Alasan Luka Tercipta

Alasan Luka Tercipta
karyawan perusahaan


__ADS_3

“hufft... ayo semangat, sebentar lagi gajian!” seru tika menyemangati dirinya sendiri yang masih berkutat dengan komputer yang menyalah dan beberapa dokumen yang memenuhi meja kerjanya.


Menjadi salah satu karyawan di perusahaan raksasa yang bergerak di bidang industri Real Estate, membuat tika sering mengeluh dengan setumpuk pekerjaannya. Hanya momen gajian yang bisa memacu semangatnya untuk menyelesaikan setiap tugasnya.


“udah berhenti dulu! udah mau waktunya rapat bulanan. Jangan sampai telat, kamu tahu sendirikan konsekuensinya” ucap teman sekerja tika yang berada di samping meja kerja tika. Perempuan yang tengah membenahi penampilannya melalui pantulan cermin kecil di tangannya.


rapat bulanan bukan hal bisa di perusahaan besar, setiap devisi harus melaporkan setiap rincian pekerjaan yang telah mereka lakukan selama sebulan. Banyak yang merasa khawatir dengan pertemuan itu. Jika saja terdapat kesalahan ataupun performa kerja mereka menurun. Maka sudah dipastikan devisi mereka akan mendapat teguran dari atasan mereka.


“hmm, sepertinya memang harus lembur lagi” ucap tika menatap nanar pada beberapa dokumen yang masih tersusun rapi di sudut meja kerjanya.


“nih pake!” ucap karin menyodorkan tas kecil yang berisi beberapa alat make up.


“hehehe tidak, terima kasih” jawab tika menolak halus tawaran karin.


Meski pekerjaan mereka hanya berkutik dengan dokumen – dokumen namun banyak karyawan wanita yang sangat memperhatikan penampilan mereka. Lain halnya dengan tika yang tidak terlalu pusing dengan penampilannya.


Menurutnya yang terpenting tampil rapi dan bersih itu sudah cukup.


Sepanjang rapat bulanan berjalan, tika berusaha fokus pada setiap pemaparan laporan dari beberapa divisi. Meski sesekali tika melirik pada atasannya. Laki – laki yang memiliki Karismatik yang sangat kuat ditambah dengan penampilan yang sempurna dengan kemeja yang membalut indah tubuh atletisnya. Meski umurnya dengan tika tidak jauh berbeda. Namun takdir nyatanya lebih berpihak padanya.

__ADS_1


“calon suami gue itu!” bisik riska pada tika tanpa melepaskan pandangannya dari irfan. Pernyataan riska membuat tika sedikit bergindik. Meski dia dan irfan pernah berteman dan melewati 3 tahun bersama di sekolah yang sama, namun hal itu nyatanya mampu dikikis oleh waktu. Mereka kini sama halnya dengan dua orang asing yang di pertemukan kembali menjadi atasan dan bawahan.


banya karyawan wanita yang mengidolakan irfan, bahkan beberapa kali irfan harus berganti sekertaris perempuan karena kurang nyaman bekerja denganya. pria yang memiliki sejuta pesona itu nyatanya masih digadang - gadang belum memiliki kekasih. Semakin membuat perempuan disekelilingnya berharap menjadi pendampingnya kelak.


Sudah 6 tahun berlalu setelah keberangkatan tania ke jerman. awalnya komunikasi tania dan tika sangat baik. Namun setelah mereka memasuki dunia perkuliahan, kesibukan mereka kian menghambat komunikasi mereka. Hingga 2 tahun terakhir ini komunikasi mereka benar – benar terputus karena kesibukan mereka masing – masing. Tika yang menjadi karyawan perusahaan besar sedangkan tania yang mengikuti jalan ayah dan kakaknya ikut bergabung dalam dunia bisnis.


“kayaknya gue butuh asupan kafein!” guman tika meregangkan otot – ototnya yang terasa kaku. Menatap menjelajahi ruangan yang nampak sepi. Hanya beberapa karyawan yang sibuk dengan komputer di meja mereka masing – masing. Sepertinya bukan hanya tika yang lembur untuk menyelesaikan pekerjaannya.


“ternyata dia juga lembur?” tanya tika pada dirinya sendiri saat melewati ruangan atasannya dengan penerang yang masih menyala. Tanpa berniat berlama – lama tika kemudian melanjutkan langkahnya menuju pantri. Dengan sigap tika membuat kopi instan untuk dirinya sendiri. Padahal bisa saja tika meminta officeboy yang membuatkan kopi untuknya. Namun tika merasa dirinya juga memerlukan ruang gerak untuk meluruskan tulang – tulangnya yang terasa kaku itu.


“umur belum seberapa, tapi rasanya sudah sangat berumur tulangku ini” ucap tika sesekali memukul – mukul pelan bahunya.


“dari mana mbak?” tanya anak magang yang masih membereskan beberapa dokumen di meja sebelah tika.


“tadi pak irfan cariin, sebaiknya mbak ke ruangannya deh! Sepertinya hal yang mau dia bicarakan cukup penting” sambung perempuan yang akrab dipanggil tia itu. Tanpa membiarkan tika menjawab pertanyaan awalnya.


Tanpa ingin berdebat tika langsung melongos pergi menuju ruangan yang baru dia lewati itu.


Tok tok tok

__ADS_1


“selamat malam pak, ada apa bapak mencari saya?” tanya tika setelah memasuki ruangan yang didominasi oleh warna coral peach itu.


“minggu depan wakili perusahaan bertemu dengan perusahaan aditama” jelas irfan dengan tatapan tajamnya. langsung mengatakan yang ingin dikatakan tanpa basa basi.


“maaf pak, saya tidak bisa! lagipula saya masih memiliki banyak pekerjaan yang perlu saya selesaikan” ungkap tika dengan nada tidak sukanya.


“anjing memang. Kerjaan gue saja nggak ada kelar – kelarnya. Malah mau nambah beban gue, gila memang” batin tika memaki pria yang ada di depannya.


“saya akan kasih kamu bonus” ucap irfan kembali memberi penawaran


“tapi-“ ucap tika berusaha menolak usulan yang diberikan atasannya itu.


“baiklah, menangkan negosisasi itu dan kamu akan mendapatkan promosi” final irfan memberi penawaran yang membuat tika ternganga mendengarnya. Tawaran yang pastinya sangat diinginkan setiap karyawan di sana.


“ahh.. hahaha baiklah terima kasih atas kesempatan yang bapak berikan” ucap tika menyalami irfan, setelah berhasil menguasai dirinya kembali.


“jadi hal apa saja yang harus saya siapkan untuk pertemuan itu?” tanya tika penuh semangat. Mendengar tawaran akan dipromosikan membuat semangatnya kembali meningkat.


“aldo, sekertarisku akan menghubungi mu” kata irfan menarik tangannya kembali.

__ADS_1


Meski sebenarnya dia bisa saja menemui rekan kerjanya itu, namun ada beberapa alasan yang membuatnya enggan bertemu dengannya. Hanya tika yang dirasa mampu menemani aldo untuk menghadiri pertemuan itu.


__ADS_2