Alasan Luka Tercipta

Alasan Luka Tercipta
Terlambat


__ADS_3

"Kenapa nanda?" Tanya tania yang sedari tadi mengamati gerak gerik nanda yang kurang fokus menyetir mobil.


"Nggak papa kok tania" ucap nanda tersenyum tipis


"kok gelisah gitu?" Tanya tania meletakkan ponselnya


"Kelihatan banget yah" kata nanda kembali


"Hehehe lumayan" ucap tania sedikit terkekeh


"Pasti ada apa - apanya kan?" Tanya tania kembali


"Sebenarnya hari ini kami mau ke butik buat milih kebaya sama jas buat pernikahan nanti" kata nanda menghentikan sesaat ceritanya.


"Trus?" Kata tania menuntut lebih banyak penjelasan


"Tapi kan saya harus antar kamu dulu" kata nanda


"Wah kamu pasti udah ditungguin sama mbak dewi yah?" Kata tania


"udah dari 15 menit yang lalu sih" kata nanda masih menatap lurus ke arah jalan


"Yaudah kita ke butik aja dulu!" Pintah tania memutuskan


"Emang nggak papa, bukannya teman kamu udah nungguin" kata nanda merasa kurang enak hati


"Nggak papa, kan kita mampirnya bentar doang" kata tania meyakinkan nanda


"Baiklah. Makasih banyak yah tania" kata nanda sedikit merasa lepas dari gelisahnya.


"tapi kok kamu baik banget sama saya?" Ucap nanda menambah laju mobil agar tak membuang banyak waktu


"Mungkin karena aku butuh sosok kakak seperti kamu" kata tania yang membuat nanda sedikit tertegun


"saya akan berusaha menjadi kakak terbaik untuk mu" batin nanda tersenyum menatap sekilas tania


"Kok lama datangnya"  tanya lintang yang menghampiri tania di pintu masuk bioskop

__ADS_1


"Tadi ada sedikit kendala di jalan" jawab tania tersenyum


"Jam berapa filmnya mulai?" Tanya tania yang terlihat antusias


"Udah 30 menit yang lalu" kata lintang yang cukup kecewa dengan keterlambatan tania


"Maaf yah" ucap tania tulus


"Udahlah, ayo pulang" ajak lintang menggandeng tangan tania


"Nggak jadi nonton?" Tanya tania mengerutkan keningnya yang tak digubris oleh lintang


"Kamu marah" kata tania kembali berusaha mensejajarkan langkah lintang yang kecepatannya lebih dari biasanya


"Nggak, ini pake" kata lintang memberikan helm pada tania. Lantas apalagi yang bisa dilakukan tania selain mengikuti perintah lintang. Setelah mengetahui kesalahannya dan perubahan sikap lintang.


"Kok diem" kata lintang melepas kembali helmnya


"Kan kamu juga diem" kata tania polos


"Tahu nggak gue udah nunggu hampir 2 jam" kata lintang yang dijawab anggukan oleh tania


"awalnya aku fikir dengan keluar bareng kamu, aku akan mendapat sedikit ketenangan dari semua kesibukan aku di sekolah, tapi ini malah kamu yang datangnya telat banget" jelas lintang dengan penuh ketegasan


"Trus aku diam, kamu juga ikut diam. Bukannya bujuk aku kek. Biar nggak ngambek lagi" gerutu lintang yang membuat tania bingung sendiri dengan sikap lintang.


"Yaudah maaf udah bikin ekspektasi kamu gagal, sebagai gantinya kita makan aja yuk. Kamu pasti lapar habis ngambek" kata tania yang nggak mau kalah


"Tahu dari mana gue udah nggak marah sama kamu" kata lintang nggak mau menurunkan egonya yang membuat tania kembali terdiam.


"Naik" kata lintang yang sudah berada di atas motornya yang menyalah


"Mau makan di mana?" Tanya lintang setelah tania duduk di belakangnya.


"Terserah" kata tania pasrah daripada harus berdebat lagi dengan lintang


"Kamu yang bayarin kan?" Tanya lintang menyembunyikan senyum di bibirnya dengan daftar menu

__ADS_1


"Iya nanti aku yang bayar" kata tania yang ikut memilih menu yang akan dia pesan


"Emang ada kendala apa tadi waktu  ke bioskop?" Tanya lintang yang membuat tania kembali tak tenang


"Tadi ada yang ketinggalan jadi mutar balik dulu buat ngambil tuh barang" kata tania santai. Toh semua yang dikatakannya tak sepenuhnya berbohong


Dertt dertt


Dering ponsel tania yang mengalihkan perhatian mereka


"Aku angkat telfon dulu" kata tania meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja dan menyambungkan panggilan tersebut


"Halo, iya kenapa?" Tanya tania


(........)


"Kamu nggak usah jemput, nanti aku pulang sendiri" kata tania kembali


(........)


"Iya, tenang aja aku aman kok" tambah tania


(........)


"Ok" ucap tania sebelum memutuskan panggilan tersebut


"Siapa?" Tanya lintang


"Sopir aku" jawab tania meletakkan kembali ponselnya


"Ohh" kata lintang


Mereka kemudian mulai membahas hal - hal yang ingin mereka ceritakan. Saling berbagi pendapat. Hingga mereka tak sadar sudah melupakan ketegangan diantara mereka sebelumnya. Tania juga memberitahukan hubungannya dengan julio yang kini makin membaik. Meski mereka hanya terhubung melalui jaringan namun itu cukup membuat tania bersyukur. Namun, tania tak pernah membahas apapun mengenai nanda pada lintang, merasa hal itu nggak terlalu penting untuk mereka bahas. Dan mungkin itu juga yang akan mempersulit dirinya di hari yang akan datang nantinya.


 


 

__ADS_1


__ADS_2