Alasan Luka Tercipta

Alasan Luka Tercipta
Nantangin


__ADS_3

"Ehh loe" tegur Dian menghapiri tania yang sedang membasuh wajanya di wastafel.


"masih ingat kan yang gue bilang kemarin!" Ucap Dian dengan nada sinisnya.


"Kalau sampe loe dekat - dekat sama lintang lagi, loe habis di tangan kita!" Ketus kirana mendorong pelan bahu tania. berusaha mengintimidasi dengan tindakan dan tatapannya.


"Kalau di tanya itu jawab dong" kata resti mendekatkan wajahnya ke wajah tania.


Menyadari suasana yang kurang baik beberapa siswa perempuan membatalkan niat awal mereka. satu per satu dari mereka lebih memilih meninggalkan toilet wanita tersebut. Tak ingin terlibat dengan perdebatan mereka. begitu juga dengan rena yang awalnya ingin menikmati tontonan aksi di depannya. namun, akhirnya memilih undur diri dengan senyum sinis menghiasi wajah cantiknya.


sedangkan Tania yang masih merasa kacau dengan perasaannya. tidak lagi mampu menahannya, Dengan tatapan tajam yang ditujukan untuk perempuan pengganggu itu bergantian.


"Apa loe, loe berani sama gue" ucap Dian dengan nada yang meninggi melipat tangan di dadanya.


"Iya emang kenapa?" Tanya tania dengan nada ketus


Plaakkk... sebuah tamparan sukses mendarat di pipi mulus tania.


"Kalau murid baru jangan nyolot" ucap kirana setelah menampar pipi tania.


"Dengar ya. Gue nggak pernah ada niatan buat kenal dengan dia, gue muak dengan kalian yang pengecut. hanya mampu mengancam dan mengganggu setiap orang yang kalian anggap saingan. Tapi karena kalian menginginkannya, baik. mari kita bersaing" jelas tania menantang dengan nada yang menggebu - gebu meluapkan semua kekesalannya.


"itu kan mau lo" tambah tania dengan tatapan sinisnya.


"Coba aja kalau loe berani dan gue juga jamin sebelum loe berhasil. loe akan dikeluarin dari sekolah ini. bagaimanapun caranya gue akan buat loe nggak pernah merasakan damai di sekolah bahkan di luar sekolah juga" tantang dian yang masih dengan santai menanggapi.


"gue nggak takut sama ancaman loe karena loe nggak akan bisa ngusik gue kedepannya" ucap tania menunjuk - nunjuk dian lalu pergi meninggalkan dian dan kirana.


"ahh sakit, panas juga" batin tania mengelus pipinya yang memerah.


"gini amat hidup gue. Nggak di rumah nggak di sekolah sama aja, nggak ada bahagia - bahagianya" keluh tania menyusuri di koridor sekolah.


"kekuatan darimana itu tadi? sepertinya gue masih buthh waktu, gue belum siap menghadapi diri gue sendiri" batin tania setelah sampai di kelas.

__ADS_1


"Tan lo mau kemana?" Tanya tika saat berpapasan dengan tania.


"Mau pulang" ucap tania dengan nada tak bersahabat.


"loh kenapa tan? sampai mau pulang segala, Ini masih belum jam pulang" ucap tika berusaha menahan tania. berusaha menariknya kembali ke kursi pojokan.


"Kalau gue bilang mau pulang, ya gue pulang" bentak tania dengan suara meninggi membuat tika melepas tangan tania saking terkejutnya.


"Makanya jangan sok berani, udah tahu punya tampang jelek. loe nggak bakalan bisa mendapatkan kak lintang" ucap rena mendudukkan dirinya.


Brakk "apa loe bilang barusan" kata tania setelah menggebrak meja rena.


"Dengar yah gue nggak pernah bikin masalah sama loe. Tapi kalian nggak pernah senang lihat orang lain diam, kalian semakin merasa bangga saat bisa menindas" ucap tania menarik kerah baju rena.


