue kemana?" Tanya tania berusaha melepas genggaman lintang.


"Lepas, Lepas in lintang sakit tahu" rengek tania masih berusaha melepaskan tangannya. "Lintang lepas in atau gue teriak" ancam tania yang merasakan sakit pada pergelangannya.


"Lo mau ikut. apa gue hubungi sopir loe biar dia yang datang jemput loe" kata lintang berhenti sekejap.


"Coba aja kalau loe bisa?" Tantang tania.


"oh ok, Apa loe mau pak hendra langsung yang jemput loe" bentak lintang yang langsung membuat tania terdiam dan hanya bisa mengikuti arah langkah lintang.


"Nih pake" ucap lintang menyerahkan helm. namun, tania hanya diam memandangi benda tersebut tak bergeming sedikitpun. hingga akhirnya lintang yang memasangkan paksa benda tersebut. Tak ingin mengulur waktu lebih lama lagi.


"Naik cepat" perintah lintang yang langsung dituruti tania.


"Loe mau ngapain bawa gue ke sini?" Tanya tania dengan penuh keheranan.


"Kenapa? loe takut gue kubur hidup - hidup. Kemarin saja loe pengen cepat mati!" Kata lintang yang seakan bisa membaca arah fikiran tania.


"Udah ayo masuk" ajak lintang. Sedangkan tania menelan ludahnya membayangkan kejadian yang dikatakan lintang barusan.


"Ayo, lama amat jalannya nona muda" kata lintang menarik kembali pergelangan tangan tania.


"Mana sih. Perasaan tempatnya dekat - dekat sini?" Tanya lintang pada dirinya sendiri mencari -cari sesuatu.

__ADS_1


"Nah itu dia" ucap lintang setelah cukup lama mengedarkan pandangannya.


"Nggak, ini pasti nggak mungkin" kata tania menggelengkan kepalanya dan merosot terduduk di tanah. seakan menolak menerima kenyataan yang ada di depannya. membuat lintang merasa iba dengan yang terjadi dan mulai membuka suaranya. lintang mulai menceritakan semua yang ingin dia sampaikan.


"Loe yang tabah yah! gue tahu ini berat buat loe. Tapi inilah kenyataan sekarang" ucap lintang menepuk pelan bahu tania yang sudah mulai meneteskan air matanya.


"Apa belum cukup loe ninggalin gue waktu itu. Kenapa loe pergi dengan cara seperti ini? Kenapa loe ninggalin gue selamanya?" Ucap tania dengan tangisnya yang pecah sambil terduduk di samping batu nisan yang bertuliskan nama Briant.


"Gue tahu ini berat buat loe makanya gue nunggu waktu yang tepat agar loe bisa siap nerima kenyataan ini. Tapi gue udah nggak mau nunggu lebih lama lagi apalagi dengan keras kepala loe itu" kata lintang mengikuti tania duduk.


"Gue udah lama nyari loe. Agar gue bisa beritahu tentang ini semua" tambah lintang menhentikan ucapannya sebentar.


"briant itu sangat sayang sama loe. Dia nggak pernah mengkhianatin kamu. yang loe lihat waktu itu nggak sebenarnya bukan seperti yang kamu pikirkan. briant punya alasan yang kuat buat semua kejadian itu" jelas lintang


"dia fikir dengan begitu loe bisa benci sama dia dengan begitu loe nggak bakalan ngerasain sakit saat dia pergi untuk selamanya, Tapi semua itu nggak sesuai dengan harapannya, malahan dia merasa sedih saat lihat reaksi loe. Dia lebih menyesal saat loe mulai nutup diri dari dunia ini" ungkap lintang.


"Dia ingin memperbaiki semuanya sebelum dia ninggalin dunia ini tapi dia nggak pernah bisa ketemu lagi sama lo setelah kejadian itu. Hingga akhirnya waktu dia habis dan dia tetap nggak bisa ngejelasin semua ke loe bahkan hanya buat minta maaf pun dia nggak punya kesempatan. Terlebih dia nggak bisa ngelihat senyum loe untuk terakhir kalinya. senyum yang sangat dia rindukan" jelas lintang yang semakin membuat tangis tania semakin terdengar pilu.


"Waktu pertama ketemu dia di rumah sakit, Gue fikir dia akan sembuh. Karena semangatnya yang besar. Tapi nyatanya dia tetap kalah dari kanker ganas di otaknya" kata lintang  menghembuskan nafasnya. 


"Saat itu gue juga sempat dirawat di rumah sakit yang sama dengannya. Ruangan kami pun bersebelahan. Itulah yang menjadi alasan aku mengetahui semua tentang dirinya. Tiap hari dia akan menceritakan kisahnya. Sifatnya yang terbuka. Membuat kami menjadi sahabat dalam waktu yang singkat. Dan gue sempat janji sama dia. Gue bakalan bantu dia nyari loe dan mempertemukan kalian" ucap lintang berdiri.


"hai bro, gue udah tapatin janji gue kan" ucap lintang memegang batu nisan tersebut

__ADS_1


"Gue rasa loe masih butuh waktu di sini sendiri. Gue tunggu loe di parkiran" ucap lintang sebelum meninggalkan tania.


__ADS_2