Alasan Luka Tercipta

Alasan Luka Tercipta
Pertandingan basket


__ADS_3

Terkadang kita nggak sadar membuat orang salah paham dengan tindakan kita. Meski ingin berusaha memulai hubungan, namun takkan mampu bersama bila kesalah pahaman masih ada.


"Eh tan nanti kita naik taksi aja kesananya!" Usul tika yang sedang memakai sepatu ketsnya


"Hmm, terserah lo aja" ucap tania yang duduk di kursi depan menunggu tika


"Udah ni, ayo. Ntar kita telat lagi" kata tika memakai tas kesayangannya


"Om, tante kami pamit pergi dulu yah?" Ucap tania berpamitan pada orang tua tika.


"Iya hati - hati di jalan. Kalau udah selesai langsung balik yah nak" kata mamanya tika dengan ramah


"Iya ma" jawab tika


"Buset taksinya pada kemana semua deh, tumben nggak ada yang nongol satu pun" gerutuh tika masih sibuk melirik kakan dan ke kiri mencari taksi


"Tahu nih, mana udah panas lagi" ucap tania sambil mengibas - ngibaskan tangannya di depan


"Bisa - bisa sampai sana udah selesai pertandingannya" tambah tania yang ikut melirik ke kanan daan le kiri jalan


Mereka dibuat tertegun saat sebuah mobil putih berhenti di depan mereka yang membuat baik tania maupun tika saling berpandangan heran. Hingga kaca mobil diturunkan sedikit yang memperlihatkan wajah pengemudi yang tengah tersenyum


"Mau ke pertandingan basket?" Tanya lintang dari dalam mobil


"Iya kak" kata tika dengan sedikit agak kikuk


"Mau bareng aja nggak?" Kata lintang menawarkan tumpangan


"Iya bareng aja sekalian kita juga mau ke sana kok" kata dian yang duduk di sebelah lintang


"Gimana tan?" Tanya tika menatap tania


"Yaudah daripada kelamaan di sini" kata tania pasrah. tika kemudian membuka pintu penumpang belakang dan mebiarkan tania masuk terlebih dahulu


"Kalian udah lama nunggu?" Tanya lintang sambil menatap lurus ke jalanan


"Yah hampir setengah jam an lah kak" kata tika sedangkan tania yang duduk di samping tika memasang earphone dan menyetel lagu dari ponselnya


"Kenapa nggak minta di jemput aja dek" kata dian dari jok depan mobil


"Teman - teman yang lain udah pada berangkat dari tadi kak" kata tika dengan santai


Selama perjalanan menuju tempat pertandingan tania hanya diam, menatap keluar mobil sambil menikmati alunan lagu dari earphonenya. Meski lintang beberapa kali melirik tania lewat kaca spion namun tania nampak acuh dengan suasana dalam mobil tersebut.


"Makasih yah kak tumpangannya" ucap tika sambil tersenyum


"Makasih kak" ucap tania singkat setelah melepas earphonenya dan memasukkannya ke dalam tasnya


"Iya sama - sama dek. Nanti kalau pulang bareng lagi aja" tawar dian sambil tersenyum

__ADS_1


"Wah boleh tuh kak" kata tika antusias


"Emang kita nggak ganggu" kata tania masih dengan wajah tanpa senyum


"Engga kok, tenang aja" kata dian


"Apaan sih tan" ucap tika sambil menyenggol lengan tania


"Yaudah kita duluan kedalam yah kak" kata tika menarik lengan tania yang hanya pasrah diseret


"Lo kenapa deh tan sensi amat dari tadi" kata tika yang sudah duduk di sebelah tania


"Tuh muka juga, dingin amat" tambah tika menatap tania dengan intens


"Lagi dapet lo?" Tanya tika karena tak mendapat jawaban apapun dari tania


"Emang kenapa, muka - muka gue" kata tania melihat ke arah lapangan


"Lo marah sama kak lintang?" Tebak tika yang langsung mendapat tatapan dingin tania


"Nggak, udah jangan bahas yang lain - lain deh. Tuh pertandingannya juga udah mau mulai" kata tania kembali menatap ke arah lapangan.


