Alasan Luka Tercipta

Alasan Luka Tercipta
Helm


__ADS_3

"Dor, ngelamun aja lo" kata tania mengagetkan tika yang duduk dengan menopang dagunya menatap ke luar jendela.


"Tania" ucap tika sambil mengucek matanya tak percaya.


"Ini benaran loe" kata tika berdiri membalik - balikkan tubuh tania.


"Menurut loe. Udah ah nggak usah lebay" kata tania mendudukkan diri.


"Kok lo disini?" Tanya tika menyusul Tania duduk.


"Tadi bu indah nelfon gue trus nyuruh gue ke sekolah" ucap tania melepas ranselnya.


"Trus" kata tika meminta penjelasan lebih dari tania.


"hukuman gue akan dicabut dengan syarat gue ikut lomba" jelas tania.


"tempo hari kenapa nggak bilang sih, kan kalau gue tahu. gue bakalan bantu jelasin sama bu indah?" Tanya tika mengingat tania tak mengatakan mengenai masalah yang di hadapi tania.


"dari kemarin gue pengen nanya ini tapi nggak bisa, yah setidaknya gue pengen mengurangi hukuman loe sedikit" tambah tika.


"Oh itu! maaf yah. kemarin gue kira orang tua pasti bakalan pindahin gue lagi karena masalah itu. Jadi gue nggak mau ninggalin kesan yang buruk" jelas tania yang membuat tika mengerutkan keningnya.


"Pantes gue ngerasa lo aneh sok ngajakin irfan segala, tapi gue tetap nggak ngedukung loe yang diam dan nutupin itu. gue sahabat loe, dan gue juga jadinya khawatir sama loe" jelas tika mengingat keakraban diantara mereka. seridaknya diantara sahabat bisa ada ruang untuk berbagi. saling terbuka satu dengan yang lain.


"Eh iya, irfan kemana?" Tanya tania tak melihat kehadiran irfan.


"Lagi main basket mungkin" kata tika menduga pasalnya irfan beberapa hari ini sangat sibuk dengan persiapan pertandingan basket.


"Kirain loe bakalan dekat setelah kalian pulang bareng, ternyata tidak juga yah?" kata tania pasrah ternyata usahanya tidak berdampak apa - apa.


"nggak gitu juga konsepnya. Awalnya gue ngerasa gue udah ada jalan tapi waktu irfan chat gue. Gue jadi sadar bukan gue yang dia maksud" Jelas tika dengan nada sedih.


"Ciee udah sering chatan dong, emang irfan bilang apa?" Tanya tania penasaran siapa yang irfan suka.


"Dia sih nggak nyebut nama tuh cewek. Tapi dari cara irfan cerita tentang tuh cewek gue tahu dia bukan hanya suka tapi udah cinta malahan" kata tika mengingat irfan.


"Udah jangan terlalu sedih. Gue yakin jodoh lo pasti lebih baik dari irfan. Kalau pun memang irfan orangnya yah waktunya aja yang kurang tepat" kata tania mengelus pundak tika. "Thank's ya. Gue beruntung punya teman kayak lo" ucap tika memeluk tania.


"itulah gunanya teman" ucap tania


Tring


Bunyi ponsel tania menandakan pesan masuk. melihat pemberitahuan itu tania penasaran siapa yang sudah mengirimi pesan ke nomor yang tak banyak orang tahu. "siapa tan?" Tanya tika ikut melihat layar ponsel tania.


"Nih dari lintang" ucap tania menunjukkan layar ponsel pada tika


"tania, ini gue lintang. Gue udah dapat soal - soal tahun lalu. Ntar baru gue kopiin".


"kok kak lintang bahas soal sama lo?" Tanya tika heran.

__ADS_1


"iya, kamu yang akan ikut lomba 2 pekan lagi" kata tania dengan santai.


"Apa, kok bisa?" tanya tika tak percaya sehingga menyita perhatian beberapa siswa di sana.


"Sttt jangan keras -keras" kata tania menempelkan jari telunjuknya di bibir.


"Gimana kalau kak dian sampe tahu" ucap tika yang sudah memelankan suaranya khawatir dengan keselamatan temannya.


"Iya itu juga yang lagi gue fikirin. Tapi selama gue nggak macam - macam kan nggak bakalan ada masalah" ucap tania memasukkan ponselnya ke sakunya


"Kirain loe masih di skors. Kenapa loe datang ke sekolah" ucap rena ketus sambil melipat tangan didada.


"Loe pasti sedih dengar hukuman gue udah di cabut" kata tania dengan senyumnya.


"Loe pasti bohong. Dian aja nggak bilang apa - apa sama gue" kata rena kesal.


