
sepanjang berjalanan di koridor sekolah setiap pandangan dari anak - anak lain makin membuat tania merasa risih. setiap yang berpapasan dan yang dilewati akan memberikan tatapan yang mengintimidasi.
"Jadi anak kok durhaka banget sih" ucap seorang cewek memandang tania dengan sinis.
"wajahnya aja yang sok polos" ucap salah satu siswa berbisik pada teman disampingnya.
"Iya pantas saja nggak punya teman" kata siswa lain menanggapi.
"Baby sugar mau lewat" ucap seorang anak laki - laki di depan mading sekolah.
"Semalam berapa" ucap anak lain sambil terkekeh kecil.
dan beberapa komentar yang tidak mengenakkan hati terus saja mereka lontarkan pada tania.
"ahh sudahlah, apapun yang terjadi kurasa bukan saatnya untuk itu sekarang" batin Tania terus melangkah meninggalkan tatapan kurang menyenangkan itu.
meski tatapan dan komentar - komentar itu sangat membuat tidak nyaman. namun tania tetap diam dan semakin mempercepat langkahnya. menguatkan diri sendiri adalah hal yang bisa tania lakukan saat ini, mempercepat langkahnya berharap segera sampai di kelasnya.
"Most wanted" ucap teman sekelas tania menyambut kedatangannya.
"huftt apalagi sekarang?" guman tania yang makin merasa tidak nyaman menjalarkan pandangannya dalama ruangan itu.
hingga tatapan tania bertabrakan dengan pandangan irfan.
"cih bahkan dia juga berbeda sekarang kurasa?" guman tania menyadari tatapan yang berbeda dari irfan.
tatapan yang menggambarkan rasa kecewa yang mendalam. tak ada lagi tatapan bersahabat yang bisa tania temui di sana. mereka semua memiliki tatapan yang hampir sama. beberapa anak lebih memilih untuk menghindar berjalan melewati tania. tak ingin terlalu peduli dengan tania yang baru bersama mereka beberapa bulan ini.
__ADS_1
"bertahanlah tania, bertahanlah sebentar lagi" batin tania menguatkan dirinya sendiri.
"Tan gue mau ngomong penting sama loe!" ujar tika menarik pergelangan tangan tania meninggalkan kelasnya berjalan menuju taman belakang.
"Loe jelasin ini sama gue sekarang!" Pintah tika menunjukkan foto tania dengan pak dadang minggu lalu.
"Ini, Lo dapat dari mana?" Tanya tania setelah melihat sekilas foto tersebut.
"Foto itu gue ambil dari mading sekolah tadi, loe tahu foto itu tampak biasa aja walanya namun yang membuatnya menarik adalah kutipan yang ditempel bersama" jelas tika mendudukkan dirinya merasa geram sendiri dengan yang dilihatnya pagi tadi.
"Sekarang lo bilang kalau yang dikatakan anak - anak itu nggak benar kan?" Tanya tika memastikan langsung dari tania. tak ingin berasumsi hanya dari hal yang tak jelas asal usulnya itu.
"apa yang salah dari foto itu hingga mereka menghakimi dan mengintimidasiku seperti itu" batin tania berusaha mencari benang merah yang dapat menghubungkannya dengan suatu jawaban.
"Mereka bilang apa?" Tanya tania membuka suaranya setelah diam beberapa saat.
"intinya bokap loe cuman seorang supir tapi beberapa barang yang loe pakai itu memiliki harga yang tidak sedikit untuk membelinya" jelas tika menarik sebuah kesimpulan dari semua pandangan anak - anak lain yang sempat dia dengarkan.
"tania itu tidak sederhana itu, beberapa dari mereka menggiring opini ke hal - hal yang kurang baik. seperti lo malu dengan keadaan orang tua loe dan mendaptkan barang - barang loe itu dari hal yang nggak baik tanai" jelas tika dengan penuh penekanan berharap tania dapat memberi alasan yang bisa masuk di akalnya.
