
"Tan bangun" ucap lintang menepuk halus pipi tania berulang setelah melakukan CPR. Berharap itu dapat mempercepat tania sadar. "Tania bangun dong" kata lintang memapah tubuh tania yang semakin membuatnya khawatir.
"Tania" ucap lintang setelah kelopak mata tania sedikit bergerak, Hendak membuka matanya.
"Akhirnya lo sadar juga"ucap lintang merasa lega menatap wajah bingung tania.
"Lo kenapa sih. Harusnya lo syukurin tuh hidup. udah gila yah loe" Bentak lintang merasa tak setuju dengan perbuatannya. "Kalau ada masalah harusnya loe berusaha nyelesai in baik - baik. bukannya malah lari dari masalah kayak gini" ucap lintang dengan suara yang pelan.
mendengar penuturan lintang itu, Tania berhamburan ke dalam peluk lintang. Menumpahkan kembali air matanya.
"Apa gue terlalu keras yah ngomongnya" batin lintang merasa bersalah sambil mengelus pelan kepala tania.
"Udah, ada gue kok. Gue akan selalu ada kalau loe butuh" ucap lintang yang semakin membuat isak tangis tania terdengar pilu.
"Gue nggak berhak buat itu lintang" kata tania membuka suaranya.
"Siapa bilang, Semua orang berhak mendapat kesempatan tan" ucap lintang melepas peluknya.
"Udah sekarang kita harus pulang. Ntar kalau kelamaan disini malah sakit" tambah lintang membantu tania berdiri dan memapahnya agar mampu berdiri.
"Gue nggak mau pulang" ucap tania tak ingin segera kembali ke rumahnya.
"Trus, apa sekarang Tuhan. Paksa dia pulang, gue nggak bakalan sanggup. Biarin disini, ntar dia sakit. Tapi kalau gue ajak ke rumah, ntar bunda bisa salah paham" batin lintang menatap lekat wajah tania.
"Kalau pesan penginapan, bisa nikah muda gue" batin lintang mengira - ngira.
"Yaudah ke rumah gue aja dulu" ucap lintang memutuskan.
"Lama banget perginya. Bunda kira minimarketnya belum pindah" kata lilis membuka pintu setelah di ketuk beberapa kali
"Ya Tuhan baju kamu kenapa nak. Bunda kira hujan nggak turun" ucap lilis sambil terkekeh memastikan keadaan langit.
"Bunda nanti lintang jelasin semua yah. Sekarang biarin kita masuk dulu. Kasihan tania udah kedinginan tuh" ucap lintang menunjuk tania dengan dagunya, sedangkan tania yang sudah menggigil sambil memeluk tubuhnya sendiri berharap itu mampu menghangatkan tubuhnya.
"Ya ampun lintang. masuk nak" ucap lilis membuka lebar pintu agar tania dan lintang bisa segera masuk.
"Bunda juga sih nanya mulu" gerutuh lintang mengikuti langkah lilis dan tania.
__ADS_1
"Udah yah lintang nanti aja debat sama bunda. Sekarang kamu masuk kamar trus mandi. Nanti sakit mama juga yang repot" ucap lilis menghentikan langkahnya menatap lintang dari bawah hingga ke bawah. Lintang hanya bisa menuruti perintah sang bunda. Memutar arahnya, menuju kamarnya.
"Bunda" panggil lintang keluar dari kamarnya sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
"Bunda di mana?" Panggil lintang berjalan ke arah dapur.
"Ada apa nak" ucap lilis sambil menuangkan wedang ke dalam gelas.
"Bunda lagi ngapain?" Tanya lintang mendudukkan dirinya di kursi makan.
"Nih diminum" ucap lilis memberikan lintang segelas wedang jahe.
"Oh yah teman kamu namanya siapa. Tumben banget kamu bawa teman ke rumah. Trus kenapa bisa sampai basah kuyup seperti tadi?" Serentetan pertanyaan lilis yang membuat lintang menggelengkan kepalanya.
"Namanya tania bun, tadi kita nyebur ke danau. Trus kan nggak mungkin gue balikin dia dalam keadaan seperti tadi" jelas lintang yang dijawab anggukan kepala lilis dengan senyum yang mengembang.
