Alasan Luka Tercipta

Alasan Luka Tercipta
Salah paham


__ADS_3

Kini bahkan hanya untuk melihat senyumnya aku harus bersembunyi dan mencurinya dari waktu. Secepat itu kah waktu berlalu, hingga kisah ini pun tak begitu berarti bagimu. Aku yang mengawali untuk menjauh dan akhirnya membuatmu kini begitu jauh tuk ku raih kembali


 


"Tuh muka kok di tekuk mulu sih" kata dian memberikan minuman rasa jeruk pada lintang


"Nggak papa" kata lintang meraih minuman tersebut dan meminumnya


"Loe udah baikan?" Tanya lintang


"Udah. Makasih banget yah. loe udah mau anterin gue ke dokter kemarin" ucap dian tersenyum


"Eh dian, kok gue ditinggal sih" kata kirana menghampiri tania dan lintang dengan masih berusaha mengatur nafasnya.


"Hehehe sorry" kekeh dian


"Capek tahu, geser dikit dong" kata kirana, membuat dian sedikit bergeser ke arah lintang.


"Gue ke toilet dulu yah" ucap lintang beranjak berdiri meninggalkan dian serta kirana.


 


"Untung loe gercep kemarin" kata dian setelah lintang menghilang dari pandangan


"Iya, untung lintang nggak ngehubungin ponselnya" kata kirana


"Iya coba kalau dia geledah tas loe. Pasti deh gagal semua rencana kita" kata kirana kembali.


"Kira - kira mereka udah berakhir beneran nggak sih?" Tanya kirana


"Tenang saja. Cepat atau lambat mereka pasti berakhir" kata dian dengan senyum liciknya


Tanpa mereka sadari seorang yang terduduk di kursi yang terletak nggak jauh dari mereka dapat mendengar semua dengan jelas.


 


"Lintang" panggil erik berlari ke arah lintang yang sudah duduk di atas motornya


"Apa" kata lintang dengan santainya


"Gue nebeng loe yah?" Kata erik kembali


"Ogah gue, motor loe emang kemana?" Tanya balik lintang karena biasanya erik membawa motor


"Motor gue masih di bengkel" kata erik


"Bodoh amat, gue mau pulang sendiri titik. Yang lain aja sana" kata lintang menolak


"Yah kok loe gitu amat sama gue, kali ini saja" pintah erik kembali

__ADS_1


"Sebagai imbalannya gue akan kasih sesuatu yang penting buat loe" tambah erik yang membuat lintang mengerutkan keningnya.


"Yaudah naik" kata lintang


"Awas loe kalau nggak penting gue tinggal loe di jalan" tambah lintang


"Yaudah nanti aja kalau gue sampe rumah baru gue kasih ke loe hehehe" kekeh erik memeluk pinggang lintang


"Woii jangan peluk - peluk juga" ucap lintang melepas tangan erik yang melingkar si perutnya. Sedangkan erik hanya ketawa - ketawa gila.


 


"Turun loe. Udah sampe juga" kata lintang yang sudah memarkirkan motornya


"Ngapain loe ikutan turun?" Tanya erik


"Gue mau mampirlah" kata lintang berjalan santai ke dalam rumah erik


"Ingat ini rumah gue" kata erik dari belakang lintang


"Hahaha. Kayaknya kebalik deh" tawa lintang terus melanjutkan langkahnya


"Harusnya gini. Anggap rumah sendiri aja" ucap lintang yang sudah melempar tasnya ke asal tempat dan langsung berjalan menuju dapur lalu membuka tudung saji makanan


"Erik sini makan bareng" kata lintang sudah mengambil piring


"Ponsel loe udah ketemu" kata erik


"Belum" ucap lintang kembali menikmati masakan mamanya erik


"Gue nggak nanya, nih" kata erik merogoh sakunya dan mengambil ponsel milik lintang


"Jadi loe yang ngambil" kata lintang menyimpulkan


"Iya tadi gue ambil dari tasnya dian" kata erik


"Kok bisa sama dian?" Tanya lintang


"Mungkin waktu loe bawa dia ke rumah sakit kemarin. hp loe ketinggalan di sana" ucap erik yang hanya membuat lintang ngangguk - ngangguk.


 


"Makasih yah gue balik dulu" kata lintang pamit pada erik


"Cepat amat pulangnya, main dulu napa" kata erik


"Makanya minta adek sama orang tua loe biar nggak sendiri kalau di rumah" ucap lintang kembali memakai helmnya


"Ide loe kelewatan" kata erik melipat tangan di dadanya

__ADS_1


"Yaudah gue duluan yah" kata lintang menyalakan mesin motornya dan melaju meninggalkan pekarangan rumah erik.


 


Sebelum pulang langsung ke rumahnya lintang sempat mampir di salah satu pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa alat tulis. Dan ternyata pada kesempatan itu dia bertemu dengan tika


"Hai dek, lagi belanja juga" sapa lintang mendekat ke arah tika


"Eh iya kak" ucap tika agak canggung


"Tumben sendiri?" Tanya lintang mencari keberadaan tania


"Tania udah balik" kata tika


"Oh, kalau gitu gue duluan yah?" Kata lintang hendak meninggalkan tika


"Eh kakak tunggu" cegat tika dengan menggenggam tangan lintang


"Ada apa?" Tanya lintang mengerutkan keningnya


"Kakak kenapa kemarin nggak datang, kasihan tahu tania nunggu sampe 2 jam di sana" tanya tika langsung ke inti


"Kemana?" Tanya lintang yang memang tidak tahu menahu tentang pertemuan tersebut


"Loe nih jadinya gimana sih" tanya tika pada dirinya sendiri


"Emang gue ada janji sama tania kemarin?" Tanya lintang kembali


"Iya, tania kemarin ngajakin kakak ketemu di kafe, trus kakak nggak datang" kata tika


"Oh jadi ini penyebabnya tania jauhin gue bahkan nggak mau lihat gue di sekolah" kata lintang mengerti alasan tania bersikap demikian


"Tapi gue nggak salah seutuhnya kok. Dianya juga selingkuh" tambah lintang


"Hah darimana kakak bisa bilang gitu" kata tika yang membuat lintang mmengeluarkan ponselnya


"Dari sini" ucap lintang menunjukkan foto tania dan nanda yang berada di butik


"Ya ampun kak, sepertinya kakak udah salah paham" kata tika meletakkan keranjang bepanjaannya lalu meraih ponselnya.


"Nih" kata tika yang ikutan menunjukkan foto - foto pernikahan nanda.


"Itu nanda, kemarin tania pengen ajakin kakak ke nikahan nanda tapi kakak cuek bahkan dingin ke tania jadi tania jadinya ngajakin aku" jelas tika.


"Tapi kenapa tania nggak pernah cerita" kata lintang tak ingin di salahkan


"Mungkin tania pikir nggak terlalu penting buat kita tahu" kata tika memasukkan kembali ponselnya ke dalam tasnya


"Tapi sekarang tania udah marah banget sama kakak. Mungkin kalian akan berakhir" kata tika meninggalkan lintang yang masih berusaha menelaah semua.

__ADS_1


__ADS_2