
Rasa dendam hanya akan membawa kerugian dalam hidup. Meski rasa dendam mampu membuat kita melakukan hal yang sebenarnya tak mampu kita lakukan berdasarkan ukuran manusia. Namun rasa dendam takkan menghilang begitu saja. Rasa dendam pun kadang mengubur kasih yang setia hingga begitu dalam.
Tania yang kesadarannya mulai terkumpul perlahan membuka matanya, rasa sakit di pundaknya masih sangat terasa. Dengan kakinya terikat kuat sedangkan tangan juga terikat dibelakang kursi tempat dia terduduk.
"Papi tolongin tania" ucap tania meski suaranya tak terdengar jelas karena mulutnya dibekap menggunakan lakban. Meski sudah meronta - ronta berusaha melepaskan dirinya namun usahanya hanya sia - sia. Semakin dia berusaha semakin tangannya terluka karena gesekan dengan tali. Hanya menangis yang dia bisa. Berada di dalam ruangan yang sempit, penuh dengan benda - benda usang yang di lengkapi dengan jaring laba - laba serta debu. Membuat tania semakin takut. Meski dirinya juga pernah di kurung di gudang belakang sekolah. Namun ini tetap menyeramkan bagi tania apalagi pencahayaan yang hanya remang - remang.
"Kak, lihat tania nggak?" Tanya tika pada lintang orang pertama yang bertemu dengannya.
"Loh bukannya tadi sama kamu?" Tanya balik lintang.
"Tadi sama aku kak, tapi setelah ke toilet dia nggak balik - balik lagi" kata tika yang terdengar bergetar.
"Tadi gue sempat nemenin dia. Tapi tanianya malah marah trus ninggalin gitu aja" kata lintang mengingat - ingat
"Udah pulang mungkin dia" kata lintang menduga merasa jengkel dengan perlakuan tania
"Nggak mungkin kak. Tasnya aja masih ada sama aku" kata tania mengangkat tas tania
"Udahlah dek jangan terlalu khawatir mungkin dia di tempat lain" ucap lintang dengan santai namun tidak dengan perasaannya yang sudah nggak menentu
"percuma minta bantuan sama kakak" kata tika mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang
"Halo julio, lo udah selesai" kata tika setelah panggilan tersambung
"Temanin gue nyari tania yah? Gue tunggu di pintu masuk" kata tika memutus panggilan lalu bergegas meninggalkan lintang.
"Emang tania kemana?" Tanya julio menghampiri tika yang sedari tadi mondar mandir sendiri
"Nggak tahu, tadi dia izin ke toilet habis itu dia nggak balik lagi" jelas tika dengan suara yang bergetar
"Loe tenang in diri dulu" kata julio memberikan botol air yang tinggal setengah isinya
"Sekarang kita cari dulu ke toilet" kata julio hendak berjalan
"Udah gue cari disana tapi nggak ada" kata tika mengejar langkah julio
"kita mencar aja nyarinya biar cepat. Ntar kita saling kontak aja ok" kata julio mempercepat langkahnya
__ADS_1
"Ok" kata tika memisahkan diri dari julio
Tania tertegun saat pintu terbuka dari luar.