"Udah gue duga kalian pasti kerja sama" ucap tania masih dengan nada santai.


"Hahaha iya gue juga ngerasa" ucap irfan yang masuk ke kelas bersama teman - temannya.


"Nih" ucap rekal memberikan botol air mineral pada irfan.


"Thank's sob" ucap irfan membuka minuman lalu meneguknya untuk menghilangkan dahaganya.


"Tania!" guman irfan melihat sosok yang sudah tak dilihatnya beberapa waktu ini.


"Tania. Gue kirain lo masih di skors?" Tanya heran irfan menghampiri meja tania dan tika. "Hukumannya udah dicabut sama bu indah" ucap tania tersenyum.


"Kok bisa?" Tanya irfan.


"Selamat siang anak - anak" ucap guru fisika memasuki kelas.


"Ahh udah datang aja tuh guru, yaudah gue tinggal yah" ucap irfan kembali ke kursinya.


"Mau bareng nggak tan?" Tawar irfan menghentikan motornya, Tania yang ditanya malah melirik ke tika sesaat.


"makasi irfan tapi gue udah ada janji" kata tania dengan sedikit senyum di bibirnya.


"Sama siapa?" Tanya irfan mengerutkan keningnya.


"Sama kak lintang. Mending lo bareng tika aja" ucap tania menunjuk lintang yang sedang memakai helmnya.


"oh iya! Yuk tika bareng gue saja" ucap irfan menyodorkan helm.


"Kita duluan yah" ucap tika yang sudah siap di atas motor.


"Sip. Fan baik - baik deh lo sama teman gue" ucap tania terkekeh.


"Teman gue juga kali" ucap irfan menyalakan mesin motornya.

__ADS_1


"Hai tania bareng yuk?" ucap lintang menghampiri tania sedangkan irfan dan tika masih belum jauh dari sana.


"sial ketahuankan bohongnya!" batin tania menatap ke arah irfan.


"ah iya kak" ujar tania mengambil helm pemberian lintang.


"makin berani juga loe" geram dian menyaksikan pemandangan di parkiran tersebut.


"Udah nggak takut tuh anak sama loe" kata kirana berdiri di samping dian.


"Jadi gimana sekarang?" Tanya kirana meminta kepastian dian.


"loe masih nanya? kita lakukan seperi biasa lah" ucap dian tersenyum licik dengan rencana yang sudah tergamgar indah dalam benaknya.


"Rumah lo di mana?" tanya lintang sedikit berteriak karena suara kendaraan yang terlalu berisik.


"Hah rumah, buat apaan kak?" Tanya tania takut jika lintang mengantarnya sampai di rumah bisa - bisa ketahuan.


"Buat ngantarin loe lah, hahaha loe kok aneh sih" ucap lintang tertawa.


"nggak usah kak. Mending kita cari tempat foto kopian buat kopi soal" ucap tania mengalihkan pembicaraan.


"Tenang aja gue udah kopi di dekat sekolah tadi" kata lintang dengan nada santai.


"Kita ke toko buku aja kak buat cari bahan disana" usul tania.


"Besok aja sekalian besokkan minggu" kata lintang.


Semua alasan yang bisa dia pakai gagal semua. dengan pasrah tania menunjuk rumah sederhana di depan kompleks.


"Maaf yah kak. Nggak bisa ngajakin masuk soalnya di dalam nggak ada orang" ucap tania turun dari motor.


"Iya nggak papa. Lain kali kan bisa" ucap lintang membuka ranselnya.


"Nih soal - soalnya loe pelajarin aja dulu ntar kalau nggak bisa kita bahas besok" kata lintang menyodorkan kertas - kertas.


"Hmm makasih kak" ucap tania mengambil kertas tersebut.


tania masih berdiri mematung  berharap lintang segera pergi dari sana. Sedangkan lintang yang sudah menyalakan motornya malah tersenyum pada tania.


"Kenapa kak?" Tanya tania bingung.


"Helm nya tan. Nggak mau dibalikin dulu" kata lintang tertawa dengan sigap tania yang melepas helm dan memberikanya pada lintang.


"Aduh maaf kak. Lupa" ucap tania yang merasa wajahnya sangat panas.


"Iya nggak papa. Gue pulang dulu yah" ucap lintang masih dengan sisa tawanya.


"Iya kak hati - hati" kata tania berjalan ke arah pagar dan ingin membukanya. Setelah motor lintang sudah pergi tania segera menjauh dari rumah tersebut. Berharap tidak ada yang melihatnya barusan. Bisa gawat kalau ada pemiliknya atau lebih gawat lagi jika dikirain maling

__ADS_1


__ADS_2