"gue yakin loe nggak akan berani lakuin lebih dari ini" ucap rena dengan senyum liciknya menggenggam erat tangan tania.


"dan gue yakin gue bisa lakuin ini" ujar tania dengan tangannya yang mulai mencengkram leher jenjang milik rena.


mendengar ucapan rena membuat tania


semakin mengembangkan senyumnya.


"jangan kayak gini tan, gue mohon! jangan lakuin hal yang akan buat loe dalam masalah" ucap tika berusaha menarik tangan tania.


menyadari ekspresi tika yang memohon dengan bulir hangat di pelupuk matanya. membuat Tania melepas kasar tangannya. kemudian berlalu meninggalkan kelas itu dengan tatapan tajam yang masih mengarah padanya.


"Tan, please jangan pulang" ucap tika memegang tangan tania.


dengan kesal Tania melepas dan melempar ranselnya ke sudut kelas.


membuat tatapan tajam setiap orang yang berada di sana teralihkan.


langkah tania terhenti saat berpapasan dengan lintang di koridor sekolah. seperti biasa lintang dengan ramah tersenyum pada tania. Namun dibalas ketus oleh tania.

__ADS_1


"ini semua gara - gara lo" batin tania berusaha menahan tangannya agar tak menunjuk - nunjuk maupun membentak lintang.


"dia kenapa?" batin lintang menatap punggung tania yang perlahan hilang dari pandangannya.


"Nih, minum dulu" ucap tika menyodorkan botol air mineral, kemudian ikut terduduk tapi selonjoran di rumput.


Suasana hening kembali menemani mereka. Tak satu pun yang ingin membuka percakapan, sibuk dengan fikiran mereka.


"Thank's ya" kata tania menatap botol air mineral pemberian tika.


"Itu emang sengaja gue beli buat lo tadi" ucap tika memandang sekilas wajah tania


"Lo kenapa hentiin gue tadi?" Tanya tania masih memandang jauh kedepan.


"Gue takut nanti loe sendiri yang akan kena masalah dan mungkin kesalahan tadi bakalan buat loe dalam masalah besar besok. kenapa juga loe sampai kayak kesurupan setan aja" jelas tika dengan nada sedihnya, berharap temannya takkan dikeluarkan dari sekolah.


"kalau ada masalah ya ceritain, kita kan temanan. meskipun gue nggak bisa bantu tapi minimal gue bisa kasih saran" kata tika menggenggam tangan tania berusaha meyakinkannya.


"Gue nggak papa kok, lagian semua orang juga pasti punya masalah" ucap tania tersenyum tipis. meski sudah kenal cukup lama dengan tika namun rasanya tania belum bisa membuka diri sepenuhnya.


"Emang yang dibilang rena benar?" Tanya tika memastika dan berusah meminta penjelasan tania.


"Gue juga nggak tahu, kenapa gue nggak bisa buat nahan emosi apalagi saat kak kirana nampar gue tadi " jelas tania meneguk kembali air mineralnya.


"dan bodohnya gue malah nantangin mereka buat dapatin kak lintang" ucap tania menyesali tindakannya sendiri.


"Emang lo nggak takut dikeluarin karena ini?" Tanya tika dengan sedikit cemas yang di jawab anggukan tania.


"bukan sepenuhnya salah loe kok, toh mereka juga nggak punya hubungan apa - apa kecuali urusan osis. kak dian saja yang terlalu terobsesi dengan kak lintang" jelas tika menimbang tindakan tania.


"Kok lo kayak dukung gue sih?" Tanya tania menunjuk dirinya.


"setiap orang juga punya batas kesabaran tan. Lagi pula muka lo lumayan cakep kalau semisal memang mau bersaing sama dian" ucap tika memandang wajah tania polos tanpa kaca mata. membuat tania tersadar dengan kaca matanya yang tertinggal di toilet.

__ADS_1


__ADS_2