"Wah anak basket SMA lain keren - keren yah" takjub tika dengan mata yang berbinar - binar.


"Yang mana sih" tanya tania penasaran dengan anak yang dimaksud tika


"Emang senyumnya kenapa?" Tanya tania dengan senyum jailnya


"Ih tania rusak mood gue aja loe" kata tika sambil memukul pelan bahu tania


"Hahaha iya, iya sorry lanjut gih nontonnya" kata tania beranjak dari duduknya


"Jagain tempat gue yah, gue ke toilet bentar" kata tania meletakkan tasnya pada kursi


"Jangan lama - lama bentar lagi tim sekolah kita yang bakalan tanding" kata tika mengingatkan


"Iya nggak bakal lama" kata tania berlalu pergi meninggalkan tika dan penonton lainnya


"Tania tunggu" kata lintang mencegat langkah tania dengan menggenggam erat pergelangan tangannya


"Apa?" Kata tania ketus melepas kasar tangannya


"Loe kenapa sih, dingin amat sama gue?" Tanya lintang


"Apaan sih" kata tania meninggalkan lintang


"Gue salah apa coba tan?" Tanya lintang mensejajarkan langkahnya dengan tania


"Udah yah kak, kamu nggak salah apa - apa ok. Jadi berhenti ngikutin gue" kata tania dengan penuh penekanan

__ADS_1


"Lo sakit?" Kata lintang menempelkan telapak tangannya pada kening tania.


"iya gue sakit. Sakit hati gue lo sepik mulu" batin tania menatap tajam lintang


"Nggak panas amat" kata lintang melepas tangannya


"Balik sana ntar ada yang marah lagi" kata tania dengan sinis


"Emang siapa yang marah. Bunda aja nggak pernah marah sama gue" kata lintang masih terus mengikuti langkah tania


"Ini toilet cewek kak, ngapain sih kesini" kata tania menghentikan sementara langkahnya untuk menegaskan kalimatnya


"Ya nemenin kamu" kata lintang menyandarkan tubuhnya pada dinding


"Terserah kakak mau ngapain" kata tania masuk ke toilet khusus cewek tersebut


"Nggak capek apa kak ngikutin gue mulu" kata tania yang mulai lelah dengan tingkah lintang


"Nggak" jawab lintang dengan senyumnya


"Kalau nanti kak dian marah tanggung jawab loh kak"


"Gue sama dian cuman temanan" kata lintang masih dengan senyum tipisnya


"Emang kakak nggak tahu dian suka sama kakak" kata tania penasaran


"Tahu" jawab lintang dengan singkat


"Gue juga tahu, lo suka sama gue" kata lintang penuh percaya diri


"Idih, jangan ngaco deh kak" kata tania mempercepat langkahnya


"Seriusan tan, gue cuman mau lo terima gue apa adanya" kata lintang menggenggam lembut tangan tania


"Kok kesannya gue yang ngajak kakak pacaran yah" kata tania dengan senyum sinisnya


"Stop kak. Jangan kejauhan ntar sakit loh" kata tania lagi sambil melepaskan tangannya berlari meninggalkan lintang yang hanya diam.


"Baru juga mulai berusaha udah di tolak aja gue" batin lintang menatap punggung tania yang perlahan hilang dari pandangannya.


Saat tania memperlambat jalannya sesosok bayangan mendekatinya dari belakang dan memukul punggung tania yang membuat tania tak sadarkan diri.


"Tania kok lama amat sih" kata tika mulai menghubungi nomor ponsel tania namun tak kunjung tersambung


"***Tan, lo dimana ini pertandingannya udah di mulai loh" ***pesan singkat yang dikirimkan tika pada tania


"Apa dia kesasar di penonton lain yah" pikir tika masih berusaha menghubungi ponsel tania


"Tania angkat dong" kata tika yang sudah menggigit kukunya karena mulai khawatir. Hingga akhirnya tika memutuskan untuk membawa tas tania dan mencarinya ke toilet. Namun saat sampai di toilet tika tak menemukan siapa pun disana. Mencari ke beberapa sudutpun namun tika tak juga menemukan tania.

__ADS_1


__ADS_2