"Hai tania" kata julio dengan senyum sinisnya
"Gimana rasanya" kata julio kembali sambil melepas kasar plaster dari mulut tania
"Lepasin gue julio" kata tania meronta - ronta kembali
"Cup cup cup jangan nangis dong dek. Kakak nggak akan bunuh kamu disini kok" kata julio kembali menarik dagu tania
"Maksud kamu apa?" Tanya tania dengan mata yang masih lembab
"Kamu nggak rindu sama kakakmu ini" ucap julio dengan tatapan nanarnya
"Maksud kamu apa julio, kamu kakak kandung aku?" kata tania yang berusaha mengendalikan dirinya
"Iya ini kakak, kenapa kaget. Gue masih hidup" ucap julio mengambil kursi dan mendudukinya
"Apa buktinya kalau kamu kakak gue" kata tania menatap mata julio
"Gimana kabar bunda?" tanya tania menundukkan kepalanya
"Nggak usah nanya kabar orang yang sudah dibuang ayah loe" kata julio dengan menatap nanar tania dan dengan penuh kebencian
"Papi nggak sejahat itu" kata tania membela hendra yang mendapat tamparan keras dari julio hingga sudut bibir tania pecah dan berdarah
"Sakit kak" ujar tania meringis merasakan panas di bagian pipinya
"Itu belum sebanding dengan rasa sakit yang bunda rasakan selama ini" kata julio berdiri membelakangi tania
"Dimana bunda?" Tanya tania kembali
"Bunda udah meninggal. Dan itu semua karena mami kamu yang angkuh itu" kata julio menunjuk tania
"Mami loe udah buat bunda pergi dari gue. Dan sekarang dia akan merasakan kehilangan diri loe" tambah julio dengan senyum sinisnya.
__ADS_1
"Apa dengan nyawaku bisa membuat kakak merasa tenang" kata tania kembali menunduk
"Mungkin, jika itu bisa membuat sonia dan hendra tersiksa" kata julio
"Kalau begitu lakukan sekarang. Aku juga udah lama menunggu saat bertemu dengan mu dan juga dengan bunda" kata tania pasrah
"Sebelum aku tiada. Satu hal yang perlu kakak tahu ayah menyesal dengan perbuatannya di masa lalu dan ia sudah mencari kalian bertahun - tahun hanya untuk meminta maaf pada kakak dan bunda" kata tania yang tanpa sadar membuat air matanya kembali menetes.
"Tapi aku nggak percaya dengan itu" Kata julio yang sudah mengeluarkan korek apinya hendak membakar gudang yang berisi benda - benda yang mudah terbakar.
brakk
Suara pintu yang di dobrak paksa dari luar. Membuat tania dan julio menatap ke arah daun pintu yang sudah terlepas hanya dengan beberapa tendangan
"Lintang" ucap tania menatap sosok lintang yang langsung menghajar julio. Sedangkan julio yang awalnya belum siap mendapat beberapa pukulan yang membuatnya tersungkur di lantai
"Loe nggak papa" kata lintang membuka ikatan di tangan tania.
"Awas lintang" kata tania menyadari julio yang hendak memukul lintang dengan sebuah balok kayu dan perkelahian kembali terjadi diantara lintang dan julio. Sedangkan tania berusaha melepas ikatan tali pada kakinya
"Berhenti" teriak tania yang nggak mengubah apa - apa. Hingga lintang jatuh tersungkur ke lantai.
"Stop kak" kata tania berusaha melindungi tubuh lintang dari pukulan julio
"Sepertinya kamu sangat mencintainya dek, padahal bukankah dia sudah punya pacar. Memang yah keturunan pelakor" kata julio menyindir tania dan menghentikan aksinya
Sadar tubuh tania tak lagi mampu menahan rasa sakit pada punggungnya sontak membuat lintang bangkit dan kembali melawan julio. Hingga tania kembali melindungi tubuh julio yang sudah terkapar lemah dari pukulan balok di tangan lintang.
"Maaf kak" kata tania sebelum kesadarannya benar - benar hilang.
"Tania bangun tan" ucap lintang merengkuh tubuh tania dan berusaha menepuk - nepuk pipi tania.
"Tania" kata julio yang mendekat ke arah lintang. Melihat tubuh sang adik yang terbujur kaku dengan beberapa luka pada wajahnya membuat julio iba dan melupakan rasa dendamnya begitu saja.
"Pergi sana loe brengsek" bentak lintang menepis tangan julio
"Dia adik gue" kata julio berusaha mengambil tania dari dekapan lintang.
__ADS_1
"Kalau loe memang kakaknya. Loe nggak bakalan tega lakuin ini" kata lintang berusaha berdiri dengan menggendong tania dan membawanya dari tempat tersebut. Julio hanya bisa melihat kepergian lintang tanpa bisa berbuat apa - apa.