
"Nanti sore ketemu yuk" chat tania pada lintang
"Ntar lokasinya gue share" chat tania kembali
"Baiklah" balasan chat lintang
Di kafe
"Dimana?" Chat tania pada lintang
"Jadikan ketemunya?" Chat tania kembali namun tak ada jawaban apapun dari lintang
Tania yang sudah sampai di tempat yang dia tentukan untuk bertemu. Kemudian memesan minuman untuknya sembari menunggu kedatangan lintang.
Meski sudah setia menunggu hingga 2 jam dan menghambiskan 2 gelas taitea, namun lintang tak kunjung datang atau memberi kabar pada tania.
"Mungkin memang harus begini" kata tania memainkan sedotan minuman
"Mbak!" Seru tania memanggil salah satu pelayan yang berdiri tak jauh dari tempatnya
"Nih mbak" kata tania menyerahkan 2 lembar uang seratus ribu untuk membayar minuman yang sudah dia minum
"Kembalinya buat mbak saja" kata tania tak membiarkan pelayan perempuan tersebut berbicara
"Makasih mbak" kata pelayan tersebut membawa gelas tersebut menggunakan nampan yang hanya di jawab senyum tipis oleh tania.
"5 menit lagi" kata tania menatap jam tangannya
Mungkin keadaan sedang tak berpihak pada tania. Nyatanya 10 menit sudah berlalu namun lintang tak juga nampak memasuki kafe tersebut. Sedangkan tania semakin merasa nggak karuan entah rasa marah, kecewa atau sedih yang ada padanya.
"Mungkin ini memang akhirnya" ucap tania menyeka air matanya yang muncul tanpa tania inginkan
Tania kemudian melepas jam tangan yang couple dengan jam tangan yang dia berikan pada lintang, lalu memanggil kembali pelayan perempuan tadi.
"Mbak kalau nanti teman saya datang, mbak tolong nitip ini yah" pintah tania memberikan jam tangannya sebelum beranjak pergi dari kafe tersebut. Tak lupa tania sempat menunjukkan foto lintang pada pelayan tersebut agar tak salah orang.
"Gimana?" Tanya tika yang sudah menunggu kedatangan tania
"Nggak gimana - gimana" kata tania meletakkan ranselnya
"Heh, maksudnya gimana?" Tanya tika memperjelas
"Cerita dong udah penasaran banget nih gue" kata tika kembali memperbaiki posisi duduknya menghadap ke tania
__ADS_1
"Dia nggak dateng" ucap tania dengan lemah sambil menopang dagunya.
"What, trus alasannya?" Tanya tika yang masih antusias
"Nggak tahu" kata tania melepas topangan dagunya
"Udahlah jangan bahas itu lagi. Mungkin memang ini yang terbaik" kata tania keembali
"Hmm baiklah" kata tika menyerah
"Pinjam novel dong" kata tania meraih novel yang tergeletak begitu saja di atas meja tika
"Bu rahma kemana?" Tanya tania setelah menyadari kelas yang masih kosong meski bel istirahat tinggal beberapa menit lagi.
"Guru - guru lagi pada rapat ujian semester" kata tika yang ternyata juga sedang asik membaca novel yang lain.
"Oh" ucap tania kembali melanjutkan membaca novel di tangannya.
Meski sudah berusaha membaca agar bisa mengalihkan pikirannya dan sedikit melupakan kejadian kemarin namun rasanya ternyata nggak secepat itu untuk diperbiki.
"Tan ke perpus bentar yuk" ajak tika setelah bel istirahat berbunyi
"Ayo" kata tania berdiri namun masih tetap membaca novel tersebut
"Tania, bacanya berhenti dulu napa" kata tika yang berjalan di samping tania. Sedangkan tania hanya memutar bola matanya lalu kembali menundukkan kepalanya yang membuat tika merasa kesal sendiri.
"Aduh" rintih tania yang membuat tika langsung menoleh ke arah tania yang tertinggal beberapa langkah di belakangnya.
"Hahaha, apa tadi gue bilang" tawa tika kembali mendekat ke arah tania yang mengusap - usap keningnya
"Sakit?" Tanya tika.
"Nggak, ayo ke perpus" kata tania menarik tangan tika
Saat tika melihat lintang yang mendekat ke arah mereka dengan menunduk. membuat tika menatap tania sekilas lalu sadar kalau tania sedang menjauh dari lintang. Yang membuat langkah mereka berkejar - kejaran.
"Udah pelan - pelan aja jalannya. Kak lintang juga udah nggak ngejar kita lagi" kata tika melepas tangannya dari genggaman tania.
"Tan loe nggak mau dengarin kak lintang dulu?" Tanya tika memastikan
"Kalau kemarin gue mungkin masih mau dengar. biar cuman lewat panggilan suara atau pun hanya lewat chat. Gue bakalan dengerin semua yang ingin dia katakan. Tapi waktu gue udah habis setelah malam berganti pagi hari ini" jelas tania panjang lebar
"Dia pasti punya alasan yang kuat tan" kata tika kembali
"Dan gue nggak kuat nunggu dia buat jelasin semua" kata tania tak mau kalah
__ADS_1
"Tania coba kesempatan terakhir buat kak lintang" kekeh tika
"Kurang apa lagi tika. Gue yang ajakin dia ketemu. Buat meluruskan sikap dia yang udah mulai dingin ke gue. Dan gue juga yang nunggu dia sampai 2 jam di kafe kayak orang bodoh. Dan gue juga masih nunggu pesan darinya sampai gue ketiduran. Itu semua udah cukup buat gue" kata tania kesal lalu meninggalkan tika yang masih saja membela lintang.
"Tania, tunggu" kata tika mengejar langkah tania
"Yaudah, tapi jangan ngambek sama gue dong" tika mensejajarkan langkah dengan tania
"Iya, gue mau hubungin kakak gue dulu. Loe duluan aja ke kelas" kata tania
"Julio yah. Nitip salam yah sama dia" ucap tika dengan semangat
"Iya nanti gue sampai in. Sana" usir tania
"Ok gue duluan" kata tika meninggalkan tania
Tania kemudian mengeluarkan ponselnya dari saku bajunya lalu menghubungi nomor yang sempat julio berikan pada tania
"Hallo kak" sapa tania saat panggilan video tersebut berhasil tersambung
"Hai dek, lagi bikin apa. Tumben sendiri" tanya julio yang sudah memakai piyama tidur
"Tika balik ke kelas. Salam dari tika" kata tania tersenyum
"Iya salam balik aja dek. Tumben kamu hubungin kakak jam segini" tanya julio
"Yah nggak papa, cuman lagi pengen aja" kata tania
"Gimana kerjaan di sana?" tanya tania
"Lancar" kata julio mengacungkan ibu jarinya
"Kemarin papi nanya tentang kakak" kata tania
"Loh emang papi udah tahu?" Tanya julio
"Udah, aku yang kasih tahu kemarin" kata tania
"Yah padahal kakak mau buat kejutan buat papi" sesal julio
"Salah kakak nggak ngomong dulu sama aku" kata tania tak ingin di salahkan
"Tuh udah bell, masuk kelas sana. Belajar yang rajin" kata julio setelah bel berbunyi
"Iya, dahh kakak" kata tania sebelum memutuskan panggilan tersebut.
__ADS_1
"Padahal pengen curhat" ucap tania memandang layar ponselnya