
Berbicara dengan ego takkan menyelesaikan masalah. Bicaralah dengan kepala dingin maka kau akan menemukan kebenaran dan akar dari masalahnya.
Saat membuka mata, tania mengamati langit - langit kamar yang keseluruhannya berwarna putih. Melihat sekeliling yang meyakinkannya bahwa dia sedang berada di ruang rawat. Tania kemudian menatap lintang dengan pandangan kosong ke arah jendela dengan tangan menopang dagu seolah sedang memikirkan sesuatu.
Sedangkan tika masih setia menggenggam tangannya. Terduduk di samping tania yang terbaring.
"Loe udah sadar?" Kata tika saat menyadari sedikit pergerakan jari jemari tania. Sedangkan lintang langsung menoleh dan segera mendekat ke arah tania.
"Loe mau minum?" Tanya tika kembali yang dijawab anggukan pelan tania.
"Kak jagain tania bentar yah gue keluar beli minum dulu" kata tika mengambil handbagnya dan berlalu meninggalkan tania dan lintang.
"Gimana perasaan loe, udah lebih baik?" Tanya lintang dengan nada dinginnya tania tak langsung menjawab melainkan menyentuh sudut bibir lintang yang masih memerah
"Maaf" kata tania menarik kembali tangannya
"Gue nggak papa kok, lukanya juga sudah di obatin" ucap lintang berusaha tersenyum
"Julio mana?" Tanya tania yang terlihat jelas bahwa dirinya sangat mencemaskan kakaknya
"Kenapa sih loe masih peduli sama dia, setelah semua ini terjadi" kata lintang sedikit membentak
"Dia kakak gue" ucap tania
"Dan dia udah hampir bunuh loe" kata lintang memotong perkataan tania
"Dia hanya salah paham, dan gue yakin dia nggak bakalan tega ngelakuin itu" tegas tania
"Lebih baik sekarang loe pikirin diri loe sendiri, gue belum hubungin bakop loe" kata lintang menyodorkan ponsel pada tania. Yang kemudian di raih tania lalu mengetik beberapa pesan.
"Loe nggak hubungin langsung aja" usul lintang
"Nggak, papi masih di luar negeri" kata tania meletakkan kembali ponselnya
Sesaat rasa canggung menghampiri mereka. Tak ada percakapan apapun diantara mereka hanya sibuk dengan fikiran mereka masing - masing. Hingga tika kembali membawa beberapa snack dan air mineral.
"Loe yakin mau keluar malam ini?" Tanya tika
"Iya lagian besok kan kita harus sekolah" kata tania tersenyum
"Emang udah nggak sakit lagi?" Kata lintang
__ADS_1
"Sakit sih tapi kan nggak mungkin gue lama - lama disini" kata tania
"Terserah loe deh yang penting jangan banyak gerak" kata tika membersihkan pembungkus snack yang sudah mereka makan
"Gue boleh kan nginap di rumah loe lagi?" Tanya tania menatap tika
"Boleh dong" kata tika tersenyum ke arah tania
"Yaudah gue panggil perawat dulu yah?" Kata tika beranjak keluar kamar
"Makasih yah, loe udah nolongin gue" kata tania menatap lintang
"Iya, gue boleh nanya sesuatu nggak?" Kata lintang yang di jawab anggukan oleh tania
"Kenapa sih loe ketus mulu sama gue, trus juga kenapa loe marah dan ninggalin gue tadi di toilet?" Tanya lintang
"Yah sorry waktu itu kan gue lagi emosi" ucap tania
"Alasannya?" Tanya lintang mengerutkan keningnya
"Habisnya kadang kakak ngedekatin gue padahal kalau nggak ada gue akrab banget sama dian" ucap tania
"Kalian pacaran yah?" Tanya tania kembali tersenyum meski hatinya merasa ada yang salah dengan kalimatnya itu
"Trus kenapa bisa bareng terus. Mau diperpus, di taman sekolah, bahkan kalian bareng ke tempat basket" intimidasi tania
"Orang yang selalu bareng itu nggak menjamin mereka akan pacaran, dan satu hal yang perlu loe tahu gue cuman suka sama loe" penuturan lintang yang membuat tania merasakan debaran yang hebat dalam jantungnya
"Sejak gue sadar loe itu berbeda buat gue. saat itu gue sadar gue cinta sama loe. Gue juga udah beberapa kali nyatain perasaan gue sama loe tapi loenya ngindar mulu" gerutu lintang menurunkan sedikit suaranya
"Jadi gue mohon sama loe kasih gue kesempatan buat berada di dekat loe?" Tanya lintang menggenggam lembut tangan tania
"Loe mau kan jadi pacar gue?" Tanya lintang dengan mata yang penuh harapan
"Kakak serius?" Tanya tania menatap lekat mata lintang yang sudah mengangguk - anggukkan kepalanya
"Baiklah" kata tania tersenyum yang membuat lintang ikut tersenyum dan memeluk tania dengan hangat.
"Hmm apa gue melewatkan sesuatu" kata tika yang sudah berdiri di ambang pintu. membuat lintang melepas pelukannya dari tania.
"Makasih yah kak" ucap tania dan tika bersamaan
__ADS_1
"Iya sama - sama" jawab lintang sambil tersenyum penuh arti
"Mau mampir dulu kak?" Tawar tika sambil memapah tubuh tania
"Lain kali aja dek. Gue langsung pulang" kata lintang
"Yaudah hati - hati yah kak" kata tika yang hanya di jawab anggukan kecil oleh lintang yang kemudian menjalankan mobilnya meninggalkan rumah tika
"Kalian kok dari tadi senyum - senyum sih, kalian pacaran" tanya tika yang hanya di jawab anggukan malu - malu oleh tania
"Kapan. Kok gue nggak tahu?" Tanya tika yang makin antusias
"Tadi, di rumah sakit" kata tania tersenyum
"Ehh ngomong - ngomong julio gimana keadaannya?" Tanya tania yang baru mengingat julio
"Enggak tahu" kata tika dengan raut wajah yang cukup kecewa
"Emang julio beneran kakak kandung loe?" Tanya tika menatap serius ke arah tania
"nggak tahu juga sih tapi gue ngerasa dia beneran kakak gue" kata tania
"Yah ampun nak, kalian kok baru pulang. Mana ponsel kalian nggak bisa dihubungin dari tadi" ucap mamanya tika yang membuka pintu
"Hehehe maaf ma" ucap tika sambil tersenyum
"Yaudah kalian masuk. makan sana udah ditungguin juga sama bapak di dalam. Malah asik ngobrol di sini" ucap mamanya tika. Yang belum mengetahui kejadian yang menimpa tania.
"Wajah kamu kenapa nak?" Tanya jeri menatap seksama luka di sudut bibir tania
"Nggak papa om tadi cuman ada insiden kecil" kata tania tersenyum ramah
"Kamu ini loh tika. Bawa teman kok nggak di jagain sih" kata jeri menatap tika yang sibuk mengais sisa - sisa nasi di piringnya
"Nggak papa kok om tadi juga udah dianterin tika ke rumah sakit" kata tania
"Makanya lain kali hati - hati" kata jery
"Iya pa" kata tika membuka suara
__ADS_1