Alasan Luka Tercipta

Alasan Luka Tercipta
Pindah


__ADS_3

"Gimana?" Tanya erik yang menarik kursi di sebelah lintang untuk menduddukkan diri


"Nggak tahu" jawab lintang dengan santai sambil memainkan game di ponselnya


"Loe yakin mau tetap gini aja. Nggak ada niatan gitu buat minta maaf atau jelasin" saran erik


"Gue udah terlanjur ngecewain dia. Dan gue nggak mau nyakitin dia lebih dari itu" kata lintang meletakkan ponselnya memperbaiki tatanan rambutnya


"Tapi bukan sepenuhnya salah loe kan. Lagian dengan cara loe ini akan semakin membuat dia jauh" kata erik berusaha memberi masukan


"Udahlah mungkin memang ini yang terbaik. Lebih baik fokus ke sekolah masing - masing" kata lintang beranjak berdiri meninggalkan erik


"Tania dipanggil bu indah" kata risna mendekat ke arah tempat duduk tania


"Gue" kata tania menunjuk dirinya


"Iya, emang yang namanya tania ada berapa sih" kata rena melipat tangannya mendudukkan diri di kursinya


"Kenapa yah?" Tanya tika penasaran


"Nggak tahu, coba kesana dulu saja. Ntar juga tahu" kata risna yang sudah berdiri di samping tania


 


"Mau gue temanin masuk" ucap tika saat mereka sudah berada di de0an ruang guru


"Nggak perlu. Tunggu gue aja di sini" kata tania


"Yakin?" Tanya tika kembali memastikan


"Iya" kata tania mengangguk dengaan penuh keyakinan


Tok tok tok


"Slamat pagi" sapa tania sebelum masuk ke ruangan tersebut


"Ada apa bu?" Tanya tania berdiri di samping meja bu indah


"Ini kamu bisa baca sendiri. Dan ibu harap kamu bisa mengerti" kata bu indah memberikan kertas

__ADS_1


"Baik bu saya paham kok" kata tania yang sudah membaca setengah dari tulisan tersebut


"Semua ini keputusan orang tua mu. Ibu hanya membantu mengurus" kata bu indah yang membuat tania merasakkan panas yang menjalar di kepalanya. Entah ini memang pilihan yang terbaik untuk dirinya


"Yaudah bu nanti saya bicarakan sama papi" kata tania melipat kembali kertas tersebut dan memasukkannya ke saku bajunya


"Trimah kasih untuk semua bantuannya selama ini bu" ucap tania mengulurkan tangannya


"Sama - sama nak. Kamu belajar yang rajin yah nak. Jangan lupa sama sekolah ini" kata bu indah menjabat tangan tania.


 


"Kenapa?" Tanya tika yang menunggu tania dengan bersandar pada dinding di depan ruangan tersebut


"Kita ke taman belakang" kata tania menarik pergelangan tangan tika melewati koridor sekolah yang sedang ramai


"Ada apa?" Tanya tika kembali saat mereka sampai di taman belakang


"Gue bakalan pindah" kata tania memeluk tika


"Tunggu, tunggu" kata tika melepas pelukan tania dan berusaha mengatur nafasnya


"Gue juga nggak tahu tika. Tapi bokap gue udah mutusin buat kepindahan gue ke jerman. Gue juga nggak mau ninggalin loe sendiri. Tapi ini demi kakak gue. Demi julio" kata tania menggenggam erat tangan tika


"Emang julio kenapa lagi?" Tanya tika


"Julio kena kanker otak. Dan gue harus nemanin dia selama pengobatannya di sana. Udah cukup selama ini dia bertahan sendiri" jelas tania menceritakan keadaan julio


"Tapi loe jangan hilang kontak yah sama gue" kata tika kembali memeluk tania


"Iya gue janji bakalan sering hubungin loe" kata tania menganggukkan kepalanya


"Jangan nangis entar gue ikutan mewek" kata tika melepas pelukannya dan mengusap lembut bulir hangat di pipi tania


"Gue pasti bakalan rindu banget sama loe" kata tania berusaha tersenyum


"Iya gue juga" kata tika


"Kapan berangkat?" Tanya tika kembali

__ADS_1


"Ntar malam" kata tania yang sudah mengetahui jadwal keberangkatannya


"Loe di sana baik - baik yah. Jangan sampai loe ikutan sakit" kata tika memberi nasehat


"Iya gue akan baik - baik di sana. Loe juga di sini baik - baik yah tunggu sampai gue balik lagi ke sini" kata tania


 


"Loe nggak mau pamitan sama dia" ucap tika saat berjalan bersama tania melewati parkiran motor


"Nggak usah" kata tania mengalihkan pandangannya ke arah lain


"Tania setidaknya loe harus menutup ini dengan baik - baik" kata tika yang mencegat langkah tania


"Yaudah, loe tunggu gue" kata tania dengan malas melangkahkan kakinya menuju lintang yang sedang bercanda gurau dengan beberapa temannya


"Hai kak" sapa tania meski merasa canggung namun tetap memberanikan diri


"Hai" jawab beberapa teman lintang bersamaan sedangkan lintang hanya memasang wajah dingin


"Boleh ngomong bentar kak lintang" kata tania dengan mempertegas nama lintang. Tanpa menunggu lama lintang beranjak berjalan sedikit menjauh dari teman - temannya yang di ikuti tania


"Udah lama yah?" Kata tania membuka percakapan sedangkan lintang hanya memasukkan tangannya ke dalam saku celananya dan memandang jauh ke depan


"Yaudah cuman mau ngomong itu" kata tania mengulurkan tangannya sambil tersenyum


"Kakak sehat - sehat yah. Sampai jumpa lagi" kata tania saat tangan lintang sudah menjabat tangannya


"Kenapa?" Tanya lintang membuka suara merasa heran dengan sikap tania


"Nggak papa. Bentar lagi kan ujian semester, good luck yah" kata tania melepas jabatan tangannya


"Aku duluan yah" ucap tania berlalu meninggalkan lintang


"Kamu juga good luck, jaga kesehatan. Maaf aku nggak bisa jagain kamu apalagi bikin kamu bahagia" kata lintang yang tak dapat di dengar oleh tania


"Udah ayo" kata tania merangkul tika


"Hmm" anggukan tika mengikuti langkah tania

__ADS_1


__ADS_2