"Bunda kenapa senyum - senyum gitu?" Tanya lintang merasa aneh sendiri.
"Nggak papa. Jadi nanti kamu antarin teman kamu pulang?" Tanya lilis masih dengan senyumnya.
"Nggak bun. Kayaknya dia lagi punya masalah sama keluarganya. Biarin aja dia nenangin diri dulu malam ini. Besok baru lintang antar pulang" ucap lintang.
"Apa bun?" Tanya lintang ingin memperjelas pendengarnya.
"Nggak. Panggil sana teman kamu. Biar mama nyiapin makan malam dulu" ucap lilis meninggalkan lintang. "sekalian bawain itu buat dia" tambah lilis menunjuk ke arah meja
Tok tok tok
"Tan, nih gue bawain minum" ucap lintang setelah mengetuk pintu dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya memegang nampan.
Tania yang sedari tadi sudah selesai membersihkan diri dan mengenakan pakaian dress navy pemberian lilis membuka pintu dengan sedikit menggigil. melihat penampilan tania yang masih segar, Lintang sempat dibuat terpaku dengan penampilan tania yang berdiri di depannya.
"Apa kita pernah ketemu?" Tanya lintang berusaha mengingat sesuatu.
"Hah maksud kakak gimana, kita kan satu sekolah" jawab tania tak mengerti pertanyaan lintang.
"Selain di sekolah?" Tanya kembali lintang berusaha mengingat wajah tania.
__ADS_1
"Mungkin maksud kakak waktu persiapan lomba" duga tania.
"Bukan. Tapi di lain waktu?" Tanya lintang yang makin membuat tania merasa kesal.
"Tahu ah kak. Minumnya buat aku kan?" Kata tania.
"Oh iya nih diminum biar nggak sakit. Mama juga nyuruh kita makan malam sekarang" kata lintang memberikan gelas tersebut.
Tania kemudian mengikuti langkah lintang menuju dapur. Di sana lilis sudah selesai menyiapkan makan malam mereka. Meski dengan ragu namun tania tetap mengambil tempat di meja makan.
"Nih nak, makan yang banyak biar nggak sakit" ucap lilis memberikan piring yang sudah dia isi dengan nasi.
"Iya makasih tante" ucap tania mengambil piring tersebut.
"Nih, kamu juga makan. besok antar tania pulang" ucap lilis memberikan piring pada lintang.
"Iya bunda tenang aja" ucap lintang mengisi piringnya dengan lauk.
"Tan kata lintang kamu anaknya hebat matematika kan?" Ucap lilis membuka percakapan.
"Iya tante, tapi nggak terlalu hebat banget" jawab tania.
"Tante udah sering dengar tentang kamu dari lintang" kata lilis yang membuat tania menghentikan kegiatannya sebentar.
Sedangkan lintang langsung keselek. Untung lilis segera menepuk pelan punggung lintan dan memberinya minum.
"Makanya, kalau makan jangan buru - buru santai aja" ucap lilis dengan tawanya.
"Atau ini karena ada tania yah?" Tanya lilis dengan senyum untuk menggoda lintang.
"Udah ah bun. Aku mau makan di kamar, kalau disini terus bisa - bisa keselek melulu" ucap lintang bergegas meninggalkan meja makan.
"Yaudah sana, biar besok bisa bangun pagi" ucap lilis sebelum lintang benar - benar menghilang dari pintu.
"Maaf yah nak. Dilanjut makannya" kata lilis membuat tania kembali melanjutkan makannya dalam diam.
Sedangkan lilis hanya tersenyum menyaksikan tindakan muda mudi tersebut. Setelah selesai makan malam bersama lilis yang terasa sedikit canggung tania kembali ke kamar berusaha membawa dirinya ke alam mimpi. Namun dirinya masih tak ingin tertidur. Pikirannya masih sibuk memikirkan banyak hal yang terjadi hari ini.
__ADS_1
Lintang yang berniat belajar tapi dirinya hanya mengetuk - ngetuk meja dengan pulpennya. Berusaha mengingat wajah tania tanpa kaca mata. Hingga akhirnya dia mengingat dia sempat melihat tania di kafe. Cewek aneh yang hanya memandang gelas tanpa meminumnya dan meninggalkan kafe tanpa senyum.