"Mereka terlalu jauh berfikirnya" ucap tania dengan mata yang mulai berair. merasa terharu dengan pemikiran tika yang tetap mendukungnya. tidak pernah menyangka hal ini akan tania alami di awal masa sekolahnya
"gue paham perasaan loe sekarang " ucap tika menepun pelan bahu tania memberi dukungan moral.
"semua opini itu bisa muncul karena semua barang yang loe pake hampir branded semua. serta keluarga loe siapa?, kita juga pada nggak tahu" jelas tika dengan suara yang pelan sambil membuang pandangannya ke arah lain.
Sedangkan tania yang mendapat penuturan tersebut hanya bisa diam. tidak tahu harus bagaimana mencari jalan keluar dari semua ini. apa harus semua berakhir dengan tania mengungkap identitas keluarganya.
__ADS_1
"Gue udah anggap lo sahabat gue. Harusnya kita saling terbuka" kata tika kembali menepuk pundak tania merasa ibah dengan keadaan tania sekarang.
"Seperti gue percaya sama lo. Harusnya lo juga bisa percaya sama gue tan" tambah tika yang semakin membuat tania bingun dengan jalan keluarnya.
"Kalau lo masih belum siap buat cerita. Lo disini aja dulu, tenangin diri lo. Gue balik kelas" ucap tika bergegas berdiri.
"loe nggak bakal tinggalin gue setelah tahu kebenarannya?" Tanya tania membuka suara setelah terdiam cukup lama.
Tika yang hendak melangkah pergi sepintas menghentikan langkahnya. Kembali menghampiri tania. dan bersiap mendengar penjelasan yang berusaha dia gali sedari tadi.
"Apapun yang terjadi gue nggak akan tinggalin lo" ucap tika tersenyum tipis pada tania yang terduduk dengan menundukkan kepalanya.
"Dan seburuk apapun kenyataannya. itu nggak akan mengubah persahabatan kita" ucap tika menduga hal - hal yang terlintas dapam benaknya setelah mendudukkan dirinya di samping tania.
"Kalaupun itu semua benar. Gue tahu lo punya alasan yang kuat buat memilih mengambil tindakan itu" tambah tika memandang jauh kedepan.
mendengar kata - kata tika itu tania kemudian memutuskan untuk berbicara sesungguhnya. tak perlua ada yang ditutupi dalam hubungan persahabatan. tania mulai membuka galeri foto dalam ponselnya. mungkin itu awap yang baik untuk menceritakan semua.setelah memilih foto yang bisa menjelaskan sedikit maksud tania Lalu memberikan ponsel itu pada tika.
setelah menatap layar ponsel yang menunjukkan foto perempuan yang cantik di dalam pelukan laki - laki yang tersenyum bahagia ke kamera. Mereka tampak serasi dengan senyum bahagia dari sang anak laki - laki dan ekspresi malu - malu dari wajah perempuan.
"Mereka siapa tan?" Tanya tika melihat tania yang masih memandang jauh kedepan.
"Itu diana sahabat gue dan briant cinta pertama gue" ucap tania memperkenalkan orang - orang dalam foto tersebut.
"ah tidak, mungkin lebih tepatnya mantan sahabat dan mantan pacar gue" tambah tania yang membuat tika kembali menatap kearahnya.
"Maksudnya?" Tanya tika tak mengerti ucapan tania.
__ADS_1
"Gue akan cerita semua ke loe tapi semua cerita ini jangan sampai orang lain mengetahuinya" kata tania menghela nafasnya berat. mengingat kembali masa yang indah dan masa yang menyakitkan. semua kenangan yang berusaha tania lupakan. mungkin dengan melupakannya bagian cerita itu akan lebih mudah baginya untuk tetap kuat melangkah.
"Karena cukup loe yang akan tahu hal ini, Tidak dengan orang tua gue atau siapapun yang sekarang mengenal gue" tambah tania yang dianggukin kecil oleh tika.