Alasan Luka Tercipta

Alasan Luka Tercipta
Setim


__ADS_3

nuansa sepi yang dulu menjadi waktu yang sangat nyaman, namun perasaan kesendirian itu kini tak lagi sama. rasa sepi yang dulu sangat bersahabat sekarang berubah menjadi rasa yang kurang nyaman rasanya.


Kegiatan yang berulang semakin menambah rasa bosan. rasa rindu pada suasana sekolah kembali mengguncang tania. ingin rasanya berbicara dengan sesama manusia selayaknya manusia yang bisa berkomunikasi tanpa harus ada yang ditahan. tidak seperti sekarang dimana tania hanya berinteraksi dengan bi sharon, sesekali tania berusah membuka percakapan dengan wanita paruh baya itu. namun bi sharon selalu memberi batasan dalam komunikasi mereka. padahal hanya bi sharon yang sedikit akrab dengan tania. tidak seperti beberapa pelayan wanita yang bahkan kehadirannya mungkin tak dihiraukan oleh tania.


Kedua orang tua tania selalu sibuk dan tak punya waktu untuk sekedar menyapa atau menanyakan keadaan masing - masing.


sosok ayah yang menjadi tulang punggung dalam keluarga memang besar beban yang harus dia pikul. Mahendra wijaya sedang sibuk - sibuknya saat ini dengan mengembangkan bisnis. membuka cabang restoran, hotel dan menambah properti di beberapa negara tetangga. dia terlalu berambisi untuk menaklukkan dunia bisnis di dalam dan luar negara. dengan kesibukan yang tak main - main hingga dia lupa memberi waktu untuk anaknya.


mungkin rasa sepi itu bisa saja terobati sedikit. andai saja Sonia mampu meluangkan waktunya sedikit untuk berinteraksi dengan tania. tapi dia bahkan selalu tak punya waktu untuk berdiam diri di rumah. dia terlalu sibuk dengan kelompok sosialitanya. sangat jarang kehadirannya di rumah besar itu selama mahendra sibuk dengan perjalanan bisnisnya.


ahh mungkin itu bukan hal yang penting saat ini. bahkan setelah kejadian malam itu hubungan keluarga mereka semakin renggang.


Saat sedang mengusir kejenuhannya dengan ponselnya. Tangan tania berhenti pada sebuah komentar di foto yang pernah dia unggah. foto yang tania sempat posting di puncak saat pendakian.


"Gue harap lo baik - baik saja. semoga masih ada kesempatan buat kita bertemu kembali"  komen yang ditulis oleh akun Diana_imutzz.


ingatan tania kembali memainkan bayangan - bayangan masa lalu. rasa kecewa yang berusaha didamaikan kembali begitu terasa mengiris. rasa yang bergemuruh kembali menyiksa, detak jantung yang kembali tidak normal mengakibatkan rasa sesak dalam rongga dadanya.


Drrrtttt drrrt derttt


bunyi ponsel yang belum berapa lama tania letakkan kembali menyadarkannya dari lamunan. menariknya kembali semua kesadarannya dari buaian lamunan.


Tertera di layar ponselnya nomor yang belum disave. Dengan ragu tania menyambungkan panggilan tersebut.


"Hallo selamat pagi dengan tania?" Tanya penelpon yang bersuarakan perempuan saat panggilan tersambung.


"selamat pagi, iya ini tania. maaf Ini siapa yah?" Tanya tania masih dengan ragu.


"Ini saya bu indah" kata penelpon memperkenalkan dirinya yang membuat tania cukup merasa lega mengetahuinya.


"Apa kamu bisa ke sekolah sekarang, ada yang ingin ibu bicarakan denganmu" pintah bu indah yang terdengar sangat serius.


"Tapi bu masa skors saya kan belum habis" tolak tania mengingat masa skors harusnya berlangsung selama 3 hari.


"Udah! kamu kesekolah dulu saja. Ini juga mengenai hukuman kamu. setelah sampai di sekolah langsung temui saya yah?" ucap bu indah yang membangkitkan rasa penasaran dalam diri tania.

__ADS_1


"Baiklah bu, saya akan ke sekilah sekarang" ucap tania sebelum menutup sambungan telfon.


"ada apa yah? Apa hukuman gue akan ditambah. Tapi kok gue kesana sih. bukannya bisa langsung dikatakan melalui sambungan telfon" batin tania menatap layar ponsel.


segera tania bergegas ke kamar mandi untuk bersiap ke sekolah. begitu banyak pertanyaan yang bermunculan dalam kepalanya. namun, dia harus tetap bersabar jika ingin mendapat jawabannya. rasa khawatir kemabali menghantui.


"semoga saja ini tidak ada kaitannya dengan tika" monolog tania saat kata "hukumannya" yang dikatakan bu indah terngiang.


Saat di depan gerbang, tania menyempatkan diri mengabari bu indah. rasa ragu untuk melangkah masuk masih saja menguasai pikiran tania.


Beruntung saat tania sampai di sekolah bel istirahat belum berbunyi. Sehingga saat berjalan di koridor tidak terlalu banyak siswa yang melihatnya.


hanya beberapa siswa yang berada di koridor. Mungkin jam mereka kosong.


Tok tok tok


"selamat pagi" ucap tania memasuki ruangan yang hanya terdapat beberapa pengajar di sana. terlihat sibuk dengan urusan mereka masing - masing.


"Ada apa bu?" Tanya tania yang masih menggendong ransel di punggungnya setelah berdiri di depan meja bu indah.


"Kalau kamu setuju maka hukuman kamu akan dicabut" tambah bu indah.


"saya Bu?, Tapi kenapa harus saya bu, kan masih banyak yang lebih bisa" ucap tania menunjuk dirinya


"Karena dari semua siswa yang saya ajari hanya kamu yang cepat paham dan itupun biasanya kamu sudah tahu sebelum ibu jelasin pelajarannya" jelas bu indah dengan tatapan seriusnya.


"Tapi saya nggak pernah ikut lomba apapun bu" kata tania memaparkan pengalamannya.


"Tenang aja. Ntar kamu satu tim dengan lintang. Jadi kamu nggak bakalan ribet" jelas bu indah cepat memotong penolakan tania.


"what. Gue sama lintang, Orang yang harus gue jauhin. Meski hukuman gue akan dicabut tapi tetap nggak ada jaminan di hari lain" batin tania merenung.


"Tapi kenapa harus lintang bu?" Tanya tania memelas entah apa yang akan terjadi kedepannya.


"waktu kita mepet banget. Lintangkan ikutan tahun lalu jadi dia pasti punya pengalaman lebih" jawab bu indah.

__ADS_1


"yang lain saja bu, jangan saya yah Bu!" pintah Tania berharap bisa mendapat sedikit rasa damai bersekolah.


"ini juga ibu lakuin untuk bantu kamu buat yakinin orang tua kamu, ibu mohon agar kamu bisa ikut yah" jelas bu indah kembali


"mungkin ini bisa jadi jalan untuk memperbaiki hubunganku dengan mereka. Urusan dian ntar baru fikirin" batin tania.


Tok tok tok "selamat pagi" ucap lintang di balik pintu yang mengalihkan perhatian tania. "Bagaimana tania?" Tanya bu indah lagi. "yaudah, bu saya ikut" ucap tania meski memiliki banyak keraguan.


"Ada apa bu?" Tanya lintang yang baru memasuki ruangan.


"Nanti kalian setim. Dan waktu kalian hanya dua minggu buat persiapin diri kalian" jelas bu indah yang di jawab anggukan lintang dan tania.


"Tania boleh minta nomor loe" ucap lintang menyodorkan ponselnya saat berjalan keluar dari ruang guru.


"Buat apa?" batin tania heran.


"biar gampang kalau gue kasih info atau nanya sama lo" jelas lintang seakan mengerti batin tania.


"Udah nih" kata tania mengembalikan ponsel lintang. setelah menulis serentetan angka dan mensavenya dengan namanya.


"Ok thank's ya" kata lintang memasukkan ponselnya ke saku celananya.


"Hmm gue duluan yah!" ucap tania mempercepat langkahnya.


"Bareng aja. Kan searah" kata lintang mensejajarkan langkahnya.


"hah bareng, bisa gawat nih kalau ada yang sampe lihat. Bisa - bisa besok tinggal nama gue doang di sekolah ini" batin tania khawatir menatap setiap penjuru koridor


"Gue nggak pernah gigit kok" kata lintang menatap tania yang terlihat cemas.


"Hah" kata tania tidak mengerti maksud lintang.


"Nggak usah takut sama gue. bukannya Kemarin - kemarin sudah mulai akrab" ucap lintang mengingat kejadian di kantin.


"Gue nggak takut kok kak" kata tania berusaha menguasai diri.

__ADS_1


"Yaudah bareng aja" kata lintang lagi yang di jawab anggukan kepala tania.


__ADS_2